Aku tidak ingat kapan tepatnya aku mulai tertidur di bangku taman yang keras itu. Satu di antara sekian bangku dari batu yang dirancang melengkung menyerupai sepotong melon, sehingga siapa pun yang mencoba merebahkan diri di atasnya akan dibuat tak nyaman. Namun, bisa jadi itu sekedar anggapanku saja. Pemikiran seorang penderita gangguan mimpi buruk yang mencari pelarian dari dinding kamar kos tiga kali empat yang setiap malam bergerak perlahan untuk mengimpitnya hidup-hidup.
Psikosis jelas tak ada dalam kamus petugas jaga yang pertama kali menemukanku berdiri di depan posnya malam itu. Sambil menangis, kedua tanganku membopong kotak kardus berisi bayi perempuan berusia belasan hari. Aku menyaksikan wajah petugas polisi setengah mengantuk itu, berdiri dan sedikit gugup. Dia berjalan mendekat lalu berhati-hati mengambil kardus di tanganku. Para petugas lain muncul dari pintu depan Polsek dan butuh waktu agak lama bagi mereka sebelum mengarahkanku untuk masuk ke dalam. Aku melewatkan malam itu dengan sesi tanya jawab tanpa ujung dengan kepala pening.
Aku tersadarkan oleh suara tangis bayi menggema di koridor ruang tunggu. Aku melihat keluar ke jendela, matahari sudah naik dan beberapa polisi wanita muncul untuk mengurus si bayi. Petugas yang sepanjang malam menanyaiku bangkit dari kursinya sambil geleng-geleng kepala dan menawarkan diri untuk mengantarku pulang.
Dia bilang aku sedang dalam pengaruh obat tidur. Aku hanya mengangguk, dia pasti sudah menggeledah tasku. Polisi itu akan mengizinkanku tidur sebentar sebelum menjemputku lagi untuk mendengar cerita sebenarnya. Aku tahu jika kesaksianku tidak memuaskan mereka. Koordinasi tubuh dan pikiranku benar-benar berantakan. Aku tak bisa mengontrol kata-kata yang keluar dari mulutku. Mereka telah melakukan segala macam pendekatan tapi itu hanya semakin memperparah tangisku. Padahal yang mereka ingin tahu sangat sederhana; tentang bagaimana aku menemukan bayi itu. Tapi segalanya begitu kabur di dalam kepalaku. Seperti sekumpulan kabut tipis yang menutupi kewarasanku.
Yang bisa kukatakan sepanjang waktu hanyalah ‘selagi aku tertidur di bangku taman, aku mendengar suara tangisan bayi.’ Dan mereka harus puas dengan jawaban itu.
***
Psikiaterku mengatakan aku tidak boleh putus obat, mengingat penyakit yang aku derita ini membutuhkan waktu sekitar enam bulan agar efek obatnya bisa terasa. Aku hanya bisa pasrah mengiyakan, meski jauh dalam hatiku, aku tak bisa terus-terusan begini. Aku tidak punya uang untuk melanjutkan konsultasi dengan orang yang hanya menawarkan pil tidur sebagai solusi. Bahkan jika aku memutuskan untuk mengambil konsultasi yang paling murah di internet, tetap saja tidak akan membantu banyak dalam meringankan masalah finansialku. Dokter bilang, aku tidak bisa seenaknya memilih-milih obat. Aku meminta maaf karena telah mengakali resep yang dianjurkannya. Bukan karena aku merasa sok tahu. Tapi untuk sepasang obat yang harganya 250 ribu rupiah untuk seminggu tak akan mampu kubeli dengan upah pekerjaanku sebagai kasir di sebuah rumah makan cepat saji.
