Sur-el dari Tuhan

Hidayatul Ulum

6 min read

Saya suka menerima surat elektronik atau sur-el. Saya sering menyegarkan lamannya, mengecek kotak masuk hingga kotak spam berkali-kali, sekadar memastikan tidak ada surat yang luput saya periksa dan baca. Saya berharap menerima sur-el yang membawa pesan eksistensial, terserah dari siapa saja. Itulah sebabnya saya pernah menunggu sur-el dari Tuhan yang ternyata tak kunjung-kunjung datang.

Waktu berlalu. Saya masih suka memantau sur-el yang masuk. Rutinitas memeriksanya hampir selalu berlangsung khusyuk. Dan ketika suatu waktu terpikir bahwa mungkin saja sur-el terlalu kuno bagi Tuhan, menerima sur-el dari-Nya perlahan-lahan menjadi keinginan yang terlampau muluk dan akhirnya hilang bentuk.

Hingga suatu pagi—tepatnya tadi—saya menerima sur-el fantastis.

Dari Tuhan? Bukan.

Dari Negara.

Selamat! Anda terpilih sebagai guru yang akan mengajar di ibu kota baru Negara dan berkesempatan menjadi salah satu pendidik pertama di sana.

Demikianlah sekilas bunyi badan sur-el dari Negara yang dikirim ke alamat sur-el saya tertanggal hari ini, 04 Juni 2025. Negara juga melampirkan dokumen-dokumen resmi terkait pengumuman tersebut seperti rincian lokasi ibu kota baru, jadwal waktu keberangkatan, serta hal-hal lain yang perlu saya baca dengan cermat. Semua lampiran itu berlabel sangat rahasia.

Saya merasakan déjà vu ketika membaca label itu. Seperti … tidak asing. Dan sekarang, saya mengalami lewah pikir. Saya pernah dengar, orang yang mendapat sur-el dari Negara dan berlabel sangat rahasia dianggap sangat istimewa dan langka karena hanya sekian persen warga negara yang mendapatkannya.

Anda—entah entitas apa dan sedang di zaman apa—juga jangan salah sangka. Ibu kota baru Negara yang dimaksud pada sur-el itu bukanlah ibu kota yang mungkin Anda bayangkan. Anda tidak bisa menanyakan lokasinya dengan pertanyaan di mana, karena jawabannya tidaklah sederhana. Namun, kalau Anda bertanya berapa lama untuk sampai ke sana? Maka jawabannya amat mudah diucapkan—meski sulit dicerna nalar: jutaan tahun cahaya.

Ya, Anda tidak salah baca. Lokasi sekolah tempat para guru terpilih mengajar, konon, jutaan tahun cahaya dari ibu kota lama. Tadi sekilas saya baca pada rincian lokasinya, ada penyebutan sektor-sektor di Galaksi Andromeda.

Mencengangkan? Bahkan sudah lebih dari gila kalau bisa saya katakan. Namun, bagaimana lagi, Negara memang suka berbuat terlalu jauh sampai lupa kalau roket bukan kendaraan yang bisa dicegat di perempatan meski rakyatnya sudah bersolek sejak subuh. Ambisinya ‘memindahkan ibu kota’ bukan lagi sekadar alasan politis saja, melainkan juga impian futuristis yang terlampau muluk hingga obsesi populer sampai ke luar tata surya.

Sekali lagi bayangkan. Andromeda! Tidakkah sistem bintang Alpha Centauri pasti akan menjerit-jerit karena pilihan irasional ini?

Hah … saya sudah termasuk membocorkan informasikah?

Jika kita di zaman yang sama, saya harap Anda tidak melaporkan saya ke Negara. Akan tetapi, jika tidak sezaman, ya sudah. Lagipula, apa gunanya melaporkan saya jika pada saat membacanya, hukum Negara yang mengatur ini sudah kedaluwarsa? Yang terpenting, sekarang saya pastikan, catatan pribadi ini hanya saya, Tuhan, dan malaikat di kiri-kanan yang mengetahuinya. Mungkin ada beberapa jin yang kepo, tapi toh, mereka tidak kasatmata, tho?

