Spiritualitas Modern

May Wagiman

6 min read

Adenium—atau Wak Ade, sebagaimana kliennya biasa memanggil—melihat Moka menghampiri. Sebelum kecelakaan beberapa bulan lalu, Moka termasuk tipe yang aktif. Kali ini badannya terlihat lemas. Sesekali matanya bergerak cepat seolah gelisah. Moka hanya diam, tetapi dari mulutnya yang setengah terbuka cairan bening terus mengalir.

“Moka, air liurmu jadi banyak begitu. Lapar, ya? Enggak ada makanan di dunia sana? Kasihan kau.” Adenium berkata kepada roh anjing peliharaannya.

Anjing berwarna kopi susu itu memandang perempuan setengah baya di depannya dari atas kepala sampai ujung kaki. Penampilannya serba hitam. Warna bingkai kacamatanya pun diseragamkan. Ia memakai anting-anting perak sebesar karet gelang yang berkilau tertimpa cahaya lampu teras. Kali ini gayanya bisa dibilang simpel. Biasanya saat bertemu klien, Adenium berdandan lebih heboh lagi. Berturban besar dengan tidak lupa menyertakan aksesori kristal.

Mobil merah terlihat membelok dari ujung jalan. Anjing itu melihat gerakan tangan yang ditujukan ke arahnya. “Pergi. Ayo, pergi sana. Entar dipikir aku gila kali, ngomong sendiri begini,” seru Adenium begitu mobil semakin mendekat. Adenium yang berdiri di depan pagar memastikan lagi plat nomor mobil sesuai dengan mobil ojol pesanannya. Roh Moka sudah hilang entah ke mana begitu pemuda kurus tinggi muncul dari pintu depan.

Malam itu, Adenium dan keponakannya berniat memperbaiki laptop mereka yang rusak. Sekalian mau membeli satu set alat komunikasi baru yang lebih canggih. Setelah berkonsultasi dengan Google kemarin sore, keputusan perempuan itu sudah bulat. Produk yang diincarnya jauh lebih berkualitas. Bentuknya lebih kecil daripada earbuds biasa, kejernihan suara lebih bagus, ditambah lagi satu fitur khusus yang bisa mengurangi suara-suara bising dari luar.

Laptop serta komunikasi wireless adalah alat perekonomian, instrumen penting bagi aktivitas ekonomi mereka berdua. Lebih dari itu, bagi Adenium, dua alat itu merepresentasikan sebuah simbol spiritualitas kontemporer, penghubung dunia keseharian dengan pencarian arti dibalik ‘mengapa’.

“Eh, tadi Moka datang.” Suara Adenium terdengar bersemangat. Arran yang duduk di sampingnya terus menunduk dengan raut wajah serius. Jari-jari pemuda itu menari lincah di ponsel.

“Arran.” Uwaknya menyikut.

“Apa, Wak?”

“Tadi Moka datang.”

“Moka?”

“Kamu ini. Itu, loh, anjing peliharaan uwak yang meninggal.” Arran mengangguk-angguk. Mulutnya membulat menyuarakan bunyi ‘oh’.

Kisah tentang roh-roh binatang peliharaan yang datang berkunjung sudah jadi langganan uwaknya. Jujur, dari dulu Arran ragu. Uwaknya apa benar bisa melihat hantu? Atau apa itu cuma bagian dari pertunjukan yang diperlukan untuk menjaga bisnis tetap jalan. Ngomong-ngomong tentang Moka, bukannya mata uwak sudah rabun. Mungkin sebenarnya yang datang tadi bukan hantu Moka, tetapi anjing peliharaan tetangga yang masih hidup. Tetapi kemudian Arran jadi galau sendiri, bukannya kalau orang peka terhadap hal gaib, tidak pengaruh, apa matanya rabun atau tidak. Ah, bingung, pikirnya dalam hati sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.

