Habis Gelap, Lalu Apa?

Asri Eka Mutiara

2 min read

Hari Kartini seharusnya menjadi ruang krusial bagi kita untuk merefleksikan jejak  perempuan dalam mencapai kesetaraan, akses yang adil, termasuk merumuskan perlawanan terhadap aneka bentuk ketidakadilan dan pelemahan martabat perempuan yang kemudian dikemas dalam satu kalimat yang memiliki daya magis amat kuat: Emansipasi.

Emansipasi bukan sebatas jargon latah yang kehadirannya setahun sekali dalam bentuk seremonial yang dinyalakan oleh api algoritma. Ia adalah nyawa yang mengilhami perempuan untuk bergerak ke arah yang sama: berdaya.  Emansipasi bukan juga senjata berdarah yang berisi dendam kesumat pada kelompok gender tertentu, ia adalah alat yang diharapkan mampu menghimpun solidaritas, kepedulian, partisipasi aktif  semua elemen atas nama kemanusiaan yang memangkas jurang pemisah antara perempuan dengan dunia.

Kartini yang Direduksi

21 April adalah sarana tepat untuk mewartakan peradaban pikiran perempuan dengan R.A Kartini sebagai tokoh utama yang familiar di benak  bangsa kita, mungkin orang akan lebih mengingat perjuangan perempuan yang diasosiasikan pada Hari Kartini ketimbang pada Hari Perempuan itu sendiri. Namun ada satu fenomena yang cukup menggelisahkan, ketika hari Kartini direduksi menjadi sebatas visual yang dipersonifikasi ke dalam sehelai kain.

Baca juga:

Di sekolah-sekolah misalnya, hari Kartini diperingati dengan berkebaya bagi murid perempuan bahkan menggenapkannya dengan agenda peragaan busana, ini tidak salah juga. Secara personal, saya mengamini “kebangkitan kembali” busana tradisional perempuan Indonesia yang hari-hari ini mulai menampakkan geliatnya, memang itulah identitas kita. Namun disisi lain, ada hal yang jauh lebih substansial; pikiran, ide, gagasan yang lahir dari seorang Kartini yang informasinya justru tak begitu dimuat lengkap di ruang kelas ataupun buku sejarah.

Saya membayangkan, bagaimana jika hari Kartini ini khususnya di sekolah-sekolah, diisi oleh aktivitas pedagogis yang kritis, penuh dengan percakapan yang lebih esensial, sekurang-kurangnya membedah satu saja dari 179 himpunan surat-surat Kartini; membaca, mendiskusikan, mempertanyakan, lalu mengelaborasikannya pada persoalan perempuan kontemporer.

Kartini tidak sebatas perempuan berkebaya. Jika visualisasi menjadi fokus utama maka secara tidak langsung kita sedang belajar melanggengkan objektifikasi perempuan yang hanya terbatas pada daya tarik visual, bukan pada kapasitas intelektual, kontribusi dan substansi perempuan sebagai manusia. “Habis Gelap Terbitlah Terang” hanya akan menjadi slogan hampa yang diromantisasi dengan tafsir abstrak: Setelah Kesulitan Akan Ada Kemudahan.

Kerapuhan yang Bertahan

Dari sekian banyak surat-surat Kartini yang dikirimkan pada Rosa Manuela Abendanon dan Stella Zeehandelaar, mayoritas konsentrasi ide yang dimunculkan adalah soal pendidikan bagi perempuan dan sikap anti kekerasan, kritik sosial, dan pembebasan. Hal itu sungguh lompatan pikiran yang jauh melampaui zamannya. Pasalnya, apa yang menjadi keresahan Kartini kala itu adalah persoalan yang hingga saat ini dihadapi perempuan.

Pendidikan yang diharapkan menjadi ruang eksplorasi paling aman bagi perempuan, justru berubah menjadi institusi yang mencekam. Deretan kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap perempuan yang terjadi di institusi pendidikan tak pernah surut. Tantangannya menjadi semakin berat ketika pelecehan bertambah ke ruang digital yang kerap meloloskan pelaku karena dianggap tak ada bukti konkret secara fisik. Padahal dampak psikisnya jauh melampaui ada yang terlihat dalam layar. UN Special Rapporteur on Violence Against Women and Girls 2018 melaporkan 23% Perempuan setidaknya telah mengalami satu kali pelecehan daring dalam hidupnya dan satu dari 10 perempuan telah mengalami kekerasan seksual di dunia maya sejak berusia 15 tahun.

Pendidikan mestinya menjadi instrumen paling tajam dan jernih yang mampu mentransformasi struktur dasar berpikir manusia. Sayangnya, di lingkungan kampus sekalipun diskriminasi terhadap perempuan, kerap terjadi. Hal ini tak terlepas dari budaya patriarki yang mengakar di setiap sektor.

Perempuan yang oleh Simon de Beauvoir disebut sebagai The Other (sosok yang lain), hadir bukan sebagai subjek tunggal yang utuh, bukan pemeran utama yang bebas menentukan arah hidupnya sendiri, tetapi didefinisikan berdasarkan perspektif laki-laki. Kekerasan dan pelecehan seksual menandakan adanya sistem yang rapuh di mana perempuan berada dalam bayang-bayang dominasi kuasa yang tidak adil.

Baca juga:

Bahkan riset Gadis Arivia dalam bukunya yang berjudul Filsafat Berperspektif Feminis, menggambarkan perempuan sebagai makhluk teralienasi sejak dalam pikiran. Hal ini dapat dinavigasi dari  sudut pandang misoginis para filsuf dan ilmuwan yang gagal menciptakan konsep egaliter bagi perempuan. Dan satu abad lebih sepeninggal Kartini, adalah waktu yang tidak cukup untuk kita merampungkan kegelisahan itu.

Ide Kartini bukan hanya milik perempuan. Kebebasan berpikir, kesamaan hak, keadilan sosial yang dikemas oleh keresahan Kartini, adalah kebutuhan dasar setiap manusia. Dan untuk itu, Hari Kartini juga adalah milik laki-laki yang mau bersekutu. Panggil Aku Kartini Saja… (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Asri Eka Mutiara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email