Pukul tiga lewat empat puluh tujuh menit pagi. Di layar ponsel yang temaram, nama Renan menyala bersama tujuh belas deret pemberitahuan yang berjejer rapat. Aku tidak segera menyentuhnya. Bukan karena terlelap, melainkan sebab aku sedang berusaha mengajari jemariku sebuah tata cara baru: menahan diri agar tidak langsung melompat setiap kali namanya melintasi ambang pintu digital ini. Di samping namanya, masih bertengger sebuah ikon rumah kecil—simbol absurd yang dahulu kami sepakati sebagai tempat pulang. Kini, ikon itu seperti ukiran lama di gerbang sebuah bangunan terkunci; aku tak lagi tahu apakah kunci di genggamanku masih mengenali lubangnya.
Kuketukkan ibu jari di atas kaca yang dingin, membaca baris demi baris dari balik bilah notifikasi tanpa berniat membuka percakapan secara utuh.
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana,” tulisnya di baris pertama.
“Tapi belakangan ini aku merasa kita tidak lagi berjalan ke arah yang sama.”
Lalu, sebuah kalimat penjelas yang rancu dan penuh pembelaan diri, hingga pada baris kelima, dadaku seperti dihantam hampa. Napas tersangkut di tenggorokan.
“Aku meminta maaf. Aku merasa tidak sanggup lagi menanggung kecemasanmu yang berlebihan. Aku mengundurkan diri dari hubungan ini.”
Ia benar-benar mengundurkan diri. Bukan dari pekerjaannya di seberang pulau. Bukan dari percakapan malam yang melelahkan. Bukan pula dari lingkaran pertengkaran yang saban minggu memutari kepala kami seperti burung pemakan bangkai. Ia mengundurkan diri dari persekutuan perasaan yang kami bangun hampir tiga ratus tiga puluh hari belakangan. Cahaya ponsel membakar pupil mataku di tengah kamar yang gulita. Ada kegetiran yang mendadak menjadi satire di dalam dada.
Hampir setahun lalu, lelaki itulah yang mendobrak ketakutanku dengan serangkaian retorika manis. Aku adalah perempuan yang sejak semula alergi pada jarak. Aku tahu betapa rapuhnya kasih sayang yang hanya disokong oleh gelombang sinyal dan pendar piksel. Suara di balik pelantun telepon tak pernah sanggup mengusap bahu yang kaku usai hari yang buruk. Gambar diam tidak akan pernah sanggup menyapu air mata yang jatuh menembus bantal.
Namun waktu itu, Renan meyakinkanku. Ia menyusun kalimat-kalimat yang tidak terdengar seperti obral janji, melainkan dogma. Dan aku, dengan kepolosan yang kini terasa menakutkan, memilih untuk percaya. Mungkin di situlah letak kekeliruan pertamaku: mengira bahwa keberanian seseorang di awal jalan adalah jaminan ia tak akan balik kanan di tengah belantara.
***
Kami bertemu di sebuah aplikasi pertemanan yang mulanya hanya kuanggap sebagai tempat membuang waktu luang. Waktu itu, kami seperti dua orang asing yang berteduh di peron stasiun tanpa niat menaiki kereta yang sama. Renan yang menyapaku lebih dulu.
“Hai Shea, udah baca buku apa hari ini?” tanyanya di kotak pesan kala itu.
“Hari ini aku belum baca buku, aku baca garis tangan, hahaha,” balasku seadanya. “Kamu suka baca juga?”
“Bisa atuh ngeramal aku?” tulisnya cepat, disusul sebuah emotikon tertawa. “Aku jarang sih, paling kalau ada yang menarik aja. Paling komik doang, hehe.”
Percakapan awal kami terasa sederhana namun mengalir. Tidak ada puitika yang meluap, tidak ada latar musik melankolis, tidak ada kilat di langit yang menandai bahwa lelaki di seberang sana kelak bakal menjadi penyebab insomnia berbulan-bulan.
Lalu, keanehan itu dimulai. Suatu hari, sebuah notifikasi surel masuk ke ponselku. Formatnya dirancang persis seperti surat resmi, lengkap dengan tata letak pejabat personalia yang sedang mengajukan lamaran kerja.
Yth. Saudari Shea,
Di tempat
Dengan hormat,
Sehubungan dengan informasi yang saya dapatkan dari bisikan alam mengenai kosongnya posisi pemilik hati Saudari Shea, dengan ini saya bermaksud merekomendasikan diri saya sendiri sebagai Calon Favorit untuk mengisi posisi pemilik hati Saudari.
