Penyair paruh waktu. Separuhnya enam batang.

Tentang Basah dan Puisi Lainnya

Fauzan Ramadhan

34 sec read

Tentang Basah

Barangkali basah
ialah sendu nasib
di bawah bantal dan
tumpukan mimpi yang tak tercatat

Dan puisi adalah biji-biji zarah
yang perlahan melintasi
cahaya ventilasi sebagai
doa yang hening
dalam kegamangan

(2023)

As-Sami

yang ia cintai, terlisankan
lahir dari gua suram

ada suara di perigi
menanyakan kepantasan
atas sebuah paradoks
di tubuhnya yang remang

pangkal gua memetakan
abjad di bebatuan
membentuk kalimat

(muasal terciptanya kontra)

dibacanya, di-sirkan
sungguh pun tansuara

ia dengar, senantiasa

(2024)

Buih

ia hanya ingin pergi
melihat lautan

walau orang telah bosan
ia tetap bertanya, tentang
sesiapa

“barangkali ada
yang tak takjub akan lautan?”

sebab ia selalu begitu
dilahapnya kekosongan
dengan gairah yang ganjil

ia hanya ingin pergi
melihat lautan

mengaminkan segalanya
di tengah riak

sebab ia selamanya buih
selama-lamanya

(2024)

Tentang Basah (2)

biru melembap wajah sore
di sudut Ciputat
yang deras dan hening

sepasang kaki tanpa upaya
menyusuri pertanyaan
di sepanjang gang yang becek

membasahi keikhlasan dalam
tahun yang mengimpit

diktat-diktat akanan
mendikte dirinya dalam daftar
tanggungan

kita bicara sendiri
selalu sendiri

dan pergi, membuang
tumpukan berita
tentang cara hidup semestinya

(2024)

As-Sami (2)

sebab ia dengar
maka aku tak
berisik

sebab ia mengerti
jika aku telah
berbisik

(2024)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Fauzan Ramadhan
Fauzan Ramadhan Penyair paruh waktu. Separuhnya enam batang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email