Bukan kebetulan jika ingatanku akan wajah gadis itu, bahkan setelah dua puluh tahun berlalu, akan muncul kembali setiap kali aku pulang dan melintas di simpang empat tempat kelahiranku ini. Sampai saat ini bangunan tiga lantai itu masih tegak berdiri meski terus berganti-ganti fungsi dan pemilik dari waktu ke waktu. Namun, sejauh mana pun waktu membawa pergi masa-masa itu, ingatan setiap orang di kota kecil kami akan kembali kepada satu nama awal yang mengikat semua orang dengan satu dan lain cara: Toko Modis Djaya.
Waktu itu tahun 1997. Aku berusia tiga belas tahun dan dalam perjalanan pulang sekolah bersama kawan-kawanku, ketika Fatur, menunjuk ke seberang jalan. Ia heran karena toko itu buka lebih cepat dari rencana.
Meski telah setiap hari selama setahun belakangan aku melihat truk pasir dan alat berat keluar masuk dari lokasi proyek, tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang sedang mereka bangun. Fatur dengar dari ibunya kalau pemilik bangunan itu adalah seorang Cina keturunan yang pindah dari Ujung Pandang dan berencana bangun toko swalayan pertama di kota kecil kami.
Ilma menyeletuk, bilang kalau si Cina pasti orang kaya sekali, karena sebelum ini tak seorang pun boleh berjualan di sekitar simpang empat.
“Bukan cuma itu, ia juga akan jadi orang Cina pertama di kota kita,” kataku mengajak mereka menyeberang.
Suasana hiruk-pikuk langsung menyambut kami sejak kami menyelipkan diri di antara becak dan angkot-angkot yang parkir sembarangan di pinggir jalan. Di tangga, seorang lelaki bertubuh besar, mengenakan kaos army dengan potongan rambut serupa serdadu memandangi kami curiga. Begitu ia mengenaliku, si penjaga langsung mengendurkan raut wajahnya. Ia suruh kami menaruh tas di tempat penitipan barang.
Udara segar dari pendingin udara langsung sapu tengkuk kami yang berkeringat. Aku dan teman-teman menjelajah setiap rak dan dipenuhi barang-barang baru. Setelah puas berkeliling di lantai satu yang dipenuhi perabot dan pakaian, kami naik ke lantai dua, tempat bahan makanan dari beras, tepung, dan sirup-sirup aneka rasa berjejer.
Di sana, seorang Cina berkacamata bingkai bulat sedang berdiri di pojok sambil menggulung-gulung koran di tangannya. Usianya sekitar lima puluhan. Ia cuma pakai kaos biasa berwarna putih dan celana pendek gombrang. Wajahnya nampak puas dan sedikit memerah. Ia mengawasi satu per satu pengunjung, sesekali bergerak ke rak dan menata sabun atau susu kaleng yang ditaruh kembali secara sembrono oleh mereka.
Hampir pukul setengah tiga, Ida ajak kami pulang karena tak sabar untuk bilang ibunya, setelah melihat di seksi perlatan kebersihan, hadiah cangkir cantik bergambar kartun Looney Tunes untuk pembelian sebuah sabun deterjen isi 200 gram.
“Aku juga bakal bilang mamaku supaya beli seragam pramuka di sini saja,” Ilma menambahkan. “Lebih murah dan bagus dari Pasar Lama.”
“Maksudnya apa tuh lebih bagus?” Kataku sedikit tersinggung.
“Maksudnya Ilma itu adalah karena ini toko baru maka mereka kasih harga murah,” Fatur merangkul dan menggodaiku. “Tapi bukan berarti toko ayahmu jelek. Orang-orang juga pasti kalau disuruh milih tetap ke Pasar Lama.”
Ayahku dikenal sebagai pemilik lapak terbesar di Pasar Lama. Kami memiliki banyak petak yang menjual berbagai barang aneka kebutuhan dan mempekerjakan banyak kerabat. Tahun-tahun itu, orang bilang puncak kejayaan ayahku yang seorang pensiunan tentara. Para pejabat rajin bertamu ke rumah, menghabiskan rokok berbungkus-bungkus sambil membicarakan hal-hal yang tak kupahami sampai larut malam. Bapakku disegani semua orang. Di jalanan, mereka bakal bungkuk menyapa kalau ayah lewat dengan Toyota Kijangnya. Di sekolah, guru-guru tak berani menghukumku.
