mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Nikah Cepat atau Nikah Tepat?

Keyla Neja

2 min read

Kerap dibincangkan pernikahan dini yang terjadi di pedesaan sebanyak 27,01% sedangkan di kota sebanyak 11,09%. Hal ini bukan lain karena faktor ekonomi, tradisi (kultur), pergaulan bebas, atau bahkan sekadar melindungi martabat keluarga. Hal yang tentu saja tidak seharusnya dilakukan.

Di sisi lain, sebagaimana laporan IDN Research Institute pada tahun 2024 dari 602 responden terdapat 62% Gen Z memandang bahwa pernikahan merupakan hal masa depan yang masih terlalu jauh dan belum terlalu dipikirkan. Kemudian pada penelitian lanjutan kepada 51 responden dari kelompok yang sama (Gen Z), tim IDN Media menanyakan keinginan mereka untuk menikah. Jawaban mayoritas responden adalah “mungkin”, bukan “ya” dengan tegas. 73,7% diantaranya menyatakan bersedia mempertimbangkan, 21,2% menyatakan mungkin mempertimbangkan, dan 5,3% menyatakan “tidak” secara tegas terhadap pernikahan.

Gen Z dan Ketakutannya pada Life After Marriage

Pengenalan life after marriage pada Gen Z terkesan “kurang” baik. Gambaran umumnya terlalu menakutkan membuat mereka overthingking terhadap pernikahan. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?

Baca juga:

Banyaknya faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah ekonomi, standar sosial terhadap pernikahan, trauma dari pengalaman keluarga (khususnya hubungan antar orang tua  atau orang tua dan anak yang kurang sehat), isu-isu perceraian, KDRT, perselingkuhan, dan flamingo era setelah melahirkan yang sedang tren di media sosial inilah yang menjadi salah satu alasan mereka takut melangkah ke jenjang pernikahan.

Jadi, apakah pernikahan seharusnya dilakukan lebih cepat itu lebih baik?

Cara Memandang Pernikahan

Menurut pengalaman saya dengan melihat kehidupan pernikahan orang tua, saya melihat bahwa menikah itu bukan tentang rentang waktunya—“cepat” atau “lambat”—akan tetapi, tentang “siap” atau “belum siap”. Mengapa begitu? Karena life after marriage itu bukan kehidupan yang singkat, itu adalah kehidupan jangka panjang yang akan kita jalani dengan seseorang yang asing pada awalnya, tetapi akan menjadi teman hidup kita selamanya. Bagaimana kita menjalani hari-hari di masa depan dengannya, orang yang akan menemani setiap langkah kita. Segala cita-cita dan mimpi yang mungkin belum tersampaikan, akan kita usahakan bersamanya.

Selain itu? Anak.

Ya, anak-anak yang kita nantikan pastinya. Anak-anak yang lucu, pintar, penurut, dan membanggakan kedua orang tuanya. Tentu saja hal-hal seperti menata masa depan dengan pasangan, bahkan sampai merawat dan mendidik anak-anak dengan baik dapat kita capai apabila kita telah menjadi pasangan dan orang tua yang “siap” di masa yang akan datang dalam dunia pernikahan tersebut.

Menikah yang Tepat: Selesai dengan Diri Sendiri

Maka, menikah bukan tentang cepat, tapi tepat.

Tepat yang dimaksud adalah siap. Siap memilih pasangan yang tepat, yang tidak menomorsatukan ego, yang memilih secara realistis dan berkualitas, serta mempertimbangkan dengan matang. Siap dalam hal mental, sudah menata mental diri sendiri sebaik mungkin. Siap dalam hal finansial, sudah menyiapkan strategi keuangan untuk life after marriage serapih mungkin.

Siap dalam hal ilmu, ilmu tidak akan pernah cukup, maka sebagai calon orang tua yang baik akan mengusahakan yang terbaik pula, selalu menuntut ilmu demi kualitas diri sendiri dan keturunan. Siap dalam hal keagamaan, yang dimaksud siap disini adalah menyiapkan sebaik mungkin diri kita, mempelajari ilmu-ilmu agama dan mengamalkannya semaksimal mungkin, siap mendidik anak sesuai dengan petunjuk agama. Dan siap dalam segala hal, artinya—sudah selesai dengan diri sendiri.

Baca juga:

Karena bagaimana pun, orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, dalam artian—sudah mengenali dan bisa mengendalikannya—seharusnya akan lebih maksimal dalam memperlakukan orang lain, terutama anak kandungnya sendiri dan pasangan yang menemaninya selamanya. Ia akan mengusahakan yang terbaik untuk keluarganya dan mengesampingkan egonya.

Pasangan atau pun orang tua yang siap akan memperlakukan keluarganya dengan baik. Ia akan berusaha mengerti perasaan keluarganya di saat datang sebuah masalah. Ia akan berusaha menenangkan dan menyelesaikannya bersama-sama secara baik-baik. Ia akan mengusahakan yang terbaik untuk keluarga yang dimiliki dan dibangun olehnya.

Dengan begitu, lingkungan keluarga akan menjadi lingkungan yang positif. Komunikasi dapat dibangun dan dipertahankan dengan baik. Karena bagaimana pun, anak mengikuti orang tuanya. Apabila orang tuanya dapat mengendalikan dirinya dan menjaga komunikasi antar pasangan maupun antar orang tua dengan anak, maka sang anak akan seperti itu pula. Bukan hanya akan lancar berkomunikasi dengan orang tua, akan tetapi dengan lingkungan sekitarnya yang ia temui karena sudah terbiasa menjalani komunikasi dengan baik di rumah tanpa rasa takut dan cemas.

Menikah itu sebenarnya bukan soal “cepat” atau “lambat”, akan tetapi tentang siap dalam berbagai aspek kehidupan sehingga menikah disaat dan kondisi yang tepat. Dengan inilah akan terwujudnya keluarga yang harmonis dan tidak akan menimbulkan rasa takut dan cemas serta meminimalisir dampak negatif dari pernikahan dini yang dipaksakan. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Keyla Neja
Keyla Neja mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email