Adenium tersenyum sendiri mengingat Moka yang tadi datang. Perjumpaan dengan binatang peliharaan yang telah berpulang bukanlah hal aneh baginya. Baru saja seminggu yang lalu roh kucingnya, Karamel, meloncat ke atas meja bulat sewaktu ia sedang membereskan ruang kerja. Karamel mengeong dan mengeong sampai akhirnya pergi sendiri karena tidak digubris.

Lalu kejadian sebulan yang lalu. Kismis—roh anjing peliharaan pertamanya—melesat masuk ke dalam rumah. Anjing pudel itu berjalan mondar mandir mengendus semua barang-barang sebelum akhirnya menghilang. Adenium tidak pernah menunjukkan rasa takut terhadap hantu binatang. Roh-roh itu biasanya tidak bertingkah macam-macam. Jadi, ia tidak heran melihat Moka datang tanpa aba-aba tadi.

Klien-kliennya tahu tentang Wak Ade dari komunikasi lisan, informasi mulut ke mulut. Klien pertamanya adalah saudaranya sendiri. Tidak ada yang menduga kucing putih adik perempuannya jatuh sakit lalu meninggal. Berniat menghibur, Adenium mendapat inspirasi dari dunia maya tentang praktik meramal binatang. Dari situ dimulailah perjalanan karirnya, meskipun dibantu dengan teknologi. Adenium punya keinginan untuk menolong, menjadi jembatan antara kehilangan dan ketenangan. Biarpun jembatan itu ditopang tiang-tiang intelegensi buatan.

***

Sesi konsultasi dengan Wak Ade keesokan malam telah disepakati jauh-jauh hari. Klien barunya tiba di depan pagar tepat pada pukul delapan malam. Dua perempuan muda memberi salam. Adenium memilih gaun panjang biru dongker yang jatuh longgar di pinggul. Kalung kristal panjang berliontin batu giok tergantung di lehernya. Turban ungu tua duduk manis di atas kepala. Earbuds baru tertanam nyaman di dalam telinga, rapat tertutup.

“Selamat malam. Mari, silakan masuk.” Suara dibuatnya bernada berat dan misterius. Kliennya diarahkan masuk ke ruang kerja. Wak Ade sengaja membakar dupa 30 menit sebelum tamunya tiba. Campuran aroma kayu manis dan cengkeh merebak kuat. Lampu ruangan yang disetel remang-remang menambah suasana mistis. Koleksi dek kartu tarot dan batu-batu kristal yang ada sengaja dipajang di sana sini.

Sebuah tangan kurus menyilakan dua tamunya untuk duduk. Bertiga mereka duduk berhadapan. Di atas meja bulat telah siap dek kartu Oriens Animal Tarot. “Silakan, siapa yang mau mulai?”

Perempuan muda berpakaian model hippie bunga-bunga merah berkata, “Aku duluan, boleh?” Mata Adenium tertuju pada kepangan rambut panjang berhias jepit bunga merah, teringat gaya rambutnya sewaktu SD dulu. Perempuan muda itu menengok ke arah temannya di samping. Sang teman langsung mengangguk.

“Aku punya peliharaan kura-kura, Wak, namanya Sawi. Dia mati tertabrak mobil.” Perempuan itu menunduk sebelum melanjutkan, “Aku yang tabrak. Enggak sengaja,” serunya cepat, menekankan kata ‘enggak sengaja’. “Aku bawa ke dokter hewan hari itu juga, tapi Sawi mati, sekitar seminggu setelah itu.”

“Apa yang mau ditanya ke Sawi?” Wak Ade langsung pada pokok tujuan.

“Aku mau tahu, apa Sawi marah ke aku.”

“Seperti yang Wak bilang di chat, kamu bawa barang kesukaan Sawi?”

Perempuan berkepang dua itu lalu mengambil sesuatu dari kantong keresek hitam di samping kursinya. Wak Ade memandang seonggok sawi hijau di atas meja. Wajahnya sempat terlihat bingung, tetapi segera mengerti. “Ah, makanan kesukaan Sawi.”

