Membaca Berita dan Puisi Lainnya

Ahmad Rizki

3 min read

dini hari di rumah itu

ibuku selalu tidur
sebelum ayam menemukan suaranya
di balik tenggorokan malam. ia
bangun ketika bintang terakhir
terbakar di tepi kudeta kedua, ketika
langit menggulung dirinya seperti
surat yang tak pernah selesai
dibaca. wajahnya dijahit
oleh segelas beras
kencur, kunyit asam, dan padi
yang mengering di bibir gelas kayu.

rumah itu pernah memelihara hujan.

kini hanya anak tangga keempat
yang mengingat bekas telapak
revolusi, sementara identitas
berkarat di sela kusen. ibuku
mengenakan kaus katun
bergambar seekor kelinci
merah, tetapi di bawah kukunya
masih tinggal debu musim
yang tak pernah diajarkan
sejarah, setelah nama-nama dihapus
dari pohon keluarga dan diganti angka.

napasnya bergerak seperti lokomotif
tua yang menyeret malam
melewati desa. setiap desirnya
adalah palu yang menempa
kembali tubuhnya menjadi logam
yang tidak pernah selesai dingin.

pernah ia berkata, aku telah menjadi
kerikil, dan karena tak lagi memiliki
satu bentuk untuk dikenali.

ia tak lagi mengerti
mengapa sebuah nama
harus ditulis berulang kali
di atas kertas, seolah huruf-huruf
dapat membuktikan
bahwa seseorang pernah hidup.

separuh keluargaku
berjalan seperti petani
yang pulang sebelum senja
ke ladang, yang lebih sunyi
daripada pemakaman.

mereka membawa cangkul
untuk menanam musim
yang tak pernah selesai dikuburkan.

malam menumbuhkan
ribuan mata
di balik daun-daun sirih.

dan ibuku mengira hujan
masih mampu membersihkan ingatan
atau mendengar batu-batu
retak di dalam tubuhnya sendiri.

padahal, ketika ia
menoleh, tak ada siapa-siapa
kecuali warisan generasi
dan seolah sejarah
selalu mengetahui
alamat rumah kami

meski kami tak memiliki rumah.

ibuku selalu tidur
sebelum ayam menemukan suaranya
di balik tenggorokan malam. Ia
bangun ketika bintang terakhir
terbakar di tepi kudeta kedua, ketika
langit menggulung dirinya seperti
surat yang tak pernah selesai
dibaca.

(2026)

–

buku merah

aku menyalin beberapa ijtihad
yang kehilangan keinginan untuk taubat
menuliskan lebih banyak kedalaman
yang mati oleh subjek pikirannya sendiri
tetapi bunga berubah menjadi ideologi
berkibar melintasi semarang
menyumbat belanda dan
denyut nadi permata yang tersembunyi
batu yang diam

zaman bergerak melingkari
atap soviet dengan rintih
remaja yang ceroboh barangkali
kesepian karena sulit membedakan
permintaan dan kemerdekaan
pada beberapa aksen yang diucapkan
atau kata-kata yang dituliskan
dari jelaga kamus bahasa indonesia

kita bersaudara oleh kebingungan bersama
aku balik lembar yang liyan

seorang pengantin perempuan
menyeret batik di antara pohon genjer
meninggalkan jejak garis yang
berkelok di permukaan

sementara kabar dari penguasa
setiap awal tahun
melintas dalam musim panas
tetapi saat musim dingin
lima kantung gula lebih menghibur
daripada candu mana pun
dan karena itu
tak mungkin salah
ketika banyak orang bertanya

aku kembali ke halaman awal
dan mencoba melafalkan
meja hijau dari dunia bawah
dengan darah
namun aku tak sampai
menangis di tepi sungai
atau memohon senjata
agar membawaku pulang

…. kubiarkan angin
berpikir menggantikan diriku
membuka halaman lain
agar dapat melengkungkan ideologi

aku pendusta karena kadang
itulah bentuk
yang perlahan dikasihani
setelah memotong akar sendiri
dan mengembara

aku belum berhasil menakar mitos
dari mulut yang tak pernah berhasil
kubaca di lembar ketiga

aku hidupkan kata di lembar kedua
dan bahasa belanda, kata kerja
berarti bekerja

seekor semut
merayap di atas buku

halaman bekalang hanya
berbentuk kubah
di dalam labirin gua
hingga menjadi cermin
namun ketika kau menatapnya
tak ada apa pun
gelapnya terlalu pekat

belum, aku pun belum paham
sedikit cahaya menimpa
sebuah wajah dan karena itu
wajah itu terlihat: seekor rusa
yang setiap bulan—sekali lagi—menjelma
nahkoda yang hilang pikiran
perselisihan—pisau kecil—untuk
mengupas mimpi
tetapi musim hujan
membentangkan urat-uratnya
ke pohon kelapa
dan pria dewasa membangun rumah
yang dahulu dibunyikan
raja-raja, yang tak mengenal sakit
beberapa perlawanan yang membuat
benih sedingin batu mekar
di tanah bisu milik pikiran yang berduka

menang adalah subjek bagi dirinya sendiri
dan menyenangkan membayangkan
ada kemungkinan lain
tetapi untuk menjadi bijaksana?

