Di tengah kondisi perfilman negara yang belum menentu arahnya, ada kabar baik bagi insan film di Indonesia. Turang, sebuah film karya Bahctiar Siagian pulang sejenak ke tanah air setelah sekian puluh tahun terlunta-lunta di belantara Eropa Timur. Kepulangan Turang bisa jadi telat karena tembok tebal rezim kekuasaan yang membuatnya terlunta-lunta sebenarnya sudah luluh lantak sejak 27 tahun lalu. Namun apakah kepulangan Turang benar-benar telat dan tidak perlu kita sambut lagi dengan angkat topi yang setinggi-tingginya?
Turang adalah film yang menggambarkan periode perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di tanah Karo Sumatera Utara. Seperti halnya film Lewat Jam Malam dan Darah dan Doa, film ini mengambil angle dari mereka yang bergerilya selama menghalau kedatangan Belanda yang mencoba menguasai Indonesia kembali. Secara naratif, film ini mengambil plot campuran dengan penggambaran-penggambaran yang memanjakan mata penonton. Dalam film tersebut kita disuguhi lanskap-lanskap keindahan tanah Karo semasa Revolusi Fisik yang—meminjam ST. Sunardi—seakan dapat berbicara kepada penonton.
Baca juga:
Apabila dibandingkan dengan film Darah dan Doa yang bertema serupa, Turang mempunyai kelebihan pada penghadiran lanskap di setiap scene-nya. Di awal film, kita sudah disuguhi bentangan alam Karo berlatar gunung dengan jalan berkelok dan angin sepoi-sepoi. Bachtiar tidak langsung menunjukkan kepada kita dentum senjata dan deru tank Belanda, tapi justru membukanya dengan suguhan lanskap alam yang kadang durasinya sampai bermenit-menit itu. Bayang-bayang lanskap dan adegan demi adegan yang menampilkan kolektifitas di Tanah Karo itu bahkan masih terngiang terus dalam benak penontonnya—atau anggaplah saya—beberapa saat setelah menyimaknya. Namun apakah Turang hanya membawa kita pada nostalgia nasionalistik dan absen dari segala refleksi untuk masyarakat Indonesia di masa sekarang?
Bunga Siagian, putri kandung Bachtiar Siagian, memberikan pendapatnya di satu sesi diskusi dan nonton bareng di Sanata Dharma Yogya. Menurutnya film Turang tidak hadir dari ruang hampa. Semangat yang ada di belakang film ini adalah semangat Konferensi Asia Afrika yang subyek-subyeknya bersusah payah keluar dari belenggu dan kutuk kolonialisme yang menggelayut di langit Asia Afrika selama beratus ratus tahun. Dalam wacana semacam itulah Turang hadir kepada pemirsanya di festival film Tashkent (dulu masuk Uni Sovyet) tahun 1958. Lalu bagaimana film ini hadir kepada kita di Indonesia di masa sekarang ketika dirinya pulang namun tembok tebal kekuasaan mulai dibangun kembali dari puing-puing yang tersisa?
Di awal Mei kemarin, saya mencermati satu demi satu pesan yang dibawakan film Turang. Menonton Turang, mengeja satu demi satu pesan yang dibawanya. Saya tidak jadi mengutuk Belanda yang dalam film tersebut digambarkan sungguh keparat dan licik. Justru saya melihat bahwa Bachtiar memilin Turang menjadi sebentuk penanda kosong yang siap pakai untuk disematkan ke konteks apapun.
Di masa sekarang, ketika kekuasaan negara demikian tak terbatas dan militerisme menunjukkan kebengisannya secara telanjang, Turang menganyam penanda kosong itu dengan ‘wajah’ Indonesia. Berbagai adegan kebengisan Belanda dalam film Turang seperti relevan kembali untuk menengok bagaimana militer Indonesia sekarang bekerja—merebut lahan, membredel tulisan, menyiksa masyarakat sipil, dan menyebar intelijen untuk memata-matai segenap aktivitas masyarakat.
Bagaimana mungkin Turang pulang lalu menyindir kondisi tanah airnya yang sungguh berkebalikan dengan yang digambarkannya pada tahun 1957—tahun dibuatnya film? Kalau dalam kacamata kajian eksil (Samosir: 2024), bisa jadi Turang adalah film yang tereksilkan untuk kedua kalinya. Dulu dirinya begitu rindu akan kampung halamannya sebab ada tembok tebal yang melarangnya pulang. Begitu momen waktu mengijinkannya pulang semuanya sudah tak lagi sama.
Kampung halaman yang kini disambanginya tak lagi memenuhi hasrat kerinduannya. Sebab kampung halaman yang ada sekarang bukanlah yang ada dalam benaknya—yang membuat hatinya penuh dan membuncah. Tanah airnya kini berubah wajah menjadi penjajah hanya dalam rentang waktu yang ditinggalkan Turang. Dia tidak kecewa, tidak juga puas karena bisa pulang. Sebab pulang pun juga tak dapat memenuhi hasrat dan kerinduan yang sebelumnya sempat menggebu itu.
Salah satu cara agar Turang kembali ‘betah’ adalah dengan mencari audience dan mendiskusikannya bersama-sama. Pun tak lupa dengan mengkontekstualisasikan semangat dalam Turang untuk menjadi merefleksi bersama.
Kini Turang sedang diajak jalan-jalan dari satu kota ke kota di Indonesia. Kita wajib membacanya lebih dari sekadar film sejarah revolusi. Apabila dibaca hanya sebagai kronik Revolusi dan lepas dari masalah-masalah kekinian, maka Turang akan tereksilkan kembali.
Baca juga:
Turang harus dibaca senada dengan pembukaan Undang-undang Dasar 1945 “..bahwa kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu penjajahan di muka bumi harus dihapuskan”. Tanpa kita berani melakukan otokritik terhadap cara kerja militer, pemerintah, dan elit politik kita maka selamanya Turang akan menjadi film yang tidak pernah pulang ke tanah airnya. (*)
Editor: Kukuh Basuki