Alasan rekomendasi:
- Konsisten menghadirkan vibes positif dalam percakapan.
- Bisa diandalkan dalam urusan receh maupun serius.
- Konsisten memberikan semangat dan dukungan, baik di hari baik maupun hari agak malas.
- Siap sedia jadi tim support emosional dan tukang kasih meme.
- Terlatih mendengarkan cerita tanpa interupsi, disertai respons “iya-iya” yang tulus.
Saya percaya, dengan dedikasi dan komitmen, saya mampu memberikan kontribusi nyata dalam membangun suasana hati yang lebih baik setiap harinya. Besar harapan saya untuk mendapatkan kesempatan mengikuti tahap selanjutnya.
Demikian surat rekomendasi ini dibuat dengan sebenar-benarnya, semoga dapat dipertimbangkan. Atas perhatian dan kerja samanya, saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
[Onyetmu – Calon Suami dari Masa Depan]
Aku tertawa sendirian di sudut kamar membaca tingkahnya. Aku membatin: Lelaki ini absurd. Dan celakanya, aku menyukai keanehan itu. Maka dengan jemari geli, aku meladeni permainan perannya:
Yth. Saudara Renan,
Di tempat
Dengan hormat,
Terima kasih telah mengirimkan surat rekomendasi yang unik, rapi, dan penuh percaya diri ini. Jujur saja, baru kali ini saya menerima surat dengan format seformal tetapi selucu ini, seolah saya HRD-nya cinta.
Alasan yang Anda tulis pun menarik. Terutama pada poin tentang “siap sedia jadi tim support emosional dan tukang kasih meme” serta poin “konsisten memberikan semangat dan dukungan, baik di hari baik maupun hari agak malas.” Poin-poin itu terdengar menjanjikan. Meskipun tentu saja, saya perlu melihat bukti konsistensi di lapangan.
Namun, karena saya berpegang pada asas kehati-hatian dalam urusan perasaan, izinkan saya meninjau berkas lamaran ini dengan waktu yang pantas. Anda boleh menunggu di ruang tunggu bernama “proses mengenal lebih dalam,” sambil terus menunjukkan performa terbaik.
Terima kasih atas niat baik dan keberaniannya. Semoga semesta terus membimbing langkah Anda, baik menuju saya ataupun menuju kebahagiaan yang memang sudah ditakdirkan untuk Anda.
Hormat saya,
[Onyetmu – Calon Istri dari Masa Depan]
Tak butuh waktu lama hingga balasan berikutnya tiba di kotak masukku:
Yth. HRD Cinta (Saudari Shea),
Di tempat
Dengan hormat,
Terima kasih atas jawaban penuh kehangatan yang telah Saudari sampaikan. Saya merasa terhormat atas kesempatan untuk menempati ruang tunggu “proses mengenal lebih dalam”.
Saya siap menjalani masa probation dengan performa terbaik: membalas chat tepat waktu, berbagi kebahagiaan, menjadi tempat bercerita, dan menjaga mood Saudari tetap stabil. Saya juga menyadari bahwa proses ini membutuhkan waktu, dan dengan senang hati saya akan menanti hasil evaluasi berikutnya.
Semoga evaluasi berjalan lancar dan semesta mendukung kolaborasi kita ke tahap berikutnya hingga saya menjadi pengisi tetap di hati Saudari.
Demikian tindak lanjut ini saya sampaikan. Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
[Onyetmu – Calon Suami dari Masa Depan]
Namun ketika masa probation main-main itu berubah menjadi perasaan sungguhan, dan ia mulai menyiratkan keinginan untuk melangkah lebih jauh, aku memasang barikade.
“Jarak kita terlalu jauh, Renan,” kataku tegas suatu malam lewat sambungan telepon. “Aku tidak bisa mencintai seseorang yang keberadaannya cuma diwakili oleh pendar layar.”
“Jarak cuma soal angka di peta,” potongnya lembut, namun mantap. “Aku tahu kamu takut runtuh. Tapi biarkan aku jadi orang yang menunggumu di ujung jalan. Tolong, beri aku kesempatan.”
