Bapak adalah seorang penyembah pohon. Setidaknya itulah yang dikatakan orang-orang desa. Ini sudah hampir petang, aku disuruh Ibu mencari Bapak yang tak kunjung pulang. Aku membawa seberkas mandat penting dan genting.
Bapak adalah seorang penyembah dedemit. Alasan itulah yang membuat Winda, pacarku, pada akhirnya memutuskanku. Karena ia tak mau sesat seperti keluargaku, katanya.
Seorang penyembah pohon resan itu sesat dan menyimpang, dan kesesatan harus disingkirkan, begitu yang digaungkan orang-orang desa semenjak dulu.
Kesempatan tersebut seolah mendapat angin segar ketika rombongan pemerintah berjabat tangan dengan para pemangku desa untuk membangun jalan raya. Sebuah jalan yang melintang sepanjang pegunungan selatan untuk memuluskan roda-roda bus pariwisata. Sebuah proyek dengan iming-iming ratusan juta untuk membeli ladang-ladang gersang kami, menebang pohon-pohon besar warisan leluhur, menimbun luweng, dan memapras perbukitan kapur yang mereka bilang tak subur.
Mungkin gelisah oleh omongan orang-orang desa, semasa pacaran Winda mencoba membujukku untuk jangan melakukan ritual-ritual seperti Bapak. Winda bilang sesembahan kita itu ada Di Atas Sana, bukan pada pohon-pohon. Meskipun tak enak hati, aku mencoba menyampaikan kegelisahan itu kepada Bapak.
“Bukan menyembah, Bapak hanya menghormati apa yang seharusnya kita jaga,” tepis Bapak suatu hari yang lalu begitu mendengar nada miring tentangnya. Terkadang, sambil mengisap kretek lintingannya sendiri, dan hanya terbahak-bahak menanggapinya.
Bapak adalah seorang juru kunci resan di desa kami. Resan adalah pohon-pohon besar berusia ratusan mungkin ribuan tahun yang harus kami jaga keberadaannya. Dengan kita menjaga pohon-pohon, kata Bapak, kita juga menjaga alam. Alam yang kita jaga senantiasa akan menjaga kita juga. Seperti Ibu yang selalu memberi tanpa kita meminta.
“Jika alam adalah Ibu, bagaimana mungkin kita bisa berhenti memuliakan seorang Ibu?” Bapak beretorika.
Bersama paguyuban, aku ikut Bapak yang rutin berkunjung dari resan satu ke resan lainnya untuk memastikan keberadaannya tidak dirusak manusia. Biasanya kami juga menanam bibit-bibit pohon di sekitar sang resan untuk menjaga mata air dan telaga.
Meskipun desa kami terletak di pegunungan kapur yang tandus dan gersang, sehingga sering jadi bahan olok-olok karena kekurangan air saat musim kemarau seperti ini, sesungguhnya pohon-pohon telah menyelamatkan kami dengan menyimpan air di akar-akarnya. Mata air ini sering kami namakan tuk. Namun, seiring bergulirnya zaman, sedikit dari kami yang merasakan keterikatan dengan alam, apalagi menjaganya. Bahkan di zamanku, kami yang kemlinthi ini memilih menggunakan air PDAM ketimbang mengangsu dari mata air atau telaga.
Kita dibuat mudah dengan hanya memutar keran, untuk apa berlelah-lelah mengangkut wadah dari telaga ke bak di rumah berkali-kali?
Bapak adalah seorang penyembah resan. Sampai bosan, stigma itu enggan ia sanggah lantaran katanya buang-buang waktu. Berkali-kali orang-orang desa malu-malu mengimbau dari surau-surau agar jangan melakukan perbuatan yang merusak akidah. Namun, menjadi juru kunci membuatnya lekat dengan ritual-ritual yang tak bisa dipahami orang-orang pada umumnya. Aku bukan mau membela Bapak, karena aku sendiri bukan Bapak, tetapi membiarkan mereka sampai mencerabut Winda dari hatiku rasanya tidak bisa diterima.
Belum lama ini, semenjak jagat maya ramai oleh lantangnya penolakan pembangunan dari paguyuban dan beberapa warga, komunitas-komunitas dari kota berbondong-bondong mendukung aksi kami. Lutfi, salah seorang anggota komunitas, sedikit demi sedikit memberi penjelasan yang bisa diterima mengapa kita harus menjaga pohon-pohon dan itu cukup bisa merangkul orang-orang desa yang semula tak tertarik kegiatan pelestarian, termasuk Winda.
Kehadiran Winda dalam kegiatan kami membuatku merasa diterima kembali.
