Alarm berdering dari tiga arah yang saling tak bersepakat: dari masjid lewat pengeras suara yang diseret angin, dari ponsel yang menjerit seperti sedang mengabarkan kesetiaan palsu, dan dari grup keluarga yang tiba-tiba hidup dengan doa berantai, diskon deterjen, serta tautan kabar duka yang belum diverifikasi. Aku membuka mata dan mendapati pagi telah masuk tanpa izin, tanpa mengetuk. Ia datang bukan sebagai cahaya yang perlahan menggeliat di tepi jendela, melainkan sebagai suara, sebagai kewajiban, sebagai notifikasi yang menuntut percaya pada sesuatu yang belum sempat diperiksa. Pagi kini tidak menunggu siapa pun. Ia lebih cepat dari tubuh yang hendak menyambutnya.
Dulu pagi adalah ayam jago yang percaya dunia masih bisa dibangunkan, embun di daun singkong, aroma kayu dari dapur yang menyala. Dulu pagi adalah koran yang dilempar tukang, meluncur dengan selip plastik, meninggalkan bekas tinta di jari kelingking. Sekarang pagi adalah judul berita yang berganti setiap lima menit, video pendek yang menirukan tragedi sebagai tantangan tarian, dan pesan bank yang berkata saldo menipis. Jika aku mencoba menutup mata, ia mengetuk dari balik tulang rusuk; jika aku menutup telinga, ia masuk lewat kaca jendela: truk sampah memutar lagu anak-anak, motor memukul udara seperti rotan. Pagi kini bukan waktu, melainkan sistem.
Aku berjalan keluar. Udara yang seharusnya segar menyambutku dengan daftar belanja: beras, gas, pulsa, waktu. Jalanan sudah penuh sejak jam yang tidak tercatat; entah sejak kapan orang-orang memutuskan pagi tak perlu lagi melewati subuh. Trotoar yang seharusnya untuk kaki telah disulap jadi pagar besi, neon box, dan iklan wajah-wajah putih sempurna yang mengajarkan rasa percaya diri lewat warna kulit. Anak-anak berseragam berjalan dalam formasi, ransel besar memunggungi tubuh kecil mereka, membawa buku paket seperti memikul izin untuk berharap. Di halte, antrean tak pernah punya kepala. Bus datang, pintu terbuka, tangan-tangan berebut seperti akar yang haus, lalu bus pergi, menyisakan wajah-wajah yang lebih tua dari umur mereka.
Seorang pedagang bubur duduk di pinggir jalan, mengaduk panci dengan gerak yang sudah kehilangan irama. “Pagi sekarang cepat sekali habis,” katanya tanpa menatap siapa pun. Ia menambahkan air pada buburnya untuk memperbanyak porsi, menambahkan kata pada kalimatnya agar terdengar meyakinkan. Dagangannya tetap bubur, tapi dengan rasa air yang makin jujur. Seorang anak merengek minta kerupuk; ibunya menggeleng, wajahnya menegang menjadi batu karang. Di ujung jalan, konvoi mobil hitam melintas. Sirine meraung, meminta orang lain menepi. Peluit polisi memekik bukan untuk ketertiban, melainkan demi jalur kehormatan. Orang-orang menunduk—bukan menghormati, melainkan menghindari pandangan yang bisa membuat mereka dicatat.
Di kios koran, dua foto besar dipajang berdampingan seperti dua jiwa yang tidur di ranjang berbeda: banjir yang menelan kampung semalam, dan pesta ulang tahun pejabat yang kembang apinya memakan langit. Judulnya bertolak belakang tapi dibaca dalam satu tarikan napas. Di sini, pagi selalu mempertemukan yang perih dan yang mewah di etalase yang sama—seolah keduanya pantas berbagi ruang. Penderitaan menjadi berita kecil yang menunggu sponsor, pesta menjadi pembenaran yang dicetak berulang.
