Eksistensi bersifat opsional

Tubuh Perempuan dalam Format PDF dan Puisi Lainnya

Sofia Mahdi

1 min read

Hal-hal yang Tidak Pernah Ditemukan oleh Bahasa

ada rasa yang tidak bisa diterjemahkan ke alfabet latin
semacam gemetar di dada
saat mendengar suara seseorang yang sudah mati
tapi hanya di dalam kepala

kamus tidak menyediakan definisi
untuk suara yang setengah tertahan
karena di dunia yang terbiasa menilai
kejujuran sering dibaca sebagai kebutuhan

kita memakai kata “iya”
untuk hal-hal yang sebetulnya ingin kita tolak
dan “terserah”
untuk hal-hal yang terlalu kita pedulikan
hingga tidak berani mempertahankannya

bahasa menjanjikan pemahaman
tapi isinya hanya lubang-lubang kecil
tempat emosi jatuh
dan tidak pernah kembali

mungkin, di antara semua percakapan
hanya kesunyian
yang tidak pernah salah kutip

Post-Mortem untuk Gender

aku lahir tanpa memilih
tapi dunia segera menyiapkan dua kolom
dan sepasang baju bayi
yang sudah diberi label harga

di akta kelahiran, aku jadi satu huruf
di kamar mandi umum
huruf itu berubah jadi tanya-tanya
yang harus dijawab cepat
agar tidak menimbulkan kecurigaan

aku diminta memilih
antara ritual
atau sanksi sosial yang tidak tertulis
tubuhku dijadikan keputusan
yang tidak pernah kuajukan

pernah aku membayangkan tubuh netral
bukan yang bebas sepenuhnya
hanya yang tidak terus menerus
diukur dan diperbaiki
oleh monolog yang mengaku wajar

kalau nanti aku mati
tolong jangan beri aku batu nisan
dengan kategori
cukup tulis
ia pernah hidup sebagai dirinya sendiri
meski dunia tidak pernah menyediakan kolomnya

Tubuh Perempuan dalam Format PDF

aku ingin menghapus payudaraku dari berkas digital
agar tubuh ini tidak disensor
sebelum sempat dibaca utuh

tubuhku terlalu besar untuk satu halaman
terlalu politis untuk paragraf pembuka
dan terlalu tidak patuh
untuk tanda tangan persetujuan

kalau boleh, aku ubah sel-selku jadi metadata
jenis kelamin: tidak tersedia
letak luka: dihapus berkali-kali
hak akses: terbatas

aku tidak sedang telanjang
aku hanya kehilangan pilihan
untuk berpakaian
tanpa ditebak iman atau moral
siapa pun yang mengunduhku

Tuhan Tidak Pernah Menjawab Email Terakhirku

pagi itu aku menyeduh kafein
dari berita kemarin
seorang anak meloncat dari lantai sembilan
dan menulis status sebelum tubuhnya pecah
“aku bukan korban
aku hanya tidak cukup kuat untuk terus ada”

sejak itu, notifikasi menjadi bentuk baru dari doa
aku berdoa kepada Tuhan
melalui kotak masuk
yang tidak pernah dibuka

subjek: tolong, jangan ganti algoritma
sebelum aku sempat bicara

tiap malam aku mengetik nama seseorang
di bilah pencarian
yang tidak lagi memunculkan apa pun

mungkin ia sudah mati
atau mungkin hanya mengganti nama

aku mulai percaya
kehilangan adalah server
yang rusak pelan-pelan
dan kesepian
adalah folder spam
tempat percakapan gagal
disimpan sebagai angka

kadang aku mencoba menghapus diriku sendiri
tapi sistem berkata
akun ini masih terhubung

aku tidak tahu
kepada siapa

Museum Organ Dalam

aku menyimpan tubuhku
seperti kota yang tidak diberi nama
ginjalku menyaring trauma
ususku memanjang
seperti kronologi kesehatan
yang terus dicerna
tanpa pernah dihapus

paru-paruku memutar ulang suara ayahku
saat ia batuk di kamar mandi
dan tidak pernah keluar
sebagai orang yang sama

darahku berjalan seperti kurator bingung:
terlalu banyak artefak
yang ingin ia pamerkan
tidak ada ruang cukup luas
untuk menjelaskannya

kadang aku ingin menggantung label kecil
di setiap organ dalamku:
ini luka dari tahun itu
ini ketakutan yang tidak sembuh
meski aku tertawa

tapi siapa yang mau datang
ke museum
yang tidak menyediakan pintu keluar?

*****

Editor: Moch Aldy MA

Sofia Mahdi
Sofia Mahdi Eksistensi bersifat opsional

Kewawasan

May Wagiman May Wagiman
3 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email