Lebih banyak membaca dan merenung.

Pengamat Surya

Boiman Manik

4 min read

Sebelum matanya terbuka, ia sudah merasakan tekanan yang kuat di kepalanya, dan ada cukup kelegaan karena semalam ia bermimpi menggendong seorang bayi; Pengamat Surya yakin mimpi itu adalah tanda keberuntungan.

Ia bangun di ruangan yang berbau busuk yang tidak asing dan saat akan mengangkat kepalanya tiba-tiba ada sebuah tangan yang menahan dadanya—seorang pria berkacamata hitam; sebentar kemudian seorang pria dengan potongan tumbuh pendek, rambutnya disisir ke belakang dan bagian depan kening hingga sedikit ke tengah kepalanya tampak botak, mukanya diisi banyak titik hitam dan ia bicara dengan suara yang mengandung paksaan, lalu pria itu mengulurkan sebuah amplop hitam.

“Saya tidak yakin bisa memaafkan Anda,” kata pria pendek itu.

“Saya perlu minum obat,” kata Pengamat Surya.

Salah seorang lain yang ada di kamar itu menawarkan diri mengambilkan obat untuk Pengamat Surya. Dan setelah itu matanya bisa melihat empat orang berbaju dan berkacamata hitam, dan pria pendek di depannya berkemeja polos dengan lengan tergulung; cara mereka melihat terasa sebagai tuduhan bagi Pengamat Surya yang ngilu di kepalanya mulai surut.

Pria pendek itu menghampirinya lagi.

“Anda tidak bisa seperti ini terus. Jadilah warga yang baik,” katanya.

“Saya sudah menarik tulisan itu sejak lama dan seharusnya sudah tidak ada jalan baginya untuk bertemu pembaca.”

“Lalu bagaimana Anda menghilangkannya dari kepala saya?”

Pengamat Surya diam.

“Ini surat panggilan terakhir dan Anda akan datang,” katanya sambil meletakkan amplop itu di sebelah Pengamat Surya dan pergi dari sana dan pergi meninggalkan Pengamat Surya.

Setelah berhenti menulis buku, Pengamat Surya lebih banyak menulis di tempat lain, ia dan ia media sosial begitu memikat dan berlama-lama di sana sampai lupa diri. Terakhir ia menulis soal perangai orang pendek yang luwes, lincah, dan gesit dan dalam setiap gerakannya bisa mengacak-acak apa saja, termasuk aturan; ia mengambil contoh teman sekolahnya yang jadi ketua kelas yang suka mengemplang uang kas dan digunakan untuk ke rental gim dan sejak cerita itu banyak diminati, keberuntungannya mulai luntur. 

Ia teringat siang itu, saat sedang bermain dengan anjingnya, seorang pengantar surat datang dan anjingnya tidak lagi menggoyangkan ekor; ia berlari ke belakang kakinya, seperti anak kecil yang minta dilindungi. Memang pengantar surat itu keringatnya busuk, matanya redup, dan rambutnya putih dan ketika itu Pengamat Surya agak terganggu dengan wangi keringatnya saat ia menyodorkan amplop hitam itu; ia segan menutup hidung, dan karena tidak tahan menyimpan napas lama-lama, Pengamat Surya pura-pura batuk dan dengan cara itu ia bisa memalingkan wajah.

Bau busuknya semakin kuat saat tatapan pengantar surat itu terasa seperti menuduh Pengamat Surya; itu adalah efek samping dari keberuntungannya. Ia bisa mengendus bau orang-orang jahat dan dengan itu ia bisa tepat memilih tempat tinggal, pekerjaan, dan seorang istri yang cerewet menulis di media sosial. Istrinya sudah lama pergi sebab bosan menunggu suaminya jadi orang kaya. Beberapa hari sebelum bercerai, Pengamat Surya agak sering meraba bau busuk.