Ketika kami mencapai pintu keluar toko, tepat di sisi sebelah kiri, di dekat bunga-bunga dari plastik, mataku terpaku pada sosok gadis yang berdiri mematung menghadap jendela kaca.
Fatur melayangkan telunjuk lagi. Ilma mengucek mata terkejut, “itu benaran manusia? Cewek, kan?”
Kami semua berjalan mendekat. Toko ini memasang manusia asli sebagai patung peraga?
Gadis itu terlihat seusia dengan kami semua, hanya saja tubuhnya sendikit lebih pendek. Satu tangannya berkacak pinggang dan pandangannya lurus ke depan. Rambutnya dipotong sepundak dan ia mengenakan gaun terusan berwarna hijau daun hingga selutut dengan kerah pelaut. Kulit gadis ini sedikit gelap, mengkilap seperti warna sesendok madu yang disuruh telan ibuku setiap pagi sebelum aku ke sekolah.
“Luar biasa,” seorang ibu berbisik. “Lihat kulitnya, Eksotis sekali.”
Kami semua bersepakat, meski Ilma kurang begitu paham apa itu eksotis.
Selain warna kulitnya yang tidak wajar, yang paling utama adalah, mengapa toko ini harus menggunakan manusia asli? Seorang lain ikut terheran.
“Ini cuma sementara,” si Cina sudah muncul saja. “Patung yang asli sedang dalam perjalanan ke mari. Seharusnya sudah sampai dua hari lalu. Dengar-dengar masih tertahan di pelabuhan. Mungkin karena mahasiswa sedang melakukan demonstrasi atau semacamnya.”
“Tapi sepertinya ia sudah merubah gayanya.” kata Ida. “Lihat!”
Gadis itu benar telah merubah gaya. Sejak kapan? Apa ketika kami berbicara dengan si Cina? Namun, beberapa saksi mata bersumpah tak sedetikpun mengalihkan pandangannya dan tiba-tiba saja gadis itu sudah merubah gaya.
“Ia bahkan tak berkedip sama sekali,” Ilma mendekatkan wajah tepat depan hidung gadis itu.
“Percuma saja,” kata si Cina mengibaskan tangannya untuk mengusir kami. “Gadis ini menderita bisu dan tuli sejak kecil. Kasihanilah dia. Biarkan dia bekerja. Saya buka toko di sini supaya kalian datang belanja, bukan malah lihat-lihat saja.”
Dalam perjalanan pulang, gadis manekin itu terus keluar masuk di pikiranku. Ada sesuatu dalam dirinya yang menyentuhku secara pribadi. Apa karena wajahnya cukup cantik dan saat itu aku sedang dalam fase pubertas? Aku rasa bukan itu. Bukan juga perasaan kasihan seperti yang dikatakan si Cina.
Keesokan harinya aku dan kawan-kawan pulang dari sekolah dan berhenti di halte untuk memerhatikan lagi gadis itu lagi. Ia masih berdiri di sana, kali ini mengenakan pakaian yang berbeda. Kaos kerah putih dan rok lipit berwarna biru langit. Topi bundar dan tas selempang kecil melengkapi keanggunannya. Ketika teman-temanku masih tak habis rasa takjub pada si gadis yang tahan berdiri selama berjam-jam di sana, aku melihatnya. Sebuah gerakan singkat dan cepat.
“Sudah ganti gaya lagi?” Ida berkata.
“Apa dia menunggu semua orang tak melihat?” Ilma menambahkan.
“Tapi aku melihatnya,” kataku.
Teman-temanku mengira aku bercanda dan mengalihkan topik begitu saja.
“Serius. Aku melihatnya menggerakkan kaki dan memindahkan tas ke lengan satunya.”
Tetap saja mereka tak percaya dan malah menertawakanku.
