Menulis musik dan beberapa pernik-pernik budaya populer lainnya

Memandu Perkembangan Anak bersama Montessori

Kukuh Basuki

2 min read

Era digital yang kini telah datang tidak serta merta membuat pengasuhan anak dalam keluarga menjadi mudah. Tak jarang, orangtua dibuat frustrasi dengan anaknya yang dicap nakal, hiperaktif, dan bertingkah seenaknya sendiri. Di kutub yang lain, ada anak yang super pendiam, pemalu, dan tidak mau berinteraksi dengan orang lain.

Permasalahan-permasalahan tersebut biasanya membawa dampak lanjutan seperti kemampuan anak yang jauh di bawah rata-rata teman-teman seusianya, bullying, ataupun ketidakmampuan anak dalam menyesuaikan diri dengan keadaan dan perubahan. Di sekolah formal biasanya mempunyai nilai rendah di kelas-kelas yang diikutinya. Ironisnya, tidak banyak orangtua yang berinisiatif untuk mempelajari satu teknik parenting untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin itu karena teknik parenting yang ada terlalu asing, rumit, dan terlambat untuk diinisiasi.

Baca juga:

Untuk itulah buku The Montessori Child: Panduan Orangtua dalam Membesarkan Anak yang Berdaya, Berpikir Kreatif, dan Berhati Welas Asih datang di waktu yang tepat. Dengan bahasa yang mudah dipahami dan grafik yang menarik, buku ini menjadi sangat enak dibaca dan dipahami oleh pasangan muda yang hendak mempersiapkan pengasuhan atau yang sedang dalam masa mengasuh anak. Simone Davies dan Junnifa Uzodike juga melengkapi bukunya dengan rincian kasus dan rancangan strategi sehingga pembaca sangat mudah mengaplikasikan isi buku dalam kehidupan sehari-hari.

Awal Mula Montessori

Metode Montessori adalah sebuah metode yang digagas oleh Dr. Maria Montessori, dokter, antropolog, dan ilmuwan asal Italia yang sangat tertarik oleh dunia pendidikan dan anak-anak. Karena berasal dari lingkungan pendidikan yang eksakta, maka semua metodenya didasari dengan bukti-bukti ilmiah yang sudah teruji. Hal itu membuat metodenya sangat kuat dan masih relevan hingga era sekarang.

Case dei Bambini adalah tonggak awal Montessori dalam menguji metode pendidikan dan pengasuhannya. Dibangun pada tahun 1907 di kawasan kumuh San Lorenzo Italia, Case dei Bambini menjadi laboratorium Montessori untuk mengamati dan mendokumentasikan proses pendidikan yang dijalankan di sekolah tersebut. 

Dalam proses mengajarnya, Montessori menemukan bahwa anak-anak mempunyai kecenderungan alami yang sangat berpengaruh pada minat dan semangat anak dalam belajar. Jika metode pendidikannya tidak membuat anak antusias dan semangat untuk melakukannya, besar kemungkinan itu tidak sesuai dengan kecenderungan alami anak. Montessori akan segera memodifikasi dan menggantinya dengan metode lain yang lebih tepat. Anak-anak yang berada pada lingkungan yang tepat dan kebutuhannya terpenuhi akan menjadi anak yang cakap, antusias, dan rajin belajar. 

Dasar Metode Montessori

Bagi pembaca awal Montessori, buku terbitan Bentang Pustaka bulan Mei 2024 ini akan sangat membantu. Pembaca akan dikenalkan pada spektrum Montessori sebagai cara pandang, teropong, sikap, dan kebijaksanaan.

Sebagai cara pandang, Montessori selalu dijiwai dengan rasa takjub dan kekaguman. Dengan dua perasaan yang diliputi kegembiraan tersebut, manusia akan selalu antusias untuk memahami serta mempelajari diri sendiri dan semua yang ada disekitarnya. 

Sebagai teropong, Montessori memandang bahwa anak-anak itu unik, cakap, dan selalu diliputi dengan rasa takjub dan kagum. Hal ini mungkin berbeda dengan pandangan mayoritas masyarakat yang menganggap anak tidak tahu apa-apa dan tidak cakap. Padahal, dengan memandang anak secara berbeda, maka pembaca diajak untuk memandang dan memosisikan diri secara berbeda dalam pengasuhan. Dalam Montessori, orangtua menjadi seorang pemandu, alih-alih sebagai guru.

Sebagai sikap, Montessori menekankan sikap saling menghormati, rendah hati, terbuka, sabar, dan percaya. Anak yang paling belia pun pendapatnya harus dihormati. Pengasuh juga harus bertanya untuk memahami anak. Penerimaan apa adanya, berinteraksi perlahan, dan memberikan keleluasaan pada anak adalah sikap yang harus dipegang orangtua untuk membimbing anak dalam mengembangkan aneka kemampuannya.

Sebagai kebijaksanaan, Montessori memberikan kita pemahaman untuk tetap sabar dalam menghadapi perubahan demi perubahan anak dalam melewati fase-fase tumbuh-kembangnya. Dalam hal ini, Dr. Montessori memahami perubahan anak menggunakan analogi metamorfosis kupu-kupu yang melewati fase telur, ulat, dan kepompong. Hal itu menggambarkan anak pada masa tumbuh yang akan mengalami perubahan fisik, kognitif, dan psikologis yang mungkin membuat tidak nyaman baik bagi anak ataupun pengasuh.

Dasar-dasar Metode Montessori itu dibuat berdasarkan kecenderungan manusiawi yaitu eksplorasi, orientasi, keteraturan, komunikasi, ekspresi, perkembangan sosial, abstraksi, bergerak, dan bekerja. Kecenderungan manusia tersebut menuju satu titik, yaitu penyempurnaan diri—sebuah hasrat untuk terus memperbaiki diri dan melakukan yang terbaik.

Baca juga:

Empat Ranah Perkembangan

Montessori membagi fase perkembangan anak menuju dewasa menjadi empat ranah. Tiap ranah berlangsung 6 tahun: usia dini (0-6 tahun), usia kanak-kanak (6-12 tahun), usia remaja (12-18 tahun), dan usia pendewasaan (18-24 tahun). Setiap usia mempunyai karakter dan kecenderungan masing-masing yang cukup detail dijelaskan dalam buku ini.

Pada tiap ranah, Dr. Montessori masih membaginya menjadi dua untuk memetakan kecenderungan anak secara lebih mendetail dan spesifik. Dari situlah muncul periode-periode khas anak, salah satunya adalah periode sensitif. Periode yang berjalan sangat singkat ini sangat berpengaruh pada kemampuan anak dalam berbahasa, menulis, membaca, bergerak, berhitung, bermusik, dan keterampilan sosial seperti sopan santun, tata krama, dan etika. 

Pengetahuan ranah-ranah perkembangan anak dan periode khas anak yang dijelaskan Montessori akan menjadi dasar dari pembuatan strategi pengasuhan dan pembelajaran anak yang lebih efektif dan menyenangkan. Saatnya mengucapkan selamat datang pada Montessori dalam semesta pengasuhan kita. 

 

Editor: Emma Amelia

Kukuh Basuki
Kukuh Basuki Menulis musik dan beberapa pernik-pernik budaya populer lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email