Poet, writing like fever dreams.

Pemandu Wisata Maut

Galih Santoso

4 min read

“Apakah kamu tega melihatku gelisah dipenuhi rasa penasaran?”

Suara bergetar seperti menahan tangis itu, kali ini berhasil membuatku merasa bersalah. Rupanya cara dramatis seperti ini telah ia pelajari untuk menggoyahkan prinsipku.  Kualihkan wajahku menjauh darinya, keselamatan Gigih lebih penting daripada menghentikan upayanya untuk memelas. Semua denting gamelan seakan meredup. Hanya suara Gigih, suara lembut dan naif yang entah bagaimana terdengar seperti memukul-mukul gendang telingaku. Dia masih begitu muda dan wajar jika terkadang berjalan dituntun egonya. Aku sadar, mungkin Gigih tak pernah benar-benar memikirkan perasaanku. Bahkan ia tetap merengek meminta ijin kepadaku ketika pipiku telah basah kuyup air mata.

Aku hanya ingin mencegahnya berbuat bodoh, bukan maksudku untuk melarangnya melakukan hal yang ingin ia buktikan sendiri. Memang ia tak percaya akan adanya setan. Memang ia tak percaya akan hal mistis. Tapi bisakah ia sekali saja percaya kepada kekasihnya? Kepadaku? Bukankah cinta adalah perihal yang juga tidak masuk akal? Mengapa Gigih percaya kepada cinta?

Gigih menempuh ratusan kilometer untuk menemuiku. Melewati tiga nama kota dan satu nama provinsi. Ia menghabiskan cuti tahunannya hanya untuk mengunjungiku setiap bulannya. Kehadiran Gigih seperti sejuk gerimis yang memunculkan pelangi. Kalau boleh mengibaratkan, ia bagaikan warna yang sudah lama tak mampu kulihat dalam hidupku. Warna yang membuatku begitu bahagia sampai-sampai tak peduli pada dunia selain tentangnya.

Sebelumnya aku tak pernah menjadi sesumringah ini setiap akan bertemu dengan seseorang. Terkadang aku merasa tidak pantas untuk menjadi kekasihnya. Tubuhku yang berbau kemenyan gaharu jauh jomplang dengan parfum leather vanilla miliknya. Wewangian yang selalu kuingat meskipun kami sedang direntangkan oleh jarak.

Beberapa kali Gigih datang sendirian. Beberapa kali pula Gigih datang bersama teman-teman kantornya yang ingin berlibur menjauh dari asap knalpot dan bayangan gedung-gedung kota. Ketika teman kantornya menggoda dan mengatakan ia berpacaran dengan dukun, Gigih pasti akan bilang, “Apa salahnya pacaran sama orang pintar?” Di saat-saat seperti itu aku akan tersipu sembari menjaga wibawa dilanjutkan dengan permintaan maaf teman-teman Gigih kepadaku bahwa mereka hanya berguaru saja.

Aku bersyukur, di upacara tolak bala kali ini ada jemari yang menggengam jemariku erat-erat. Ada teman bercerita tentang repotnya menjadi pemandu wisata yang tak pernah sepi pengunjung. Ada bahu kokoh buatku bermanja setelah seharian harus berinteraksi dengan berbagai macam manusia.

Jika untuk cinta ia bisa percaya dan mengalah. Mengapa untuk kekhawatiranku ia tidak bisa?

***

Kekecewaanku ibarat balon di pojok festival yang ukurannya semakin besar dan membesar, ditiup sampai meletus berkeping-keping tak karuan. Gigih mendaki ke puncak bukit tanpa sepengetahuanku. Segala mantra yang kuucap kini hanya untuk keselamatannya, kurapalkan berulang-ulang sambil gemetar jalanku dirundung sesuatu yang tak pasti. Apakah dalam kegamangan semacam ini Gigih masih tetap tidak percaya pada doa? Butir air mataku menyirami tanah yang kini semakin menjauh dari kerumunan warga.

Kuberanikan diri menembus hamparan rumput hijau. Di tanah curam, jelita bunga-bunga liar beberapa telah menunduk layu, kering dan gosong. Kuamati dengan teliti, sebuah drone terbakar seperti habis tertembak, semoga itu bukan drone milik Gigih. Tak ada lagi keindahan bunga-bunga liar yang sanggup menghiburku, bahkan azan magrib seolah mengumandangkan kehampaan paling kalut pada langkah yang terus kupercepat. Berjalan adalah keputusan yang bodoh. Aku harus berlari meskipun beberapa kali ujung kakiku terantuk akar pohon yang menyembul dari tanah. Rasa sakit tak sempat kurasakan.

Matahari terbenam sepenuhnya. Jantungku berdebar semakin lekas sementara udara dingin merambati kulitku. Cahaya rembulan menciptakan penerangan remang-remang. Persetan soal Nyah Ganya atau setan apapun. Aku harus melindungi kekasihku dari kemalangan yang menimpa para wisatawan. Kemalangan yang telah lebih dahulu terjadi kepada mereka yang membelot dari peringatanku untuk tidak naik ke bukit bedebah ini.