Ia mengocok kartu dengan lihai, dalam hati bersyukur sudah berlatih keras siang dan malam selama enam bulan lebih untuk mencampur dan mengacak kartu di dek. Jarinya menarik tiga kartu, menaruhnya tertutup berdampingan. Kedua kliennya mendengar Wak Ade mendeham. Itu adalah tanda bagi keponakannya untuk bersiap-siap.

Sejak terdengar deringan bel, Arran sudah bersiap di kamarnya. Ia memastikan laptop terisi baterai 100%, aplikasi AI sudah dibuka, serta alat komunikasi wireless sudah siap di telinga. Begitu aba-aba deham uwaknya masuk, jari-jari Arran terangkat.

“Kartu pertama, The Star.” Wak Ade menyebut kartu paling kiri. “Selanjutnya, Six of Cups. Dan terakhir, Death.” Wak Ade berharap Arran dapat dengan jelas menangkap suaranya. Jari-jari panjang Wak Ade meraba pelan kartu pertama. Lalu ia menyentuh sawi hijau yang telah digesernya ke samping kanan. Wajahnya dibuat setenang mungkin sambil menunggu Arran berdialog dengan sang intelegensi.

The Star adalah lambang harapan.” Wak Ade memulai. “Sawi sepertinya mengirim cahaya ke kamu. Perhatian Wak tertarik pada bulatan sinar di dalam kepala ubur-ubur ini,” kata Wak Ade menunjuk gambar di kartu. Ia sudah terbiasa dengan improvisasi menyambungkan hasil ramalan dengan kartu tarot yang dipakainya. “Intinya ini undangan untuk memaafkan diri kamu sendiri.”

Earbuds-nya kembali mengeluarkan suara Arran.

“Wak melihat kartu di tengah menandakan Sawi ingat kenangan saat kamu merawatnya dulu. Ingatan yang indah, Wak yakin itu,” katanya sambil tersenyum. “Dan yang paling kanan, Death. Jangan khawatir. Ini bukan artinya Sawi harus meninggal, tapi sepertinya hubungan kalian sudah waktunya untuk berubah.”

Wak Ade kembali meraba pelan semua kartu. Lalu dengan nada menghibur ia mengakhiri, “Sawi tidak marah. Sama sekali tidak. Jadi jangan merasa bersalah. Sudah waktunya dia pergi.” Wajah kliennya terlihat lega. Pundaknya yang sejak awal terlihat tegang menjadi longgar.

Adenium lalu beralih pada klien berikutnya. Perempuan itu memakai legging hitam dipadu atasan tunik putih bergambar zodiak dua ikan ungu. Klien ini mau berkonsultasi tentang kucing kesayangannya. Kucing super lincah itu suka membawa binatang kecil pulang. Dua minggu lalu kucingnya tertimpa kemalangan tertabrak sepeda motor karena mengejar tikus got yang lari ke jalan.

“Namanya siapa?”

“Zara.”

“Maksud Wak, nama kucing kamu.”

“Iya, itu nama kucing saya, Wak. Zara.”

“Oh.”

“Saya mau tahu apa Zara menderita.” Perempuan berambut pendek itu tiba-tiba terisak. “Maaf, Wak, saya lupa bawa barang kesukaan Zara,” katanya di sela-sela isakan.

Di kamarnya, jari-jari Arran kembali bersiap siaga.

Sambil mengocok kartu. “Apakah Zara menderita, apa Zara menderita ….” Wak Ade mengucap berkali-kali. “The Moon, Temperance, Six of Cups.” Kali ini wak Ade langsung membuka tiga kartu tarikannya. Jari-jari panjang itu mengambang, terlihat merasakan energi kartu.

Adenium menyimak suara Arran yang kembali memasuki turban. “The Moon. Ada yang ditutupi. Kamu tidak bisa tahu kenapa Zara harus pergi.” Jari-jarinya terlihat kembali merasakan energi kartu. “Kita tidak tahu alasan kepergiannya.”