 

Ngomong-ngomong, apakah Anda penasaran reaksi pertama saya ketika membaca sur-el dari Negara? Perut saya langsung mulas. Degup jantung saya berkejar-kejaran. Iramanya seperti genderang perang yang ditabuh prajurit kesetanan. Otak saya dilumuri pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya sepanas tungku pembakaran tembikar:

Apakah saya akan ditidurkan di kapsul hibernasi seperti Aurora Lane di kapal bintang futuristik secanggih Avalon? Tapi, bagaimana jika ada penumpang egois seperti Jim Preston?

            Ataukah hanya otak saya yang diberangkatkan pesawat luar angkasa, beku di dalam tabung khusus berparasut nanofiber, melewati ledakan-ledakan bom nuklir yang melesatkan saya lebih cepat ke tujuan, seperti Will Downing yang penuh pengorbanan? Sungguh amankah saya dalam perjalanan?

Seketika pula, macam-macam pikiran lain berkelebat dalam kepala. Tentang masa pengabdian saya sebagai guru yang sudah lebih dari dua dekade lamanya; puluhan buku pelajaran dan pengembangan diri yang telah saya tulis dan publikasikan; puluhan artikel penelitian yang terbit di jurnal-jurnal ternama; ratusan esai pendidikan yang dimuat media-media; hingga ribuan murid yang pernah saya ajar dan luluskan, tapi tak saya ingat semua namanya.

Isi sur-el itu menunjukkan bahwa saya orang yang sangat layak, ‘kan?

            Tidak mungkin salah alamat, ‘kan?

Anak-anak dan suami terus berkata, sudah sepatutnya saya berbahagia, bukan malah bermuram durja. Urusan bagaimana nanti mekanisme keberangkatan ke ibu kota baru Negara atau bahkan dalam bentuk seperti apa—kata keluarga saya—yang terpenting adalah kesadaran bahwa saya layak mendapat kesempatan itu. Mereka tampak sangat bangga dan tidak mengkhawatirkan apa-apa.

Saya tentu ingin meyakini hal yang sama, sedang mengupayakannya, tapi membayangkan ke Andromeda tanpa tahu detail caranya, sungguh mendebarkan hingga nyaris terasa mengerikan.

            Apakah saya masih akan hidup?

            Masih bisakah otak beku dan renta saya nanti mengajar?

            Murid-murid dengan intelegensi seperti apa yang akan saya ajar?

            Bahkan …

            Bumi yang nanti telah jauh saya tinggalkan, masihkah bulat menawan?

 

Kabar tentang sur-el yang saya terima, meski telah saya wanti-wanti ke keluarga inti untuk merahasiakannya, ternyata tetap tersebar juga. Awalnya hanya di grup WA keluarga, tapi kemudian menyebar luas dan cepat ke grup WA sekolah, angkatan alumni, tetangga, hingga ke kanal-kanal berita, media, dan jagat maya. Maka dalam sekejap, saya menjadi viral. Tak bisa saya pungkiri, euforia mulai menguasai sanubari.

Saya jadi sering tersenyum. Tak henti-hentinya bersyukur. Jelas, segala bentuk pujian membuat saya merasa sangat terhormat sekaligus bangga sampai-sampai membayangkan mekanisme magis pergi ke ibu kota baru Negara dengan melambaikan tangan dari bahtera angkasa berhias bunga pada malam berbulan terang dan bertabur bintang. Diiringi lampion-lampion indah yang turut melayang-layang membersamai perjalanan. Dilepas keluarga, handai tolan, hingga murid-murid saya dengan air mata mereka yang penuh haru-bahagia.

Ah, alangkah indahnya!

Dan oh, saya mendengar suara, sangat halus … sekali. Jauh lebih halus dari kain sutra terlembut yang pernah saya beli dari toko penjual kain berkualitas tinggi.

“Kamu sedang gembira. Pinjamlah pakaian Tuhan,” bisiknya.

“Sungguh? Saya boleh congkak?” tanya saya lirih. Masih sungkan.

“Tentu boleh. Tak apa-apa meminjam pakaian Tuhan sesekali. Pencapaianmu luar biasa. Negara tidak salah pilih.”

Saya tersenyum makin lebar—selebar pakaian Tuhan yang telah saya pinjam dan kenakan yang kini tengah berkibar-kibar. Kepala pun makin terasa besar. Dagu saya meninggi, menantang awan.

