Tepat usai melakukan ciuman panjang yang ke-7.499 kali, Tokoh Perempuan Kita mengatakan sesuatu yang membuat Tokoh Lelaki Kita tersentak. Tokoh Perempuan Kita berkata, lebih tepatnya mengingatkan, bahwa ciuman tadi mungkin ciuman terakhir mereka.
“Apa maksudmu dengan ciuman terakhir?” Tokoh Lelaki Kita protes tanpa melepaskan lengannya yang masih melingkar di pinggang Tokoh Perempuan Kita.
“Lihat,” jawab Tokoh Perempuan Kita seraya mengarahkan telunjuk ke arah langit.
Tokoh Lelaki Kita menengadah ke arah telunjuk pasangannya terarah. Di sana ia hanya melihat langit gelap dengan taburan bintang yang berkedip-kedip. Di beberapa sudutnya terlihat gumpalan awan yang samar. Malam yang sangat biasa.
“Apa yang perlu saya lihat?” Tokoh Lelaki Kita bingung setelah beberapa saat memeriksa langit hingga ke bagian yang paling sudut, tepat di garis laut yang bergelombang.
“Itu dia. Rasi Anjing Berdiri akhirnya muncul,” jawab Tokoh Perempuan Kita. Ia kembali mengangkat telunjuknya ke langit malam, lalu menelusuri gugusan bintang satu per satu seolah sedang menggambar garis-garis tak kasatmata. “Lihat bintang yang paling terang itu? Sekarang tarik garis ke bintang kecil di sebelah tenggaranya. Dari sana, lanjutkan ke bintang di arah barat yang berada dekat dengan bintang terbesar itu. Setelah itu, turunkan garis ke bintang di bawahnya, lalu sambungkan lagi ke bintang yang tampak memiliki ekor. Terakhir, hubungkan dengan bintang yang berkedip paling cepat. Nah, bentuknya sudah terlihat, bukan? Tidak mungkin salah lagi. Itulah Rasi Anjing Berdiri.”
Tokoh Lelaki Kita kembali menatap langit. Memicingkan mata untuk beberapa saat, berusaha mengikuti garis-garis imajiner yang ditunjukkan Tokoh Perempuan Kita. “Bagi saya, rasi bintang itu terlihat seperti anjing kawin,” katanya kemudian.
Tokoh Perempuan Kita terbahak. Sejenis tawa yang selalu menyenangkan bagi Tokoh Lelaki Kita. “Ngawur! Tidak ada rasi bintang anjing kawin. Dan kamu tentu tahu apa yang akan terjadi jika Rasi Bintang Anjing Berdiri telah muncul?”
Tokoh Lelaki Kita menjawab pelan, nyaris berbisik. “Artinya, portal antarbintang akan terbuka, dan pesawat yang menjemputmu akan tiba di sini, dan kamu harus pergi. Tapi..”
“Tapi, apa, Sayang?”
“Tapi,” suara Tokoh Lelaki Kita bergetar, menahan rasa pedih yang mulai menyesak di dadanya. “Kenapa begitu cepat? Kamu bilang, Rasi Bintang Anjing Berdiri hanya muncul sekali dalam dua puluh lima tahun?”
“Ya. Tampaknya, malam inilah dua puluh lima tahun itu. Tepat seperempat abad ketika pesawatku mendarat darurat di planetmu, dan rusak sama sekali. Kita tidak pernah benar-benar menghitung hari.”
“Ya, saya tidak akan pernah lupa ketika pesawatmu menghantam kebun di belakang rumah, dan membuat saya mengalami gagal panen musim itu.”
Tokoh Perempuan Kita kembali terkekeh. “Aku kan sudah meminta maaf. Lagipula,” katanya sambil mengelus pipi pasangannya, “kamu langsung jatuh cinta kepada perempuan asing yang muncul dari dalam pesawat kecil itu, bukan?”
Kali ini giliran Tokoh Lelaki Kita yang terbahak, seolah perasaan dukanya lesap begitu saja. “Tentu saja. Tidak setiap hari saya bertemu dengan alien cantik!”
“Ya. Dan sejak itulah aku terdampar di planet ini,” Tokoh Perempuan Kita seolah sedang berbicara kepada dirinya sendiri. “Satu-satunya benda yang masih berfungsi di pesawat kecil itu hanyalah alat komunikasi darurat sekali pakai. Melalui alat itu pulalah aku mendapat informasi bahwa pesawat yang menjemputku akan datang ketika Rasi Bintang Anjing Berdiri muncul di langit planet ini. Karena hanya pada saat itulah portal antarbintang terbuka, dan memungkinkan pesawat yang menjemputku memasuki sistem bintang di mana planet ini berada.”
