Dulu orang masuk kampus untuk mencari ilmu. Sekarang, sebagian orang tampaknya salah alamat. Mereka masuk kampus, tapi yang dicari bukan pengetahuan, melainkan perhatian—dan kadang perhatian yang terlalu “fisik”. Kampus yang seharusnya menjadi ruang berpikir kritis, malah berubah seperti drama komedi yang salah genre: antara tragedi, satire, dan absurd.
Fenomena kekerasan seksual di kampus semakin sering muncul. Data menunjukkan bahwa mayoritas dosen mengakui kasus ini pernah terjadi. Bahkan lebih ironis lagi, banyak kasus tidak dilaporkan. Alasannya klasik: takut, malu, bingung, dan khawatir bukti hilang seperti tugas kelompok yang tidak pernah dikumpulkan.
Bayangkan saja. Kampus yang mestinya menjadi tempat diskusi ilmiah malah menjadi lokasi drama moral. Ruang kelas yang seharusnya penuh teori etika justru kadang berubah menjadi praktik pelanggaran etika. Ini seperti dosen mengajar matematika, tapi ujian yang keluar malah pelajaran akhlak—dan banyak yang remedial.
Angka kasus kekerasan berbasis gender yang meningkat setiap tahun memperlihatkan satu hal sederhana: moralitas kita mungkin sedang cuti akademik. Kampus yang seharusnya menjadi ruang aman bagi mahasiswa justru menjadi tempat yang membuat sebagian mahasiswa merasa seperti sedang mengikuti lomba bertahan hidup bukan lomba presentasi.
Baca juga:
Kasus demi kasus bermunculan. Ada dugaan pelecehan oleh dosen. Ada dugaan pelecehan oleh mahasiswa. Ada juga pelecehan lewat pesan digital. Bahkan ada lagu mahasiswa yang liriknya dinilai melecehkan. Ini menunjukkan bahwa kreativitas mahasiswa memang luar biasa, sayangnya, kadang kreativitas itu tidak diarahkan ke hal yang tepat.
Kampus pun berubah menjadi laboratorium sosial. Bedanya, eksperimen yang terjadi bukan eksperimen ilmiah, tetapi eksperimen moral. Dan hasilnya? Banyak yang gagal uji etik.
Dalam perspektif filsafat moral, manusia sebenarnya memiliki kemampuan membedakan baik dan buruk. Tetapi kemampuan itu sering kalah oleh dorongan instingtif. Ketika akal sehat sedang libur, naluri mengambil alih. Dan ketika naluri mengambil alih tanpa kontrol, hasilnya bukan lagi manusia rasional, melainkan manusia impulsif dengan gelar akademik.
Ini ironis. Orang yang sedang belajar menjadi sarjana justru gagal menjadi manusia sederhana yang beretika. Gelar akademik bertambah, tetapi kedewasaan moral tertinggal. Kampus pun menghasilkan paradoks: intelektual yang pintar berpikir, tetapi kadang gagal memahami batas.
Masalah ini juga diperparah oleh lemahnya kontrol sosial. Kampus modern sering menjunjung kebebasan akademik. Kebebasan itu penting. Tetapi kebebasan tanpa tanggung jawab seperti Wi-Fi tanpa password semua orang bisa masuk, dan akhirnya jaringan menjadi kacau.
Di era digital, masalah semakin kompleks. Mahasiswa hidup dalam dunia yang penuh konten instan. Segala sesuatu bisa diakses dengan cepat. Termasuk konten yang tidak mendidik. Ketika seseorang terlalu sering melihat sesuatu, ia bisa menganggapnya normal. Padahal tidak semua yang sering terlihat layak ditiru.
Inilah ironi zaman modern. Teknologi berkembang cepat, tetapi kedewasaan moral berjalan lambat. Mahasiswa bisa menguasai kecerdasan buatan, tetapi belum tentu bisa mengendalikan diri sendiri. Mereka bisa membuat presentasi dengan animasi canggih, tetapi belum tentu memahami batas etika sederhana.
Kampus pun menghadapi dilema. Di satu sisi, mereka ingin menjaga reputasi. Di sisi lain, mereka harus mengakui bahwa masalah memang ada. Ketika kampus lambat menangani kasus, publik mulai curiga. Ketika kampus terlalu defensif, publik mulai skeptis. Pada akhirnya, reputasi kampus bisa lebih cepat turun daripada IPK mahasiswa yang malas kuliah.
Dampak bagi mahasiswa juga tidak kecil. Rasa aman berkurang. Lingkungan akademik menjadi tidak nyaman. Diskusi ilmiah berubah menjadi ruang penuh kecanggungan. Kampus yang seharusnya menjadi ruang berpikir terbuka berubah menjadi ruang penuh kehati-hatian.
Dari sudut pandang etika, masalah ini sebenarnya sederhana: manusia harus memperlakukan manusia lain sebagai subjek, bukan sebagai objek. Namun, prinsip sederhana ini sering gagal diterapkan. Mungkin karena teori etika hanya dipelajari untuk ujian, bukan untuk kehidupan.
Masalah ini juga menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum tentu menghasilkan moral tinggi. Pendidikan akademik memang penting, tetapi tanpa pendidikan karakter, hasilnya bisa timpang. Seperti kursi dengan satu kaki panjang dan tiga kaki pendek—tetap terlihat canggih, tetapi tidak stabil.
Baca juga:
Solusi tentu tidak cukup hanya dengan aturan. Aturan tanpa kesadaran moral seperti rambu lalu lintas di jalan kosong: ada, tetapi tidak dipatuhi. Kampus perlu membangun budaya etika yang kuat. Bukan sekadar slogan, tetapi kebiasaan.
Pendidikan karakter menjadi penting. Empati perlu dilatih. Kesadaran moral perlu diperkuat. Dan yang paling penting, pelaku harus diberi sanksi tegas. Tanpa sanksi tegas, pelanggaran bisa dianggap seperti pelanggaran parkir, tidak terlalu serius.
Selain itu, sistem pelaporan harus aman dan mudah. Banyak korban enggan melapor karena takut. Jika kampus ingin serius, maka keberanian korban harus dilindungi. Tanpa itu, kasus akan terus tersembunyi seperti tugas yang tidak pernah dikumpulkan.
Kampus harus kembali ke tujuan awalnya: membangun manusia yang cerdas dan bermartabat. Tanpa itu, kampus hanya akan menghasilkan sarjana tanpa karakter. Dan sarjana tanpa karakter seperti buku tebal tanpa isi: terlihat mengesankan, tetapi kosong nuraninya.
Fenomena kekerasan seksual di kampus adalah alarm keras. Ini bukan sekadar masalah individu. Ini masalah budaya. Ini masalah moral. Ini juga masalah pendidikan.
Kampus harus berhenti menjadi panggung drama moral. Kampus harus kembali menjadi ruang ilmu. Jika tidak, kita akan menghadapi generasi yang pintar secara akademik, tetapi kikuk secara etika.
Dan itu mungkin lebih berbahaya daripada mahasiswa yang lupa mengerjakan tugas. Karena tugas yang terlambat masih bisa dikumpulkan. Tetapi moral yang terlambat diperbaiki bisa berdampak jauh lebih fatal.
Singkatnya, kampus jangan sampai menjadi tempat di mana logika diajarkan, tetapi etika ditinggalkan. Karena pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang pintar. Dunia membutuhkan orang pintar yang tahu batas.
Kalau tidak, kita hanya akan memiliki banyak sarjana, tetapi sedikit manusia yang bermoral. (*)
Editor: Kukuh Basuki
