“Dia mengalihkan pandangannya ke luar dan ke dalam dirinya. Dia merasakan hal-hal yang tertinggi dan yang terendah, yang terhangat dan yang terdingin. Yang sangat jauh dan yang sangat sunyi, jauh di dalam dirinya. Dia tahu, itu semua adalah satu belaka.”
Kalimat di atas adalah pernyataan penutup Hayy pada Anak Rusa Mencari Tuhan. Dinukil dari paragraf ke-2 di akhir cerita (hlm 147) yang merupakan pesan manunggaling kawula Gusti khas sufistik: kesadaran diri dan cinta Ilahi.
Hayy, si tokoh utama, ia mencari kebenaran hakiki yang sunyi. Jalan yang tak banyak orang tempuh. Bukan hanya tubuhnya, tapi juga rasionalitasnya ikut terdampar di pulau tak berpenghuni.
Tapi dengan keadaan yang sunyi itulah Hayy justru mengenal sang pencipta. Bahkan, sebelum agama datang kepadanya, Hayy telah memiliki argumentasi yang kuat dibanding agamawan pada umumnya yang membahas ihwal ketuhanan.Hayy seolah ingin mengatakan, mustahil memecahkan kebenaran misterius (punya keyakinan) tanpa pertanyaan-pertanyaan mendalam.
Entah dia atheis atau yang percaya agama, begitu penting mengajukan pertanyaan seperti: benarkah Tuhan itu ada? Apakah Nabi itu benar? Apakah wahyu benar?
Maka, beragama yang hanya ikut-ikutan, dogmatis, yang menegasikan argumentasi filsafat adalah kerugian besar sepanjang hayat. Pendeknya, keimanan tanpa kalibrasi keyakinan yang objektif hanyalah keimanan yang ragu-ragu.
Judul asli buku ini ialah Hayy bin Yaqzhan, karya Ibn Tufail, ditulis sekitar 1110-1185. Edisi Indonesia (2024) diterjemahkan dari bahasa Belanda De Zoon van de Gazelle oleh penerbit Mizan. Secara singkat buku ini bercerita tentang seorang bayi yang kemudian bernama Hayy hidup di sebuah pulau tak berpenghuni. Ia diasuh oleh seekor rusa. Seiring waktu, tubuh dan rasa penasaran Hayy tumbuh untuk mengetahui identitas dan jati dirinya.
Hayy satu-satunya manusia yang ada di pulau tak berpenghuni. Ia berteman dengan hewan di sana. Ia belajar dari ketersediaan alam, tumbuhan dan mahluk hidup sekitar. Hingga suatu hari, tiba seorang manusia bernama Asal dari sebuah daratan. Mereka pun berkenalan. Mereka belajar dan saling memahami bahasa satu sama lain. Dari perjumpaan inilah Asal memperkenalkan Islam dan dunia luar pada Hayy. Mereka pergi ke daratan yang terdapat masyarakat.
Alih-alih takjub dengan keadaan, Hayy merasa terasing dengan masyarakat sekitar. Terlebih cara berpikir masyarakat dan ulama-ulamanya yang menjelaskan soal cara beragama. Kedudukan Tuhan yang dipahami oleh agamawan itu berbeda dengan pengalaman Hayy menemukan konsep Tuhan saat di dalam goa.
Baca juga:
Ketegangan di atas dilukiskan dengan semburat makna indah pada buku ini. Percakapan Hayy dan masyarakat yang berkerumun karena penasaran terhadap Hayy adalah babak paling seru.
Asal memperkenalkan Hayy sebagai seorang yang cerdik kepada masyarakat. Mereka ingin tahu bagaimana cara Hayy bertahan hidup. Hayy akhirnya menjelaskan cara bertahan hidup. Tak hanya itu, ia juga menjabarkan pengalaman spiritual dan intelektualnya.
Ia bercerita tentang penciptaan, bagaimana sesuatu itu ada, makna hidup, dan makna kematian. Semua pemikiran ini ia dapatkan sewaktu di gua (mengingatkan kita pada peristiwa Nabi SAW di gua Hira yang mendapatkan wahyu). Hayy berkesimpulan, manusia akan menjadi baik jika ia hidup selaras dengan alam dan membiarkan jiwanya berkembang.
Tapi, cerita Hayy terasa janggal di hadapan masyarakat. Mereka heran dan gusar. Mereka akhirnya menjelaskan kepada Hayy tentang cerita, aturan, dan hikmah yang berasal dari kitab suci mereka sendiri.