Saya pasti akan dikenang sebagai pahlawan paling sejati dari bumi! Saya! Saya!

 

Sepanjang hari saya sibuk membalas pesan-pesan berisi ucapan selamat, harapan, dan doa-doa. Terima kasih dan aamiin adalah dua ungkapan yang paling sering saya ketikkan untuk membalas pesan-pesan itu hingga jari-jari saya hafal dan otomatis mengulanginya setiap ada pesan masuk baru tanpa benar-benar baca seluruh isinya karena yakin semua orang sedang menyelamati saya.

Namun, lama-lama saya merasa gerah. Pakaian besar dan agung milik Tuhan itu tiba-tiba makin terasa sangat berat dan sesak untuk badan saya yang sudah bertahun-tahun ditimbun lemak. Saya mulai merasa bahwa congkak bukanlah pakaian yang cocok untuk saya kenakan. Dan sepertinya memang hanya Tuhan, satu-satunya yang pantas mengenakan.

Akhirnya, pakaian Tuhan itu saya sampirkan di sandaran kursi kerja yang warnanya mulai mengusam, kemudian saya menepi sejenak dari euforia sekitar dan membuka kotak masuk sur-el seperti biasa. Ratusan pesan baru telah membanjirinya.

Rata-rata bernada sama: ucapan selamat, pertanyaan kapan akan berangkat, dan beberapa negosiasi tentang urusan utang piutang yang sejujurnya masih malas saya tanggapi. Namun, ada satu sur-el yang subjeknya singkat, padat, dan jelas: Pengakuan. Lampirannya terasa memunculkan perasaan déjà vu lagi. Sebuah dokumen berjudul Surat Rahasia.

Dokumen itu membuat saya terhenyak. Isinya begitu jujur dan sedikit membuat sesak. Bahasanya semi-formal dan samar-samar saya merasa ada muatan eksistensial. Berikut salinannya:

            Perkenalkan, saya Isla.

            Murid yang pernah Ibu ajar lima tahun silam.

            Mungkin Ibu sudah lupa wajah saya dan itu tidaklah mengapa.

            Sebelum Ibu berangkat ke ibu kota baru Negara seperti yang diberitakan berbagai media, saya ingin menyampaikan sesuatu tentang peristiwa lama yang bertahun-tahun telah menjelma luka di hati saya. Meski apa yang terjadi di antara kita telah lama lewat dan kita pernah saling memberi maaf di putih suci hari lebaran, meluruskan hal tersebut sekarang adalah hal yang sangat ingin saya lakukan. Sebab, mungkin saja maaf-memaafkan kala itu masih sebatas keformalan hari besar belaka.

Membacanya, seketika kepala saya menengadah ke langit-langit. Kedua kelopak mata saya menyipit. Sama sekali tidak muncul ingatan yang spesifik. Isla? Dia … murid saya yang mana ya? Tulisan berikutnya langsung saya sambar tanpa menunggu waktu lama.

            Ibu masih ingatkah pada murid bimbingan Ibu yang tidak mengabari jadwal presentasi lomba kepenulisan, tapi tahu-tahu meminta tanda tangan untuk laporan?

            Ibu masih ingatkah pada murid yang tiba-tiba sudah berdiri di depan rumah dan tidak Ibu terima lantaran tidak ada janji temu dan masa itu sedang musim wabah?

            Ibu juga masih ingatkah pada murid yang menurut asisten Ibu telah mengadu, mengatakan sesuatu yang ia tangkap seolah-olah Ibu mempersulit, padahal sebenarnya telah banyak membantu?

            Murid itu adalah saya, Bu.

            Barangkali, semua peristiwa itu selama ini melekat pada ingatan Ibu dengan nama Isla, tapi tidak disertai ingatan akan wajah saya.

            Saya mohon maaf.

            Pertanyaan-pertanyaan barusan, tentu sedikit mengusik sukacita Ibu sekarang. Namun, surat ini sungguh adalah perpanjangan tangan saya yang ingin meluruskan kesalahpahaman di antara kita.

            Bertahun-tahun, sejak saya melihat wajah Ibu yang biasanya teduh tiba-tiba berubah merah oleh api amarah yang saya sulut—meski tanpa benar-benar bermaksud—saya tidak lagi dapat memandang Ibu dengan cara yang sama.

