Mengapa Kaf?

Rusti Lisnawati

4 min read

‎Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, Kaf meminta maaf kepadaku. Kaf tidak menjelaskan alasan mengapa ia meminta maaf dan dengan sangat meminta agar aku memaafkannya. Tidak biasanya laki-laki yang telah empat tahun menjadi suamiku ini meminta maaf tanpa sebab. Tindakan Kaf ini membuatku secara spontan melahirkan tiga lipatan kecil di permukaan kulit bagian dahi.

‎Satu jam sebelum pergi meninggalkan rumah, aku melihat Kaf duduk santai di ruang tengah sembari asyik memakan buah pir yang telah dipotong kecil-kecil. Di depannya, layar sebesar dua puluh satu inci menampilkan pertandingan sepakbola. Setelahnya, aku tidak tahu lagi apa yang dilakukan oleh Kaf. Aku pergi ke minimarket ketika itu. Pulang-pulang, langsung dihadapkan pada Kaf yang kebelet ingin mendapat maaf dariku.

‎Kejadian apa yang terlewati olehku sehingga Kaf berlaku demikian? Apa yang Kaf buang di kamar mandi, sampai-sampai ia begitu takut jika tidak kuberi maaf?

‎Mulutku baru saja hendak mengatakan tidak apa, kau bisa memberitahuku nanti, tapi gagal akibat mataku yang tidak sengaja menemukan noda merah berukuran kecil-kecil di sekitar kerah baju Kaf. Noda merah itu tidak akan tertangkap basah oleh mataku seandainya Kaf tidak mengenakan baju berwarna terang. Tanganku terulur menarik baju Kaf yang terkena noda.

‎”Noda apa ini, Kaf?”

‎Mata Kaf mengikuti arah pandangku. Dalam hitungan detik, akibat perbedaan tinggi badan dan terlalu fokus pada noda di baju, aku melewatkan mata Kaf yang melebar. Aku hanya mendapati mulut Kaf yang berbicara dalam nada gugup. “Aku makan buah naga tadi. Airnya tidak sengaja meluber ke baju. Muncrat pas aku peras sedikit ketika mau dimakan.”

‎”Aku tidak menyimpan buah naga di rumah,” ‎Mata Kaf berpendar ke kanan dan kiri. “Ada pedagang buah keliling. Aku beli satu tadi.”

‎”Malam-malam begini?”

‎Biasanya, pedagang buah keliling hanya berjualan sampai pukul empat sore. Apakah ada pedagang buah keliling yang baru di sekitar komplek?

‎”Ya, malam-malam begini. Mungkin dia ingin mencoba peruntungannya di sini,” jelas Kaf.

‎Alasan yang ia beri, sangat tidak bisa diterima oleh akal sehatku. Jelas ada yang tidak beres di sini. Aku mencoba mencari letak kesalahan Kaf lainnya. Dimulai dari noda di pakaian, cara bicara yang berbeda, buah naga berikut penjualnya, dan… tunggu!

‎Kaf mengaku memakan buah naga, cipratan airnya mengotori baju, dan dibeli dari pedagang keliling baru. Tapi, bukankah buah naga itu airnya sedikit, dan kalau memang betul makan buah naga, kenapa bibir Kaf tidak terkena warna buah tersebut? Ini aneh.

‎”Coba julurkan lidahmu, Kaf.”

‎Ia sempat menolak dan menganggap permintaanku aneh, padahal aku hanya ingin memberinya satu ciuman yang sedikit liar. Mendengar kata ciuman, Kaf lekas menjulurkan lidahnya yang tidak memiliki jejak buah naga.

‎Sialan. Kaf berbohong kepadaku!

‎”Ada sisa buah pir yang menyangkut di gigi belakangmu, Kaf. Aku jadi malas menciummu.”

‎Wajah Kaf memerah. Ia tidak suka dipermainkan begini. Katanya, aku salah lihat. Tidak mungkin ada sisa buah pir di gigi belakangnya, karena ia sudah gosok gigi. Aku tidak peduli dan lebih memilih menyelesaikan menata barang belanjaan. Lalu, masuk ke kamar mandi. Di sana, aku mencoba mencari sesuatu penyebab Kaf meminta maaf tanpa sebab. Tidak ada apa-apa di sini kecuali puntung rokok yang basah di dekat toilet. Sepertinya, Kaf ingin meminta maaf karena lagi-lagi buang air besar sambil merokok di tempat.

‎Puntung rokok itu aku buang. Lalu, menyemprotkan pewangi ruangan agar bau rokok itu lekas hilang. Setelah bau rokok menyusut, aku mencuci mukaku yang kusut. Hari ini betul-betul melelahkan. Berangkat kerja dari pagi buta, menjemput Zili dari sekolah, lalu pergi lagi bekerja, dan belanja bulanan. Omong-omong, aku tidak melihat Zili lagi setelah pulang dari minimarket. Apakah ia sudah tidur tanpa menunggu aku membacakannya Petualangan Tintin?

‎Selesai mencuci muka, aku mengecek Zili, dan tidak menemukan batang hidungnya di sana. Kutanya pada Kaf. Ia bilang Zili menginap di rumah Ibu Kaf malam ini. Sudah lama Zili tidak bertemu dengan sang nenek. Tapi, mengapa Zili tidak membawa tas ransel, buku cerita, dan boneka lebahnya ke sana? Bukankah Zili tidak bisa tidur tanpa buku cerita dan boneka lebah?