Dihitung berapa kali pun, uangku tak pernah cukup untuk sepasang obat jenis Buspirone dan obat antipsikotik dosis tinggi. Jadi belakangan aku melanjutkan terapi dengan meminum satu jenis obat saja. Meski aku tahu jika hal itu akan berdampak buruk pada tubuhku. Obat itu akan membuatku tertidur seperti orang mati. Ketika aku terbangun, jam di ponsel menunjukkan jika jiwaku telah meninggalkan dunia ini selama delapan belas jam tanpa interupsi. Rasa panas membakar tenggorokanku, pandanganku kabur, dan sepasang lututku lemas. Aku hanya bisa menghabiskan sore berbaring di atas kasur dan sesekali mengangkat telepon dari rekan kerjaku yang berteriak di seberang sambungan mengancam memberi SP3, atau membaca dengan mata berat pesan baik hati dari dosen pembimbingku yang berjanji akan memberiku kesempatan terakhir untuk merampungkan skripsi.
Tapi aku sudah kehabisan tenaga untuk memedulikan itu semua. Ujungnya bisa ditebak. Tak lama kemudian aku dipecat dari tempatku bekerja dan dosen pembimbingku berhenti mengirim pesan kepadaku. Sekarang aku juga mulai berpikir untuk memutus hubungan dengan dokterku.
Aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang sebenarnya tak pantas lagi disebut sebagai mahasiswa. Beberapa tahun lalu ketika demonstrasi menolak Undang-Undang Cipta Kerja melanda seluruh negeri, polisi ikut menangkapku dan melemparku ke penjara selama dua hari. Padahal aku tidak terlibat sama sekali. Bus yang kutumpangi dalam perjalanan pulang kerja sore itu tiba-tiba berhenti. Sopir bus bilang mahasiswa telah membakar fasilitas publik dan memblokir jalan. Jauh di depan sana sedang terjadi bentrok dengan polisi. Semua penumpang diminta turun, dan begitu pun aku terpaksa melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan kaki. Ketika hendak menyeberang ke sebuah lorong kecil aku mulai merasakan bau tajam menusuk hidung dan membuat mataku perih. Gas air mata telah terbawa angin sampai ke tempat kami dan aku segera terseret arus mahasiswa yang berlarian dipukul mundur. Aku lalu meletakkan kantong belanjaanku untuk mencari sesuatu yang bisa menutupi hidung. Saat itulah seorang polisi berpakaian lengkap dengan tameng dan baton menarik kerah kaos belakangku dan membantingku ke jalan. Sekonyong-konyong polisi lain datang; mereka memukuli kepalaku dan menginjak-injakku ke aspal sebelum menyeretku naik ke truk berisi puluhan mahasiswa babak belur lainnya.
Aku merasa harus menceritakannya karena peristiwa tersebut berperan besar dalam membentuk kondisi hidupku sekarang. Bagaimana bisa aku berakhir di sebuah taman kota setiap malam, mengalami gangguan tidur, dan dihantui halusinasi, semuanya berangkat rasa dari sakit di bagian belakang kepala yang aku derita selama berminggu-minggu. Aku tahu jika sesuatu yang buruk telah terjadi di dalam batok kepalaku. Tapi aku tinggal sendirian di kota ini. Aku tidak begitu kenal dengan banyak orang dan seumur hidup aku tak pernah berani pergi ke dokter seorang diri. Ketika ibuku menelepon dari kampung, aku berbohong dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja. Ibuku khawatir setelah melihat di televisi mahasiswa-mahasiswa yang dipaksa berbaris jongkok bertelanjang dada. Dia sempat salah menduga seseorang di antara mahasiswa tersebut sebagai diriku. Hal itu membuatku tak berani membicarakan benjolan bernanah sebesar bola pingpong di kepalaku. Sebagai gantinya aku mulai mengeluhkan jeleknya jaringan internet ibuku sebagai alasan untuk menutup telepon.
Karena tak memiliki seorang pun untuk berbagi kegelisahan, hampir saja aku dibuat stres memikirkan segala macam kemungkinan terburuk jika benjolan tersebut terus mengikutiku ke mana-mana. Aku lalu memutuskan berhenti membuka internet karena takut membaca semua indikasi yang mengarah kepada kanker atau operasi pengangkatan dan semacamnya. Aku juga mulai menghilang di kelas tanpa kabar. Di tempat kerja aku meliliti kepalaku dengan syal. Kadang jika sedang melamun di depan kasir, sepasang darah mengucur begitu saja dari lubang hidungku. Jika sudah begitu aku akan segera diserang kepanikan dan mulai merasakan sakit di sekujur tubuhku, seolah pukulan polisi-polisi itu baru terjadi kemarin sore. Gadis di apotek mengatakan sebaiknya aku memeriksakan diri ke dokter saja daripada terus-terusan membeli Paracetamol dan kapsul penambah darah. Aku hanya mengangguk tanpa berani menatapnya.
