Peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk pada 16 Mei 2026 semula tampak acara seremonial biasa. Namun dari podium kemuliaan itu, lahir satu pernyataan yang kemudian tersebar di berbagai media sosial.
Presiden negara Republik Indonesia ketika berpidato, meyisipkan perkataan refleksi atas melemahnya ekonomi negara. Ia juga menilai masyarakat kecil, khususnya di berbagai desa, tidak terkena dampak langsung oleh gejolak kurs dolar. Pernyataannya:
“Sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos akan apa, ya kan rupiah begini, dolar begini. Orang, rakyat di desa gak pake dolar kok.” ujar presiden kita mengisi di peresmian tersebut. Ia juga meminta supaya masyarakat tidak perlu khawatir terhadap fluktuasi kurs rupiah, yang kini menjadi sorotan publik.
Ketika mendengar pernyataan ini, secara spontan terngiang akan dua hal, nilai rupiah menyentuh Rp 17.600 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi seperti ini menjadi titik rendah sepanjang masa (all time low). Dari sisi lain presiden juga pernah mengatakan dalam akun X-nya pada 11 Desember 2013.
“Kondisi rupiah saat ini merupakan bukti bangsa telah salah urus”. Pernyataan yang lama ini seakan-akan menjadi cermin yang dipantulkan oleh waktu. Karena itu, akhirnya publik menganggap bahwa perkataan awal tadi sebagai upaya menenangkan keresahan masyarakat atas informasi menurunnya nilai rupiah.
Baca juga:
Dilansir dari Infobanknews, karya Galih Prama Kata Presiden, Rakyat Desa Tak Pakai Dolar AS (2026). “Bukanlah seorang negarwan sejati ketika menganggap bahwa krisis nilai tukar itu menyangkut para spekulan”. Artinya, dampak dari krisis nilai tukar ini hanya kepada segelintir orang kaya di perkotaan.
Memang, di pedesaan dolar bukan alat transaksinya tetapi setiap rupiah limbung dapur mereka merasakan getarannya. Kerenanya mengaggap bahwa krisis kurs hanya urusan spekulan, merupakan bentuk penyederhanaan logika (logical fallacy) dalam membaca krisis ekonomi.
Transaksi di Desa, Resonasi dari Dunia
Transaksi masyarakat desa memang tidak menggunakan dolar Amerika Serikat, melainkan pakai rupiah. Petani di sawah tidak menjual padinya menggunakan mata uang asing. Para pedagang juga tidak memasang kurs internasional di warungnya.
Akan tetapi, kehidupan ekonomi di desa tidak bisa hidup dalam ruang hening. Ia akan selalu terikat dengan arus perekonomian bangsa, bahkan resonasi dunia. Keterkaitan ini bukan baru muncul di zaman modern, melainkan telah berlangsung sejak lama.
Kebutuhan di pedesaan seperti harga pupuk, bahan bakar, hingga kebutuhan pokok tetap dipengaruhi dari arus ekonomi nasional. Oleh karena itu ketika rupiah melemah maka masyarakat kecil juga akan menerima dampaknya, meskipun tidak bertransaksi menggunakan dolar AS.
Sejarah Indonesia pernah merekam bagaimana melemahnya nilai rupiah bukan sekadar persoalan angka di layar ekonomi. Dalam hal ini pernah terjadi krisis moneter di tahun 1997-1998. Nilai tukar rupiah pada saat itu bernilai Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat. Krisis ini bukan hanya mengguncang negara, lebih parah lagi juga meninggalkan luka panjang bagi masyarakat kecil.
Hal serupa juga pernah terjadi dalam skala dan tragedi yang berbeda. Pada masa COVID-19 di tahun 2020, harga bahan bakar, pakan ternak, hingga barang impor ikut naik. Pada saat itu nilai tukar rupiah mencapai Rp 16.500 per dolar AS. Kehidupan di desa yang selalu dianggap mandiri ternyata juga membutuhkan barang dari luar daerah, bahkan luar negeri.
Fenomena tersebut dapat dibaca melalui pemikiran Andre Gunder Frank yang terkenal akan teori dependensinya. Dalam bukunya Capitalism and Underdevelopment in Latin America (1967), mengatakan “negara berkembang seringkali masih terikat pada sistem ekonomi global”.
Meskipun masyarakat desa tidak berhubungan langsung dengan dolar AS, dompet mereka akan tetap terdampak dari gejolak pasar global. Dengan demikian, kehidupan di desa, pada dasarnya masih terikat dengan sistem ekonomi dunia yang saling terhubung.
Ketika Dolar Sampai ke Dapur
Dalam kajian Macroeconomics, salah satu tokohnya John Maynard Keynes (1883-1946) melalui karyanya The General Theory of Employment, Interest and Money (1936) menjelaskan bahwa kondisi ekonomi nasional tidak pernah berdiri jauh dari kehidupan masyarakat kecil. Pandangan tersebut masih mempunyai benang merah dengan adanya sebuah teori ekonomi makro modern yang dengan tegas mengatakan bahwa ketika nilai tukar mata uang domestik mengalami depresi terhadap dolar AS, harga barang impor cenderung meningkat.
Baca juga:
Implikasinya tidak hanya terasa terhadap sektor perindustrian besar. Namun, dampaknya juga menjalar hingga kebutuhan sehari-hari masyarakat desa. Harga pupuk, bahan bakar, pakan ternak, hingga kebutuhan pokok seperti kedelai, gandum, dan gula perlahan ikut bergerak naik.
Karena itu, hubungan antara dolar AS dengan dapur bukan sekedar metafora. Artinya dolar mewakili sebagai ekonomi global, nilai tukar dan pasar internasional, sedangkan dapur sebagai representasi kehidupan masyarakat kecil dalam kesehariannya.
Masyarakat desa memang tidak bertransaksi menggunakan dolar AS secara langsung. Tetapi kehidupan mereka tetap terikat dalam rantai ekonomi global yang saling mempengaruhi. Ketika nilai rupiah melemah, getarannya akan sampai pada warung kecil, sawah, hinga meja makan rakyat. (*)
Editor: Kukuh Basuki
