Beberapa hari ini, beranda threads saya dipenuhi dengan aksi para pendeta yang menyuarakan kondisi terkini dari negara kita dalam khotbahnya. Beberapa pendeta pun banyak menggunakan gestur tiga jari, dan mengajak jemaat tidak hanya diam dan sekadar patuh saja, melainkan ikut bersuara demi keadilan bagi rakyat. Beberapa warganet mengomentari postingan-postingan terkait pendeta yang bersuara di mimbar dengan dukungan, tetapi tidak sedikit juga yang kontra terhadap sikap para pendeta yang berani bersuara di atas mimbar.
Banyak yang berkomentar bahwa Gereja harus bersikap netral. Beberapa juga mengatakan bahwa Gereja seharusnya tidak berpolitik. Yang coba saya pertanyakan ialah apakah manusia dapat benar-benar bersikap netral? Dan apakah Gereja tidak boleh berpolitik? Memangnya siapa yang mengatakan bahwa Gereja tidak boleh berpolitik?
Baca juga:
Perihal Gereja yang seharusnya bersikap netral. Manusia merupakan makhluk yang hidup dengan budayanya, Kita berbahasa sebagai akibat dari pembentukan budaya. Hal tersebutlah yang membedakan kita dengan hewan yang berkomunikasi sebagai akibat dari kondisi biologis. Sebagai makhluk yang berbudaya, tentu manusia tidak dapat dilepaskan dari ideologi yang sudah tertanam di kepalanya.
Cara pandang kita dalam melihat segala sesuatu dan situasi, secara tidak sadar, dipengaruhi oleh ideologi yang kita anut. Lalu, apakah kita bisa memandang segala sesuatu dengan netral? Apa yang dilakukan para pendeta yang bersuara di mimbar merupakan sesuatu yang ideologis, tentu saja. Tetapi, dalam situasi politik masa kini, pilihan kita sebagai manusia hanyalah berpihak kepada rezim atau berpihak pada mereka yang lemah dan teraniaya. Dan apa yang dilakukan para pendeta yang bersuara tersebut merupakan bentuk solidaritas sebagai manusia agar kita semua dapat mencapai common good.
Gereja tidak boleh berpolitik? Tapi kalian lupa bahwa yang membuat manusia berbeda dari ciptaan lain adalah politik. Seperti kata Aristoteles bahwa manusia adalah Zoon Politicon, yakni hewan yang berpolitik. Jika anda mengatakan bahwa tidak semuanya tentang politik, anda harus sadar bahwa segala sesuatu di dunia ini telah dipolitisasi. Dan bagi umat Kristen yang mengatakan bahwa Gereja tidak boleh berpolitik, hendaknya perlu membaca ulang injil kembali. Apa kalian lupa bahwa Yesus mengabdikan dirinya untuk melawan penjajahan dari pemerintahan Roma?
Baca juga:
Coba kita baca kembali ajaran-ajaran Yesus dengan segala perumpamaannya itu. Salah satu tugas pendeta adalah mengabarkan injil di atas mimbar. Secara harafiah, injil memiliki arti kabar baik. Dan sudah seharusnya kabar baik yang diberitakan di atas mimbar pada saat ini adalah menyuarakan keadilan dan melawan ketidakadilan yang disebabkan rezim yang dzolim.
Sebagai umat Kristen yang hidup di negara dengan situasi politik yang tidak stabil, sudah saatnya kita merefleksikan kembali salib yang dipikul Yesus untuk membebaskan umat dari penindasan Romawi. Jika sebagai umat Kristen kita tidak bersuara, kita perlu merefleksikan kembali arti menjadi Kristen yang sesungguhnya. Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi sesama manusia, akan janggal jika kita malah diam saja ketika melihat situasi politik yang merugikan rakyat? Coba renungkan kembali.
Para pendeta sudah memulai untuk berani bersuara di atas mimbar demi keadilan. Lalu apa tugas kita sebagai umat? Tentunya dengan tidak bersikap pasif dan menyebarkan “Injil” bagi para masyarakat. Tidak mungkin untuk tidak berpolitik sebagai seorang manusia. yang terpenting adalah politik yang diterapkan bukan sekadar mencari keuntungan pribadi. Dan berpolitik yang seharusnya adalah berpolitik yang mengutamakan solidaritas bagi sesama manusia. (*)
Editor: Kukuh Basuki