“Dan peristiwa itu sudah terjadi dua puluh lima tahun yang lalu..”
Tokoh Perempuan Kita mengangguk ragu.
“Rasanya baru terjadi kemarin, ketika kamu kebingungan karena air laut di sini memiliki rasa manis dan bisa diminum,” kenang Tokoh Lelaki Kita sambil tersenyum tipis. Tatapannya terarah ke hamparan laut yang gelap dan memantulkan kilau bulan berbentuk limas dan hamparan gemintang.
Tokoh Perempuan Kita ikut memandang ke arah yang sama. Angin laut berembus pelan memainkan ujung-ujung rambutnya.
“Ya,” katanya pelan, lalu terkekeh mengenang peristiwa tersebut. “Waktu itu aku sampai sakit perut. Aku benar-benar tidak bisa berhenti minum. Rasanya seperti menemukan keajaiban.”
“Padahal saya sudah berkali-kali mengingatkan, agar meminumnya pelan-pelan saja. Toh air di lautan tidak akan habis meskipun kau minum setiap hari.”
“Awalnya, aku tidak percaya padamu.” Ia menggeleng sambil tertawa. “Di planetku, air laut rasanya asin. Bahkan setetes saja sudah membuatmu ingin segera memuntahkannya. Tidak ada orang waras yang sengaja meminumnya. Belum lagi, laut di planetku telah tercemar berbagai jenis limbah dan sampah. Jadi ketika kamu bilang semua air laut di planet ini bisa diminum, kupikir kamu sedang membual.”
“Kemudian kamu membuktikannya sendiri.”
“Dan akibatnya perutku kembung seharian.” Ia memegang perutnya seolah masih mengingat penderitaan tersebut. “Aku bahkan sempat berpikir, bahwa tubuhku akan meledak karena terlalu banyak menyimpan air.”
Tokoh Lelaki Kita tertawa kecil. “Kamu juga terus mengisi botol-botol kosong dengan air laut. Katamu, air laut semanis itu harus dibawa pulang sebagai oleh-oleh.”
“Awalnya aku memang berniat begitu.” Tokoh Perempuan Kita menghela napas panjang. “Sayangnya, aku tidak tahu kapan bisa pulang. Semakin kupikirkan itu, semakin kusadar bahwa botol-botol itu tidak akan pernah sampai ke rumahku. Jadi, satu per satu kutenggak isinya sambil menangis. Persis seperti orang patah hati yang menghabiskan berbotol-botol bir.”
“Bir?”
“Bir,” ulang Tokoh Perempuan Kita sambil terkekeh. “Minuman beralkohol yang biasa diminum orang-orang di planetku untuk mabuk. Bukankah aku pernah menjelaskan soal bir kepadamu?”
Tokoh Lelaki Kita mengernyit, lalu menggeleng pelan. “Sepertinya belum. Yang pernah kauceritakan hanya tentang kopi, cokelat, dan buah-buahan yang tumbuh sesuai musim. Tentang bir, saya benar-benar baru mendengarnya.”
Tokoh Perempuan Kita tersenyum kecil. “Kalau begitu, anggap saja bir adalah minuman yang dicari orang ketika mereka ingin melupakan sesuatu.”
“Di sini, kamu bisa mengonsumsi papaver untuk mabuk dan melupakan sesuatu.”
“Kau akan menua di dalam penjara jika mengonsumsi papaver di planetku,” seloroh Tokoh Perempuan Kita.
Mereka tertawa bersama. Tawa yang ringan yang selalu menghiasi hubungan mereka selama dua puluh lima tahun belakangan.
Tokoh Lelaki Kita memungut sebuah batu pipih di dekat kakinya, lalu melemparkannya ke permukaan laut. Batu itu memantul sangat jauh di atas permukaan air, sebelum akhirnya tenggelam dan menciptakan riak yang melingkar.
“Rasanya baru kemarin juga ketika kamu melompat kegirangan setelah mengetahui bahwa gravitasi di sini jauh lebih ringan daripada di planetmu.”
Mata Tokoh Perempuan Kita langsung berbinar.
“Itu benar-benar hari yang luar biasa.” Senyum lebarnya muncul tanpa bisa ditahan. “Aku hanya berniat mencoba melompat sedikit, tetapi tubuhku justru melayang hampir setinggi pohon.”
“Kamu berteriak kencang sekali, sampai para tetangga melongokkan kepala dari jendela masing-masing.”