Amplop hitam itu adalah panggilan dari Biro Keresahan—agensi yang mengurus perangai warga-warga—dan Pengamat Surya diminta mengklarifikasi tulisannya mengenai orang pendek. Dan menurut Pengamat Surya tidak ada gunanya menjelaskan tulisan lucu-lucuan; ia sudah menghapusnya dan masalah yang timbul hanya sebatas kemungkinan-kemungkinan yang tidak terjadi. Pikirnya begitu. Dan karena tak mau surut memikirkan surat itu, ia sampai sakit kepala, mual-mual, dan bangun setiap pukul dua malam.

Kebiasaan barunya mendatangkan hal-hal yang tidak biasa pula. Tetangganya jad bersikap dingin pada Pengamat Surya. Mula-mula mereka tidak lagi saling berbalas senyum; dan anak-anak jadi sering menangis saat melewati rumahnya. Biasanya anak-anak itu akan menggoda anjingnya dan mereka akan saling menyalak, menggonggong, dan jika mereka hampir saling mencakar Pengamat Surya akan bermain dengan mereka seolah sedang mengurusi anak-anaknya sendiri; sejak itu peliharaan Pengamat Surya ikut kehilangan teman dan matanya selalu tampak ingin menangis.

Lalu minggu-minggu berikutnya, tetangga-tetangga Pengamat Surya melempari jendela rumahnya dan anak-anak itu menempatkan sampah di pintu gerbang. Dan Pengamat Surya tidak menyangka anak-anak seperti mereka memiliki ketekunan serupa pertapa karena sampah itu selalu disiapkan setiap pagi selama berbulan-bulan.

Ia teringat lagi soal olok-olok orang pendek itu yang dia tulis dan orang pendek yang ia olok-olok itu adalah teman akrabnya; Pengamat Surya sering diam saat uang kas kelas digunakan untuk bermain di rental gim berjam-jam dan temannya yang pendek itu beralasan dipalak oleh seniornya. Mereka masih saling memberi kabar meski Pengamat Surya sudah pensiun dan temannya itu sibuk dengan urusannya sebagai Kepala Kota.

Tulisan olok-olok itu hanya mengutip dari ingatan Pengamat Surya dan ia yakin itu tidak memberi dampak apa-apa pada temannya; orang-orang yang membaca tertarik, terpikat, dan tertawa, dan memang itulah keperluannya menulis. Dan sejak itu komentar di media sosialnya rusuh, dada Pengamat Surya agak gaduh; ia berpikir cukup lama, dan terkadang saat sedang memikirkannya ia lupa makan, tidur, dan sejak itu matanya dikelilingi guratan hitam. Dan saat itu tulisannya sudah banyak dibincangkan dan sampai menyusup ke televisi; akhirnya ia membuang tulisannya. Dan Pengamat Surya yakin masalah-masalah yang mungkin muncul bisa ikut hilang.

Saat itu, ketika anjingnya melolong di luar, ketika orang-orang melempari rumahnya, dan ketika bau sampah menusuk hidungnya, Pengamat Surya sadar bahwa ia akan meneruskan hidupnya dengan nasib buruk.

Dan untuk menolak kesialan-kesialan itu, Pengamat Surya mencoba berdoa; pada mulanya ia meminta agar lebih sering bermimpi tentang seorang bayi. Dan mimpi itu tidak pernah datang dan ia akhirnya menemukan baju yang ada di jemuran belakangan selalu terlihat basah meski udara terasa panas setiap saat, dan di sana ia mencium bau yang tidak enak selain sampah. Ia meragukan upaya-upaya orang untuk melakukan hal-hal usil padanya; ini di luar akal orang normal. Pengamat Surya mencium bajunya dan yang hidungnya menyergap bau pesing.