Perlahan hidupku mulai berjalan di luar jalur semestinya. Aku jadi sering membuat kesal partner kerjaku dengan meminta bertukar hari off. Meski pada akhirnya benjolan itu pecah tapi ia tak membawa pergi sesuatu yang melekat bersamanya sedari awal; rasa cemas. Perasaan itu tetap tinggal dan kini berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan malam-malamku.
Aku jadi takut untuk tidur. Aku benci kenyataan bahwa begitu menutup mata diriku segera terisap ke dalam lumpur kenangan masa lalu. Ini bukan sekedar mimpi biasa, di mana kamu bisa menemukan dirimu dalam adegan-adegan absurd dengan realitas tumpang tindih yang berubah cepat. Mimpi yang kualami tak lain adalah pengulangan peristiwa-peristiwa spesifik dari masa lalu yang disaksikan dari sudut pandang orang ketiga. Aku ada di sana, melihat diriku sendiri dalam serangkaian kejadian-kejadian itu. Seperti seorang pengamat.
Suatu malam aku memimpikan sebuah peristiwa sewaktu aku masih kecil dulu bersama teman-temanku. Siang itu, sepulang sekolah aku dan tiga siswa sekolah dasar lainnya mengejar seekor anak kambing. Itu kami lakukan sekedar untuk berenang-senang saja karena jalan ke rumah kami melewati setapak hutan yang panjang. Tapi kami terlambat menyadari ketika tiba di sebuah kebun, kami menemukan si kambing telah terjatuh ke dalam sebuah sumur tua. Kami berlari pulang dengan panik, meninggalkan si kambing mengembik parau di bawah sana. Sore harinya barulah aku tahu jika kambing itu milik seorang petani miskin bernama Lewa. Semua orang kampung bersedih karena kambing tersebut merupakan harta si petani satu-satunya. Pada waktu makan malam, ibuku memberitahu ayahku ide warga untuk menyisihkan beberapa uang untuk membantu Lewa yang dituntut ganti rugi biaya menguras sumur dari si pemilik tanah.
Dulu, aku tak merasakan apa-apa ketika mendengar itu. Sebagai seorang anak kecil yang perlu kulakukan hanyalah diam dan menghabiskan makanan di piring lalu melupakan kenakalan kami tadi siang. Syukurlah tak ada yang melihat kami mengejar si kambing. Tapi, diriku yang lain, berdiri tak jauh dari sana sebagai lelaki dewasa berusia dua puluhan tahun membuatku ingin pergi mencekik leher anak lelaki kurang ajar itu. Wajah pura-pura tak tahu itu semakin membuatku marah.
Ketika terbangun, aku masih bisa merasakan igauan yang menggantung di ujung bibirku. Rasa sakit membakar dadaku seperti serbuan peluru. Aku tak mengerti mengapa Tuhan harus memperlihatkan hal seperti itu lagi kepadaku di usia sekarang.
Pada malam-malam setelahnya berturut-turut mimpi akan memutar kembali satu per satu rekaman kehidupanku di masa lalu. Aku melihat diriku tengah dilecehkan oleh guru mengajiku di wc mesjid sewaktu aku berusia delapan tahun. Aku menyaksikan diriku berbohong kepada kedua orang tuaku tentang sepeda motor yang aku dan kawan-kawanku tabrakkan ke seorang ibu pedagang kaki lima, yang membuatnya patah kaki. Aku menyaksikan seorang siswi perempuan yang menangis setelah kupermalukan di depan kelas karena ia terus mengirimiku pesan Facebook setiap malam. Semua mimpi itu berlanjut menjadi pikiran-pikiran yang merusak siang hariku. Aku jadi mudah marah dan kehilangan semangat.