***

Darah memerahkan bagian depan kaos putih yang dulu kubelikan sebagai hadiah ulang tahunnya. Aku menjerit, tersungkur dan menggoyang-goyangkan badan Gigih di dalam rengkuhan tubuhku. Sama sekali ia membisu. Darah segar itu menempel di baju dan telapak tanganku. Kututup mataku dan perlahan aku mendekatkan bibirku pada bibir merona Gigih yang perlahan semakin membiru. Bibir yang selalu melawan nasihatku dengan logika dan kepolosannya. Bibir yang kini hanya diam ketika aku menciumnya sembari sesenggukan, menyatu dengan bengis malam. Kekasih macam apa yang mencabuli jenazah belahan jiwanya? Aku tak lebih dari hewan, aku adalah sariawan yang telah menguasai bibir orang yang tak bersalah. Aku hanya bisa menangis dan menangis. Air mataku bercampur dengan keringat yang sudah terlebih dahulu membasahi wajahku.

Aku memang pemandu wisata yang buruk…

Aku memang juru kunci yang gagal…

Aku memang kekasih yang sial…

Tapi kata para bajingan yang mendekat mengerubungiku, aku adalah pebisnis yang cerdik dan menawan. Para bajingan itu melempar segepok uang ke udara, berhamburan lalu berjatuhan di antara pelukan kami. Mereka menyuruhku untuk mengelap air mata dengan lembar-lembar uang. Seperti biasa, tugasku adalah mengaburkan skandal pembunuhan menjadi simpang siur. Dan sudah pasti, hanya atas keahlian ini saja mereka membiarkanku tetap hidup, lalu menyumpal mulutku dengan uang haram layaknya hewan ternak yang begitu najis.

Hanya saja, kali ini yang mati adalah Gigih. Mungkin aku telah kualat oleh keluarga korban yang selama ini tak pernah bisa menemukan jenazah orang-orang terdekatnya. Aku tidak pernah menyangka semua ini akan terjadi kepada kekasihku. Aku selalu berharap segala karma buruk biarlah aku sendiri yang menanggungnya. Mengapa harus Gigih? Apakah karma buruk ingin aku sekarat pelan-pelan dihancurkan oleh kesedihan?

Sekarang Gigih sudah tak lagi penasaran mengapa aku sangat melarangnya pergi ke tempat ini. Selalu kubayangkan mereka yang mati di sini adalah orang-orang pilihan, mereka mati begitu dekat dengan langit. Langit yang terus saja bungkam melihat manusia-manusia iblis menghabisi siapa saja yang menghalangi bisnisnya.

Dua pria berbaju hitam mendekat, merebut mayat Gigih dari pelukanku. Begitulah cara mereka mencuci tangan. Setelah ini, bahkan aku tak akan mampu mencium batu nisan Gigih. Tidak ada batu nisan bagi mereka yang mati di sini. Maka, cukuplah bagiku menciumnya sebelum ini, untuk terakhir kali akhirnya aku mewujudkan keinginannya, ciuman yang selama hidupnya selalu kutolak karena aku masih merasa begitu sungkan. Ternyata rasa sungkan yang terus diperam justru menjadikanku sosok hina karena telah mencium dan mencumbu seonggok mayat. Rupanya nafsu yang dulu kutahan sama sekali tidak membuatku menjadi pribadi yang bermartabat. Hanya Gigih yang tahu mengapa aku melakukan semua ini. Aku yakin bahwa dari surgaloka sana pasti Gigih melihatku melalui mata yang jernih dan manusiawi.

Berita tentang Gigih akan tersiar selama beberapa hari sebelum semua orang akhirnya lupa. Sementara kehidupan begitu kejam kepada Gigih. Kehidupan juga begitu kejam kepadaku. Telapak tangan yang masih bergetar ini harus mencuci darah orang yang sangat berarti dalam hidupku. Darah yang sudah mengering di kaos polos dan kain batik yang kukenakan mengikat pinggang menjuntai sampai ke mata kaki.

Para iblis keparat bahkan tak berbelas kasih untuk membiarkanku berkabung. Rasanya aku ingin bunuh diri saja tapi di dalam pikiranku aku membayangkan untuk membalaskan dendam Gigih, jadi aku masih belum boleh buru-buru mati. Aku harus segera membual soal Nyah Ganya sembari terus mengupayakan berbagai upacara dan festival tetap menjadi ingar bingar. Biar semuanya tetap menjadi abai. Itulah tugas, keahlian dan juga bisnis yang selama ini membuatku tetap hidup.

Ketika para warga dan wisatawan menari dibuai merdu gamelan, lewat jalur Watu Curing, berpuluh truk besar mengangkut bertumpuk-tumpuk ganja yang masih hijau dan segar. Menuruni bukit dengan jalan berkelok lalu menyebar ke seantero negeri. Jika aku tidak menuliskan kisah ini apakah kalian akan bisa mengira bahwa pemandu wisata sepertiku ternyata berperan besar dalam kasus-kasus besar?

Suatu saat mungkin para iblis itu juga akan membunuhku. Entah karena aku tak lagi berguna bagi kepentingan mereka. Maupun karena segala yang kuketahui mungkin dapat membahayakan mereka. Maka jika kalian membaca tulisan ini, mungkin aku sudah bertemu Gigih dan meminta maaf kepadanya atas setumpuk kesalahanku. Semoga di kehidupan setelah kematian (jika itu benar-benar ada) Gigih tidak membenciku. Kepada Gigih dan kepada kalian yang membaca cerita ini, aku ingin menjadi lantang untuk mengucapkan: Tidak pernah ada Nyah Ganya di puncak bukit. Hanya ada dosa dan perkebunan Ganja.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Galih Santoso
Galih Santoso Poet, writing like fever dreams.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email