Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjajaran. Tartarik terhadap isu-isu hubungan internasional, politik domestik dan sejarah

Trump ‘Contra Mundum’

Adrian Aulia Rahman

3 min read

Deklinasi kekuatan Amerika Serikat bukan bahasan yang baru sama sekali. Kemunduran supremasi kekuatan AS sudah diperdebatkan bahkan sejak Ronald Reagan menghuni Gedung Putih. Namun, setelah menjadi pilar penopang tatanan global selama delapan dekade, sulit membayangkan AS bisa menjadi entitas ‘pengganggu’ yang memicu resistensi global.

Donald Trump berhasil menghadirkan situasi itu. Alih-alih dipandang sebagai ‘negara yang sangat diperlukan’ sebagaimana dikatakan oleh Madeleine Albright, AS justru menghimpun banyak antipati, bahkan dari penguasa Tahta Suci. Trump membawa AS untuk melawan dunia. Trump Contra Mundum! — dalam konteks yang negatif.

Trump dan Dunia

Dalam wawancara dengan New York Times pada Januari lalu, Trump mengatakan bahwa ia tidak memerlukan hukum internasional, dan menegaskan bahwa hanya moralitasnyalah yang membatasi kekuasaannya. Sungguh ironis bahwa itu disampaikan oleh presiden Amerika Serikat. Manusia perlu menyaksikan kengerian dua perang dunia untuk mengakui pentingnya hukum internasional. Bahkan jika ditarik lebih jauh, ide Hugo Grotius tentang hukum internasional lahir ketika berkecamuknya Perang Tiga Puluh Tahun yang mengerikan di Eropa Abad ke-17.

Baca juga:

Cara Trump memandang dunia adalah campuran dari arogansi, kebodohan yang tiada obatnya, hawkisme, dan ilusi akan supremasi. Tatanan dan ketertiban internasional tak mendapat tempat dalam kamus kebijakan Trump. Ancaman dan gertakan melalui media sosial adalah rumusan kebijakannya. Itu semua ia gunakan untuk ‘melawan dunia’.

Dimulai dengan ambisinya untuk mengakuisisi Greenland. Atas dalih kepentingan nasional AS, ia mengancam untuk memiliki Greenland secara paksa dan tentu saja ilegal. Belum lagi hubungan dengan Kanada sebagai tetangga kontinental juga memburuk, karena kesombongan Trump yang sesumbar akan menjadikan negara itu sebagai negara bagian ke-51. Trump bahkan menyebut Justin Trudeau dan suksesornya Mark Carney, sebagai ‘governor’.

Hubungan aliansi dengan Eropa Barat juga tidak kalah mengkhawatirkan. Dimulai sejak pidato Wakil Presiden JD Vance di Munich Security Conference (MSC) pada Februari tahun lalu, yang dengan berani mengkritik negara-negara Eropa, terutama menyangkut demokrasi dan kebijakan imigrasi. Dilanjutkan dengan kebijakan Trump tentang tarif perdagangan hingga beberapa kali melontarkan ancaman untuk meninggalkan NATO, membuat AS perlahan menjauh — atau dijauhi — oleh sekutunya di Eropa Barat.

Di forum Majelis Umum PBB pada September 2025, Trump juga mengkritik PBB dengan mempertanyakan efektivitas dan relevansinya. Kemudian ia menginisiasi Board of Peace (BoP) yang dalihnya adalah untuk menghadirkan perdamaian khususnya di Palestina dan di dunia. Dalih yang tidak hanya mengundang banyak skeptisisme tapi juga kontradiktif dengan apa yang dilakukannya kemudian.

Kurang dari satu bulan sebelum penandatanganan Piagam BOP di Davos, pada awal Januari Trump menangkap Presiden Nicolas Maduro dari Venezuela. Presiden negara berdaulat itu ditangkap dan dibawa ke AS. Pertunjukan terbuka dari pencemaran terhadap hukum internasional dan kedaulatan negara.