Ia mengetuk pintu dengan ketelitian seorang tukang batu yang sabar. Akhirnya barikade itu runtuh. Aku menyerah bukan karena jarak mendadak memendek, melainkan karena aku terperdaya oleh ilusi bahwa di ujung pulau sana, ada seseorang yang sungguh-sungguh bersedia menungguku.
Maka kami pun menjelma menjadi sepasang kekasih dengan dua kota sebagai penopang tubuh: aku memelihara hari-hari di sebuah kota pesisir yang selalu mengepulkan uap hujan, sementara ia bermukim di kota metropolitan yang riuh dan berdebu.
Cinta kami tumbuh dari fragmen-fragmen kerdil: tangkapan layar, pesan suara singkat, foto piring makan siang yang berantakan, dan tautan video konyol. Bagi orang lain, itu sampah digital. Bagi kami, itulah semen pembentuk dinding. Cara kami saling berbisik dari kejauhan: “Aku ada. Kamu ada. Kita belum musnah.”
***
Aku tidak pernah bisa mencatat sejak kapan pastinya aku mulai menghitung kadar kasih sayang dari hal-hal yang tak kasat mata. Mungkin sejak aku menyadari bahwa hubungan jarak jauh tidak memiliki kemewahan kontak fisik yang mampu menenangkan sesak dada secara langsung.
Aku tak pernah menuntut kiriman barang bermerek. Aku tak pernah meminta sebuket bunga segar yang akan layu dalam tiga hari. Aku tak pernah merengek meminta perhiasan mahal. Aku hanya butuh ditanya bagaimana hariku berjalan usai melewatkan jam kerja yang menguras energi. Aku hanya merindukan foto acak dari sudut jalannya yang dikirim tanpa alasan mendesak. Aku hanya ingin mendengar derap napasnya di telepon saat malam merambat terlalu dingin dan sunyi. Aku hanya membutuhkan sebuah rancangan masa depan—bukan janji megah yang menggantung di awan, melainkan sebuah kepastian kecil yang sanggup kugenggam ketika jarak terasa mengikis waras.
“Suatu hari nanti, kita pasti duduk berhadapan tanpa ada layar kaca yang memisahkan,” ujarnya suatu kali di telepon, nadanya terdengar begitu bersungguh-sungguh.
“Kapan?” tanyaku pelan, menatap gerimis yang membasahi kaca kamarku, meninggalkan jejak-jejak air yang perlahan meluncur turun.
“Segera,” bisiknya lembut. “Aku bahkan mulai menyisihkan sebagian gajiku tiap bulan. Khusus untuk mahar dan persiapan kita nanti.”
Kalimat itu kukantongi rapat-rapat, menyerupai tiket perjalanan bernilai tinggi namun tanpa tanggal keberangkatan yang pasti. Aku tak pernah menagih berapa nominal yang telah terkumpul di dalam rekeningnya. Aku tidak pernah menuntut bukti transfer. Cukuplah kalimat itu kutaruh di lipatan terdalam dadaku sebagai penawar dingin saat malam terlampau pekat.
Maka, bayangkan betapa hancurnya sesuatu di dalam diriku ketika beberapa bulan kemudian, ucapan-ucapan itu pelan-pelan berganti rupa. Pertemuan yang dulu dijanjikan dengan penuh antusiasme mulai diulur dengan alasan-alasan yang rasional namun dingin. Tiket tanpa tanggal itu mendadak terasa seperti selembar kertas lusuh menuju sebuah kota yang sesungguhnya tidak pernah ada di peta manapun.
***
Keretakan pertama tidak dipicu oleh kehadiran orang ketiga secara terang-terangan, melainkan oleh sebuah pencarian yang tak pernah selesai di dalam diri Renan.
Suatu malam, secara tak sengaja, aku mendapati nama Renan masih berkeliaran di ruang-ruang pertemanan anonim melalui fitur radar lokasi pada sebuah aplikasi percakapan. Di sana, di antara deretan jarak yang terukur dalam kilometer, ia rajin menyapa perempuan-perempuan asing. Salah satunya bahkan telah bertukar akun media sosial sekunder dengannya. Aku melihat foto profil perempuan itu: seorang gadis muda dengan pakaian minim dan tatapan menantang.
“Siapa dia, Renan?” tanyaku malam itu, menahan getar hebat di suaraku saat meneleponnya.
“Cuma teman ngobrol biasa. Kamu terlalu posesif dan kekanak-kanakan.” kilahnya santai saat kupertanyakan.