Pengamat Surya menolak itu sebagai kesialan, mungkin itu ulah kucing dan meski anjingnya sudah bisa meniru manusia dengan membuang kencing di kloset, ia merasa satu atau dua kali kesalahan bisa terjadi. Ia mencuci ulang semua bajunya dan mulutnya selalu mengucap aku adalah orang yang dianugerahi keberuntungan. Sebentar kemudian seorang tetangga—yang selalu tersenyum—mendatanginya.

“Sebagai seorang pria, kau cukup rajin mencuci baju sebanyak itu,” kata tetangga itu.

“Aku belajar banyak dari istriku.”

“Kau menonton berita yang ramai belakangan?”

“Kukira kau akan sama seperti yang lain.”

“Inginnya begitu. Tapi berita itu benar-benar mengejutkan dan aku terdorong untuk menceritakannya padamu.”

“Televisiku rusak.”

“Kepala Kota dituduh menculik orang. Kau tahu, orang-orang baik memang selalu menggoda untuk ditempeli hal-hal buruk.”

Pengamat Surya tidak membiarkan matanya menatap tetangga itu; ia masih tekun mengurusi baju-bajunya.

“Dan Kepala Kota selalu membalas tuduhan kotor itu dengan tersenyum; senyumnya seperti seorang anak kecil yang takut sendirian di dalam kamar gelap. Tidak mungkin dia orang jahat,” lanjut si tetangga.

“Ya. Kau benar.”

“Omong-omong aku ada sesuatu untukmu.”

Tetangga itu memberi amplop berwarna hitam; Pengamat Surya menatap mata tetangga itu.

“Kepala Kota selalu memberi contoh yang baik. Itu baik untuk kita, dan untukmu juga.”

Sore harinya, karena terganggu dengan mata tetangganya yang seperti menuding, dan setelah membawa dirinya berjalan-jalan, ia merasa badai akan datang. Awan memang gelap; angin memang kencang, dan hujan belum turun. 

Dan satu-satunya rumah yang rusak di daerah ia tinggal adalah rumahnya sendiri. Semua barang tercecer ke sembarang tempat. Buku-buku dan dokumen kerjanya tergeletak di lantai, laptopnya menyala, dan di dapur, piringnya-piringnya pecah. Ia meneliti isi rumah dan menemukan bajunya menggantung dengan bau pesing yang lebih tebal, dan sampah-sampah—campuran buah dan daging busuk—kini melingkari rumahnya. Pengamat Surya diam dan tidak memikirkan apa-apa selain cara membersihkannya sebelum malam agar bisa tidur nyenyak dan ketabahan itu membuat Pengamat Surya, untuk pertama kali dalam hidupnya, merasakan kesedihan. Anjingnya meninggal. Dan sejak itu ia jadi seperti rumahnya.

Hidungnya tidak bisa menghidu bau busuk, pesing, dan anyir. Ia pergi ke kamarnya yang juga dipenuhi sampah-sampah, menuju kasur, mengabaikan amplop itu, dan mencoba tidur.

Setelah beberapa jam, Pengamat Surya bangun dengan tangan diikat, mulut dilakban, dan ia digeret masuk ke dalam mobil yang tidak memiliki jendela. Dan mobil itu berjalan ke mana saja seperti tanpa tujuan. Selama berjam-jam Pengamat Surya meringkuk dan bergoyang-goyang di sana. Mobil kemudian berhenti sebentar, seseorang menghampiri Pengamat Surya.

“Saya lapar,” kata Pengamat Surya.

Tidak ada jawaban.

“Saya haus,” katanya lagi.

“Sebentar lagi kita sampai,” kata orang itu.

Sebentar kemudian mobil berhenti, terdengar suara pintu terbuka, dan terdengar teriakan ‘hajar’ dari luar. Kemudian Pengamat Surya mendengar suara teriakan orang-orang meminta ampun, tolong, dan maaf. Pengamat Surya memejamkan mata, kepalanya seperti ditindih batu dan ia berharap bisa tidur dan memimpikan seorang bayi.

Boiman Manik
Boiman Manik Lebih banyak membaca dan merenung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email