Aku naik ke jembatan penyeberangan yang besinya berderit ketika diinjak. Dari atas, kota terlihat seperti papan sirkuit yang terlalu panas: lampu berpura-pura menjadi bintang, kabel melintang seperti akar udara, dan gedung-gedung mengangkat bahu, menolak menua. Di bawah, truk kontainer menyerempet gerobak sayur hingga terbalik. Sawi, tomat, cabai, tumpah ke aspal. Seorang ibu memunguti cabai satu per satu, menatap setiap buah kecil itu seperti menatap nasib yang baru pecah. Sopir membuka kaca, berkata maaf dengan nada yang dibuat agar tak mengundang tanggapan. Orang-orang berhenti sejenak, menonton, lalu berlalu. Pagi tak punya waktu untuk mengulang kejadian.
Aku turun, memasuki gang yang sempit antara tembok rumah dan tembok iklan. Dari sebuah pos ronda terdengar lagu lawas yang bersaing dengan siaran langsung seorang influencer yang menjual mukena sambil menangis: “Bunda-bunda, setiap pembelian akan disedekahkan satu persen, ayo, jangan pelit, bunda.” Air matanya cepat, jarinya lebih cepat. Di kolom komentar yang bergulir seperti hujan, emotikon tangan berdoa berjejer dengan tanda diskon. Pagi menemukan caranya sendiri untuk berdoa: menggeser layar sampai sedekah menjadi aktivitas belanja.
Aku mencatat hal-hal kecil, seperti jurnalis keras kepala di liputan yang tak diminta. Sepatu bocah diikat karet, pagar rumah menahan pohon agar tak tumbuh sembarangan, secangkir kopi diaduk terlalu lama oleh lelaki yang menunggu panggilan kerja. Kolam kecil memantulkan langit yang terpotong-potong oleh kabel listrik. Aku mencoba menyusun bukti bahwa pagi, meski tak lagi seperti dulu, masih bisa diselamatkan. Setidaknya, masih ada sisa-sisa yang bisa disebut awal.
Namun setiap kali aku merasa punya bahan untuk menulis harapan, pengeras suara kelurahan memotong, “Warga diminta merapikan area depan rumah karena akan ada penertiban. Dilarang berjualan di bahu jalan. Dilarang menjemur pakaian di halaman yang terlihat dari jalan utama.”
Suara itu datar, tanpa wajah, tanpa “tolong”, tanpa “maaf”. Ia menjatuhkan kata dilarang seperti batu dari tebing. Di seberang, spanduk besar bertuliskan Selamat Datang di Kawasan Ramah Pejalan menggantung di atas tiga mobil yang parkir tepat di zebra cross. Pagi menelan tulisannya sendiri.
Seorang bapak berseragam oranye berhenti menyapu, memijat pinggangnya. “Anak saya baru lulus kemarin,” katanya. “Pagi ini dia kerja jadi kurir. Katanya sementara. Tapi sementara itu kata paling panjang di kota ini.” Ia tertawa pelan. Bukan karena lucu, tapi agar air mata tak jatuh. “Pagi itu sebenarnya enak, Pak. Cuma terlalu ramai sama janji.” Ia kembali menunduk, menahan sakit punggungnya, lalu menyapu lagi sampai ujung gang.
Di stasiun, papan pengumuman berkedip: Maaf, keterlambatan karena antrian kereta. Orang-orang menyeka peluh, menunggu dalam barisan yang mengantuk. Seorang perempuan membawa map transparan berisi ijazah, menunggu wawancara yang sudah diundur. Seorang lelaki berseragam kantor memesan cicilan motor lewat ponsel, promonya hanya sampai pukul sepuluh. Anak yang seharusnya di sekolah menangis ketika ibunya mematikan ponsel: kuota habis. Di antara mereka, empat orang dengan rompi membawa papan janji kampanye yang bergoyang, menampar wajah-wajah yang tak memandang. Di sini, maaf terdengar seperti prosedur; sesuatu yang diucapkan agar antrian tetap bergerak.
