Nyanyian Para Pemukim
malam larut pada pilu yang mengepul
di sejengkal bara
para pemukim terbaring
di atas panggung masing-masing
nyanyian mereka lebih nyaring dari enca
yang bertengger di kepala
namun terlampau sunyi
dibanding denyut jantung
ibu bapaknya
dan kita, para pirsawan
adalah ingatan yang dibiarkan putus
atau terus melengkapi
setiap lirik yang dibawanya
di depan, ruangan begitu canggung
napas memburu sudut-sudut ragu
gelap pudar
setiap dari mereka berjalan keluar
Tuhan, dalam ketiadaanmu
izinkan langit membawa mendung di kepala
hujan berpasang mata
(Majalengka, 2024)
–
Toko Lampu
—Light Shop: Kang Full
gerai menyimpan sisa petang
letih di tubuh kota
tak ada keajaiban di sana
deretan lampu menggantung
doa-doa pendek
cemas menunggu giliran menyala
I.
seorang pria
sekerat rindu yang hampir padam
bukan megah ia cari
hanya sebutir cahaya
untuk diletakkan di sudut ranjang
tempat kenangan seringkali datang
II.
seorang ibu
merapikan telaga di matanya
meraba pucat armatur
menggali warna sama
dengan senyum anaknya
sebelum bisu
“berapa harganya?”
penjaga menunjuk gelap
di dadanya
III.
seorang gadis
lekat di cermin
samar cahaya memandikan lelah
di parasnya
menguak garis-garis
yang tak ingin ia kenali
cahaya tak menyembuhkan
apa-apa
hanya mengurai
mana yang hilang
mana yang pergi
IV.
penjaga, barangkali
sunyi itu sendiri
mereka yang datang
tak pernah nyata
membeli cahaya
hanya meminjam cara
agar sepi tak mencekik
ketika malam kehilangan
kata-kata
…
gerimis jatuh menerpa tubuh
menyerbu kota
gerai letih
lampu padam–dipadamkan
satu per satu
kecuali satu:
pijar di sudut lase
sebab ia tahu
di luar
seseorang mencari pulang
(Majalengka, 2024)
–
Hari-Hari Berakhir Sama
seringkali atau mungkin setiap hari
kita tiba di pembaringan
dengan setumpuk kantuk
yang enggan dipertanyakan kabar
baik/buruknya
entah lelah di badan atau pikiran yang dikalahkan
lebih dulu
tak ada jawaban
waktu? sibuk memutar hal-hal tak penting
: kita dan peradaban
bukankah repetisi hidup begitu membosankan?
setiap pagi membangun mimpi-mimpi
untuk dipertanyakan malam hari
menjadi domba yang digembalakan dunia
lebih lapar dari serigala
beruntunglah sebagian dari mereka
yang diasingkan
menjadi bulan di tengah pasang lautan
bertengger di tubuh langit
layaknya burung hantu
terbang diam-diam
menapaki jari malam
(Majalengka, 2026)
–
Penjahat Kecil
di saku celanamu, lubang kunci
pulang ke meja makan
istrimu menghitung segelintir nasi,
sementara kau sibuk merapikan rahasia,
setumpuk kau simpan tepat di bawah jempol
kau mencintai rumah ini, kau bilang
namun, kamar-kamar baru
selalu merasa perlu kau bangun
tanpa pintu, hanya jendela-jendela kecil
membiru tengah malam
di sana, perempuan-perempuan tak bernama
gugusan cahaya yang kau rakit
menjadi tubuh yang tabah
tubuh yang tak bertanya
kapan kau bangun shubuh?
atau kapan tagihan listrik & wifi
kau penuhi?
kau merasa atau sedang memaut kekang dunia,
meski hanya menambang telaga
di atas ranjang bersama perempuan
yang aroma rambutnya mulai kau lupakan
betapa aneh cara kita merayakan sepi:
membiarkan tubuh mencuri mata,
dengan keintiman yang dijanjikan
tanpa basa-basi atau nego harga
lalu kau heran
mengapa setiap pagi,
tubuhmu seperti reruntuhan
cinta, katamu, segala yang terikat
tapi di ujung jarimu
penjahat kecil terus kau beri makan
dengan lapar yang tak masuk akal
di sana, kau tak sedang mencari nikmat
atau kepuasan
hanya jalan pulang, ke tempat yang sebenarnya
tak pernah ada
(Majalengka, 2026)
–
Ruang T(e)mu
di kepalamu, perpustakaan menolak tidur
dibiarkan redup lampu-lampu
tanpa benar-benar mati
di sana, perempuan dan masa lalu menjelma buku terbuka tepat di halaman
yang paling sering kau tandai
dengan lipatan kecil di ujungnnya
kau paham betul,
ingatan bukan tempat menyimpan waktu yang baik ia adalah kesedihan,
datang mengetuk pintu secara sopan
kau mencintai istrimu seperti rumah yang selesai—pintu yang paham kapan harus terbuka,
aroma kopi yang tak pernah berbohong,
dan lantai yang hafal irama langkahmu
namun, di sudut dadamu yang paling rahasia
kau menyimpan debu-debu yang sengaja
tak kau sapu:
tawa yang tertinggal di SPBU,
peron stasiun,
atau punggungan gunung
dan bau hujan pada rambut seseorang
yang kini namanya hanya kau sebut
saat kau lupa sedang berdoa
psikologi mungkin punya istilah untuk itu,
semacam ketakutan menjadi asing bagi diri sendiri kau merasa jika melupakan mereka,
maka bagian dirimu yang dulu—
yang pernah hancur,
yang pernah berlari sendirian,
yang pernah mengeja rindu dengan terbata-bata—akan ikut dikubur hidup-hidup
kau tidak sedang ingin pulang ke masa lalu;
kau hanya tak ingin menatap cermin
dan melihat orang asing di sana
melihat istrimu tidur, kau merasa
menjadi pencuri yang tertangkap basah
kau mencintainya dengan seluruh hari ini,
dengan seluruh tubuhmu yang sekarang,
tapi kau tetap membiarkan masa lalu
duduk manis di kursi tamu
memesan segelas air putih, diam, dan menatapmu dengan mata yang selalu menagih
untuk tidak dilupakan
sebab bagi seorang lelaki, terkadang kenangan adalah satu-satunya bukti
bahwa ia pernah benar-benar ada,
sebelum akhirnya ia menemukan jalan
untuk pulang dan menetap
di meja makan, kau menyuap nasi dan cinta
yang hangat, sementara di dalam kepalamu,
rintik hujan dari sepuluh tahun lalu
masih saja gagal untuk reda
(Majalengka, 2026)