‎Aku melirik jam dinding yang menunjuk ke pukul sepuluh malam. Masih belum masuk larut untuk aku menyusul ke sana.

‎”Antarkan aku ke sana, Kaf,” pintaku.

‎Kaf sedikit terkejut dengan permintaanku. Sekali lagi, ia menolak apa yang aku minta. Kuberitahu ia kalau Zili meninggalkan benda kesukaannya. Ibu Kaf akan kewalahan menghadapi Zili yang tantrum karena tidak menemukan benda kesukaannya ada di sana. Alhasil, sedikit terpaksa, Kaf mau mengantarku.

‎Kami pergi dengan menaiki motor. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Ibu Kaf. Anehnya, ketika sampai di sana, Kaf enggan masuk, dan memilih menunggu di luar gerbang. Ini jelas bukan Kaf yang biasanya.

‎Keanehan muncul lagi malam itu. Zili tidak ada di rumah Ibu Kaf. Tidak ada siapapun yang mengantarkan Zili ke sini, termasuk Kaf. Ibu Kaf justru membalikkan pertanyaan dengan menanyakan keberadaan Kaf dan merasa gemas ketika tahu anaknya tidak mau masuk ke dalam rumah. Kalau bukan Kaf yang mengantarkan Zili ke sini, lalu anak perempuanku ada di mana sekarang?

‎Aku meminta Kaf untuk mengingat lagi ke mana ia membawa Zili pergi. Kaf menjawab kalau tadi ia salah ucap. Zili sebetulnya menginap di rumah Sera, salah satu temannya. Kaf ini sebetulnya lupa atau memang sudah mulai pikun sih? Zili tak pernah dekat dengan Sera.

‎”Coba kau ingat-ingat lagi, Kaf!”

‎Ah, ya, tadi kami main petak umpat. Baru sekarang Kaf ingat akan Zili. Gegas Kaf menarik gas menuju rumah. Kaf lalu memintaku untuk ikut mencari karena tadi ia tidak tahu Zili sembunyi di mana.

‎”Kau ibunya. Sudah barang tentu kalian memiliki kedekatan secara batin,” ucap Kaf sebelum kami berpencar mencari Zili.

‎Kaf mencari di sekitar ruang tamu, ruang tengah, kamar Zili, dan di sekitar halaman depan rumah. Sambil menyalakan senter di ponsel, aku coba mencari jejak Zili di area taman kecil yang sengaja dibuat khusus untuk Zili. Tak ada apapun di sana. Langkah kakiku terus mengambil langkah maju menuju halaman belakang rumah sembari memanggil nama Zili. Sedikit ngeri juga karena di sana cukup gelap dan hari sudah semakin malam.

‎Melawan rasa takut, aku menelusuri hingga ke sisi yang berbatasan dengan rumah tetangga. Tak ada apa-apa di sana. Beberapa panggilanku hanya dijawab oleh udara kosong. Saat aku hendak berbalik, kakiku tidak sengaja menabrak tumpukan sampah yang menggunung. Aku lupa membakarnya.

‎Nyala senter di tanganku tanpa sengaja menyoroti kain merah jambu yang ada di tengah-tengah tumpukan sampah. Kain itu menarik perhatianku. Ia seperti punya magis yang terus mendorongku untuk melihatnya lebih jelas. Dorongan magis itu terlalu kuat, sehingga aku benar-benar melakukannya.

‎Kain itu ternyata tidak seringan yang aku kira. Ia ditindih atau mungkin menindih sesuatu yang berbobot besar. Aku menggeser tumpukan sampah kardus dan kayu-kayu kecil di atasnya. Aku kehilangan kata-kata manakala melihat kain merah jambu itu melekat pada tubuh mungil Zili yang bersimbah darah. Rambut hitamnya yang cantik disesaki oleh sampah. Mata cokelat Zili terpejam dan kulit lehernya terbelah, seperti leher ayam ketika disembelih. Dari sanalah, darah mengalir dan meleleh. Gaun merah jambu yang baru kubelikan kemarin lusa, bercampur warnanya dengan merah darah. Buru-buru aku gendong Zili yang tak sadarkan diri dan bau itu. Kubawa ia ke dalam rumah. Mulutku meneriakkan nama Kaf. Selang beberapa menit, laki-laki itu datang. Ia membawa satu porsi air muka pucat pasi manakala melihat Zili tidur di pangkuanku. Kau berhasil menemukannya, katanya padaku.

‎”Aku memang berhasil menemukannya. Tapi, aku gagal mengetahui sebab akibat putri kecilku jadi begini. Kau tahu sesuatu, Kaf?” Kepadanya, aku meminta agar ia mau berterus terang atau aku sama sekali tidak ingin berbicara lagi dengannya.

‎Kaf menjatuhkan pandangannya. Air mata muncul dari mata kanan, lalu menular ke mata kiri dan keduanya kompak membuat sungai kecil di pipi Kaf. Ia kembali melontarkan permintaan maaf. Maaf, katanya, karena sudah mengikuti bisikan setan keliling untuk menggorok leher Zili yang menangis kencang saat dirinya sedang asyik menonton pertandingan sepakbola.

‎”Dia minta kau pulang cepat. Aku terganggu dengan tangisannya yang memekakkan telinga. Aku mengakui kesalahanku. Aku minta maaf.”

*****

Editor: Moch Aldy MA

Rusti Lisnawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email