“Tentu saja! Bayangkan seumur hidup merasakan gravitasi yang begitu berat, lalu tiba-tiba tubuhmu terasa seringan kapas.”
“Kamu terus melompat sampai matahari terbenam.”
“Karena aku takut besok gravitasinya berubah lagi. Atau khawatir semua itu hanya mimpi, dan akan sirna ketika aku terbangun.”
Tokoh Lelaki Kita menggeleng geli. “Saya sudah menjelaskan bahwa gravitasi bukan cuaca yang bisa berubah sewaktu-waktu.”
“Aku tahu itu sekarang,” ia menundukkan kepala sambil tersenyum malu. “Tapi saat itu, semuanya terasa begitu mustahil. Gravitasi yang berbeda. Laut yang manis. Langit yang memiliki tiga warna saat senja. Bahkan pohon-pohon yang bersinar pada malam hari. Sedangkan di planetku, pohon-pohon nyaris tidak tersisa dan langit hanya berwarna kelabu akibat didominasi oleh polusi. Rasanya seperti setiap langkah yang kuambil di planet ini, selalu menemukan keajaiban baru.”
Tokoh Perempuan Kita berhenti sejenak. Senyumnya masih ada, tetapi kini bercampur kegetiran yang samar. “Rasanya lucu juga,” katanya lirih. “Dulu semua itu terasa asing. Sekarang justru terasa seperti rumah.”
Tokoh Lelaki Kita menoleh kepadanya. Ada kehangatan dalam tatapannya. “Memang begitu caranya sebuah tempat menjadi rumah,” ucapnya kemudian. “Bukan karena kita lahir di sana, melainkan karena kita menyadari hal-hal yang berharga dan menyimpan kenangan terbaik di tempat itu.”
Tokoh Perempuan Kita tidak segera menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Tokoh Lelaki Kita, sementara ombak kecil terus menyapu pasir di depan mereka.
“Tidak bisakah kamu tetap berada di sini?” Tokoh Lelaki Kita kembali membuka suara. Kali ini suaranya jauh lebih pelan, nyaris tenggelam oleh desir ombak. Ada nada merajuk yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik senyumnya.
Tokoh Perempuan Kita mempererat genggaman tangan mereka. Jemarinya terasa dingin. Ia menggeleng perlahan tanpa sanggup menatap mata lelaki itu.
“Tidak bisa,” jawabnya lirih. “Entah sudah berapa ribu kali kita membahas hal ini. Dan jawabannya tetap sama.”
“Kalau begitu izinkan saya membahasnya untuk yang terakhir kali.”
Tokoh Perempuan Kita menghela napas panjang.
“Saya tahu kamu memiliki keluarga di planet itu. Saya tahu ada seorang suami yang masih menunggumu, dan seorang anak yang mungkin setiap hari berharap ibunya pulang,” Tokoh Lelaki Kita berhenti sejenak, seolah sedang memilih kata-kata yang tidak terdengar terlalu egois. “Tapi kita telah hidup bersama selama dua puluh lima tahun. Dua puluh lima tahun. Itu lebih lama daripada kebersamaanmu dengan mereka.”
Tokoh Perempuan Kita memejamkan mata. “Jangan katakan itu.”
“Kenapa tidak? Bukankah itu kenyataannya?”
“Kenyataan tidak selalu menjadi alasan untuk mengkhianati yang lain.”
“Saya tidak memintamu mengkhianati siapa pun.”
“Lalu apa yang sedang kau lakukan sekarang?”
Tokoh Lelaki Kita terdiam. Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras daripada yang ingin ia akui.
“Saya hanya…” Ia menggigit bibir bawahnya. “Saya hanya tidak sanggup membayangkan terbangun besok pagi dan menyadari bahwa kamu tidak ada di samping saya. Saya tidak bisa membayangkan rumah yang menjadi dingin dan sepi.”
Keheningan kembali mendekap mereka.
Angin malam bertiup semakin kencang, menggerakkan rumput-rumput liar di sekitar pantai. Di langit, gugusan bintang tampak begitu dekat hingga seolah dapat disentuh. Langit yang selama dua puluh lima tahun mereka pandangi bersama, dan malam ini menjadi yang terakhir.
Tokoh Perempuan Kita menarik napas panjang.
“Sungguh?” katanya dengan nada yang mulai meninggi. “Apa kita benar-benar harus membahas ini lagi? Di malam terakhir kebersamaan kita?”
Tokoh Lelaki Kita tidak menjawab.