Sebagai mekanisme pertahanan diri, aku mulai mengembangkan paranoia akan kondisi kamarku pada malam hari. Aku akan keluar berjalan-jalan di taman demi menghindari perasaan tertekan.
Jadi demikianlah. Tengah malam dan di sebuah taman kota kecil yang sepi, aku menyesap obatku, meneguk air banyak-banyak lalu duduk sendirian sambil mengisap sebatang rokok. Kepalaku berusaha memikirkan banyak hal lain demi mengusir mimpi buruk yang baru saja kualami, sampai efek sedatif dari obat tersebut mulai merenggangkan syaraf-syarafku dan aku akan berbaring di bangku taman yang keras itu. Aku akan tidur sangat lama dan tak ada satu pun hal di luar sana yang bisa menggangguku. Sampai panasnya sinar matahari pukul dua belas siang atau hujan yang tak kenal musim memaksaku bangun.
Namun, pada sebuah malam yang tak biasa, aku terbangun oleh suara tangis bayi yang menembus tirai tipis kesadaranku.
***
Seperti dugaanku, polisi itu tidak datang untuk menjemputku dan meminta keteranganku lebih lanjut. Mungkin mereka telah menemukan solusi atas bayi tersebut. Atau bisa jadi orang tua yang telah membuang bayi itu di taman telah tertangkap. Atau mungkin juga ini bukanlah sebuah masalah besar yang harus diselesaikan oleh kepolisian. Lagi pula, jika dipikir-pikir lagi, pada akhirnya ini semua tidak ada hubungannya denganku. Tugasku hanyalah menyerahkan bayi itu kepada pihak berwenang dan melanjutkan hidupku sendiri.
Jam di ponselku menunjukkan pukul delapan malam lebih sepuluh menit ketika aku tiba di gerbang kantor polsek. Terlalu serius memikirkan perkara bayi itu tanpa sadar membuat sepasang kakiku seperti bergerak sendiri menuju tempat ini. Petugas jaga malam sebelumnya telah digantikan orang lain. Yang ini agak tua dan berperut buncit. Ia menanyakan tujuanku jadi aku katakan sedang mencari bapak petugas yang menginterogasiku semalam. Untunglah ia ada di dalam. Aku menemuinya sedang merokok santai di sebuah ruangan dengan meletakkan kedua kakinya di meja. Ia mengenaliku tapi sepertinya sudah lupa dengan janjinya semalam. Ia tersenyum pendek dan seperti tahu maksudku ia segera mengatakan bahwa si bayi telah dibawa ke rumah sakit untuk pengecekan kesehatan.
“Setelah itu?” Tanyaku.
Petugas mengangkat satu alisnya, seperti menemukan kejanggalan dari pertanyaan itu.
“Komisi Perlindungan Anak atau semacamnya akan mengambil alih,” ia berkata sesaat kemudian. “Jika kedua orang tuanya tidak ditemukan kemungkinan besar ia akan tinggal di panti asuhan.”
“Oh, begitu,” gumamku.
“Ada yang ingin kau tanyakan lagi?”
Aku menggeleng pendek. Caranya bertanya semakin memperjelas jika ia menaruh sejenis kecurigaan tertentu kepadaku. Daripada berakhir dengan mendapatkan perlakuan yang tidak-tidak, aku berterima kasih dan pamit undur diri. Di pintu ia memanggilku.
“Jangan terlalu dipikirkan. Semalam saya melihatmu begitu tertekan. Saya tidak tahu apa masalahmu, anak muda. Tapi mengonsumsi obat-obatan di usia sepertimu tidak hanya membuatmu menjadi cengeng tapi pada akhirnya akan menghancurkan dirimu dan masa depanmu…”
Sok tahu! Aku ingin berteriak di depan mukanya. Tapi nyaliku terlalu kecil bahkan untuk sekadar menatap sepasang matanya. Aku hanya menangguk mengerti, seperti yang sudah-sudah; sebagaimana ketika aku menghadapi dokterku, aku mengangguk ketika melayani pembeli dari balik meja kasir, mengangguk ketika menerima nasihat gadis di apotek.
