Tunggu
Ia mengecek kotak masuk
seperti seorang ibu memeriksa suhu anaknya:
dengan cemas, dengan sabar, dengan sedikit rasa bersalah
karena berharap sesuatu yang belum tentu pulih.
Subjek email kosong,
tapi pikirannya penuh
dengan kata-kata yang semalam ia jahit
pakai benang gugup dan jarum ragu.
Ia membaca ulang puisinya
dengan napas orang yang mencium kertas hasil ujian:
apakah terlalu personal?
terlalu gelap?
terlalu jujur untuk dunia yang mencintai metafora ringan?
Notifikasi bunyi.
Bukan dari redaktur.
Hanya diskon belanja,
dan kabar kematian penyair yang tulisannya baru terbit
setelah ia wafat.
Ia memandangi layar
seperti jendela rumah yang belum diketuk siapa-siapa.
Tapi ia tetap duduk,
menyusun puisi baru
karena tidak semua penantian harus diisi dengan harap—
kadang cukup dengan kata yang pelan-pelan
menyembuhkan yang ditolak.
–
Tanggapan
Ia menulis dari kamar sempit di lantai dua, dengan dinding yang retak-retak seperti harapannya sendiri. Di luar, hujan turun seperti peringatan. Ia mengirim puisinya seperti orang miskin mengirim anaknya ke kota: dengan doa yang terlalu panjang dan bekal yang terlalu sedikit. Sudah dua belas kali ia menyusun kalimat pembuka, menghapus, lalu menulis ulang. Ia takut terlalu percaya diri, tapi juga takut terlalu rendah hati. Lalu ia menunggu. Satu minggu, dua minggu, tiga minggu. Kotak masuknya tetap sunyi, seperti ruang redaksi yang tidak ingin diusik. Ia mulai curiga barangkali bukan puisinya yang gagal, tapi namanya. Terlalu asing. Terlalu rumahan. Terlalu sederhana untuk terbit di halaman sastra. Tapi ia tetap menulis. Karena di dunia yang terlalu banyak suara, mungkin yang paling layak diberi tempat justru mereka yang terus bicara, meski tak ada yang membalas.
–
Redaksi
Ia membaca ulang puisinya seperti seseorang membuka kembali luka lama. Kata demi kata, ia kira sudah cukup jujur. Sudah cukup perih. Tapi entah mengapa, tak juga dipanggil masuk ke dalam ruang sastra yang gemerlap. Barangkali puisinya terlalu pendek. Terlalu gelap. Terlalu tidak menjual. Barangkali redaktur itu sedang sibuk. Atau barangkali redaktur itu sedang menertawakannya dari balik layar: seorang penulis kecil dari kota kecil yang masih percaya kata bisa mengubah dunia. Ia tahu, di setiap laman majalah ada yang harus dikorbankan. Dan kali ini, mungkin puisinya adalah korban. Tapi bukankah setiap penyair lahir dari kehilangan yang terus-menerus?
–
Ditolak
Ia membuka lampiran itu pelan-pelan, seperti membongkar hadiah yang tahu-tahu isinya adalah penolakan. Redaktur berkata: puisinya belum menemukan bentuk yang tepat. Tapi di kepalanya, bait-bait itu justru terus hidup, merayap ke dinding, duduk di atas gelas kopi, bersembunyi di bawah bantal, kadang ikut berbisik saat ia membaca berita buruk. Ia tahu: tak semua puisi ingin dimuat. Sebagian hanya ingin disimpan, agar seseorang, entah kapan, menemukannya—di sela-sela hidup yang remuk, dan berkata: “Ternyata aku tak sendiri.”
–
Tak Selesai
Puisi itu telah ditulis berkali-kali. Di catatan ponsel, di belakang struk belanja, di pinggir mimpi yang tak tamat. Tapi setiap kali hendak diberi titik, ada kalimat baru yang memohon dibacakan. Seperti kota yang selalu dibangun ulang setelah gempa, ia tahu: baris-baris itu tak ingin selesai. Mungkin karena hidupnya sendiri tak pernah utuh. Atau mungkin, karena ia menulis bukan untuk mengakhiri—melainkan untuk terus mengingat.
(Yogyakarta, 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
