Itu Ibuku

Rusti Lisnawati

2 min read

Kira-kira pukul enam lewat tiga puluh lima menit ketika Ibumu datang, menanyakan menu sarapan apa yang ingin kau makan, tapi kau malah memilih mengibarkan bendera perang. Mukamu merenggut. Tak ada jawaban yang diterima Ibumu. Kau menarik diri ke dapur. Mengambil tumpukan baju kotor yang tiga hari ini diabaikan oleh orang rumah. Kau tahu Ibumu mengikuti ke dapur sambil terus menawarkan menu-menu andalan yang biasa kau makan setiap pagi. Ia juga menawarkan diri untuk membuatkan nasi goreng jika kau mau. Akan tetapi, hasilnya tetap sama. Ibumu tak mendapatkan jawaban apa-apa dari bibir mudamu yang maju lima senti.

‎”Kau kenapa?” Ibu berdiri di ambang pintu kamar mandi. Ia jelas bingung dengan sikapmu pagi ini. Pikirnya, kau marah karena ia lupa mencuci baju kotor yang sekarang sedang kau rendam. “Nanti saja mencucinya. Biar Ibu yang mencuci siang ini,” lanjutnya, berharap mukamu yang mirip dengan kekasihnya itu sedikit melentur dan sedap untuk dipandang.

Lagi-lagi kau tak pedulikan ucapan Ibumu. Tanganmu terus menyiram tumpukan baju kotor dalam bak. Lalu mengambil bak lainnya, sikat baju, dan detergen. Kau mulai mencuci baju satu persatu. Sementara Ibumu baru menyadari perang yang kau mulai itu. Tak ingin membuat volume kemarahanmu bertambah, perempuan yang telah mengajarimu banyak hal itu undur diri. Seandainya kau mau menoleh sedikit, bisa kau lihat ada kerutan di atas alis mata dan binar ceria yang meredup di bola mata Ibumu. Jelas Ibumu bingung dengan penyebab kemarahanmu yang lahir terlalu pagi.

Usiamu sudah genap dua puluh tahun dan dia adalah orang paling dekat denganmu, Ibu kandungmu sendiri, tak semestinya kau marah sebesar itu gara-gara semalam ia tak pulang dan tidur di rumah nenekmu. Ayah sudah memberi penjelasan mengapa Ibumu tak ikut pulang, membiarkanmu berdua dengan saudara perempuanmu, dan melupakan segenap pekerjaan rumah di hari itu. Meskipun pagi itu, Ibu tetap menyediakan sarapan untukmu, kau tetap memilih marah padanya.

‎”Seharusnya Ibu lebih memikirkan aku bukan orang lain.” Kau melampiaskan amarahmu pada baju yang sedang kau sikat.

‎Orang lain yang kau maksud itu adalah adik Ibumu. Kau tahu ia baru pulang dari rumah sakit. Suaminya sibuk, tak mampu mengurus semua keperluan adik Ibumu yang sakit itu. Mau tak mau, didorong rasa sayang, Ibumu dan saudaramu yang lain yang mengurusnya. Seharusnya kau mengerti, menunda pekerjaan itu, dan membesuknya di rumah nenekmu. Rasa simpatimu kalah dengan amarahmu yang sedang naik-naiknya.

Selesai mencuci baju, kau gegas menjemurnya, sangat sadar diri tak ada orang yang bisa membantumu di rumah pagi ini. Kedua adikmu sekolah. Ayah sedang melayani tamu yang datang terlalu pagi.

‎Kau melihat mesin waktu di ponselmu menunjukkan pukul setengah sembilan. Waktu yang pas menurutmu untuk melipat baju kering sembari menonton kartun. Belum sepenuhnya baju-baju kering itu berhasil kau lipat, ketika Ibumu buru-buru masuk rumah dengan air muka dan mata yang serba merah. Ada apa pikirmu, tapi kau enggan bertanya. Masih bertahan dengan amarahmu. Ibumu meninggalkan rumah lagi. Kali ini sambil diikuti Ayah yang mengelus punggung Ibumu, memintanya tenang dan menghentikan tangisnya. Keduanya membiarkan tamu itu menikmati segelas kopi hitam dan makanan ringan tanpa tuan ditemani tuan rumah.

“Mereka pasti mau ke rumah nenek lagi,” katamu sambil terus melipat baju.

“Tolong kau panggilkan pamanmu, adikmu, dan Sina. Minta mereka pulang sekarang.”

Hampir saja kau mengumpat karena kaget dengan kemunculan Ibumu yang tiba-tiba, seandainya matamu tak menangkap mata Ibumu yang berair, suaranya juga bergetar. Kau ingin bertanya ada apa sekali lagi pada Ibumu, tapi malu, dan memilih melakukan permintaan Ibumu.

“Kau juga ayo ke rumah nenekmu. Tinggalkan baju-baju itu,” pinta Ibumu.

Kali ini kau mengiyakan. Kau minta agar Ibumu pergi lebih dulu, berjanji akan menyusul setelah menghubungi orang-orang yang tadi disebut Ibumu. Rumah nenekmu nampak ramai. Kau masuk lewat pintu belakang bersama dengan tamu tadi. Ada sepupu laki-lakimu yang menangis di ambang pintu. Suasana pagi di rumah nenekmu berbeda dengan suasana di rumahmu yang panas. Kau terus berjalan sembari menarik tangan sepupumu ke ruang tengah. Orang-orang berkerumun. Ada yang menangis, ada yang terang-terangan mengakui dosanya, ada yang menggemakan takbir, dan ada Ibumu yang menangis di pojokan lemari.

Tangis sepupu laki-lakimu makin keras manakala kau melihat adik Ibumu yang enggan kau jenguk itu terbujur di tengah-tengah kerumunan. Ia bernapas satu-satu. Semakin waktu berjalan, semakin melambat deru nafasnya. Semakin besar ketakutan yang terpancar dari wajah orang-orang yang berkerumun itu. Usiamu sudah digenapkan jadi dua puluh tahun dan kau tahu situasi apa yang sedang kau lihat itu. Matamu berkeliaran, mencari di mana agaknya malaikat maut itu duduk. Berkali-kali kau mencari yang kau temukan hanyalah dada adik Ibumu yang tak lagi naik turun. Selang oksigen dilepas begitu saja. Tangan Ayahmu mengusap wajah adik Ibumu. Sementara yang lainnya kompak menutup wajah mereka yang basah.

Tamu ayahmu memberanikan diri mendekati kakekmu yang duduk di dekat kepala adik Ibumu. “Ikhlaskan, Pak. Dia sudah tak sakit lagi,” ucapnya sembari mengelus punggung kakekmu yang bergetar.

‎Meskipun terlambat, kau ikut menangis juga. Sebuah tangan menghampiri pundakmu. Pelan-pelan ditariknya tubuhmu ke tubuh pemilik tangan itu. Sang empunya berbisik di telinga kananmu, “adik aku yang satu itu memang banyak meminta sesuatu padamu, tolong maafkan dia, Nak.”

Yang berbisik itu adalah Ibuku.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Rusti Lisnawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email