Keluar dari kantor polisi aku segera menyeberang jalan untuk mengambil jalan pintas menuju taman. Hanya sedikit bintang di atas sana. Pemandangan awan di langit gelap serupa papan tulis yang dihapus tidak sempurna ketika jam sekolah berakhir, menyisakan pola tak beraturan di mana-mana. Aku mengeluarkan dari kantong koin celanaku sebuah lipatan kertas. Satu-satunya tempat di tubuhku yang luput diperiksa oleh polisi semalam. Aku sendiri tak ingat mengapa aku memutuskan menyembunyikan surat kecil yang tergeletak di atas perut si bayi ketimbang menyerahkannya kepada polisi.
Tak ada yang istimewa dari surat tersebut. Tidak lebih dari tiga kalimat-kalimat panjang, yang ditulis dengan tergesa-gesa. Surat itu berisi permintaan tolong agar siapa pun yang menemukan si bayi agar merawatnya. Disebutkan lagi kedua orang tua dari anak itu tidak sanggup membesarkannya dengan ekonomi yang serba kekurangan.
Pembohong! Aku meludah ke tanah.
Aku meremas kertas tersebut dan membuangnya ke selokan. Terngiang lagi perkataan polisi sialan itu di kepalaku. Memangnya kenapa jika aku menangis. Itu tak ada hubungannya dengan kenyataan bahwa aku sedang di bawah pengaruh obat. Aku menangis karena terpesona menyaksikan pantulan cahaya bulan di wajah halus dan merona bayi kecil itu. Kepalan tangannya yang kecil menggenggam satu jariku, dan tatapan tanpa ekspresi itu. Semuanya! Ketika aku menemukan kardus itu, hal pertama yang terlintas di pikiranku bukanlah marah atau semacamnya. Aku justru mengasihani diriku sendiri yang tak bisa melakukan apa-apa. Satu hal yang polisi itu tak tahu, jika aku tahu keseluruhan ceritanya. Namun, aku memutuskan untuk tidak mengatakannya bahkan jika mereka berkumpul untuk memukuli kepalaku sekali lagi.
Malam itu, aku melihat sepasang manusia sedang berbisik-bisik di balik rimbun bunga dan entah mengapa itu membuat hatiku merana.
***
Pasangan muda. Yang perempuan terlihat menyerupai gadis yang baru lulus SMA. Ia miliki potongan rambut pendek sebahu dan mengenakan jaket hoodie berwarna kuning ukuran XL. Ia yang pertama turun dari sepeda motor dengan kotak kardus di tangannya. Sementara si lelaki, bertubuh kurus dan mengenakan topi yang memperlihatkan kuncir kuda menjuntai di tengkuknya. Aku perkirakan ia seumuran denganku—lebih sedikit. Wajahnya terlihat gugup dan penampilannya menunjukkan seorang pekerja serabutan yang memiliki kesenangan merias sepeda motor. Sejak dari trotoar, lelaki itu mematikan mesin motornya dan menuntunnya pelan masuk ke taman, menyembunyikannya di kegelapan.
Keduanya berjalan mondar-mandir selama beberapa waktu. Mereka jelas tidak menyadari keberadaanku. Si gadis sepertinya ingin menaruh bayi itu di titik yang sedikit mencolok; yang bisa dilihat dari berbagai sudut taman. Tapi aku juga merasa jika si lelaki tidak begitu sepakat dengan kekasihnya. Dia terlihat menggeleng beberapa kali dan menunjuk ke tempat lain. Di atas sebuah bangku panjang tepat di bawah lampu tiang. Dekat permainan seluncur. Hingga di dekat bak pasir.
Aku yang terbangun oleh suara tangis bayi tersebut duduk diam untuk memahami maksud kemunculan dua manusia di hadapanku. Aku terlindung di bawah sebuah pohon randu besar tepat di sudut timur taman, tempat terakhir yang mungkin terpikirkan untuk menaruh si bayi oleh keduanya. Saking sepinya malam itu aku bisa mendengar dengan jelas percakapan mereka.