“Aku menutup rapat-rapat semua pintuku untuk lelaki lain sejak memilihmu!” suaraku meninggi, air mata yang sejak tadi kukaitkan di sudut mata mulai meleleh panas. “Tapi kamu? Kamu masih membiarkan daun pintumu menganga lebar-lebar untuk siapa saja yang lewat!”
“Jangan berlebihan,” potongnya dingin dan datar. “Aku cuma butuh teman ngobrol pas lagi jenuh atau penat kerja. Tidak ada perasaan apa-apa. Kamu jangan suka mengarang drama.”
Kenyataan itu menghantam ulu hatiku dengan telak. Keputusanku untuk setia dan menjaga jarak ternyata tidak berbalas kesetaraan yang sama dari pihaknya.
Sejak hari itu, aku menjelma menjadi perempuan yang membenci diriku sendiri. Aku menjadi pengawas yang teliti, cemas, dan paranoid. Kuhafal deretan nama di daftar pengikut akun media sosialnya. Kucatat jeda antara waktu ia membaca pesanku dan waktu ia membalasnya. Dua jam tanpa kabar yang biasanya kuanggap sebagai kewajaran dinamika kerja, kini berubah menjadi deretan prasangka yang menyiksa batin.
Sering kali kulihat statusnya aktif di platform lain, sementara pesan sederhanaku dibiarkan membeku tanpa tanda centang biru.
“Kalau sempat melihat unggahan orang lain, mengapa mengetik sepatah kata untukku begitu berat?” bisikku pada layar ponsel yang bisu di tengah malam yang asing.
***
Lalu muncul nama Talia. Talia bukan sekadar bayangan anonim di aplikasi percakapan. Talia adalah teman satu kantor Renan. Mereka berbagi kubikel yang berdekatan, menghadiri rapat divisi yang sama, dan bernapas di bawah pendingin udara yang sama saban Senin hingga Jumat. Aku mencoba bersikap rasional dan dewasa, tetapi batas-batas pekerjaan itu pelan-pelan meluap hingga ke akhir pekan. Mereka kerap jalan bersama usai jam kantor, mendatangi pameran seni, dan makan malam di kedai-kedai kopi terdekat.
Jarak ratusan kilometer antara kotaku dan kotanya membuat imajinasiku bekerja seperti pisau bermata dua yang menusuk dari dalam.
“Mengapa tidak kamu saja yang terbang ke sini kalau memang merindukanku?” tanyanya suatu hari di telepon saat aku mempertanyakan kapan ia memiliki waktu luang untuk menemuiku. Nada suaranya terdengar kasual, tanpa beban sedikit pun.
Pertanyaan itu menghantamku seperti bongkahan es yang dilempar ke dada.
“Di kotamu aku tak punya siapa-siapa, Renan,” balasku lirik, menahan rasa sesak yang kian membumbung. “Aku tidak punya tabungan berlebih untuk menyewa tempat penginapan berhari-hari. Sementara kamu punya segalanya di sana: pekerjaan tetap, tempat tinggal, dan jaringan teman yang luas.”
“Ya sudah kalau tidak mau,” balasnya singkat dan abai. “Aku kan cuma memberi saran. Kamu selalu rumit.”
Aku tidak meminta keberanian yang nekat atau tindakan gila. Aku hanya merindukan ia berkata: “Tunggulah sebentar lagi. Aku sedang mengusahakan jalan terbaik untuk menemuimu.” Namun kata-kata penenang itu tak pernah lagi keluar dari bibirnya.
***
Puncak dari kelelahan mental ini mewujud dalam sebuah perdebatan banal di suatu malam penghujung minggu. Aku menemukan bukti bahwa Renan masih menyimpan sambungan emosional dan percakapan intens dengan mantan gebetannya dari masa lalu.
“Mengapa masih menyimpan sambungan serapat itu dengan orang yang pernah kamu harapkan?” tanyaku dengan nada tertahan dari balik gagang telepon.
“Kami cuma berteman. Tidak ada maksud apa-apa,” jawabnya santai. “Aku ini tipe orang yang tidak suka memutus silaturahmi hanya karena prasangka tidak berdasar.”
“Ini bukan soal memutus silaturahmi!” kataku, air mata mendadak meleleh deras menetes ke atas meja kerja. “Ini soal menghargai perasaanku! Aku telah membersihkan seluruh masa laluku saat memilihmu. Bukan karena mereka orang jahat, tapi karena aku ingin memberi ruang yang bersih dan aman untuk kita!”
