“Kalian belum benar-benar mengenal penderitaan sebelum merasakan kencing pecahan beling,” rintih Oman Sutarya kepada para penjenguk.
Sudah lima hari dihabiskan Oman Sutarya di atas ranjang akibat kantung zakarnya mengembung sebesar jeruk bali. Tidak ada gejala mengherankan yang dirasakan si pesakitan sebelum terbangun dengan isi celana yang mengembung pada suatu subuh lima hari silam.
Oman Sutarya menyangka pagi itu akan menjadi pagi seperti biasanya: bangun tidur, menuju sumur untuk mengambil air wudu, kemudian sembahyang Subuh sebelum berangkat ke sawah. Namun, Tuhan selalu memiliki cara untuk memberikan kejutan. Dan Ia memberikan kejutan kepada Oman Sutarya melalui kantung zakarnya. Pagi itu, kantung di antara celah paha Oman Sutarya mendadak mengembung. Bukan kembung seperti dipenuhi oleh air kencing, tetapi kembung sebesar jeruk bali.
Mendapati kondisi yang tidak biasa itu, Oman Sutarya menjerit histeris. Kali terakhir Oman Sutarya menjerit sekencang itu adalah ketika dirinya disunat puluhan tahun silam. Siapa sangka, jeritan keduanya disebabkan oleh urusan kontol pula.
Jeritan Oman Sutarya terdengar oleh istrinya yang sedang menimba air. Istrinya tergopoh-gopoh menuju sumber keributan. Sebelum sempat bertanya apa pun, istrinya telah melihat gumpalan daging di antara paha suaminya yang sedang duduk mengangkang tanpa satu penutup pun. Sarung yang dikenakan suaminya sudah melorot di atas lantai. Di puncak gumpalan daging yang tampak kenyal dan lembek itu terdapat batang kemaluan Oman Sutarya yang sudah melesak ke dalam, sehingga hanya menyisakan ujung kepalanya. Dibanding batang, benda itu lebih terlihat seperti kepala seekor bulus yang malu-malu untuk keluar dari cangkangnya. Istri Oman Sutarya mau-tidak mau ikut histeris, hingga mengundang kedua anak mereka yang masih setengah mengantuk memasuki kamar orangtuanya. Kedua anak itu pun histeris melihat benda ganjil milik bapaknya. Seisi rumah histeris.
Tidak butuh waktu lama bagi para tetangga untuk segera datang ke rumah Oman Sutarya. Di Kampung Cibulusuk yang luasnya tidak seberapa, bisik-bisik saja bisa terdengar hingga seluruh kampung. Terlebih kali ini sebuah jeritan. Di pagi buta pula. Awalnya, para tetangga mengira rumah Oman Sutarya kemasukan maling. Sejak sebelum lebaran, Kampung Cibulusuk memang kerap dirongrong maling. Maka, ketika mendengar jeritan dari keluarga Oman Sutarya, sejumlah warga sigap menyantroni, lengkap dengan garu atau arit untuk membacok maling. Namun, apa yang mereka lihat selanjutnya adalah hal yang lebih mengerikan dibanding maling sekalipun.
Ketika ditanya, Oman Sutarya tidak mampu menjelaskan fenomena ganjil tersebut. Ia hanya bisa merintih dan terisak.
Kabar tentang penyakit aneh yang diderita Oman Sutarya menyebar begitu cepat ke seantero kampung. Semakin siang, semakin banyak orang yang digerakkan oleh rasa penasaran berdatangan ke rumah Oman Sutarya. Hanya untuk menyaksikan kantung zakar sebesar buah jeruk bali tersebut. Rumah Oman Sutarya mendadak ramai. Mereka seolah sedang menyaksikan pertunjukan orang-orang aneh yang lazim digelar di pasar malam.
Oman Sutarya terpaksa berdamai dengan rasa malu. Begitu pula istrinya yang pasrah kemaluan suaminya terumbar ke sembarang mata. Ketika orang-orang silih berdatangan ke kamarnya, Oman Sutarya hanya bisa berbaring sembari menutupi bagian bawah pinggangnya dengan sehelai sarung. Orang-orang datang dengan memasang raut prihatin, sambil diakhiri dengan menyibak sarung Oman Sutarya untuk mengintip isinya. Hampir semua mendesiskan istigfar ketika menyaksikan benda tersebut.
“Idih. Gede pisan.”
“Kunaon bisa seperti ini, Kang?”
“Astagfirullahaladzim…”
Semua heran. Semua mengernyitkan dahi.
