Dengan menggunakan kosmologi Jawa, novel Menyusu Celeng karya Sindhunata rupanya hendak memotret bagaimana situasi rakyat kecil yang bersitegang dengan elite kekuasaan yang rakus dan tamak, di mana jabatan dan wewenang mampu mengubah watak manusia yang sarat akan kepedulian dan keadilan, berubah menjadi watak celeng yang cenderung angkuh.
Celeng sebagai Tanda
Melalui novel Menyusu Celeng, Shindunata berhasil memotret derita rakyat kecil yang selalu disusahkan dengan hadirnya penguasa berwatak celeng. Seruduk sana-sini hanya demi tercapainya suatu tujuan dari kepentingan golongan yang tak jauh dari wilayah kekuasaan. Secara semiotik, celeng melambangkan keangkuhan, kesombongan, dan ketamakan tak berujung. Persis wajah elite kekinian yang lihai memasang wajah populis di hadapan kamera. Layaknya salah satu ketua partai yang dipotret memanggul sekarung beras di tengah bencana.
Dalam novel itu, penulis memotret dua keadaan sekaligus. Pertama adalah watak kekuasaan yang dari tahun ke tahun semakin menunjukkan “ke-celeng-annya”. Sementara yang kedua adalah bagaimana perjuangan rakyat kecil dalam menumpas ketidakadilan atas kebejatan suatu elite, meski pada akhirnya harus kembali menanggung derita berkepanjangan atas label miskin yang tersemat dalam jiwa mereka. Produksi watak celeng seolah-olah tak bisa ditumpas.
Sebagai tanda, celeng tidak hanya disematkan pada para penguasa yang gila harta dan kedudukan. Namun, penulis juga melihat lebih jauh dari itu. Bahwa celeng sebagai representasi dari hawa nafsu sebenarnya juga tinggal dalam setiap lubuk seseorang. Layaknya sang pelukis sebagai tokoh utama yang awalnya berada di kubu rakyat atas dalil kemiskinan, lalu pelan-pelan berhasil memperbaiki kualitas hidup yang di dalamnya, terdeteksi dan terkoneksi adanya watak-watak celeng.
Memang, tidak salah jika setiap orang berusaha untuk memperbaiki kualitas hidup. Keluar dari garis kemiskinan menuju gerbang kemakmuran. Tidak salah juga untuk membangun jejaring dengan banyak orang, termasuk para elite yang punya wewenang atas kebijakan di ranah tertentu.
Namun, yang menjadi masalah adalah ketika kesempatan berjejaring dan transaksi tersebut dimanfaatkan untuk menyelundupkan niat busuk yang tiada satu orang pun yang tahu. Niat untuk mengambil porsi berlebih atas kekurangan dan kesusahan orang lain. Dan niat untuk sengaja menjalankan tugas profesi secara “Tidak maksimal” dengan dalih “Tidak ada manusia yang sempurna”.
Dalam subjudul “Berburu Celeng”, diceritakan bahwa celeng yang sudah ditangkap bahkan dibunuh, belum bisa memastikan kejahatan telah lenyap dari muka bumi. Sebab, celeng bisa hidup kembali dalam wajah yang baru sekali pun. Termasuk dalam diri seorang intelektual yang dalam konteks tertentu, tidak terlalu menunjukkan bahwa dirinya pro terhadap suara rakyat tentang keadilan.
Baca juga:
Sementara di bab sebelumnya, “Susu Raja Celeng” menegaskan tentang bagaimana celeng-celeng itu beranak-pinak yang entah, dalam konteks kekinian bisa ditafsir sebagai praktek nepotisme yang amat berlebihan. Berkat privilese sanak-keluarga, orang tak kompeten pun mampu menjabat di posisi strategis dengan tunjangan yang bikin miris. Sementara di sisi lain, mereka yang mempunyai kompetensi di bidang tertentu, namun lahir di wilayah yang jauh dari sirkel elite politik harus mengelus dada dan dipaksa berdamai dengan keadaan.