“Kamu selalu mendramatisasi hal-hal sepele menjadi masalah besar,” balasnya gusar dari seberang sana, suaranya dipenuhi kejengkolan. “Aku lelah kalau setiap hari harus terus-menerus memvalidasi ketakutan dan kecemasanmu yang tidak masuk akal!”
Malam itu, seluruh benteng pertahananku yang tersisa runtuh sepenuhnya. Aku menangis meraung-raung di kamar yang terkunci rapat. Jemariku yang bergetar hebat mengetik pesan-pesan panjang yang meluapkan segala rasa sakit hati.
“Aku tidak mau menjadi perempuan yang harus mengajari seorang lelaki dewasa bagaimana cara menghargai pasangannya!” ketikku dengan napas yang memburu dan dada yang terasa sesak.
Lalu, balasan dari Renan datang pada pukul tiga lewat empat puluh tujuh menit pagi itu. Bukannya memberikan penawar atau pelukan hangat lewat suara, ia justru memberikan sebuah eksekusi dingin.
“Kamu terlalu baik,” tulisnya pada baris terakhir pesan panjang itu. “Aku tidak sanggup memenuhi ekspektasimu yang terlalu tinggi. Aku mengundurkan diri.”
***
Di hari-hari berikutnya, aku seperti mayat hidup yang bergerak tanpa jiwa mengitari sudut-sudut kamar. Ibu, yang memperhatikan perubahan garis di wajahku dan piring makanku yang kerap tak tersentuh sama sekali, akhirnya duduk di tepi ranjangku pada suatu sore yang redup. Dengan kelembutan seorang perempuan yang telah memakan banyak garam kehidupan, Ibu mengusap punggungku yang berguncang tanpa mengajukan banyak pertanyaan menghakimi.
Aku menumpahkan seluruh tangisku di pangkuan Ibu. Tentang jarak yang tak pernah terkikis, tentang Renan yang berubah dingin, tentang perempuan-perempuan di layarnya, dan tentang rasa tak berharga yang menggerogoti dadaku saban hari.
Ibu mendengarkan hingga tuntas tanpa interupsi, lalu berkata pelan dengan nada yang sangat dalam, “Niat mencintai orang lain itu baik, Nak. Tapi jika kamu harus mengikis dirimu sendiri menjadi sebegitu kecilnya agar bisa muat di dalam kehidupan seseorang, itu bukan cinta lagi. Itu namanya penghancuran diri secara perlahan.”
Kalimat Ibu tidak serta-merta menyembuhkan luka yang menganga di dadaku, namun ucapan itu seperti paku penahan yang menyelamatkan runtuhnya sisa-sisa harga diriku.
Beberapa malam kemudian, aku mencoba mengumpulkan sisa keberanian terakhir yang kupunya. Kukirim pesan penutup padanya.
“Aku tidak pernah memintamu membuang seluruh duniamu,” tulisku dengan nada yang jauh lebih tenang dan berjarak. “Aku hanya ingin merasa diprioritaskan. Sekali saja. Aku hanya ingin merasa bahwa dalam hubungan ini, bukan cuma aku yang berjuang sendirian menjaga nyala api.”
Aku menunggu di balik layar. Namun jawaban yang datang beberapa menit kemudian justru sebuah penegasan yang angkuh.
“Keputusanku sudah bulat,” balas Renan singkat. “Aku jenuh. Terima kasih untuk segalanya. Jika kita berjodoh, waktu akan mempertemukan kita lagi.”
Sebuah penutup yang sangat rapi untuk sebuah pengkhianatan emosional yang acak-adut. Dengan jemari kaku, aku membuat sebuah unggahan tersirat di media sosial—sebuah tulisan singkat tentang bagaimana dua orang yang saling berjanji meniti hari, bisa mendadak menjadi dua orang asing kembali hanya dalam hitungan detik di dini hari.
Beberapa menit kemudian, sebuah notifikasi muncul di layarku: Renan menyukai unggahan Anda. Aku menatap simbol hati merah kecil itu dengan senyum getir. Betapa mengerikannya zaman ini: sebuah keputusan yang meremukkan hidup dan harapan seseorang sanggup dirangkum dan ditutup hanya dengan satu ketukan tanda suka di layar digital.