Tidak ingin hanya berpangku tangan, seorang warga diutus untuk mendatangkan mantri sunat dari kampung sebelah. Baik Kampung Cibulusuk dan kampung-kampung di sekitarnya, tidak memiliki mantri. Terlebih dokter. Jika ada warga yang sakit parah, biasanya mereka akan diberangkatkan ke rumah sakit terdekat di dekat kantor bupati. Jaraknya cukup jauh dan jalanan untuk menuju sana sangat buruk. Tidak sedikit warga yang keburu mampus di tengah perjalanan sebelum mencapai rumah sakit.
Ketika dihampiri ke rumahnya dan mendengar kondisi penyakit Oman Sutarya, si Mantri Sunat menolak untuk datang. Baginya, ia hanyalah seorang mantri sunat. Tugasnya hanya memisahkan kulup dari tubuh bocah. Bukan mengempiskan buah zakar. Namun, orang utusan tersebut bersikeras.
“Pokoknya, dilihat saja dulu, Kang! Bisa atau tidak, urusan belakangan.”
“Benar? Hanya melihat?”
Kalah adu bacot, si Mantri Sunat akhirnya terpaksa menuruti kemauan si orang utusan. Ia bergegas merapikan peralatannya, yang entah untuk apa, dan berangkat menuju Kampung Cibulusuk dengan dibonceng sepeda motor.
Menjelang matahari tergelincir ke peraduan, si Mantri Sunat tiba di kediaman Oman Sutarya. Ia segera disambut dengan harap oleh orang-orang, terutama si pasien. Si Mantri Sunat tidak siap dengan beban sebesar itu yang mendadak diletakkan di bahunya. Ia semakin gentar. Sebab, ia yakin tidak akan bisa berbuat apa-apa dengan penyakit Oman Sutarya.
Benar saja. Benda yang berada di dalam sarung Oman Sutarya benar-benar asing bagi si Mantri Sunat. Sejak muda hingga setua itu, nyaris setiap hari ia berurusan dengan kontol. Berbagai macam kontol telah ia lihat. Namun, baru kali pertama ia menyaksikan jenis yang dimiliki oleh Oman Sutarya.
Akhirnya, sang Mantri Sunat pun hanya meraba dan membolak-balik buah zakar milik Oman Sutarya. Semata demi dianggap serius. Padahal, ia sama sekali tidak memiliki bayangan terhadap penyakit lelaki malang tersebut. Namun, pada akhirnya ia berterus terang. Ia angkat tangan dan kembali ke kampungnya dengan mengantongi kekecewaan banyak orang.
Tidak ingin menyerah, para warga kembali berdiskusi. Mereka iba dengan Oman Sutarya yang kentara menderita. Kemudian, tercetuslah ide untuk mendatangkan paraji dari kampung lainnya di sekitar Kampung Cibulusuk. Sama seperti si Mantri Sunat, si Paraji pun hanya bisa membolak-balik dan mengamati buah zakar Oman Sutarya sebelum akhirnya menyerah. Seorang paraji, yang sekalipun akrab terhadap urusan perkelaminan, tetap angkat tangan ketika dihadapkan dengan perkara pelir.
Akhirnya, Oman Sutarya terpaksa memperpanjang penderitaannya. Satu malam berlalu dengan rintihan yang tak putus dari mulut lelaki itu. Sakit luar biasa. Istrinya hanya bisa meratapi penderitaan tersebut, tanpa benar-benar bisa merasakan kesakitan yang dialami suaminya. Dengan telaten, ia coba mengompres buah zakar Oman Sutarya dengan air hangat. Berharap upaya tersebut membuahkan hasil. Nihil. Buah zakar Oman Sutarya bergeming.
Keesokan paginya, para warga kembali datang ke rumah Oman Sutarya. Kali ini mereka membawa seorang kiai. Meski disebut kiai, lelaki tua itu lebih tepat disebut sebagai dukun. Kesaktiannya kesohor di daerah tersebut. Kiai itu disebut bisa menyembuhkan segala penyakit. Baik penyakit saintifik hingga klenik, semua bisa beres di tangannya. Bahkan, konon, jangankan menyembuhkan penyakit aneh seperti yang diderita oleh Oman Sutarya, si Kiai dipercaya mampu menyelamatkan nyawa yang sekarat.
Dalam kondisi biasa, Oman Sutarya tentu akan keberatan dengan kehadiran si Kiai. Ia paham betul, lelaki itu dukun, bukan kiai. Agama yang dipercaya oleh Oman Sutarya mengharamkan segala sesuatu yang berhubungan dengan klenik. Namun, atas desakan penderitaannya, ia bahkan bersedia menukar jiwanya dengan setan sekalipun. Demi menyudahi penderitaannya, maka Oman Sutarya mau-tidak mau berdamai dengan segala pantangan. Dipersilakannya si Kiai mengobati zakarnya.