Pembangunan jalan raya semakin mendesak tanah orang-orang desa, dengan bujuk rayu punya usaha, harta, dan tempat tinggal yang layak. Beberapa di antaranya mulai termakan ratusan juta itu, tentu saja Bapak tidak.
Dalam desakan-desakan yang semakin keras itu, desa kami merayakan bersih desa dan paguyuban masih sempat melakukan tradisi nglangse, yang kata orang-orang ritual menyembah pohon itu.
“Nglangse itu menutupi,” jelas Bapak berkali-kali kepada setiap orang yang hadir dalam upacara. Upacara itu tidak hanya terbatas pada anggota paguyuban, tetapi terbuka untuk orang-orang yang mau ikut andil, baik dari warga desa, komunitas-komunitas, dan juga Winda.
Aku masih belum berani berbincang dengan Winda, karena semenjak kita bertengkar membicarakan akidah dan kemudian bertemu kembali, Winda masih diam kepadaku.
“Nglangse itu hanyalah upaya untuk melindungi dan menutupi pohon agar tidak ada yang berani merusaknya. Namun seiring berlalunya waktu, orang-orang takut mendekati resan, bukan karena kesadaran akan alam yang perlu dijaga, melainkan ketakutan-ketakutan akan mistis.”
Bapak bersama anggota paguyubannya mengenakan pakaian jawa mengganti kain mori usang yang melingkupi resan. Begitu juga aku, yang kelak digadang-gadang jadi ahli waris juru kunci. Namun, menjadi juru kunci jelas bukan impianku.
Sebelum nglangse, biasanya ritual dimulai dengan membawa sesajen yang berisi makanan yang ditempatkan di panjang ilang atau anyaman janur, kemudian dilanjutkan dengan pembakaran dupa dan kemenyan serta melangitkan doa kepada Yang Di Atas Sana. Resan ini selebar dekapan lima orang dewasa, jadi kain morinya harus cukup panjang untuk mengelilingi satu ringin besar di desa kami itu.
“Simbah-simbah kita dulu menanam, merawat, dan membiarkannya tumbuh semakin besar untuk menjaga kehidupan anak cucunya. Sekarang kita tinggal merawat dan memetik apa yang disediakan alam.”
“Padahal menyembah pohon dan melindungi pohon itu dua hal yang berbeda,” ujar Latif, seorang laki-laki muda dan tampan, seumuranku, yang tiap orasinya mampu merangkul warga desa untuk mencintai alam. Kata Bapak, laki-laki itu salah satu dari rombongan mahasiswa, semacam mahasiswa pencinta alam, yang mblusuk ke desa-desa untuk ikut melestarikan keberadaan pohon-pohon dan hewan-hewan. Padahal tadinya kupikir mahasiswa pencinta alam itu biasanya petentang-petenteng sama kekasihnya naik ke gunung-gunung. Ternyata aku salah.
Bapak menarik napas panjang. Kupikir ia sudah terbiasa dengan tuduhan semacam itu, dibentur-benturkan antara dua definisi yang berbeda. Katanya, “Benar, Nak. Untuk apa kita menanggapi orang-orang yang tidak paham dan tidak mau paham. Sementara tugas kita hanya sebatas nguri-uri.”
***
Akhir-akhir ini, aku mulai meragukan pernyataan Bapak. Menurutku, tugas kita tidak hanya sebatas nguri-uri. Kita tidak sebatas melestarikan. Tanpa pemahaman dari orang-orang, selamanya orang-orang akan selalu salah paham. Kesalahpahaman bisa membahayakan.
Dan itulah yang sedang terjadi.
Upaya pemerintah mendesak orang-orang desa untuk menyerahkan tanahnya tak terlalu sulit. Satu per satu warga terpikat ratusan juta itu. Warga desa yang semula berada di barisan orang-orang yang mencintai alam, berubah pikiran. Komunitas-komunitas dari kota pun perlahan pulang.
Sebagaimana orang-orang, Winda dan orang tuanya akhirnya tergiur ratusan juta itu. Sejak saat itu aku tidak pernah melihatnya lagi sampai suatu sore, Winda naik mobil jeep, menggendong tas yang besar, bersama seorang laki-laki.
Salah seorang temannya mengatakan kepadaku, “Sebentar lagi sepertinya kita rewang, Mas. Yang Mas Tampan itu sudah tetembungan sama bapaknya. Sekarang mereka mau naik gunung.”
Spontan aku menoleh, ke arah jeep yang sudah berbelok di tikungan desa. Samar-samar aku merasa sosok lelaki itu familier.
Lutfi.
Oh, aku tidak tahu kehadiran Winda selama ini ternyata bukan untukku.
