Seorang mahasiswa psikologi. Ditengah kesibukannya memahami apa itu manusia, ia menyempatkan diri untuk bermain musik dan mendaki.

Sarjana di Persimpangan

Maulana Fajar

2 min read

Ada masa ketika pertanyaan paling sederhana, yang seharusnya saya bisa jawab dengan mudah, berubah menjadi pertanyaan yang rasanya sangat sulit, yaitu pasca sidang skripsi, saat pertanyaan “setelah ini mau ke mana?” dilontarkan.

Saya adalah mahasiswa Psikologi Universitas Islam Tribakti Lirboyo, Kota Kediri. Saat ini, saya tinggal menunggu wisuda akbar dari kampus. Saya ingin menuangkan perasaan gelisah saya pada tulisan ini sebelum di wisuda. Alih-alih bangga telah menyelesaikan sidang skripsi gelombang pertama dan tercepat daripada teman sekelas, saya merasa gelisah dan justru ragu.

Saya bisa menyebut diri saya mahasiswa yang malu pada diri sendiri. Saya tahu teori tentang tanda-tanda kecemasan, saya memahami bagaimana pikiran mampu menciptakan skenario, bahkan saya belajar bagaimana cara mengolah stres. Namun, saya tetap kesulitan menemukan ketenangan ketika memikirkan atau menyiapkan kehidupan setelah lulus kuliah. Tentu, saya berharap bisa kerja dengan pendapatan yang layak setelah menjadi sarjana.

Baca juga:

Namun, semakin saya mencari informasi lowongan kerja, semakin saya merasa gelisah. Kegelisahan yang mungkin juga dirasakan para sarjana baru di Indonesia.

Sarjana Banyak, Lowongan Kerja Sedikit

Bagi yang merasakan bangku kuliah, kita diajarkan bahwa pendidikan adalah tangga mobilitas sosial. Orang tua bekerja keras supaya anaknya dapat kuliah, bahkan rela menjual seluruh tanah warisan supaya anaknya melanjutkan pendidikan. Tapi, kita dihadapkan pada fakta realitas, bahwa lowongan pekerjaan yang tersedia jauh lebih sedikit daripada lulusan sarjana yang melamar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2026 mencatat terdapat 7,24 penduduk Indonesia yang masih menganggur dari total 154,91 juta angkatan kerja. Di balik angka itu, kita mengerti ada ribuan bahkan ratusan ribu lulusan sarjana atau diploma yang belum berhasil memasuki dunia kerja. Sementara itu, pada Februari 2025 terdapat 1.010.652 lulusan universitas yang masih menganggur.

Setiap tahun, perguruan tinggi meluluskan ribuan sarjana baru yang kemudian masuk ke pasar kerja, dengan harapan mendapatkan pekerjaan dengan upah yang layak. Boro-boro ingin mendapatkan upah yang layak, mendapatkan pekerjaan saja belum tentu. Karena itu, pertumbuhan lulusan sarjana baru setiap tahunnya tidak selalu diikuti oleh bertambahnya lapangan pekerjaan.

Yang lebih ironis, sebagian besar lowongan pekerjaan yang saya temui justru meminta pengalaman kerja minimal enam bulan hingga dua tahun. Beberapa hari setelah sidang skripsi, saya membuka berbagai situs lowongan pekerjaan hingga menginstal beberapa aplikasi lowongan kerja. Hampir semua iklan perusahaan yang saya baca mencantukan kriteria “minimal punya pengalaman enam bulan-dua tahun” kepada pencari kerja.

Syarat seperti itu mungkin terdengar sangat biasa oleh perusahaan, tapi bagi kita, sarjana baru, syarat tersebut tidak masuk akal. Bagaimana mungkin kita dimintai pengalaman, sementara kesempatan pertama kerja saja belum pernah diberikan.

Pada akhirnya, teman-teman saya memilih pekerjaan yang sama sekali tidak berkaitan dengan disiplin ilmu selama berkuliah. Ada yang menjadi admin toko, kurir, OB, hingga kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Wisuda Bukan Garis Akhir

Saya masih mencari jawaban yang pasti atas pertanyaan, “Setelah ini mau ke mana?”. Kadang saya sadar, pertanyaan seperti itu menguji saya untuk bertahan kemudian berdamai dengan ketidakpastian.

Beberapa bulan lagi saya akan mengenakan toga sambil menggenggam selembar ijazah. Orang-orang akan mengucapkan selamat, mengambil foto, lalu mengunggahnya ke media sosal. Di balik momen itu, mungkin masih ada satu pertanyaan yang masih saya simpan, setelah panggung wisuda dibongkar, saya harus melangkah ke mana?

Baca juga:

Saya percaya, kegelisahan ini bukan hanya milik saya. Ia hidup di kepala banyak lulusan baru yang setiap hari mengirim lamaran, menunggu balasan dari HRD perusahaan, lalu kembali mengulang proses yang sama keesokan harinya. Kami bukan tidak mau bekerja, kami hanya sedang mencari kesempatan pertama.

Barangkali, wisuda memang bukan akhir dari perjuangan menjadi mahasiswa. Wisuda saya kira adalah hari ketika seseorang berhenti menjadi mahasiswa, lalu mulai belajar menjadi orang dewasa.

Jika suatu hari nanti ada yang kembali bertanya, “Setelah ini mau ke mana?”, barangkali saya masih belum memiliki jawaban yang meyakinkan sampai saya dipertemukan pada pekerjaan yang pasti. Namun, setidaknya saya tahu satu hal: kegelisahan ini tidak membuat saya sendirian.

Di luar sana, ada ribuan sarjana lain yang sedang berdiri di persimpangan yang sama, membawa selembar ijazah, sembari berharap suatu hari nanti ada kesempatan untuk membuktikan bahwa ilmu yang kami pelajari memang bernilai dan layak diberi ruang.

 

 

Editor: Prihandini N

Maulana Fajar
Maulana Fajar Seorang mahasiswa psikologi. Ditengah kesibukannya memahami apa itu manusia, ia menyempatkan diri untuk bermain musik dan mendaki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email