Begitulah hari-hariku berjalan. Aku akan selalu menyempatkan berhenti di halte sepulang sekolah hanya untuk membuktikan firasatku, meski kawan-kawanku, sebagaimana kebanyakan orang mulai kehilangan minat. Aku bisa merasakan jika gadis itu memiliki kewaspadaan tinggi. Ia melakukan pergantian gaya jika benar-benar yakin tak ada seorang pun mengawasinya. Aku punya bukti untuk itu, tapi tak ada lagi yang mau peduli, termasuk tentang kapan datangnya manekin asli yang tertahan di pelabuhan itu sehingga ia berhenti berdiri di sana.
Dua bulan lebih toko swalayan itu berjalan dan aku pun memulai kebiasaan untuk diam-diam berkunjung tanpa sepengetahuan tiga kawanku yang lain. Saat itu kami semua duduk di kelas dua SMP dan sekolah sedang mengadakan program ekstrakurikuler. Aku memilih untuk ikut klub sepakbola sementara Fatur terpilih menjadi ketua angkatan untuk kader palang merah. Ida dan Ilma bergabung dengan klub tari.
Untuk mengisi waktu luang di rentang siang ke sore, aku akan masuk membeli es gabus dan memakannya tepat di depan toko. Aku akan berdiri menjilati es krim sambil menatap si gadis manekin lama, menunggu waktu yang tepat sampai aku memergokinya merubah gaya. Tapi ia sungguh keras kepala. Ia akan terus seperti itu sampai aku lelah dan memutuskan duduk memunggunginya. Ketika aku berbalik lagi tahu-tahu ia sudah merubah gayanya. Aku tertawa campur kesal, merasa dipermainkan. Jadi aku katakan bahwa aku pernah melihatnya mengganti gaya beberapa kali dari tempat tersembunyi. Tentu saja ia tidak menanggapi.
Petugas berambut cepak pernah bertanya apakah ayahku tidak marah kalau tahu aku main-main di sini. Aku hanya mengangkat bahu dan tanya balik ngapain ayah harus marah. Sampai saat itu aku masih terlalu polos untuk mengerti tentang persaingan bisnis. Sampai suatu malam, dua orang pria datang bertamu menemui ayah. Aku sedang duduk di depan televisi dan sedikit banyak menguping percakapan mereka. Ayah mulai menyinggung tentang Toko Modis Djaya dengan resah. Aku tahu itu karena dua pria lainnya berusaha menenangkan ayah, mengatakan bahwa mereka akan memikirkan segala cara untuk bikin perhitungan dengan si Cina.
“Bukan semata karena Si Cina itu bawa pendingin udara ke dalam tokonya,” kata ayahku. “Bisnisku tak akan kalah hanya karena itu. Tapi kita tak akan bisa bersaing jika dia terus-terusan memainkan harga lebih rendah.”
“Dia menggunakan cara dagang orang kota, Bos.” Kata pria botak dan berkumis, “yang bisa kita lakukan saat ini hanya menunggu.”
“Menunggu apa?” Ayahku sedikit kesal.
Pria botak itu tak punya jawaban.
Ayahku mengisap rokok dalam-dalam, lama sebelum mengembuskannya. “Sihir macam apa ya yang dibawa Cina sialan itu dari Ujung Pandang? Kalian lihat sendiri, pagi ketemu malam, toko itu tak pernah sepi.”
Lelaki satunya, yang sejak tadi hanya mengunyah kacang rebus, tiba-tiba mendongak dan meluruskan punggung. Ia bilang, “Kalo soal itu, bos, semua orang di pasar ngomongin anak yang berdiri di jendela itu.”
“Maksudmu gadis yang berdandan kayak boneka itu?” Ayah tiba-tiba berpaling ke arahku, yang memergokiku menguping.
Lelaki itu memperjelas dengan pikirannya sendiri. Ia sering dengar kalau leluhur orang Cina punya ilmu penglaris rejeki pakai orang-orang cacat. Kadang juga dengan menggantung daun telinga atau tali pusar di pintu masuk toko. Ayahku tak percaya begitu saja. Aku tahu ia ragu, tapi pada akhirnya ia memerintahkan juga supaya keduanya mikirin cara untuk menyingkirkan penghalang rejekinya.