“Di sini saja?” Bisik si gadis.
“Jangan di situ, entar dimakan anjing,” si pria menjawab.
“Kata-katamu kasar sekali.”
“Maaf. Maksudku, kita mesti memastikan dia bisa ditemukan oleh orang lain dengan segera.”
“Jam berapa taman ini ramai?” si gadis kembali bertanya. Kini ia meletakkan kotak itu di dekat bak sampah.
“Bisakah kau menyusuinya sebentar supaya ia berhenti menangis?” Lelaki itu memutar pandang cemas ke sekeliling.
“Hei, kau tidak mendengarku, ya? Jam berapa orang akan berdatangan ke sini?” ulang gadis itu dengan nada suara meninggi.
“Astaga, kau kira anakmu ini tak ada bedanya dengan pembungkus makanan,” sergah si lelaki menarik kembali kardus tersebut dalam pelukannya. “Kau lihat timbunan sampah ini. Sudah berbulan-bulan mereka tak datang untuk mengangkutnya.”
“Jadi, maksudmu taman ini terbengkalai?” Tanya si gadis mengamati perubahan ekspresi pada kekasihnya.
Lelaki itu menggaruk-garuk hidungnya dan berkata bahwa sebenarnya taman ini tak sesepi kelihatannya. Orang-orang berdatangan setiap pagi, untuk berolahraga atau sekadar mengajak anjingnya jalan-jalan. Hanya saja tempatnya tidak seramai taman lain. Ia mengaku terakhir kali datang ke sini setahun lalu sewaktu reuni klub motornya.
“Lalu siapa yang akan menemukan anak kita kalau begitu?” desak si gadis. “Dan kenapa pula kau memilih tempat ini?”
“Sabarlah, jangan menekanku begitu,” si lelaki terlihat kesal. “Saya tidak bisa berpikir jika kau terus-terusan berlaku kekanak-kanakan seperti ini. Kita harus berpikir jernih. Kau juga pakailah otakmu sedikit.”
“Memakai otak?” si gadis merebut kardus dari tangan lelaki tersebut. “Memangnya siapa yang membuat kita berada dalam posisi ini?”
“Posisi apa?”
“Malah bertanya,” si gadis sudah tidak sabaran. “Kaulah yang membuat kita terdesak dan tak punya pilihan lain.”
“Pilihan itu selalu ada!” setengah membentak lelaki itu menyorongkan telunjuk ke hidung kekasihnya. “Kaulah satu-satunya di sini yang berpikir jika kita tidak punya pilihan.”
Lalu yang terjadi selanjutnya adalah pertengkaran yang berusaha diredam secara sia-sia dengan memelankan suara. Dari cara keduanya bertukar tuduhan aku menduga ini adalah pertengkaran yang sama dan terjadi untuk kesekian kalinya. Mereka pasti sudah saling tahu argumen masing-masing dan lelah mengulang cerita yang itu-itu saja, tapi seolah saling menolak untuk disalahkan. Dan setelah mengamati sepanjang waktu itu, inilah yang bisa kusimpulkan.
Rencana membuang bayi ini semula ditentang oleh si lelaki. Nampak jelas jika ia menginginkan pernikahan sebagai solusinya, agar mereka berdua bisa membesarkan bayi itu bersama-sama. Namun, si gadis mengatakan jika itu adalah hal yang tidak masuk akal. Ia merupakan mahasiswa kedokteran semester akhir sepertiku yang sebentar lagi akan merayakan kelulusannya. Kedua orang tua gadis itu di kampung sudah memiliki rencana untuk masa depan anaknya. Termasuk mendukungnya untuk mengambil magister spesialisasi bidang ginekologi agar dalam beberapa tahun ke depan ia bisa kembali ke kabupaten tempat ia berasal dan membuka klinik sendiri. Selain takut dengan reaksi orang tuanya—aku berpikir jika si gadis datang dari keluarga terpandang—jelaslah di sini, membesarkan anak di masa-masa seperti ini berarti meninggalkan semua rencana yang telah bangun untuk hidupnya di masa depan. Pada akhirnya tak ada yang bisa mereka lakukan untuk mengubah itu. Si lelaki dengan nada menyesal belakangan ikut mengakui bahwa dengan gajinya sebagai mekanik bengkel pun tak akan cukup untuk membesarkan anak itu sendirian.