Mirisnya, watak celeng yang mengakar dalam sanubari para penguasa, semakin ke sini semakin tampak kebrutalannya. Ibarat kata, celeng kekuasaan versi dulu masih menyisakan ruang rasa sungkan dan enggan, namun sekarang malah berbanding terbalik. Watak celeng kekuasaan sudah terang-benderang menggila di depan publik.
Pelukis dan Rakyat Kecil
Melalui seorang pelukis yang dikisahkan sebagai tokoh utama, lukisan celeng yang awalnya sebatas buah dari seni dan profesi, kemudian merambat menjelma fenomena antara rakyat kecil dan kekuasaan. Bagaimana keduanya berkelahi untuk menjadi yang dominan. Para elite penguasa yang haus akan jabatan dan kekayaan, dan rakyat kecil yang terus menggemakan keadilan.
Sebagai tokoh utama, pelukis yang sudah banyak menghasilkan lukisan tentang celeng pun terjebak dalam banyak tafsir. Lukisan yang awalnya hanya sebatas pelampiasan seni dan profesi, pelan-pelan merambat menjelma kisah nyata yang menyimpan dendam dan kritik tajam. Lukisan yang awalnya membawa spirit personal, lalu berubah menjadi spirit komunal atas apa yang terjadi pada rakyat kecil.
Wajar saja, bila di sebagian alur novel, sang pelukis menerima perlakuan tidak masuk akal ketika pameran lukisannya tiba-tiba dibatalkan. Usut demi usut, ternyata hal tersebut merupakan akibat dari catatan merah pelukis terhadap seorang pejabat yang hendak melanggengkan kekuasaannya. Hal itu rasa-rasanya cukup relevan dengan keadaan di Indonesia. Opisisi atau seorang intelektual yang dianggap merugikan para elite pemerintah akan menerima perlakuan tidak adil dalam pelbagai bentuk.
Selain itu, pelukis yang awalnya berangkat dari rahim rakyat, layaknya naluri manusia pada umumnya, pelan-pelan mengalami peningkatan kualitas hidup. Ia mulai bisa membeli barang mewah. Pemasukan bertambah. Dan sang pelukis mulai merasa dirinya sudah dihinggapi watak celeng. Maka, jika yang awalnya membela suara rakyat bisa terjangkit virus celeng, apalagi mereka yang tidak pernah berada di garis perjuangan rakyat. Tentu akan lebih mudah.
Upaya Menumpas Celeng
Tidak ada yang menginginkan kemiskinan. Tidak ada yang menginginkan penindasan. Dan tidak ada yang ingin bertahan atas keadaan serba susah. Pernyataan ini selaras dengan teori Pleasure-Pain Principle Freud yang menegaskan bahwa “Perilaku manusia digerakkan oleh keinginan untuk meminimalkan ketidaknyamanaan dan memakksimalkan kenikmatan”, juga teori utilitarianisme Bentham dan Mill yang menjelaskan bahwa tindakan manusia dipilih untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalkan penderitaan.
Baca juga:
Maka, atas dasar di atas, sangat logis jika rakyat kecil dalam novel Menyusu Celeng berhasrat dan bergerak untuk menumpas celeng. Namun, karena celeng yang dimaksud bukan sekadar hewan yang dikepruk langsung mati, tapi celeng yang dimaksud sudah menjelma nafsu yang membirahi, maka cara menumpasnya pun tidak boleh sembarang. Ada caranya. Ada strateginya.
Setidaknya, ada dua petunjuk yang bisa ditangkap dalam novel Menyusu Celeng tentang bagaimana seharusnya celeng jadi-jadian itu ditumpas. Pertama, tidak mungkin celeng yang digambarkan sebagai potret dari kalangan elite pemerintah akan ditumpas secara sempurna oleh sejenisnya. Sebab, sesama celeng punya kepentingan. Sarat aka transaksi. Dan tidak murni berpihak pada nurani rakyat. Kedua, harus ada pihak eksternal—yang dalam novel digambarkan dengan perempuan gila untuk mengepruk dan menghabisi celeng. Ya, butuh keberanian di luar batas untuk menumpas watak celeng. Meski harus dicap gila.
Editor: Prihandini N