Di perempatan besar, baliho berjejer seperti bangunan baru di langit. Wajah-wajah tersenyum menatap lebih besar dari pohon yang ditebang untuk memberi mereka ruang. “Pagi ini kita mulai dari nol,” kata satu. “Pagi ini, mari bersatu,” kata yang lain. Sementara itu, bapak oranye tadi sudah tiba di tikungan, merapikan daun basah di selokan sambil menahan dengusnya—pagi bekerja tanpa panggung.
Aku melewati sekolah dengan gerbang yang dibuka setengah, seperti hati orang dewasa yang takut berharap terlalu jauh. Di dalam kelas, guru berdiri di depan papan tulis, suaranya berusaha lebih keras dari bor proyek di sebelah. Gedung kaca naik, memantulkan matahari ke jendela kelas hingga anak-anak menyipit. Di halaman, satu pohon ketapang berdiri sendiri, daunnya disapu tiap jam. “Kami melindungi masa depan,” tulis brosur sekolah dengan huruf besar. Di waktu yang sama, suara mesin memahat hari ini menjadi lorong. Pagi kehilangan keteduhan, diganti refleksi.
“Kamu jangan rekam wajah kami,” kata ibu-ibu di pasar saat aku mengangkat ponsel. Mereka takut bukan pada kamera, tapi pada hasil rekam yang bisa dijadikan bukti. “Kami orang kecil tak punya pagi untuk dikembalikan,” kata satu di antaranya sambil menimbang cabai. “Kalau pagi kami dilarang, sore kami dihukum, malam kami dikejar. Kami bisa kapan?” Mereka tertawa. Tawa yang membuat udara seperti kaca retak.
Di depan kantor dinas, orang mengantre mengganti kartu asuransi. Loket baru buka pukul delapan, tapi nomor antrean habis pukul tujuh. Seorang lelaki memeluk mapnya sampai lecek, menunggu sambil menelan keringat. Ia tidak ingin marah karena tahu, di kota ini, amarah memperpanjang pagi tanpa mengubah hasil. Di sisi jalan, sebuah mobil mewah berhenti, penumpangnya turun lewat pintu samping, menghindari tatapan yang bisa menjelma berita. Pagi terus mencatat tanpa pena.
Aku ingin menulis: pagi ini baik-baik saja, asal kita belajar menatapnya dari arah yang benar. Tapi lalu hujan datang seperti interupsi. Tak ada tanda dari langit, hanya bau besi yang tiba-tiba menebal di udara. Air mencari celah yang paling lemah—seperti kebenaran yang menemukan retak di lidah. Selokan yang sempit menolak menampung sedih, jalanan berubah jadi cermin yang keruh. Tukang ojek menyandarkan motornya di emper toko. “Banjir lagi,” katanya. “Kayaknya pagi punya perjanjian sama air.” Ia mengirim pesan ke penumpang: maaf, telat. Di kota ini, maaf terdengar seperti prosedur; sebuah langkah agar semua orang sadar diri, lalu melanjutkan.
Dalam hujan yang menyamarkan perbedaan bunyi, aku melihat seorang anak mengangkat buku catatannya tinggi-tinggi. Ibunya menutupi kepala dengan plastik bekas, menatap lurus ke depan. “Masih pagi, Nak,” katanya, suaranya melawan deras air. “Kalau kita berhenti sekarang, besok nggak datang.” Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di bawah hujan, ia berubah jadi doa: agar hari berikutnya masih mau menampung mereka. Besok di kota ini diperlakukan seperti bayi yang rewel—digendong, dinyanyikan, tapi tak pernah benar-benar tidur.
Aku mencari tempat berteduh. Di warung kecil, dispenser air panas bekerja setengah hidup. Listrik naik turun seperti napas orang yang kelelahan. Kopi sachet dirobek, gula yang katanya harus dikurangi tetap dituang penuh. Di rak, biskuit murah berdampingan dengan vitamin yang menjanjikan kebugaran. “Pagi lebih bugar dengan…” kata iklan, tapi di sini, bugar berarti masih sanggup berjalan, bukan berlari. Aku meneguk kopi panas tanpa menyeruput; lidah sudah kebal pada tergesa-gesa yang menjadi suhu resmi kota.