Ada diam yang panjang sebelum gadis itu kembali berbicara.
“Bukannya kita sudah sepakat tidak akan membicarakan ini lagi? Kok kita masih mengulang-ulang pertengkaran yang sama, ya?”
“Benar, maafkan saya,” kata si lelaki. Ia mengusap air matanya dengan lengan. Sementara aku tak ingin mengatakan jika gadis itu tidak sedih sama sekali. Lebih tepatnya ekspresi yang dia tampilkan adalah perasaan mati rasa. Aku yakin jika ada sepuluh orang paling hancur di dunia malam itu dia termasuk salah satunya. Mungkin air matanya telah kering sejak lama ketika mengetahui jika inilah keputusan terburuk yang akan diambil dalam hidupnya. Mereka memutuskan untuk meletakkan bayi itu di tengah-tengah taman, tepat di undakan kedua pada tangga-tangga kecil kolam air mancur. Jika aku tak salah, penjaga akan datang menyalakan mesin airnya pukul tujuh pagi.
Mereka sepertinya hanya bisa mengusahakan sejauh ini. Selanjutnya takdir akan mengambil alih kehidupan bayi malang itu.
Tangis bayi itu kembali pecah tak lama setelah bunyi motor kedua orang tuanya menghilang di ujung jalan. Aku yang masih tak percaya dengan apa yang baru saja kusaksikan bergerak tergesa-gesa menghampiri. Bayi itu terbungkus kain sarung, dengan botol susu yang masih terisi penuh di sampingnya. Di dadanya diletakkan selembar kertas.
Tanpa sadar aku mulai menangis karena memikirkan tentang betapa sia-sianya hidup ini. Sepanjang perjalanan ke polsek aku tak tahu apa yang harus kukatakan kepada mereka. Kepalaku pening karena obat, mataku sangat berat, kedua tanganku gemetar hebat.
Aku bisa saja mengatakan semua yang kulihat saat itu kepada polisi. Aku masih ingat sepeda motor yang keduanya naiki atau ke arah mana mereka pergi. Aku ingat setiap detil penampilan kedua penjahat tersebut. Kalau aku melakukannya, mungkin jalan ceritanya akan sedikit berbeda. Polisi akan mengusut kasus ini dan menemukan pasangan yang tidak bertanggung jawab itu, melakukan segala macam mediasi antar keluarga sehingga si bayi kembali mendapatkan hak untuk hidup dan dibesarkan oleh orang tuanya.
Namun, alih-alih mengikuti dorongan rasionalku aku justru menghapus pilihan tersebut, seperti yang dilakukan gadis itu, sebagaimana kelemahan hati si lelaki yang tak bisa memaksakan pendapatnya sendiri sebagai solusi yang benar. Aku menangis karena beberapa antara kita, orang dewasa, berjudi dengan diri sendiri dengan mengabaikan suara hati dan menjatuhkan diri kita dalam apa yang orang-orang sebut kekhilafan masa muda.
Bahkan ketika polisi itu mencengkram leher kemejaku dan mengayunkan tubuhku maju mundur untuk memaksaku bicara, aku tetap bergeming. Aku telah menggembok mulutku dan membuang kuncinya ke dasar laut. Aku menangis karena sadar telah bertindak salah, mengikuti bisikan jahat dalam hatiku agar pasangan muda itu merasakan karma paling kejam di masa depan. Aku menangisi hidupku sendiri yang kesepian di dunia ini. Aku menangis karena seorang anak akan tumbuh dewasa dan merasakan kesepian yang sama dengan yang kurasakan.
*****
Editor: Moch Aldy MA