aku menyalin beberapa ijtihad
yang kehilangan keinginan untuk taubat
dan belum selesai juga berkhianat
dari kesamaan rasa yang tersesat

(2023)

–

membaca berita
: buat Wahyu Arya

setiap pagi
matahari remaja merakit wajahku

mataku tertinggal di koran
menangis tanpa air
di bawah garuda yang terjaga

kuambil ia
jelaga berpindah
ke dalam anak bahasa

bibirku berjaga
di depan kanal berita

aku menunggu
sepotong indonesia
yang datang
hanya angka

mulutku pindah ke jendela
memaki angin
yang bekerja sebagai juru bicara

hidungku mencium puisi
baunya seperti besi
yang lupa menjadi darah

lalu pagi selesai
dan wajahku
dicuri negara

(2026)

–

alun-alun serang

aku terjaga oleh berita.
sekantung wacana menguap
di udara alun-alun
dan paru-paru plastik
yang semalaman menghirup alkohol.
anak-anak di kepalaku berlari
melintasi aspal, dan trotoar
memungut telapak kakiku
ke dalam retakan semen.
tiga raja di papan bilbor
mengunyah matahari
sampai siang berbau tinta.
seorang tukang ojek lewat.
jaketnya menyimpan puisi
yang lupa kepada tangan.
kakiku berubah menjadi majalah
dan matahari membalik halamannya.

aku terjaga oleh berita.
seorang pria menolak upah rendah
lalu tujuh bayangannya
ikut mogok kerja.
pohon-pohon menjulurkan lidah hijau
dan mengeja republik
tetapi angin hanya membaca iklan.
sementara dari ruang rapat
uap teh berubah
menjadi burung-burung hitam
yang terbang rendah
di atas kepala para pemberontak

aku mencari sebuah negeri.
yang kutemukan
helm proyek tanpa kepala
kursi plastik dan di sebelahnya
bendera dijahit dari mikrofon ludah penguasa.
aku mencari suara perempuan
yang tidak dijahit dari tepuk tangan
yang tidak dipasang
seperti baliho baru
menjelang musim pemilu.
lima belas headline
berdiri seperti lima belas gerbang.
setiap gerbang dijaga
seorang hakim
yang kehilangan mata remajanya.
huruf-huruf menggonggong
kamera memelihara ilusi
dan borgol hanya mengenali
pergelangan tangan
yang tak memiliki podium.
beberapa anak-anak berteriak:
nanti kalau sudah ada, aku mau itu
dan mereka mencuci wajah
dengan debu tinggal di etalase.

tetapi cerita apa
yang direkomendasikan
dewan redaksi media utama
setelah seorang mahasiswi
mengirim satu lagi surel
untuk menanyakan honorium?
mungkin huruf-huruf
sedang mengantre sembako.
mungkin tanda baca
yang menunggu giliran
menjadi saksi.

aku terjaga oleh berita.
sekantung wacana
masih bergoyang
di alun-alun.
kendaran berjalan
membawa kantong kresek hitam.
retakan semen
menghafal nama orang
yang masih duduk.
kulit ibu jariku yang mengelupas
hampir sembuh
di musim kemerdekaan
dan dijemur
di sebelah kabel listrik.

aku menekan tombol rekam.
seekor murai berkicau
di balik tembok.

aku terjaga oleh berita.
sekantung wacana
masih bernapas pelan.
mataku menguning.
alun-alun memindahkan langit
ke dalam saku celana.
tubuh manusia menumbuhkan matahari
di bawah lidah kekuasaan
dan seseorang meniup peluit
dari dasar abad
sementara serang
berjalan mencari

rumah.

(2026)

–

ingatan

sebelum pada akhirnya
adakah sebuah permulaan
yang memilih untuk berbeda
ketika—bahkan—garis keturunan
yang paling berliku
tetap mengalir
dari satu titik yang mangkir?

kematian adalah semua nama
yang pernah kaujawab
di beranda:

anak-anak hanya perlu tumbuh

sebelum pada akhirnya
semua garis menjelma marwah
yang siap kaulangkahi

jauh sebelum hitam-putih
yang disebut batas ilahi

sebelum pada akhirnya
adakah sebuah permulaan
yang mengikat tabiat
ketika sekantung khianat
yang mengalir, yang terlahir
dari rumah terakhir?

sebelum pada akhirnya
adakah ingatan abu-abu tua
menyisakan sebuah nama?

(2026)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Ahmad Rizki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email