Terbaru adalah serangannya ke Iran. Melalui koordinasi dengan Israel, AS menyerang Teheran pada 28 Februari lalu dan menewaskan banyak pemimpin Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Implikasinya terasa ke seluruh penjuru dunia terutama sejak ditutupnya Selat Hormuz. Perang berlangsung lebih dari sebulan, hingga gencatan senjata sementara dan upaya perundingan di Islamabad yang berbuah kegagalan.

Hawkisme Trump mendapatkan kritikan bahkan dari penguasa Tahta Suci Vatikan, Paus Leo XIV yang senantiasa menyerukan perdamaian. Trump justru membalasnya dengan lontaran kritik bahkan cenderung hinaan yang meremehkan kepada Paus. Trump sudah melampaui batas-batas wajar dalam sopan santun diplomasi dan hubungan internasional. Ia sedang melawan dunia. Trump Contra Mundum. 

Amerika ‘Kehilangan’ Dunia

Istilah ‘Contra Mundum‘ lazimnya dilekatkan dengan keteguhan dalam memegang prinsip luhur di tengah kebimbangan, distraksi, dan kesemrawutan keadaan. Istilah ini dilekatkan pada Santo Athanasius di Abad ke-4 yang gigih dan kukuh pendirian membela ajaran Kristus. Lahirlah istilah Athanasius Contra Mundum. 

Namun dalam konteks ini, Trump melakukan hal-hal yang sama sekali kontradiktif. Ia memang melawan dunia tapi bukan karena idealismenya yang luhur, melainkan karena perilakunya yang penuh arogansi dan kebencian. Pikirannya dipenuhi ilusi akan supremasi yang tak pernah hadir dalam dekapannya. Superioritas tanpa tanding itu hanya hadir dalam angan-angannya.

Dampak dari kebijakan Contra Mundum Trump justru perlahan akan membawa Amerika pada suatu keadaan yang tidak hanya menyulitkannya, tetapi juga bisa mengasingkan bahkan mengisolasinya.

Pertama, Trump memutus tali erat aliansi. Trump yang selalu terobsesi terhadap relasi dominasi AS dan menuntut sikap submisif dari negara lain, termasuk aliansinya, hanya akan membuat aliansi itu pudar dan bahkan hancur sama sekali. Kepercayaan yang mengikat aliansi perlahan terkikis dan raib, seiring dengan pameran arogansi AS dan beberapa ancaman kosong bahwa AS akan meninggalkan aliansi. Ini akan berdampak pada keadaan yang sesuai dengan judul tulisan Margaret MacMillan di Foreign Affairs pada Juli 2025, Make America Alone Again. Amerika akan — kembali — sendirian.

Baca juga:

Kedua, akhir Kekaisaran Amerika adalah kepastian yang tak terelakkan. Era dominasi AS yang berlangsung kurang lebih delapan dekade, yang juga sering dinamakan Abad Amerika (the American Century), sedang berderap dalam langkah menuju akhir. Dependensi terhadap AS perlahan akan berkurang, kepercayaan akan sirna, pemujaan terhadap keagungan sejarah dan prinsip yang selama ini melekat dengan AS hanya akan menjadi lelucon. Sebagaimana ditulis oleh pemikir Inggris John Gray di The New Statesman, berbagai dinamika terbaru menjadi pertanda dari “The End of America Empire.”

Ketiga, peta geopolitik yang berubah. Momentum Kedigdayaan AS yang perlahan memudar, membuat rivalnya di ujung Timur belahan bumi, yakni Tiongkok, semakin memancarkan pengaruhnya. Bahkan para pemimpin Eropa mulai melakukan pendekatan yang lebih intens dengan Beijing. Ini bisa menjadikan Tiongkok semakin memiliki ruang yang lebih besar dalam mengepakkan sayap pengaruhnya di dunia. Disaat kepercayaan kepada Washington DC tak lagi hadir, tidak menutup kemungkinan jika kita akan segera memasuki era Pax Sinica, era di mana Tiongkok akan menguasai dunia. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

 

 

 

 

 

 

Adrian Aulia Rahman
Adrian Aulia Rahman Mahasiswa S1 Ilmu Sejarah Universitas Padjajaran. Tartarik terhadap isu-isu hubungan internasional, politik domestik dan sejarah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email