Aku tahu betul sifat ayahku. Di usia seperti itu, aku sepenuhnya sadar kalau ayahku adalah orang yang akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Itu terlihat dari caranya menempatkan diri dalam pembicaraan orang-orang penting, sebagaimana ia suka mengingatkan aku dan ibu soal siapa yang berkuasa di rumah. Hal yang bikin ibuku tak berdaya dan seperti tak punya pikiran sendiri atas suatu masalah.
Jadi aku pikir gadis itu sedang dalam masalah besar.
Ketika aku kembali ke toko siang keesokan harinya, aku seperti tak tahu harus memulai dari mana untuk bilang hal ini kepada si gadis manekin. Aku mengetuk-ngetuk kaca agar ia mau memerhatikanku sebentar saja.
Saat itu aku baru menyadari betapa menyedihkannya ia di sana; aku tak pernah lihat dia selain di depan kaca. Aku tak tahu kemana ia setelah toko tutup. Apakah ia punya ibu? Kalau benar, apa yang ibunya lakukan saat ini? Apakah ia tinggal dengan si Cina di lantai tiga gedung ini? Kalau begitu, benarkah dugaan ayahku yang bilang ia adalah hasil hubungan gelap si cina dengan seorang perempuan lokal? Atau perkataan si botak yang percaya bahwa si gadis malang ini diculik dari sebuah perkampungan miskin dan dipekerjakan paksa?
Si penjaga berambut cepak muncul, tangan kasarnya menarik kerah bajuku. “Sudah, nak. Berhentilah mengajaknya bicara. Kalau bukan karena bapakmu adalah bekas bosku, aku pasti sudah usir kamu sejak lama.”
“Tapi aku harus bicara,” kataku. “Ia dalam bahaya.”
“Bahaya apa?” ia mengernyit.
Saat itulah aku tersadar bahwa aku tak bisa lagi menyimpan ini sebagai sesuatu yang pribadi. Ketertarikanku yang ganjil pada gadis ini tak penting lagi. Dengan terbata-bata aku ceritakan semua yang kudengar malam itu kepada si penjaga.
Penjaga itu tertegun sesaat setelah dengar kalimat terakhirku. Pegangannya pada kerah bajuku mengendur. Aku bisa rasa kami sedang berbagi ketakutan yang sama pada sepasang matanya. Ia tak berkata apa-apa lalu tepuk pundakku dan suruh aku cepat pulang.
***
Setelahnya semua terasa seperti mimpi buruk di siang bolong. Ibu bilang aku terserang demam aneh selama hampir seminggu. Badanku lemas tak berdaya sejak sore aku pulang ke rumah dengan berlari kesetanan. Itu adalah hari yang sama ketika aku dengar dari televisi di ruang tamu berita malam tentang kerusuhan yang pecah di kota Ujung Pandang.
Seorang pria keturunan Cina yang disebut mengalami gangguan jiwa telah membacok gadis pribumi berusia sembilan tahun hingga tewas. Berita itu dengan cepat menyebar seperti percikan api pada tumpukan sekam. Mulut ke mulut menambahkan detail, setiap orang mengajukan pendapat sendiri yang semakin memancing amarah massa. Dengan cepat kemarahan berubah menjadi kerusuhan. Warga pribumi tumpah ruah dan mengamuk di jalan-jalan, mereka menyisir pertokoan milik keturunan Cina, merusak dan menjarah sebelum membakarnya.
Aku tak ingat lagi bagaimana kekerasan dua puluh tahun lalu itu berakhir, tapi yang pasti aku tak akan lupa adegan ayahku bangkit dari kursinya malam itu. Ia segera menyambar jaket kulit yang tersampir di pungung kursi, menyisipkan revolver di pinggangnya, lalu berteriak kepada salah seorang pesuruh di halaman depan untuk mengumpulkan orang sebanyak mungkin.
