Memilih Viral atau Bernalar

Muhammad Nur Sokhib

2 min read

Di zaman ketika satu sentuhan jari mampu menghadirkan ribuan pasang mata, manusia menemukan candu baru bernama validasi. Jumlah likes, views, dan komentar menjelma ukuran nilai diri. Ironisnya, semakin mudah validasi diraih, semakin dangkal pula makna yang dikejar. Media sosial yang semestinya menjadi ruang berbagi gagasan perlahan berubah menjadi panggung besar tempat sebagian orang rela melecehkan dirinya sendiri demi keviralan sesaat.

Hari ini, prestasi sering kalah pamor dibanding sensasi. Mereka yang menari di atas logika, berbicara tanpa substansi, atau mempertontonkan aib pribadi justru lebih cepat mendapat sorotan. Sebaliknya, orang-orang yang tekun membaca, belajar, meneliti, dan mengasah kemampuan kerap tenggelam dalam sunyi. Dunia seakan memberi pesan keliru: terkenal lebih penting daripada berilmu.

Validasi publik sejatinya bukan sesuatu yang haram. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan pengakuan. Namun, ketika validasi dijadikan tujuan hidup, ia berubah menjadi jerat. Banyak orang mulai mengukur harga dirinya dari respons warganet, bukan dari kualitas diri yang sesungguhnya. Demi satu momen viral, etika dikorbankan, martabat ditawar, bahkan akal sehat disisihkan. Pada titik inilah validasi menjelma tuhan baru, disembah tanpa nalar dan kritik.

Baca juga:

Berbanding terbalik dengan hiruk-pikuk tersebut, ada jalan sunyi yang sering diabaikan: mendalami ilmu dan meng-upgrade diri. Jalan ini tidak menjanjikan tepuk tangan instan. Ia menuntut kesabaran, disiplin, dan kerendahan hati. Membaca buku demi buku, belajar dari kegagalan, memperluas wawasan, serta mengasah keterampilan memang melelahkan. Namun, justru di sanalah nilai sejati dibangun.

Ilmu memiliki sifat yang unik: ia tidak berisik, tetapi berpengaruh. Orang yang berpengetahuan luas tidak perlu berteriak untuk didengar. Ketika kompetensi berbicara, kepercayaan datang dengan sendirinya. Dunia kerja, ruang diskusi, hingga kehidupan sosial pada akhirnya mencari mereka yang mampu memberi solusi, bukan sekadar sensasi. Mereka yang memiliki ilmu akan dicari, bukan sibuk mengejar pengakuan.

Sejarah membuktikan bahwa peradaban maju bukan dibangun oleh manusia-manusia viral, melainkan oleh para pemikir, ilmuwan, dan pekerja sunyi yang tekun mengasah kemampuan. Nama-nama besar dikenang bukan karena kontroversi sesaat, tetapi karena kontribusi nyata. Sayangnya, logika ini kerap kalah oleh algoritma media sosial yang mengutamakan kehebohan. Akibatnya, banyak generasi terjebak dalam perlombaan citra, lupa membangun fondasi diri.

Kritik terhadap budaya validasi bukan berarti menolak media sosial. Persoalannya bukan pada platform, melainkan pada orientasi. Media sosial seharusnya menjadi etalase karya dan gagasan, bukan tempat mengemis pengakuan. Ketika isi kepala dipenuhi ilmu, konten akan mengikuti kualitasnya. Ketika karakter dibangun dengan nilai, pengaruh akan hadir tanpa harus merendahkan diri.

Meng-upgrade diri adalah investasi paling rasional di tengah dunia yang bising. Ilmu membuat seseorang mandiri secara berpikir, tidak mudah terseret arus, dan mampu memilah mana yang penting dan mana yang sekadar ramai. Dengan pengetahuan, seseorang berdiri di atas pijakan yang kokoh—tidak goyah oleh naik-turunnya angka popularitas.

Sudah saatnya kita berhenti mengukur diri dari layar orang lain. Kejar validasi boleh, tetapi jangan menjadikannya tujuan hidup. Yang jauh lebih mendesak adalah memperkaya isi kepala dan memperhalus karakter. Karena pada akhirnya, keviralan akan pudar, algoritma akan berganti, dan tepuk tangan akan berhenti. Yang tersisa hanyalah siapa diri kita sebenarnya: kosong atau berisi.

Dunia mungkin sedang haus validasi, tetapi masa depan tetap membutuhkan manusia berilmu. Dan bagi mereka yang memilih jalan sunyi belajar dan terus meng-upgrade diri, satu hal patut diyakini ketika kualitas hadir, pengakuan akan datang sendiri, tanpa perlu mengorbankan martabat.

Dan apabila kita memilih jalan itu, belajar ketika orang lain sibuk tampil, berpikir ketika yang lain bereaksi, dan bekerja ketika yang lain menunggu pengakuan. Dari jalan inilah makna tumbuh dan manfaat hadir bagi diri sendiri, sekaligus bagi masyarakat. Ketika bernalar kembali memimpin, keviralan tak lagi menjadi tujuan, melainkan hanya kemungkinan yang datang sebagai akibat.

Fenomena ini menemukan bentuk nyatanya pada sosok seperti KH. Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang lebih akrab disapa Gus Baha. Di tengah riuh rendah panggung digital yang mengagungkan kemewahan dan drama, beliau hadir sebagai antitesis yang menyegarkan. Penampilannya sangat bersahaja, seringkali hanya dengan kemeja putih sederhana dan sarung yang khas, tanpa sedikit pun upaya untuk memoles citra demi algoritma. Namun, meski jauh dari kesan glamor, setiap tutur katanya disimak oleh jutaan pasang mata. Beliau tidak mengejar keviralan, namun keviralanlah yang mengejar beliau.

Baca juga: 

Hal ini membuktikan bahwa kedalaman ilmu memiliki daya pikat yang jauh melampaui polesan visual. Gus Baha disegani bukan karena pengikutnya yang melimpah atau kontroversi yang sengaja diciptakan, melainkan karena orisinalitas pemikiran dan penguasaan literatur yang mumpuni. Beliau menjadi bukti hidup bahwa ketika seseorang selesai dengan kualitas dirinya, dunia akan datang mendekat tanpa perlu diminta. Beliau tetap memilih jalan sunyi dalam kesederhanaan, namun resonansi ilmunya menembus batas-batas layar gawai.

Meneladani jalan tersebut berarti menyadari bahwa martabat tidak terletak pada seberapa banyak jari yang menekan tombol suka, melainkan pada seberapa bermanfaat isi kepala kita bagi sesama. Pada akhirnya, kita diajak untuk kembali ke hakikat: menjadi manusia yang “berisi,” bukan sekadar “berisik.” Karena di ujung hari, popularitas hanyalah buih, sementara ilmu yang bermanfaat adalah arus tenang yang menggerakkan peradaban ke arah yang lebih baik. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Muhammad Nur Sokhib

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email