Setelah menyibakkan sarung, si Kiai meraba buah zakar Oman Sutarya yang tidak menunjukkan tanda-tanda ingin mengempis. Ditekan-tekannya buah zakar tersebut secara halus di beberapa bagian. Kedua matanya terpejam seolah sedang menerawang ke suatu tempat yang amat jauh. Sesekali mulutnya mengeluarkan gumaman tidak jelas. Orang-orang yang berada di ruangan tersebut seolah sepakat untuk mematung menyaksikan cara-cara si Kiai bekerja. Istri Oman Sutarya duduk di ujung ranjang, mengelus kepala suaminya. Oman Sutarya sendiri tidak ingin mengeluarkan reaksi berlebih, sekalipun masih tidak menyangka ada hari di mana kemaluannya diraba oleh seorang kakek-kakek.
Sekian menit kamar Oman Sutarya nyenyat. Si Kiai masih sibuk meraba dan menekan-nekan buah zakar Oman Sutarya di beberapa titik. Mulutnya tidak henti berkomat-kamit. Tidak ada yang bisa menangkap apa gumamannya. Namun, semua tahu, semua yang keluar dari mulut si Kiai adalah kata-kata bertuah.
“Ini gawat,” desis si Kiai akhirnya, sambil kembali menutup kemaluan Oman Sutarya dengan sarung.
“Gawat bagaimana, Yai?” kata orang-orang nyaris berbarengan.
“Kang Oman pernah kencing sembarangan?” tanya si Kiai.
Oman Sutarya tidak langsung menjawab. Ia mencoba menggali ingatannya terkait apa yang ditanyakan si Kiai. Kemudian ia teringat, sekitar dua hari sebelumnya, pernah melepas hajat di rumpun bambu.
“Saya baru ingat,” jawab Oman Sutarya kemudian. “Beberapa hari lalu saya sempat kencing di rumpun bambu dekat sawah. Saya mendadak kebelet dan tidak akan tahan jika harus kembali ke rumah. Namun, apa hubungannya dengan penyakit saya, Yai?”
Si Kiai memukul pahanya sendiri seolah menemukan jawaban. “Ah! Itu penyebabnya. Kang Oman kencing sembarangan di tempat yang ada penghuninya. Kemudian penghuninya marah dan tidak terima tempat tinggalnya dikotori. Akhirnya Kang Oman ‘dikerjain’.”
“Maksudnya? Ini gara-gara setan?”
“Tidak ada jawaban lain selain itu,” Si Kiai mengangguk mantap. “Makhluk halus tersebut marah dan sekarang menghuni di dalam buah zakar Kang Oman.”
Orang-orang memekik tertahan. Oman Sutarya pingsan.
Oman Sutarya baru siuman malam harinya ketika kebelet kencing. Kamarnya lengang, hanya ada istrinya yang sedang mengompres buah zakarnya dengan sehelai kain yang dicelupkan ke dalam air hangat.
“Alhamdulillah, Akang sudah sadar!”
“Aku kebelet pengin kencing.”
“Tapi, bagaimana caranya?”
“Aku juga tidak tahu! Baru kali ini aku mengalami ada setan yang mengontrak di dalam kantung sialan ini,” Oman Sutarya jengkel sambil mencoba bangkit dari baring. “Bantu saja aku menuju kamar mandi.”
Dengan kepayahan, Oman Sutarya bangkit dari ranjang sambil dibopong istrinya. Perjalanan menuju kamar mandi dirasa Oman Sutarya amat menyiksa. Kantung zakarnya terasa sangat berat, bergelantungan, dan bergoyang setiap kakinya melangkah. Ia merasa seperti sedang mengepit balon berisi air dengan pahanya. Oman Sutarya khawatir buah zakarnya akan lepas sewaktu-waktu akibat tidak kuat menahan beban.
Di hadapan kakus, Oman Sutarya merasakan penderitaan yang tak tertahankan. Perlu upaya lebih untuk mengeluarkan air kencing dari kepala bulus. Ketika air yang ditunggu-tunggu akhirnya memancar lemah, Oman Sutarya meringis hingga air matanya meleleh. Tidak berlebihan jika Oman Sutarya mengibaratkan kencingnya seperti mengeluarkan pecahan beling. Rasanya, kemaluan Oman Sutarya seperti disayat dari dalam. Dan yang paling menyakitkan adalah ketika menyaksikan air seninya hanya memancar sedikit, tidak lebih dari beberapa tetes saja. Padahal, desakan untuk kencing begitu besar. Meski dipaksa mengejan, air seni Oman Sutarya enggan meluncur lebih banyak lagi. Ia mendadak rindu merasakan kencing yang deras dan mampu membuat lengkungan di udara. Rasanya, kemerdekaan sederhana itu telah direnggut dari dirinya.
