Wartawan. Kolumnis di (Bukan) Catatan Pinggir.

Kakistokrat dan Harga Penderitaan Itu

Chris Wibisana

3 min read

Meryl Streep memerankan Margaret Thatcher dengan baik dalam Iron Lady (2011). Tidak hanya menampilkan perdana menteri itu sebagai politikus keras kepala nan tahan banting, dia juga tampil sebagai perempuan. Dia bukan batu pualam tanpa perasaan. kematian Dennis, suaminya, membuat kejiwaan sosok yang pernah dijuluki “Wanita Besi” itu benar-benar guncang. Sebagai seorang ibu, satu adegan memperlihatkan Thatcher menulis surat kepada 255 ibu yang kehilangan putranya dalam Perang Malvinas tahun 1982.

Kita berhak bertanya apakah Thatcher menulis surat itu sebagai ibu ataukah sebagai politikus. Boleh jadi kembang-kembang bahasa dalam surat itu menunjukkan empati, menggelontorkan beribu-ribu hormat atas nama tanah air yang martabatnya dibela sampai nyawa terenggut. Boleh jadi surat itu menunjukkan perhatian yang mendalam, tetapi sebagian orang juga berhak menganggapnya proforma. Tetapi pesan adegan itu jelas. Hati nurani seseorang yang belum afkir akan terusik kematian sesamanya. Sekeras-keras si Wanita Besi, dia bisa membayangkan perasaan seorang ibu yang ditinggal mati anak laki-lakinya.

Richard Nixon tak mampu merasakan itu, sekalipun dia mendapatkan pesan dari Vu Duc Vinh. Yang terakhir itu bukan tokoh. Dia penduduk desa di Vietnam Utara dengan dua anak. Si sulung, anak perempuan 8 tahun, tewas saat pesawat menjatuhkan bom sewaktu anak itu memberi makan babi di kandang. Adiknya, yang baru 3 tahun, tewas bersama neneknya saat rumah mereka turut kejatuhan bom. Vu sedang menggarap sawah saat buah hatinya terenggut musuh yang datang bagai alap-alap. Kematian terasa lebih dekat dari urat nadi ketika Vu berseru dalam tangisnya, “Bawalah baju putriku ini, lempar ke muka Nixon. Bawalah baju ini, sebab putriku takkan pernah mengenakannya lagi.”

Tak berbeda dengan Nixon, Josef Stalin pun tidak mampu merasakan arti kematian. Sesudah menyetor 27 juta nyawa orang muda dalam Perang Dunia II, dia masih punya 8 tahun sisa umur untuk memuntir leher lawan-lawan politik yang mulai bermunculan di kalangan Partai Komunis Uni Soviet. Dalam serial Chernobyl, seorang perempuan tua di pelosok Ukraina menantang maut dengan mengingat dosa Stalin itu, “Aku tak mau pindah dari rumah ini. Mereka merenggut suami dan dua anakku, dan sekarang rumah reyot ini pun mau dia ambil.”

Lebih dari sekadar perbandingan jenis kelamin, para pemimpin dunia dari abad kemarin itu berdiri pada sisi ekstrem dalam urusan hidup dan mati. Peduli sama sekali, atau abai sama sekali. Tidak ada titik tengah, misalnya bagaimana mereka menanggung penderitaan, kontinum pergeseran yang paling lazim dilewati dari hidup menuju kematian. Bisa jadi karena mereka tidak merasakan, tetapi lebih mungkin karena mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk merasakannya. Dalam lindungan yang serba aman, kenyamanan boleh diambil seperti prasmanan tanpa menghitung siapa yang harus membayar itu semua.

Baca juga:

Atau mungkin juga sebab lain. Seperti hidup, kematian dapat dihitung. Satu kematian, kata Stalin, adalah tragedi, tetapi seratus ribu kematian adalah statistik. Celakanya, ketika seorang pemimpin terlalu banyak dijejali statistik, dia bisa lupa bahwa yang dipimpinnya adalah manusia dari darah dan daging. Angka-angka yang mewakili kematian itu memang berguna untuk wartawan menulis berita, sejarawan menulis disertasinya, juru sensus membuat piramida penduduk, atau tukang gali kubur untuk menghitung berapa bakul nasi harus dia tandaskan sehabis mengayun cangkul.