“Kau sudah tahu sejak awal,” lanjutnya. “Aku berada di planet ini bukan karena memilih tinggal. Aku terdampar di sini akibat kecelakaan dalam sebuah misi antariksa. Jika bukan karena rasi bintang sialan itu, portal antarbintang tidak akan terbuka, dan aku mungkin berada di planet lainnya, dan bertemu dengan seseorang yang tidak egois! Bagaimana pun, tempatku bukanlah di sini. Bukan di mana pun kecuali planet itu. Rumahku.”
Tokoh Lelaki Kita bungkam. Mulutnya ingin berbicara, tetapi hatinya patah seolah baru saja dihantam godam.
“Misi itu seharusnya hanyalah perjalanan pulang-pergi. Dua tahun. Hanya dua tahun,” lanjut Tokoh Perempuan Kita sambil menatap laut, seolah masih dapat melihat puing-puing pesawat yang pernah mengubah seluruh hidupnya. Suaranya mulai bergetar.
“Ketika aku berangkat, anakku bahkan belum cukup besar untuk memahami konsep waktu. Aku memeluknya dan berkata bahwa Ibu hanya akan pergi sebentar. Suamiku mengantarku hingga pintu pesawat tertutup, sambil bercanda bahwa ia akan menderita bosan akibat meracap selama dua tahun.”
Ia tersenyum kecil, tetapi senyum itu segera sirna. Ada segumpal air yang menggenang di kantung matanya, kemudian melanjutkan, “Karena berbagai persiapan sebelum dan sesudah misi, mereka hanya tahu aku akan meninggalkan rumah paling lama tiga tahun. Tidak lebih.”
Tokoh Lelaki Kita memandangi wajah perempuan itu. Wajah yang sangat cantik, yang mampu membuatnya jatuh cinta pada pertemuan pertama mereka. Namun, untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat bukan perempuan yang selama ini menemaninya, melainkan seorang ibu yang telah kehilangan dua puluh lima tahun kehidupan anaknya.
“Mereka pasti menungguku,” lanjut Tokoh Perempuan Kita. “Mungkin pada awalnya setiap hari. Lalu setiap minggu. Lalu setiap bulan. Mungkin mereka mulai kehilangan harapan. Mungkin mereka mengira aku telah mati. Rekan-rekanku mungkin memberitahu mereka, bahwa aku masih hidup di suatu tempat. Namun, harapan pulang yang sangat tipis membuat mereka jengah untuk bersikap optimistis.”
Kali ini air matanya mulai jatuh di pipinya.
“Namun, selama masih ada kemungkinan, aku akan pulang. Sekecil apa pun kemungkinan itu. Aku harus kembali kepada mereka.”
Ia menoleh kepada Tokoh Lelaki Kita. Tatapannya dipenuhi rasa bersalah yang selama ini tidak pernah benar-benar hilang.
“Meskipun terlambat dua puluh lima tahun. Meskipun mungkin mereka sudah berubah. Meskipun mungkin suamiku telah memiliki istri lagi. Meskipun mungkin anakku telah menikah dan memiliki keluarganya sendiri. Bahkan jika keduanya telah mati. Aku tetap harus pulang.”
Kalimat terakhir itu diucapkannya tanpa keraguan. Bukan karena ia tidak mencintai Tokoh Lelaki Kita, melainkan karena ada cinta lain yang telah menunggunya jauh lebih lama daripada yang sanggup ditanggung oleh hati siapa pun.
Tokoh Lelaki Kita tidak mampu menjawab. Ia menarik napas dalam-dalam. Tokoh Perempuan Kita benar-benar ingin pulang, dan tidak pernah ada sedikit pun keraguan di dirinya selama dua puluh lima tahun kebersamaan mereka. Tokoh Lelaki Kita mulai berpikir, bahwa tekad perempuan itu tidak bisa dibendung dengan cara apa pun.
“Kalau begitu,” kata Tokoh Lelaki Kita kemudian setelah hening memberi jeda cukup lama. “Biarlah saya yang ikut denganmu. Ikut ke planetmu. Tidak masalah jika kita tidak mampu bersama di sana, tetapi setidaknya kita menghirup udara yang sama.”
Tokoh Perempuan Kita kembali tersenyum serapa mengusap air matanya yang mulai mengering.
