Sampah Digital dan Kemunduran Intelektual

Ach. Fiqriyansyah

3 min read

Dewasa ini kita hidup di suatu kondisi yang paradoksal. Di satu sisi, segala informasi tersebar luas dan bisa diakses oleh siapa saja dengan sangat mudah. Namun nahasnya, kita sering kali lupa untuk memverifikasinya.

Setiap hari ada ratusan konten berseliweran di media sosial yang mengemas isu wawasan, edukasi, hingga analisis sosial. Sebagai penikmat konten, kita kerap terjebak dalam ilusi kompetensi; seketika merasa tercerahkan, merasa telah mengikuti isu secara komprehensif, dan merasa sudah cukup kritis dalam memahami berbagai persoalan. Namun, di balik konsumsi informasi yang masif tersebut, ada satu tindakan fundamental yang jarang kita lakukan: memeriksa objektivitas dari konten-konten itu.

Di ruang digital saat ini, kepakaran telah dikalahkan oleh algoritma; mereka yang popularitasnya tinggi sering kali lebih didengar ketimbang mereka yang jelas keahliannya namun rendah secara popularitas. Metrik dangkal seperti jumlah pengikut, gaya bicara yang meyakinkan, dan tampilan visual perlahan menggantikan keabsahan ketelitian, riset, dan kehati-hatian akademik.

Padahal, meminjam pandangan filsuf Karl Popper, objektivitas dari suatu pengetahuan baru dapat diakui ketika ia tahan terhadap uji falsifikasi. Artinya, sebuah pendapat hanya layak dipertimbangkan jika ditopang oleh data yang jelas dan metodologi yang kuat. Ironisnya, hukum besi keilmuan ini tidak berlaku di ruang digital, karena justru popularitaslah yang kini menjadi semacam legitimasi baru. Tanpa disadari, kita sedang menyaksikan pergeseran peradaban yang berbahaya: dari otoritas pengetahuan berbasis validitas ke otoritas berbasis viralitas.

Baca juga:

Inilah yang saya sebut sebagai fenomena “sampah digital”. Ia bermanifestasi sebagai sekumpulan konten yang murni menyuguhkan pandangan pribadi para influencer, namun dibungkus dengan tampilan visual rapi dan gaya bahasa meyakinkan. Jika ditelaah lebih jauh dengan pikiran yang jernih, konten-konten semacam ini sangat pantas dikatakan tidak bermutu. Isinya sering kali hanya berupa klaim sepihak tanpa ada rujukan teori yang jelas. Produksi konten ini tidak didasarkan pada niat mencerdaskan, melainkan murni pada kebutuhan intensif algoritma semata.

Banyak influencer yang dengan berani berbicara melampaui batas kepakarannya. Mereka mengulas isu sosial tanpa metodologi, membedah hukum tanpa referensi, dan mengomentari kompleksitas persoalan sosial hanya dari satu sudut pandang yang sempit. Celakanya, semua kesesatan berpikir ini dilabeli seolah-olah sebagai “konten edukasi”, padahal isinya tak lebih dari sekadar sampah. Memang, di zaman yang serba digital ini, siapa pun berhak berpendapat dan bersuara. Akan tetapi, ketika makna edukasi direduksi menjadi sekadar pandangan pribadi tak berdasar, di situlah intelektualitas kita sedang dipertaruhkan. Sangat disayangkan apabila pengaruh yang besar tidak dibarengi dengan tanggung jawab epistemik yang besar pula.

Kendati demikian, agaknya tidak adil apabila kita hanya menyalahkan satu pihak dalam kemunduran ini. Harus diakui secara jujur bahwa kita—para penonton, pembaca, mahasiswa, serta warga digital—juga bertanggung jawab atas memburuknya situasi ini. Disadari atau tidak, kitalah yang turut menentukan mana yang semakin viral dan mana yang terabaikan. Kita lebih sering mencari dan menyukai konten pendek yang ringkas dengan harapan mendapat pencerahan instan dalam hitungan menit. Sebaliknya, kita jarang memberikan ruang bagi pemikiran-pemikiran yang kompleks. Kita jauh lebih gampang membagikan konten ketimbang mempertanyakan isi kontennya terlebih dahulu.

Bahasa gampangnya, hari ini kita telah terlena oleh media sosial. Ironisnya, dalam zaman yang serba mudah dan praktis ini, kita justru terlelap dalam kenyamanan algoritma. Kemudahan akses terhadap informasi yang semestinya memperluas wawasan dan mempertajam nalar kritis, justru malah semakin mengerdilkan pola pikir kita. Kita menonton ringkasan, lalu merasa telah memahami. Kita membaca sedikit utas, lalu merasa telah meneliti. Bahkan, dengan gagah dan gampangnya kita mengomentari persoalan tanpa pernah tahu duduk perkaranya, hanya bermodalkan referensi omongan para influencer. Nalar kritis kita telah dibelenggu oleh algoritma sosial media yang mendewakan keringkasan dan kecepatan, dan mengesampingkan kehati-hatian epistemik.

Di sisi lain, suburnya fenomena ini juga disebabkan oleh kelalaian kaum intelektual. Akademisi—yang secara keilmuan dapat lebih dipercaya ketimbang omongan influencer tanpa basis teori—amat jarang sekali turun untuk mengisi ruang-ruang digital dengan basis keilmuannya. Akibat keabsenan ini, ruang publik tersebut semakin hari semakin banyak diokupasi oleh mereka yang tak bertanggung jawab dan sekadar mencari keuntungan pribadi. Jika kaum terpelajar tetap enggan hadir dalam ruang media sosial, yang terjadi justru “sampah digital” itu akan semakin merajalela.

Jika ditarik lebih dalam lagi, persoalan yang sedang kita hadapi sesungguhnya bukan semata-mata bersumber pada teknologi dan media sosial. Sistem algoritma mungkin memang mendorong keringkasan dan menawarkan sensasi, namun ia tidak pernah memaksa kita untuk berhenti berpikir kritis. Masalah yang paling fundamental di tengah arus informasi yang tak terbendung ini adalah melemahnya disiplin kita dalam menyikapi pengetahuan. Kita semakin jarang menelaah perbedaan antara perspektif dan fakta, antara interpretasi dan data, antara sekadar keyakinan dan bukti nyata.

Baca juga:

Kemerosotan intelektual yang kita hadapi hari ini bukanlah karena keterbatasan informasi, melainkan karena minimnya kejujuran dan integritas dalam menyebarkan informasi. Ketika siapa pun merasa pantas berpendapat tanpa dasar kompetensi metodologis, dan ketika publik menerima pandangan itu secara cuma-cuma, maka yang tergerus bukan hanya kualitas informasi, melainkan standar pikiran itu sendiri.

Oleh karena itu, persoalan “sampah digital” pada akhirnya adalah persoalan krisis etika intelektual dan kesadaran epistemik. Masyarakat perlu secara radikal membangun kembali kesadaran untuk bertanya, memverifikasi, dan menguji setiap informasi yang diterima. Tanpa sikap kritis tersebut, ruang digital selamanya tidak akan pernah menjadi ruang pencerahan; ia hanya akan terus menjadi pabrik yang memproduksi ilusi pengetahuan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Ach. Fiqriyansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email