Pesan masuk dari seorang kawan: “Kau di mana? Aku di depan kantor wali kota. Ada aksi.” Aku keluar lagi, menembus hujan yang sudah jadi gerimis. Di sana, spanduk diangkat, tapi jalan raya lebih tinggi. Teriakan terdengar, tapi sirine lebih keras. Polisi berdiri bukan untuk mendengar, tapi untuk memastikan jarak. Di satu sisi, seseorang membakar selembar kertas—bukan untuk protes, melainkan agar kamera mau datang. Di sisi lain, seorang perempuan membagikan selebaran bertuliskan: Pagi adalah hak warga. Selebaran itu jatuh ke aspal, direndam hujan, lalu menempel di telapak sepatu orang yang lewat. Mungkin nanti akan terbaca ketika sepatu itu dilepas di rumah.
“Kenapa kau menulis hal-hal ini?” tanya kawanku, matanya menyipit oleh hujan. “Supaya apa?” Aku ingin menjawab dengan kalimat rapi, tapi mulutku penuh suara. “Supaya pagi punya saksi,” kataku. “Karena kalau jurnalisme dibungkam, kita akan belajar kesaksian di bawah payung.” Ia menatapku, lalu tertawa getir. “Saksi juga bisa dibeli,” katanya. Kami saling menatap sejenak, lalu berpisah tanpa pamit. Di kota ini, pertemuan berlangsung cepat, agar perpisahan tidak perlu upacara.
Aku kembali melewati perkampungan yang dilalui air tadi. Bau sabun bersaing dengan bau selokan. Di depan sebuah rumah, seorang nenek duduk menatap sandal yang terendam. “Dulu pagi itu ayam,” katanya, meski aku tak bertanya. “Sekarang pagi itu pemberitahuan. Kalau nggak ada pemberitahuan, kita nggak tahu hidup.” Ia tertawa kecil, suara yang mengandung seluruh musim. “Tapi aku masih bikin teh tanpa gula. Kalau enggak, aku lupa rasanya sendiri.”
Di tiang listrik, selebaran pudar tertempel berdampingan: Dicari—orang hilang, Kursus sukses pagi hari, Donor darah sukarela. Kota ini menempelkan semuanya dengan lem yang sama—berita kehilangan, janji kesuksesan, ajakan derma—dan membiarkan waktu memilih mana yang akan lepas duluan. Tiang itu berdiri diam, jadi arsip yang tak dikuratori.
Ketika hujan berhenti, matahari meloncat dari balik gedung. Sisa air di jalan tidak memantulkan langit, melainkan billboard yang meminta kita bersyukur. “Bersyukur itu gratis,” tulisnya. Di bawahnya, penjual minuman memandangi botol kosong. “Gratis itu mahal,” gumamnya, tapi ia tersenyum. Senyum di kota ini bukan tanda bahagia; ia lebih seperti pagar—agar orang tak terlalu dekat pada kelelahanmu.
Di depan rumah, aku memulai proyek kecil: memaksa pagi kembali ke bentuknya. Aku menyeduh kopi dari bubuk sungguhan, bukan sachet. Mengambil koran lama yang sengaja kusimpan, membuka jendela selebar mungkin. Aku duduk di kursi kayu yang masih mengingat berat tubuh bapakku. Dua burung kecil mematuk tanah di halaman, mengira ada cacing yang naik dari retak. Aku menarik napas, dan untuk satu detik aku percaya. Hampir.
Sampai kubuka koran itu. Halaman utamanya berisi advertorial: berita disusun seperti doa lain untuk investor. Di halaman belakang, obituari terasa lebih jujur—nama-nama orang yang pergi di pagi hari, yang pingsan di depan loket, yang menutup mata di tengah macet. Sementara di ponsel, notifikasi baru muncul: Izinkan kami mengirim notifikasi? Dua pilihan: “Izinkan” atau “Nanti.” Di antara keduanya, satu kata tak tertulis: pasrah.