“Jangan konyol. Bangsamu tidak pernah berevolusi untuk menembus angkasa. Bahkan sebelum mencapai lapisan Avara, napasmu akan mulai terampas oleh udara yang menipis. Saat melintasi lapisan Sektum, tekanan akan begitu rendah hingga cairan di dalam tubuhmu mulai mendidih. Jika entah bagaimana kamu masih bertahan dan berhasil menyentuh lapisan Patron, kematian sudah lebih dulu menjemputmu sebelum sempat menyadari apa yang terjadi. Itu pun belum memperhitungkan laju kapalku yang melesat hingga tujuh puluh delapan kilometer setiap detik. Pada kecepatan seperti itu, tubuhmu akan tercerai-berai bahkan sebelum sempat mengeluarkan jeritan. Jangankan ikut terbang dengan pesawat antariksa, menaiki wahana roller coaster saja kamu hampir mengompol. Jadi, buang jauh-jauh gagasan sinting itu.”
“Lantas, tidak ada jalan? Kita akan berpisah begitu saja? Kamu akan kembali ke keluargamu, dan saya akan kembali berkebun seperti biasa? Kita akan menjalani kehidupan masing-masing yang terpaut sekian tahun cahaya ini?” Tokoh Lelaki Kita kembali protes sebelum benar-benar pasrah dengan segala kemungkinan yang pernah terbesit di dalam pikirannya.
Tokoh Perempuan Kita menatap lekat-lekat mata pasangannya, ia dapat menatap kepedihan di dalam sana. Tidak ada yang tidak menyakitkan dari perpisahan. Ia sudah pernah mengalaminya. Keputusan yang diambilnya bukan lantaran ia tidak mencintai Tokoh Lelaki Kita. Ia sangat mencintainya. Bagaimana pun, lelaki itu telah membersamainya selama dua puluh lima tahun belakangan. Tentu bukan waktu yang singkat untuk sebuah hubungan. Terlebih, mereka telah berhasil mendobrak segala perbedaan yang mendasari hubungan mereka. Mereka berasal dari planet yang berbeda. Ada sejuta hal yang perlu disesuaikan dan dikompromikan. Maka, dua puluh lima tahun kebersamaan telah lebih dari cukup menjadi bukti bahwa keduanya mampu memelihara cinta dengan sangat baik.
Jika bisa memilih, ia lebih suka untuk tidak diselamatkan dan menghabiskan sisa hidup di planet ini, bersama Tokoh Lelaki Kita. Ia bisa saja dianggap gugur dalam tugas. Namun, kemunculan Rasi Bintang Anjing Berdiri merupakan sebuah keniscayaan, dan pesawat yang menjemputnya pasti akan tiba. Dan ketika itu semua terjadi, ia tidak dapat menolak pilihan untuk pulang. Ini seperti sebuah takdir. Takdir di mana ia harus kembali ke planet asalnya.
“Aku selalu percaya, tidak ada pertemuan yang sia-sia,” kata Tokoh Perempuan Kita lagi. “Pertemuan kita, tidak akan pernah kulupakan. Dan kamu akan selalu hidup di dalam diriku.”
Tokoh Lelaki Kita mendengus pelan mendengar kalimat klise yang diucapkan sebagai penghibur belaka. Ia tahu, dirinya telah kalah. “Saya mengerti. Kesimpulannya, yang bisa kita lakukan lagi?”
Tokoh Perempuan Kita hendak menjawab ketika sebuah titik kecil berwarna kuning kemerahan yang tampak sedang bergerak melintasi ekor langit, serupa setitik bara yang disapu angin. Titik kecil itu adalah pesawat yang menjemputnya, ia tahu betul.
Tokoh Perempuan Kita melakukan hitung cepat di dalam kepalanya. Dengan kecepatan demikian, jika hitungannya tidak meleset, pesawat itu baru akan mendarat di tempatnya sekitar satu jam lebih beberapa menit. Atau beberapa menit lebih cepat jika hitungannya meleset, tetapi tidak akan kurang dari satu jam. Sebagai seorang kosmonaut, ia sudah sangat fasih melakukan penghitungan kecepatan benda-benda di langit, sehingga kalkulasinya tidak akan meleset jauh.
Tokoh Perempuan Kita mengalihkan pandangan dari langit ke mata Tokoh Lelaki Kita. Di sana ia menemukan sepasang mata yang menyiratkan kepasrahan dan kekalahan.
“Sebenarnya,” ujar Tokoh Perempuan Kita sambil menyunggingkan senyum. “Masih ada yang bisa kita lakukan di sisa waktu ini.”
Tokoh Lelaki Kita membalas tatapan pasangannya dengan seulas senyum tipis. Keduanya kemudian berbaring di atas rumput musim panas yang kering dan kasar. Saling menindih. Masih ada waktu bagi mereka untuk menggenapi jumlah ciuman menjadi 7.500 kali. Selebihnya tidak lagi penting.
*****
Editor: Moch Aldy MA