Tetapi bagaimana menghitung penderitaan? Dapatkah setiap tetes cairan dalam kantung infus di bangsal gawat darurat bersaksi tentang orang yang meregang nyawa? Mampukah setiap kata dalam doa seorang ibu di sisi ranjang anaknya yang berjudi dengan maut berhitung? Sungguhkah kematian benar-benar harus dihitung sebelum seorang pemimpin sadar bahwa keputusannya sudah membawa tulah celaka? Bob Dylan bisa enteng menjawab, “The answer, my friend, is blowin’ in the wind,” tetapi kita tahu, penderitaan tidak sesederhana alunan lagu gembala di padang rumput.

Pertanyaan-pertanyaan ini tentu akan mengambang, lebih-lebih jika pemimpin itu tergolong kakistokrat: pemimpin tanpa kapasitas, yang lihai berpolitik karena culas, tetapi tidak mampu menghitung dampaknya, yang mendengarkan diri sendiri tetapi tidak melihat telapak kakinya. Pramoedya Ananta Toer menganggap jenis seperti ini tidak bisa diteriaki. Baginya, yang paling tepat hanya dijolok. Masalah lain muncul: sepanjang apa galah yang kita butuhkan untuk menjolok telinga yang begitu jauh dan sudah berbulu, sebab begitu lama tidak mendengarkan?

Kakistokrat pun ada jenis dan jenjangnya. Kakistokrat yang merepotkan adalah kakistokrat yang bangga pada dirinya sendiri. Contohnya, seorang yang bertepuk dada setelah menyajikan satu miliar porsi makan siang gratis dengan lima ribu kasus keracunan. Dari satu miliar porsi tersaji, lima ribu kasus keracunan memang hanyalah persentase kegagalan yang sangat kecil. Tetapi dengan apa kita menghitung bulir air mata ibu dan bapak yang melewatkan malam dengan salat tahajud dan menggenggam tangan anaknya di bangsal rumah sakit?

Contoh lain, seorang yang menangis tersedu-sedu karena menganggap nawaitu mulia menjadi korban sabotase di lapangan. Dari tangisan itu, siapa yang benar-benar peduli dan tergerak? Bukankah orang-orang lebih banyak geram daripada kasihan, sedangkan kepal tinju sudah tak sabar menjadikan keduanya samsak empuk?

Jenis kakistokrat yang lebih merepotkan adalah kakistokrat yang memaksa. Contohnya, ketika anak-anak sekolah tahu yang disajikan pada mereka itu sampah berwujud makanan, para kakistokrat itu menganggap mereka tidak tahu gizi, belum terbiasa, dan tidak tahu diuntung. Mereka memaksa dan bersikeras bahwa sampah berwujud makanan itu adalah kunci menuju kesejahteraan sekaligus jalan menaikkan nilai bahasa Inggris dan matematika, entah bagaimana caranya dan apa kaitannya.

Tidak cukup serigala melolong untuk meyakinkan orang tua, mulut seorang profesor yang mereka pasung di dapur pun dipinjam untuk mewartakan pembohongan itu, seakan orang tua yang ingin melindungi anaknya dari kejahatan negara adalah mahasiswa bebal yang tidak mau mendengarkan.

Tetapi jenis kakistokrat yang paling mematikan adalah kakistokrat yang menganggap dirinya benar sambil terus-menerus menolak kebenaran. Pada titik ini, kakistokrat itu tidak lagi menganggap ketidakmampuannya mendatangkan celaka, malah sebaliknya. Dia merasa dirinyalah juru selamat yang sudah ditentukan sejarah. Dia menafikan ada penderitaan yang timbul karena keputusannya sendiri. Dia membiarkan orang lain menderita, sedangkan dia hidup dalam seribu satu perlindungan hingga lecet pun tak mengenai kulitnya. Ketika penderitaan dia tolak, tanpa bertanya apakah dia sudi menanggung harga yang harus dibayarkan untuk penderitaan itu, kita sudah mengetahui jawabannya.

Baca juga:

Sebab harga penderitaan tidak bisa dihitung. Para kakistokrat cenderung menganggapnya gangguan, bukan pertanggungjawaban. Boleh jadi mereka bisa mengelak berkali-kali, tetapi tidak seharusnya kita turut termangu. Di hadapan mahkamah sejarah, jangan sampai kita tidak mempunyai tuntutan di hadapan tersangka yang telah berkuasa semau-maunya dan mengorbankan manusia sebagai angka-angka. Sebab, saat keadilan telah dirampas, lagu Darah Rakyat bisa jadi benar: “rakyat harus menjadi hakim!” (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Chris Wibisana
Chris Wibisana Wartawan. Kolumnis di (Bukan) Catatan Pinggir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email