            Saya takut. Saya merasa buruk. Saya sangat trauma.

            Bagaimana caranya menjelaskan dengan lebih lapang dan leluasa bahwa pada hari saya tidak mengabari jadwal presentasi, ada perasaan gugup dan ketakutan yang menutupi inisiatif, ingatan dan kewajiban?

            Bagaimana caranya menjelaskan dengan kerendahan hati bahwa pada hari saya muncul di depan rumah Ibu, ada pesan-pesan terkait permohonan izin dan tanda tangan yang sama sekali tidak Ibu beri balasan?

            Bagaimana pula caranya menjelaskan dengan sedalam-dalamnya penyesalan bahwa pada hari saya dianggap mengadu kepada asisten Ibu yang saya pikir dapat saya percaya; ada kegelisahan batin, kebuntuan berpikir, serta kebutuhan akan jalan tengah terbaik karena tenggat pengumpulan laporan makin dekat, sementara tanda tangan Ibu belum juga saya dapat?

            Saya sungguh-sungguh memohon maaf atas segala salah dan khilaf.

            Nanti …

            Saat Ibu berangkat ke ibu kota baru Negara—melesat di antara bintang-bintang—menempuh perjalanan yang saya dengar sejauh jutaan tahun cahaya …

            Saya tidak ingin, ketika melihat langit teringat ada seorang guru yang sangat saya sayangi, pernah tak sengaja terluka oleh belati komunikasi yang alpa saya asah dengan teliti.

            Saya hanya ingin ketika menatap cakrawala dan luas semesta, justru teringat ada seorang guru yang pernah berkenan memeluk luka-luka saya dan menyembuhkannya, mungkin sekadar lewat senyum ketika membaca atau mendengar nama saya: Isla.

Sur-el pengakuan Isla membuka mata dan hati saya lebar-lebar. Bukan hanya karena mulai meyakinkan saya bahwa merasa congkak atas penghargaan sebagai guru terpilih, guru dengan segudang prestasi, atau pengabdi pendidikan puluhan tahun semestinya tidak perlu; melainkan juga karena memunculkan kesadaran: semua itu tak berarti jika ada satu murid saja yang pernah, bahkan tanpa sengaja, saya lukai hatinya—dan untuk sembuh, ia butuh waktu yang lama. Sebab, ia menanggung luka itu diam-diam, menyimpannya dalam ingatan, tanpa tahu cara yang tepat untuk meluapkan atau melupakan.

Saya sampai berpikir. Mungkinkah sebenarnya sur-el Isla adalah sur-el berisi pesan eksistensial yang selama ini saya nantikan? Ya … bisa saja. Sebab sur-el itu menghadirkan renungan mendalam tentang hubungan kami sekaligus mengubah upaya saya mengingat sosoknya. Bukan lagi dengan tanya, dia murid yang mana ya?; melainkan dia ingin mengenang saya dengan cara terbaik yang dia bisa, ya?

Sudut bibir saya sempat melengkung ke atas. Saya ingin menanggapi sur-el Isla dengan ketulusan yang setara, tapi tulisan noreply yang menyertainya membuat saya seketika kecewa. Termenung.

Tertutupkah jalan bagi saya meleburkan kesalahan yang menggunung?

Hal-hal yang terjadi belakangan ini juga tiba-tiba menyeruakkan kembali memori tentang keinginan menerima sur-el dari Tuhan. Saya tidak benar-benar ingat, suatu kali dalam hidup pada masa itu, apakah saya terlalu rindu diajak berkomunikasi oleh-Nya ataukah ada rasa tidak puas sehingga punya nyali besar menantang-Nya berkomunikasi dengan saya? Namun, saya cukup ingat, momen itu pernah saya abadikan dalam puisi.

Ketika saya membacanya kembali setelah lama lupa pernah ada—saya merinding. Saya bersumpah, pakaian congkak milik Tuhan yang kini tersampir di sandaran kursi, tidak akan saya pinjam dan kenakan lagi.

Sur-el dari Tuhanku

            Aku punya keinginan

            Kuharap Tuhan berbicara kepadaku lewat sur-el

            Subjeknya: Untuk hamba-Ku Tercinta

            Lampirannya rahasia, hanya kami yang tahu isinya.

            (2024)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Hidayatul Ulum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email