Dalam penjelasan mereka yang seperti ini, pertanyaan Hayy yang menguncang pun tiba.
“Apakah kalian hanya peduli dengan urusan hidup sehari-hari, sekadar menaati aturan, makan enak, dan membeli barang-barang bagus?
Ingatkah bahwa kalian hidup bersama Sang Misteri yang menakjubkan? Apakah kalian mengikuti perintah agama karena terpaksa saja?
Apakah kalian menganggap Tuhan itu sejenis manusia yang tidak terlihat dan lebih agung yang memberkahi orang-orang yang menaati aturan-Nya?” (hlm 140, paragraf ke-2).
Hayy sebenarnya tak menolak syariat yang diajarkan Nabi SAW yang sangat ia hormati. Hayy mengkritik mereka melaksanakan syariat tapi tidak memahami esensinya. Terlebih mereka yang beribadah sekadar berniaga dengan Tuhan.
Tuhan dalam kepala Hayy sangat agung. Ia menolak perumpaan Tuhan sebagai kaisar yang bakal memberi hadiah kepada rakyatnya ketika mereka mematuhi perintah-Nya.
Hayy bin Yaqhzan telah dikaji dan diulas oleh banyak pakar. Melalui beragam disiplin ilmu. Mulai dari sudut pandang agama, filsafat, hak asasi manusia, dan, ekonomi.
Namun, latar belakang Ibn Tufail yang asketik itulah menjadi faktor penting mencari objektivikasi alasan utama pengkajian novel ini. Ibn Tufail adalah sosok cendekiawan Muslim dari Andalusia yang hidup pada abad ke-12. Ia seorang polymath, seorang dokter, ahli astronomi, filsuf sekaligus sastrawan yang dimiliki oleh semua kalangan.
Di tangan para agamawan ortodoks, mereka akan menganalisis kecenderungan kesesatan Hayy. Dalam kenangan pelopor HAM macam Quaker, mereka berterimakasih pada buku ini karena ada konsep “Cahaya Batin” yang bersumber dari sana. Tapi di hadapan kita semua, Hayy telah mewariskan pesan-pesan sufistik yang luas. Bahwa manusia bisa belajar soal belas kasih dan realitas kebenaran dari apa saja dan di mana saja. Sekali pun itu dalam dekapan dan belaian binatang seperti rusa. Dan harus terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni.
Baca juga:
Cerita ini ditulis Ibn Tufail sejak ratusan tahun lalu. Relevansinya tak pernah redup saat agamawan masih getol mengerjakan syariat sebagai ritual belaka tanpa peduli hidup selaras dengan alam. Di zaman sekarang, begitu banyak orang soleh dalam ritual tapi acuh dengan perkara sosial. Begitu banyak ahli agama tapi melumrahkan kerusakan lingkungan. Melalui novel ini, Ibn Tufail menawarkan cara pandang beragama dengan mencari paling hakiki dalam tujannya.
Namun, saya tak sependapat dengan Mustafa Akyol dalam Reopening Muslim Minds (2022) yang membaca buku ini dengan tendensi liberal. Menurut Akyol, manusia (Hayy) bisa tahu kebenaran baik-buruk tanpa peran agama sekali pun. Tapi, jika kita mencerna dengan baik, di akhir cerita novel ini berkata lain. Hayy justru penasaran sekaligus terkesima dengan Islam bukan dari perilaku maupun pola pikir masyarakat, tapi Islam itu sendiri.
Di dalam khazanah keilmuan Islam misalnya, hal ini bisa dipertanggung jawabkan secara rasional. Bahwa ajaran akal-budi dan wahyu bisa sejalan dan mampu dibuktikan dengan logika. Melalui hukum kausalitas (sebab-akibat) kita bisa menerangkan keberadaan Tuhan. Kemudian, dengan tak adanya bukti ilmiah yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw pernah berbohong maka menjustifikasi seluruh yang berkaitan dengannya: kalamullah Al-Quran, dan Hadits.
Memang harus diakui, kecenderungan beragama yang sekadar tekstualis dan dogmatis telah menjangkiti zaman sekarang. Bahkan telah ada sejak lama. Sebagaimana alasan paling masuk akal Ibnu Tufail menulis buku ini. Kita sadar akan keadaan ini. Karena itu, pertanggung jawaban beragama secara rasionalistik menjadi penting. Dan telah menjadi lumrah, metode beragama sufistik, cinta Ilahi yang totalitas, menemukan kesadaran diri, seperti terdampar di pulau tak berpenghuni: sepi. (*)
Editor: Kukuh Basuki