“Tadi Pak Kiai menitipkan ini untukmu, Kang,” kata istrinya sekembalinya Oman Sutarya ke dalam kamar. Istrinya menyodorkan sebuah botol beling.
“Apa ini?” selidik Oman Sutarya seraya meraih botol berisi air dan kembang dengan warna dan jenis yang beragam dari tangan istrinya.
“Air kembang, Kang. Kembang tujuh rupa. Tadi Pak Kiai bilang, air tersebut harus dibasuhkan ke kemaluan Akang pada tengah malam.”
“Lalu?”
“Katanya air itu bisa mengusir setan yang menghuni buah zakar Akang.”
Oman Sutarya sesungguhnya sangsi terhadap titah tersebut. Bagaimana bisa sebotol air yang hanya ditambahi berbagai macam kembang, dapat menyembuhkan penyakitnya?
Istrinya menangkap keraguan Oman Sutarya. Ia menambahkan, “Air itu juga sudah diberi ajian oleh Pak Kiai. Bukan air sembarangan.”
Lagi-lagi jika dalam kondisi normal, Oman Sutarya akan memaki istrinya karena memercayai perdukunan. Namun, lagi-lagi, Oman Sutarya terpaksa patuh. Penderitaan membuat manusia rela menukar iman dengan harapan.
Malam itu, Oman Sutarya dan istrinya tetap terjaga. Ketika kedua jarum jam bertemu di angka dua belas, keduanya beranjak ke kamar mandi. Oman Sutarya duduk mengangkang di atas jojodog. Sarungnya sudah dililit sebatas perut, membiarkan gumpalan daging ganjil itu menggantung bebas di udara. Istrinya berjongkok di hadapannya, memegang botol air kembang yang diberi oleh si Kiai.
Istrinya membuka gabus penutup botol. Semerbak wangi kembang segera menyeruak. Dengan telaten, disiramkannya air tersebut ke buah zakar suaminya. Perlahan dan penuh hati-hati. Seolah sedang memandikan bayi yang baru lahir beberapa hari. Diratakannya siraman air tersebut ke seluruh permukaan buah zakar menggunakan tangannya. Lembut. Seolah benda yang dibasuhnya adalah sebuah porselen mahal.
Air dingin dari dalam botol menyusup ke dalam pori-pori, meresap ke urat-uratnya yang tegang. Tidak ada sensasi apa pun selain rasa dingin. Kepala bulusnya semakin melesak ke dalam akibat kedinginan.
Hingga tetes terakhir, Oman Sutarya tidak merasakan perubahan apa pun pada buah zakarnya. Tidak ada setan yang mengamuk di dalam sana. Tidak ada pula sesuatu yang berontak ingin keluar seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Buah zakarnya tetap menggembung. Menggantung layaknya jeruk bali yang siap dipanen.
“Sudah?” kata Oman Sutarya kepada istrinya.
“Sudah habis, Kang,” sahut istrinya sambil berusaha mengeluarkan bulir-bulir terakhir dari dalam botol. “Tidak terasa perubahan apa-apa, Kang?”
Oman Sutarya menggelengkan kepala. Pasrah.
“Mungkin khasiatnya tidak akan terasa langsung. Mungkin besok pagi baru kempis,” lanjut istrinya membesarkan hati dengan segala mungkin.
Oman Sutarya hanya mengangkat bahu. Dikenakannya kembali sarungnya dan melangkah ke kamar dengan bertatih-tatih.
Setelah malam itu, Oman Sutarya semakin yakin bahwa Gusti Allah melarang segala hal yang berbau klenik bukan tanpa alasan. Sebab, lima hari telah berlalu, tetapi buah zakar Oman Sutarya tidak menunjukkan tanda-tanda membaik. Bahkan semakin parah. Ia semakin kesulitan kencing. Jangankan memancar, kini setetes pun enggan keluar. Bahkan di ujung kepala bulusnya mulai terdapat nanah berwarna kekuningan dan berbau busuk.
Beberapa warga, yang masih setia mengkhawatirkan kondisi Oman Sutarya, mengatakan telah kembali menemui si Kiai untuk menagih keampuhan air ajiannya. Kata si Kiai, setan yang berada di dalam zakar Oman Sutarya terlalu kuat. Raja dari segala raja jin. Jika sudah begitu, masih kata si Kiai, jalan satu-satunya adalah dengan menjalani tirakat hingga tujuh hari tujuh malam, di dalam gua yang berada di pegunungan sebelah selatan Kampung Cibulusuk.
