“Ekspektasi berlebihan membunuh kebahagiaan”
Percaya atau tidak, kutipan di atas adalah pijakan yang dipakai pemerintahan Prabowo-Gibran dalam membuat program dan regulasi yang ‘brilian’ sejauh ini. Setelah berbagai efiensi yang menyebabkan kelangkaan gas 3kg dan banyaknya PHK yang terjadi, langkah brilian ini dilanjutkan dengan wacana pemangkasan anggaran pendidikan yang kabarnya membuat KIP-K akan dihilangkan.
Sebelum kawan-kawan naik pitam melihat konsekuensi dari regulasi ini, izinkan saya menerjamahkan niat baik dari presiden Indonesia yang paling tidak bernafsu ini dan wakilnya sang sastrawan kaskus yang tersohor.
Baca juga:
Dalam hal ini, pemangkasan anggaran pendidikan ibarat sontekan ciamik yang dilesatkan Cristiano Ronaldo setelah menerima umpan manja Mesut Ozil (efisesnis anggaran). Coba kawan-kawan bayangkan jika efek efiesensi yang menyebabkan carut marut ekonomi, ribuan PHK, kelangkaan gas, dan kelaparan tidak disambut dengan pemangakasan anggaran pendidikan, maka yang terjadi adalah akan banyak orang yang menjadi pintar tetapi kelaparan. Sungguh ini adalah hal yang sangat sia-sia, apa guna otak terisi bila perut tak mampu terisi nasi.
Maka dari itu pemerintah sengaja ingin membuat masyarakatnya bodoh supaya mereka tidak tercekik oleh ekspektasi di kemudian hari. Orang bodoh cenderung sadar bahwa hidup ini berat, maka ia serahkan hidupnya kepada pemerintah melalui bansos, serangan fajar dan job buzzer. Hidup yang gampang tidak perlu repot-repot belajar, tidak penuh ekspekstasi, mengurangi kekecawaan. Sementara orang pintar seringkali begitu angkuh mengganggap kemampuannya bakal memberi penghidupan bagi mereka, padahal kenyataannya kebanyakan syarat untuk bisa bekerja di negara ini saja hampir setara dengan syarat menjadi nabi.
Langkah dan Strategi
Demi memperkuat kekaguman saya atas langkah brilian dari pemerintah: Langkah-langkah yang mengingatkan saya atas keindahan langkah-langkah yang dipilih Mikhail Tal dalam permainan catur; penuh pengorbanan, brutal, dan diakhiri dengan takluknya musuh di akhir permainan (meskipun kita tidak tahu siapa musuh pemerintah dalam konteks ini), maka izinkan saya menambahkan sudut pandang dan pengalaman subjektif dalam kebrilianan pergerakan pemerintah.
Saya merupakan salah satu mahasiswa miskin yang tidak mendapat KIP kuliah. Bukan karena saya terlalu idealis untuk tidak mau mengambil keuntungan itu, namun karena rumitnya persyaratan dan birokrasi serta KIP kuliah itu sendiri yang tak jarang salah sasaran. Bahkan saya pernah hampir putus kuliah karena tidak sanggup membayar uang kuliah. Namun pada akhirya saya sempat dibantu oleh teman-teman agar bisa tetap melanjutkan perkuliahan. Lihatlah betapa pemerintah telah membantu saya mendapatkan teman-teman yang baik di tengah dunia yang penuh dengan kasus “teman makan teman”.
Baca juga:
Tentu tak berhenti sampai di situ. Saya pada akhirnya harus bekerja bukan sekadar untuk membayar uang kuliah tetapi juga untuk bertahan hidup di perantauan. Beberapa kali saya berganti pekerjaan untuk mendapat gaji yang lebih layak, hingga pada akhirnya saya sempat mendapat kerja dengan gaji hampir UMR jogja. Lalu sempat juga saya mengambil dua pekerjaan sekaligus dalam sehari full-time dan part time . Walaupun sudah bekerja cukup keras, uang yang saya hasilkan tak lebih hanya untuk kuliah dan kebutuhan sehari-sehari. Bahkan kerap saya terpaksa makan cuma satu kali sehari.
Dan bagaimana saya mengatur waktu untuk kuliah? Pastinya kuliah saya berantakan, sempat mengambil cuti, dan mengulang beberapa mata kuliah. Teman-teman yang sudah lebih dulu sempro bahkan wisuda sudah menjadi pemandangan lumrah bagi saya yang masih berkutat di kelas mata kuliah.
Tapi apakah saya marah ke pemerintah? Apakah salah pemerintah yang tidak bisa memberikan kemudahan dalam pendidikan? Apakah salah pemerintah yang tidak mampu menghadirkan kesempatan kerja yang layak? Jawabannya tentu tidak kawan-kawan, justru ini adalah bentuk ‘kejeniusan’ pemerintah yang disempurnakan oleh Prabowo-Gibran.
Ingat: Ekspetasi berlebihan membunuh kebahagiaan!
Dengan susahnya mencari uang dalam situasi ekonomi yang carut marut ini, saya bisa sangat bersyukur dan bahagia ketika sesekali bisa memakan nasi ayam di Rumah Makan Padang yang “asli Padang” karena sehari-hari hanya bisa makan nasi telur ataupun mi instan.
Saya juga awalnya berniat untuk melanjutkan studi menuju S2 bahkan S3. Tapi dengan pemangkasan anggaran pendidikan saya menurunkan ekspektasi saya dan sudah bersyukur bila mampu lulus S1 kelak.
Pesan implisit yang coba disampaikan bapak presiden kita yang begitu dihargai Mayor Teddy ini adalah bahwa ia ingin memberikan kita kiat-kiat menjadi bodoh dan mati kelaparan. Namun itu bukan karena ingin rakyatnya menderita, tapi karena sebagai seorang perwira sejati yang mengerti beratnya hidup. Maka tak ia biarkan rakyatnya susah-susah belajar dan bekerja. Biarlah ia yang menanggung semua itu. Dalam imajiku Prabowo berkata, “Hey engkau rakyatku! Tunggu saja bansosku! tunggu saja makan gratisku! Dan tak lupa sebagai hiburan kuberikan jogetku padamu”. (*)
Editor: Kukuh Basuki