***
Tiga ratus tiga puluh hari. Itulah durasi waktu yang tercatat dalam log percakapan kami dari pesan pertama hingga detik ini. Tiga ratus tiga puluh hari nyala pendar yang kami pelihara bersama, kini padam sepenuhnya tanpa menyisakan bara sedikit pun.
Aku sempat mengarahkan ibu jariku ke atas layar, berniat mengetik satu baris kalimat terakhir—mungkin sebentuk makian emosional, atau mungkin kemelaratan rasa mohon yang memilukan agar ia kembali. Namun, di tengah remang kamar, jemariku terhenti di udara.
Ada sesuatu yang mendadak menjadi sangat bening dan terang di dalam kepalaku. Aku menyadari bahwa selama berbulan-bulan ini, aku sibuk melontarkan pertanyaan yang salah kepada diriku sendiri. Aku selalu bertanya: Apakah ia masih mencintaiku? Mengapa ia berubah seradikal ini? Apa kurangku hingga ia berpaling?
Padahal, pertanyaan yang seharusnya kutanyakan pada diriku sendiri sejak awal adalah: Apakah berada di sisinya membuatku makin mencintai diriku sendiri, atau justru membuatku makin membenci dan meragukan bayanganku sendiri di depan cermin?
Jawabannya sudah tergeletak di sana sejak lama. Aku saja yang terlalu menolak percaya bahwa rumah yang kupikir sedang kubangun bersama Renan, sesungguhnya hanyalah sebuah istana angin yang diproyeksikan oleh pendar layar ponsel.
Lelaki itu tidak sedang mengalami amnesia emosional; ia hanya sedang menunjukkan tabiat aslinya ketika topeng kesabarannya telah aus oleh waktu. Rasa sakit ini bukanlah sebuah kegagalan mutlak, melainkan sebuah bentuk penyelamatan dari semesta agar aku tidak makin jauh kehilangan arah.
Pukul empat pagi lewat sedikit. Aku menekan tombol daya di sisi ponselku. Layar menghitam seketika, memantulkan bayangan wajahku yang sembab, namun mata itu tidak lagi gemetar oleh ketakutan.
Di luar jendela kamar, gelap malam mulai memudar perlahan, berganti dengan warna abu-abu kebiruan di ufuk timur. Suara gemerisik daun jambu di pekarangan yang dihantam angin pagi terdengar begitu jelas—sebuah suara riil, dari dunia riil, yang selama ini terabaikan oleh telingaku karena terlalu sibuk mendengarkan nada dering pesan masuk.
Kota pesisir ini masih berdiri tegap. Hujan masih turun dengan pola yang sama. Kakiku masih menapak utuh dan kuat di atas lantai semen yang dingin. Aku meraih buku catatan bertepi kain di atas meja kerja, mengambil pena, lalu membuka halaman kosong tepat setelah lembar terakhir percakapan kami. Di baris paling atas, kusematkan kalimat puitika yang paling jujur yang sanggup kutuliskan dari kedalaman hatiku:
Aku pernah mencintai seseorang dengan begitu membabi buta, hingga aku lupa bahwa orang yang paling membutuhkan kasih sayang dan penghormatanku di dalam ruangan ini adalah diriku sendiri.
Kutarik sebuah garis tegas dan tebal di bawah kalimat itu. Bukan sebagai tanda ratapan kekalahan, melainkan sebagai penanda batas wilayah dan kebangkitan.
Renan boleh saja mengundurkan diri dan berlari kembali ke ruang-ruang anonimnya yang dangkal. Namun ia tak akan pernah sanggup mengambil kembali lembar-lembar masa depan yang akan kutulis dengan jemariku sendiri setelah pagi ini. Cerita luka ini tidak meremukkanku; cerita inilah yang akhirnya menempa dan membentukku menjadi perempuan yang utuh.
Aku mematikan lampu meja, menatap celah jendela yang kian terang diterpa cahaya fajar, lalu berbaring dengan napas yang lega. Besok, saat matahari benar-benar terbit tinggi, aku akan bangun. Aku akan menyeduh kopi hangat, merapikan meja kerja, menyelesaikan naskah-naskah tulisan yang sempat tertunda, dan melangkah keluar rumah dengan kepala tegak. Bukan untuk mencari pengganti, melainkan untuk berjalan kembali menyusuri jalanku sendiri—tanpa perlu lagi menunggu nyala pendar dari ponsel siapa pun.
*****
Editor: Moch Aldy MA