Oman Sutarya jelas menolak usulan itu. Selain tidak sanggup menjalani tirakat selama tujuh malam lamanya, ia sudah kapok berurusan dengan hal klenik.
“Tampaknya, aku memang ditakdirkan untuk mati dalam kondisi yang memalukan seperti ini,” ujar Oman Sutarya pasrah.
Baik para warga maupun istri Oman Sutarya tidak ingin memaksakan kehendak. Mereka berusaha memahami kepasrahan Oman Sutarya.
Keesokan harinya, seorang kerabat yang mendengar kondisi Oman Sutarya datang jauh-jauh dari kabupaten. Ia memaksa Oman Sutarya untuk berobat ke rumah sakit. Meskipun jaraknya jauh, perjalanan tersebut layak ditempuh. Menurutnya, apa yang diderita Oman Sutarya bukan perkara ringan. Jika dibiarkan lebih lama lagi, lelaki itu bisa benar-benar mati.
Akhirnya mereka menyewa mobil bak. Oman Sutarya ditidurkan di bagian belakang bak yang telah dilengkapi sehelai kasur. Beberapa warga, termasuk istri dan kerabatnya tersebut, ikut menemani di bak bagian belakang. Sepanjang perjalanan, Oman Sutarya tidak berhenti mengaduh. Jalanan yang rusak membuat buah zakarnya tergoncang hebat. Dan satu kali goncangan, terasa seperti satu kali cambukan pada buah zakarnya. Selain itu, ia tak berhenti memohon kepada Tuhan agar nyawanya dicabut saja, karena tidak tahan dengan penderitaan yang menderanya. Tidak pernah sekali pun terbayang di benak Oman Sutarya, akan mengalami kepahitan seperti itu. Dia menyangka, kemiskinan adalah penderitaan paling akhir dalam hidupnya. Namun, kepahitan akibat kombinasi antara kemiskinan dan buah zakar yang membesar tidak pernah terbayang sebelumnya.
Setibanya di rumah sakit, Oman Sutarya segera dilarikan ke ruangan IGD. Kemudian, seorang dokter masuk dan memeriksa buah zakar Oman Sutarya dengan teliti. Tidak ada mantra. Tidak ada air kembang. Hanya stetoskop dan lampu senter. Setelah diraba, ditekan, dan diperiksa dengan alat, dokter itu menarik napas panjang.
“Pak, ini bukan kena setan,” katanya tegas. “Ini penyakit burut. Hernia. Ada usus yang turun masuk ke dalam kantung zakar.”
Oman Sutarya terperangah. Begitu juga istrinya yang ikut mengantar.
“Jadi,” kata Oman Sutarya lirih. “Bukan karena kencing di rumpun bambu?”
Si Dokter tersenyum kecil. “Tidak ada hubungannya dengan itu. Ini murni masalah medis. Usus yang seharusnya berada di perut, turun ke bawah. Makanya bengkak seperti ini. Kalau dibiarkan, bisa pecah dan berbahaya sekali.”
Oman Sutarya hanya bisa terdiam. Ia mengutuki diri karena pernah percaya soal setan dan air kembang.
Selepas pemeriksaan, dokter menjadwalkan operasi. Dengan bius, sayatan, dan beberapa jahitan, penyakit yang membuat Kampung Cibulusuk geger selama hampir sepekan, akhirnya bisa ditangani.
Butuh beberapa hari bagi Oman Sutarya untuk kembali pulih. Tidak ada lagi jeruk bali di selangkangannya. Ketika kembali ke rumah, Oman Sutarya sudah bisa berjalan dengan normal. Selang kemudian hari, ia kembali meladang seperti biasa.
Meski begitu, warga Kampung Cibulusuk masih membicarakan tentang penyakit yang pernah diderita oleh Oman Sutarya. Mereka tetap percaya, bahwa buah zakar Oman Sutarya pernah dihuni oleh raja dari segala raja jin, dan akan lebih cepat sembuh jika Oman Sutarya sudi menjalani tirakat, dibandingkan harus keluar uang banyak untuk berobat ke dokter.
Sampai bertahun kemudian, para orangtua di Kampung Cibulusuk terus mencatut nama Oman Sutarya untuk mengancam anak-anaknya.
“Awas! Jangan kencing sembarangan! Nanti burut seperti Kang Oman!”
*****
Editor: Moch Aldy MA