Aku menutup koran, menatap langit yang terjerat antena dan kabel. Seekor burung hinggap di kabel, mengukur jarak antar tiang. Mungkin ia juga sedang menghitung berapa jauh dari kawannya yang sudah tak bisa mendengar karena bising. Mungkin kita semua adalah burung yang lupa mengepak karena terlalu sibuk menghitung tiang.
Dari masjid terdengar suara lagi, kali ini lembut, memanggil bukan untuk menyuruh, tapi untuk mengingatkan. Seorang bocah berlari membawa tasbih plastik, disusul ibunya yang berteriak agar sandal dipakai benar. Di ujung gang, dua petugas datang membawa meteran, menandai halaman rumah, bersiap menempel stiker peringatan. Pagi meregang di antara doa dan garis kapur.
“Bang,” sapa tetangga dari seberang pagar. “Air mati.” Ia menunjuk keran yang hanya mengeluarkan desis. “Katanya pipa besar bocor. Perbaikan pagi ini.” Kami tertawa kecil. Pagi yang mengeringkan keran, pagi yang menyuruh tukang masuk, pagi yang meminta kita menerima bahwa hal-hal yang seharusnya bekerja pun berhak berhenti tanpa izin. “Nanti siang balik,” tambahnya. Di sini, nanti adalah bentuk lampau dari pagi.
Aku masuk ke rumah. Dindingnya masih lembap oleh sisa hujan. Di meja, buku catatan terbuka, halamannya menunggu kalimat pertama. Aku menulis, menghapus, menulis lagi. Tak ada kalimat yang cukup. Pagi yang tak lagi pagi menolak diringkas. Ia meminta kisah yang bergerak seperti orang di halte: maju setapak, mundur setengah, menoleh sedikit, lalu menunggu. Ia meminta aku mengutip suara yang tak ingin disebut namanya: bapak berseragam oranye, pedagang bubur, guru yang kalimatnya dikalahkan bor, anak yang menahan ponsel agar sinyal tak hanyut. Aku tulis nama mereka, lalu kuhapus—bukan demi keamanan, tapi demi kejujuran. Mereka bisa siapa saja.
Matahari menanjak pelan, seolah-olah ia sendiri ragu apakah kota ini masih membutuhkan terang. Bayangan pohon yang tersisa memanjang ke jalan, lalu patah di tubuh kendaraan yang melintas. Di televisi, acara pagi menawarkan tips menjadi bahagia dalam lima langkah. Di sudut layar, teks berjalan memberitakan banjir yang mulai surut di beberapa titik. “Warga diimbau waspada,” katanya, seperti kalimat dari kitab harian yang sudah kehilangan nama Tuhan. Pagi menutup dirinya dengan himbauan yang tidak menunjuk siapa pun.
Aku menutup buku catatan. Tidak ada lagi kalimat yang mau datang; mungkin mereka juga macet di lampu merah. Aku tidak mengunci pintu rumah, karena tak ada yang tersisa untuk dicuri selain waktu. Di ambang, aku berdiri, memandang jalan yang kembali ramai. Orang-orang tak menoleh, membawa pagi di punggung masing-masing—dibungkus karung tak kasat mata, diikat dengan tali yang berbeda. Aku ingin meneriakkan sesuatu, tapi kata-kata yang keluar hanya kembali pada pertanyaan pertama: sampai kapan kita menunggu pagi yang sebenarnya?
Pertanyaan itu berputar di udara, tersangkut di kabel, lalu menghilang tanpa gema. Namun di tembok gang dekat rumah, ada tulisan kecil dari spidol murahan, hurufnya miring dan sabar: pagi adalah hak warga. Tulisan itu basah oleh sisa hujan, tapi tidak luntur. Mungkin di situ, pagi belajar kembali menjadi pagi.
*****
Editor: Moch Aldy MA