***
Resan–resan akan segera disingkirkan, lantaran menjadi sarang penyembah setan. Setidaknya begitulah narasi orang-orang. Proyek pembuatan jalan selain untuk memuluskan roda-roda bus pariwisata juga untuk memuluskan alasan menghukum Bapak. Sebelumnya, selain dengan imbauan malu-malu, tidak ada orang-orang desa yang benar-benar berani terus terang perihal aktivitas Bapak bersama paguyuban, sebab Bapak selain menjadi juru kunci resan dia juga menjadi kaum, pemimpin kegiatan adat di desa.
Tanpa pemahaman orang-orang, resan–resan yang dijaga Bapak akan segera dibabat oleh mesin-mesin pongah pemerintah. Ketika Bapak berusaha meyakinkan akan keyakinannya pada orang-orang, semuanya sudah terlambat.
Lantaran di mata orang-orang, Bapak adalah penyembah pohon.
Hari ini, saat upaya bapak mencegah mesin-mesin itu sudah mustahil, ia tak pulang-pulang ke rumah. Ibu menyuruhku mencarinya, membawa seberkas mandat, dan aku menemukannya tengah duduk bersimpuh di sekeliling akar resan beringin yang menggurita itu.
Dari punggungnya yang rapuh dan kurus itu, aku melihat tubuhnya menggigil. Bukan gigil oleh dingin, tetapi kuyakin gigil oleh tangis. Mulanya, aku ingin memanggilnya, menyuruhnya segera pulang, lantaran hari telah berangsur petang. Namun, menyaksikan tubuh itu begitu lekat dengan sang resan membuatku enggan.
Bapak masih duduk tertunduk. Menggumamkan kalimat-kalimat yang tidak aku mengerti sambil sesekali menahan gigil. Aku tak sampai hati mendekatinya apalagi menatap wajahnya.
Dari kejauhan kudengar kepakan sayap burung-burung yang pulang ke resan, tapi tidak lagi esok hari. Tak berapa lama, burung-burung malam terbangun dan meninggalkan sarangnya, tapi tidak lagi esok hari.
“Sing mbaurekso,” ucapnya lirih tapi cukup lantang untuk sampai ke telingaku. Dari kejauhan aku menghidu aroma tajam kemenyan dan aku mulai membayangkan mulut Bapak tak henti merapal doa. Namun, rupanya bukan doa yang kemudian kudengarkan.
“Sing mbaurekso,” ulang Bapak, “kata orang-orang desa aku ini orang sesat. Menjamu para dedemit dengan sesajen supaya orang-orang desa bisa hidup damai. Sing mbaurekso, kata orang-orang desa, aku ini penyembah pohon, meminta kepada pohon supaya orang-orang desa sejahtera. Kalau memang orang-orang desa sejahtera karena sesajenku, wahai sing mbaurekso, wahai para dedemit, kenapa engkau biarkan mesin-mesin itu hendak menebang tempat bersemayammu?”
Isak menjeda nada lirih itu. Lanjutnya kemudian, “Mengapa, wahai sing mbaurekso, kau sibuk menghukum orang-orang kecil yang hanya kencing yang bahkan bisa dibasuh oleh hujan, tetapi kau diam ketika orang-orang besar mendatangkan mesin-mesin hendak merobohkanmu? Apakah sesajenku tak sebesar sesajen yang diberikan para empunya mesin-mesin itu? Sesajen macam apa kiranya yang membuat engkau, wahai sing mbaurekso, menerimanya?”
Dengar, apakah dedemit yang orang-orang sangkakan jadi sesembahan Bapak mendengar? Dan dengar, desau angin kemarau merontokkan daun-daun kuning dan kering, menghujaniku dan Bapak.
Di tanganku yang penuh peluh dan segenggam cemas, berkas itu kuremas.
Bapak semakin menggigil dan tergugu. Dari belakang, aku merangkul punggungnya yang gemetar itu.
Pak, dedemit sing mbaurekso yang kata mereka jadi sesembahan Bapak itu, tidak benar-benar bersemayam di resan yang mereka takuti. Dedemit yang sesungguhnya justru bersemayam pada mesin-mesin angkuh dan tamak itu, yang meminta sesembahan yang tidak murah, yaitu; diri kita sendiri dan anak cucu kita nanti.
***
Sebetulnya aku tak enak hati, mengingat aku tahu sedalam dan secinta apa Bapak pada resan yang ia bela mati-matian. Namun, seperti juga orang-orang desa pada umumnya, keluarga kami berhak mendapat hidup layak, dan aku berhak mewujudkan impian terbesarku. Impian itu adalah kuliah, biar bisa orasi dan meluluhkan gadis-gadis seperti Lutfi.
Pelan-pelan, aku menyerahkan lembaran berkas-berkas itu untuk ditandatangani Bapak.
“Biar segera cair, Pak.”
*****
Editor: Moch Aldy MA
