Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Jika Kau Belah Bagian-Bagian Tubuhku dan Puisi Lainnya

Salman Alade

1 min read

Jika Kau Belah Dadaku

kau akan menjumpai danau keruh
dengan lumpur pekat tak bermuara—
di sanalah sesak berenang tak pandai pulang,
anak kecil itu masih terengah,
memikul napas orang-orang dewasa
yang menyebutnya kuat
padahal hanya tak sempat menangis.

di dasar danau itu,
ada doa-doa yang tak pernah selesai diucapkan,
hanya gelembung-gelem­bung udara
yang meletus satu per satu
menjadi sunyi yang panjang.

Jika Kau Belah Kepalaku

kau akan tersesat dalam rawa-rawa tak bernama
penuh sampah janji yang tak tersampaikan,
dan sumpah serapah yang membusuk diam-diam:
tentang tagihan yang tak pernah lunas,
tentang mimpi orang lain yang dipaksa
kukerjakan dengan kedua tanganku yang gemetar,
tentang harapan yang kerap memukul dari dalam.

bau busuk dari masa lalu
mengendap di antara batang-batang ingatan,
tiap langkah yang pernah kutempuh
meninggalkan jejak lumpur
di seluruh penjuru pikiranku.

Jika Kau Belah Mataku

kau akan menyaksikan langit
berwarna merah darah,
yang tiap tetes air matanya
jatuh seperti kabut paling sunyi
yang tak pernah diundang
oleh bibir yang terlalu lama
belajar bungkam.

di balik kelopaknya,
ada pertunjukan yang selalu gagal ditutup tirainya,
seluruh air mata itu menari dalam gelap
menjaga rahasia
yang tak diizinkan keluar bersama kata.

Jika Kau Belah Telapak Kaki dan Tanganku

kau akan menemukan palang jalan
yang berdiri miring,
ragu-ragu antara rubuh atau bertahan,
dihantam hujan kecemasan dan panas harapan
yang tak pernah cukup untuk mengeringkan
tapak luka masa lalu.

telapak ini pernah menjejak
tanah yang gemetar oleh keputusan,
pernah pula menyentuh dinding doa
yang retaknya menyebar
ke seluruh pori-pori keberanian.

Jika Kau Belah Punggungku

kau akan temui denah pelarian:
gedung-gedung penuh cahaya
tempat aku menyaru sebagai manusia biasa—
masjid yang kudatangi diam-diam,
supermarket tempat aku belajar tertawa,
toko buku yang jadi gua persembunyian,
dan warung kopi
yang mencatat seluruh pengkhianatan waktu.

di lorong-lorong punggungku
tersimpan nama-nama tempat
yang tak pernah kusinggahi dengan utuh,
hanya sekejap, cukup untuk menyembunyikan
satu dua keping luka.

Jika Kau Belah Bagian-Bagian Tubuhku

kau tak akan menemukan daging semata,
tapi potongan demi potongan cerita
yang kutulis diam-diam
dalam bahasa yang tak pernah selesai kupelajari:
bahasa kehilangan.

aku adalah museum dari luka-luka
yang tak kunjung jadi artefak:
selalu segar, selalu baru,
selalu menunggu penonton
yang benar-benar ingin membaca
dengan mata yang tak tergesa.

Jika—Maka

jika kau sudah membaca
dan dadamu terasa seperti dilintasi awan berat
yang tak jadi hujan,
maka, diamlah.
jangan bertanya mengapa langit tak runtuh
meski di mataku selalu senja.

jika kau tahu
bahwa tiap “jika” yang kutulis
adalah pintu kecil
menuju reruntuhan yang kubersihkan setiap malam
dengan doa dan kesunyian,
maka, jangan mengetuk pintunya
hanya untuk memastikan siapa yang terkubur di dalamnya.

jika kau pahami
bahwa metafora ini bukan sekadar permainan kata,
melainkan cara tubuhku
berteriak tanpa harus bersuara,
maka, biarkan bait-bait itu lewat
seperti burung-burung patah sayap
yang hanya butuh langit untuk tenggelam.

jika kau sempat ingin bertanya
“apakah semua ini benar-benar luka?”
maka tanyakan pada dirimu sendiri:
pernahkah kamu berdiri di depan cermin
dan tak sanggup menyapa bayanganmu sendiri?

(Maguwoharjo, Mei 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Salman Alade
Salman Alade Lebih sering menulis untuk bertanya daripada menjawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email