tersingkir
azan magrib berkumandang, keruwetan tumpah di jalan sudirman, kendaraan-kendaraan dan orang-orang saling sikut-sikutan, klakson dan azan saling sahut-sahutan. sementara, aku ditemani dua hal yang pasti dari perkotaan, yakni kegetiran dan kelaparan.
–
kiamat paling nyata
bapak masuk penjara
ibu menangis meronta-ronta
aparat itu tertawa puas setelah memukuli bapak.
ekskavator mengunyah kebun-kebun orang tuaku
anak-anak kelaparan
ibu tercekik utang.
tak ada lagi gembira dalam wajah ibu
keparat itu menggerogoti hidupku
tak ada lagi ruang untuk bermain bola hingga magrib memanggilku
bangsat! mereka merampas masa kecilku.
beton-beton berlomba tuk menggasak cita-citaku
hidupku berceceran
tak ada yang hadir dalam kehancuran ini
tuhan pun asik berdansa sambil memegang sebotol congyang di tangan kanan.
–
menunggu
tatkala hidup bagiku hanya rentetan kekalahan, kesedihan, kegetiran, kelaparan serta ketakutan yang selalu menghantui jasadku sendiri dan aku menunggu waktu kematian itu datang menghampiri dan menjemputku dengan paksa—hingga aku menjerit dan mengoyak anggota tubuhku sendiri hingga mati.
–
menuju
aku mengendap dalam lapar, gusar, serta istigfar yang berulang kali diucapkan dengan penuh harap tanpa kepastian. lalu, aku mengikis dengan pelan segala resah, marah, gelisah maupun kesedihan tak udah-udah—yang telah mendiami kepalaku dalam beberapa kisah. hingga akhirnya aku menguap bersama napas dan langkahku sendiri menuju kebebasan yang tak pernah aku dapatkan dalam kehidupan sebelumnya.
–
duka
duka adalah teman baikku, ia selalu menyapa diriku dengan dingin dan kaku, bagiku duka tidak akan kedaluwarsa seperti minuman kaleng favoritku yang bertahan hanya dua bulan kemudian dilupakan. duka selalu menemaniku, mulai dari nangis ketika dilahirkan hingga membuat tangis saat dimakamkan.
*****
Editor: Moch Aldy MA