Hari-hariku selanjutnya kuhabiskan dengan berbaring di atas ranjang. Lemas karena meneguk obat penurun demam lalu terbangun dari tidur singkat di tengah ribut-ribut di luar jendela yang membawa gosip dan cerita-cerita tetangga. Bahwa kerusuhan di Ujung Pandang telah menyebar sampai ke kota kecil kami. Dari situ aku tahu hampir seribu warga etnis Cina telah meninggalkan kota Ujung Pandang. Ibu kota provinsi lumpuh selama tiga hari, hawa ketakutan dan kecurigaan ke sesama bercampur aduk di jalanan.
Ketika aku mulai kembali ke sekolah hari senin itu siswa-siswa dan guru masih membicarakannya. Tapi bukan lagi tentang apa yang terjadi di Ujung Pandang, melainkan nasib Si Cina dan tokonya itu. Aku sudah tahu kalau malam itu juga Si Cina kabur meninggalkan tokonya tanpa sempat bawa serta barang-barangnya. Entah ia telah mengantisipasinya atau seseorang memberinya saran untuk pergi. Satu kota tahu juga kalau Ayahku adalah sosok utama dalam pengepungan Toko Modis Djaya. Beruntungnya, pada detik-detik terakhir sejumlah tentara dan polisi berhasil dikerahkan untuk meredam kemarahan massa. Bangunan itu tak jadi dijarah dan dibakar.
Meski hampir tak ada seorang pun yang membahasnya, tapi aku sendiri masih menyimpan perasaan mendalam kepada si gadis manekin. Ini bukan lagi rasa penasaran akan nasibnya. Aku tahu ia pada akhirnya selamat dan ikut pergi dengan si Cina. Tapi perasaan ini lebih menyerupai nostalgia. Pada malam-malam demam itu, ia berulang kali singgah ke mimpiku dan mengucapkan terima kasih. Benar, aku tak bohong! Belum pernah aku cerita kepada siapapun sebelum ini, bahkan kepada istriku Ilma. Gadis manekin itu berbicara dengan suara agak cempreng dan terdengar malu-malu. Kami mengobrol banyak hal seperti sahabat lama baru jumpa. Sebagian percakapan itu kuingat dan sebagian lagi tampak begitu kabur. Gadis Manekin ternyata dengar dan mengerti semua monologku selama ini. Ia juga menyangkal semua tuduhan dari ayahku dan orang-orang kepadanya, dan merasa tak menyesal sedikit pun ikut dengan si Cina yang menurutnya tak pernah memperlakukannya secara buruk. Satu hal yang kusesali adalah aku tak sempat menanyakan akan ke mana dia pergi.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, semua itu hanyalah mimpi. Seperti kemunculan Toko Modis Djaya yang berumur pendek di kota kecil kami. Di masa itu, aku sama sekali tak punya penilaian atas masalah itu. Aku tak merasakan kesedihan berlarut-larut akan kepergian si gadis manekin. Tidak juga sedikit pun terbesit perasaan benci atas perbuatan ayahku.
Aku masih sering berhenti di halte dalam perjalanan pulang sekolah, memerhatikan bangunan yang terbengkalai dan sepi. Rumput-rumput telah tumbuh tinggi di pekarangannya. Salah satu huruf dari papan namanya lepas dan terkait pada seutas kawat, berayun-ayun di udara. Semua kenangan tentang Toko Modis Djaya telah pergi, kecuali satu; adegan kami bertiga sore itu akan selalu abadi dalam benakku.
Aku, si penjaga berambut cepak, dan si gadis manekin.
Setelah menceritakan semua rencana ayahku dan kawan-kawannya yang hendak menyingkirkan si gadis manekin, aku dan penjaga itu serempak berpaling ke kaca. Yang sungguh mengejutkan, gadis itu tiba-tiba memutar tubuhnya kepada kami berdua. Ia merubah gayanya terang-terangan di depan mataku dan si penjaga, seolah semuanya sudah berakhir hari itu. Ia tahu dirinya akan pergi sehingga tak ada lagi yang perlu disembunyikan.
Gadis Manekin mengatupkan kedua tangannya di depan dada seperti meminta maaf. Dalam siraman cahaya jingga, aku bisa lihat ia tersenyum kepada kami dan sepasang air mata meluncur pelan turun ke pipinya.
*****
Editor: Moch Aldy MA