“Lalu kartu Temperance di tengah …,”

Arran membaca dari layar monitor: kartu keseimbangan dan penyembuhan. Kartu ini mengutarakan simbol bahwa rasa duka atau sakit, jika hadir, telah berubah bentuk. Penderitaan fisik hanyalah satu riak kecil sebelum kemudian menyelam ke laut yang lebih tenang.

“Inti, intinya adalah ….” Kata-kata Wak Ade terputus, otaknya berputar mencari bahasa yang sederhana. “Yang simpel, ….” Aduh, harus diingatkan lagi si Arran itu, pikir Adenium.

Arran berkata cepat, “Intinya, rasa sedih diganti jadi rasa damai. Rasa sakitnya ‘dicairkan’.” Wak Ade menyampaikan apa yang diucapkan Arran secara verbatim kepada perempuan berbintang pisces itu.

“Di kartu terakhir, Six of Cups, Wak melihat Zara punya kenangan hangat selama masih hidup. Kamu sayang sekali pada Zara, ‘kan? Wak bisa merasa. Tabiat kucing sering tidak terduga. Bukan salahnya. Bukan salah siapa-siapa. Dia tidak menderita. Kenangan manisnya dengan kamu menghapus deritanya.”

Kedua kliennya tampak puas dengan sesi konsultasi malam itu. Mereka mengucapkan terima kasih. Amplop berisi uang diselipkan pada tangan kurus Wak Ade.

Sering kali—setelah klien-kliennya pulang—Adenium berpikir (entah untuk keberapa puluh kalinya) tentang ramal-meramal ini. Kata ‘mengelabui’ bagi Adenium terdengar terlalu kasar. Ia lebih memilih ungkapan: menolong secara tidak langsung. Mereka—ia dan Arran—membantu menawarkan para klien ketenangan. Bagaimana pun binatang peliharaan adalah bagian dari keluarga. Kehilangan anggota keluarga merupakan hal yang sangat menyedihkan. Adenium mengakui ia menggunakan bantuan teknologi. Tetapi, ia tidak meminta bayaran yang tinggi. Selain, menurut Adenium, setidaknya untuk sekarang ini, orang-orang masih lebih percaya dengan ramalan yang keluar dari mulut seorang peramal daripada dari AI.

Tiga hari lewat sejak sesi meramal Sawi dan Zara (dua nama itu masih saja melekat erat). Malam ini Adenium dalam perjalanan pulang dari membeli turban baru. Jalanan tampak lengang, namun ada perasaan tidak enak, seperti ada yang membuntuti. Beberapa kali ia menengok ke belakang, tetapi jalanan tetap kosong. Adenium mempercepat langkahnya. Pikiran yang dipenuhi rasa waswas membuatnya tidak menyadari pintu pagar hanya tertutup sebagian. Belum semenit ia melangkah masuk ke dalam rumah, terdengar garukan pelan dari arah daun pintu.

“Arran!”

Bunyi garukan terdengar semakin intens. Adenium yang berdiri di belakang punggung Arran memegang erat lengan keponakannya.

“Uwak, lepas dulu. Aku enggak bisa buka kunci, nih.”

Dua kaki depan terhempas ke bawah begitu pintu dibuka. Anjing berwarna cokelat muda itu terlihat garang. Mulutnya setengah terbuka mengeluarkan bunyi eraman. Busa yang mengalir semakin banyak.

“Moka, kenapa kau?” Apa roh itu mau berkomunikasi, pikir Adenium. Tidak terlintas sedikit pun di pikirannya bahwa anjing itu akan menyerang. Roh tidak bisa menyentuh orang hidup. Absurd, pikirnya lagi. Tangan Arran sudah bersiap hendak menutup pintu. Ia berseru panik, “Wak, ini bukan Moka.”

Sebelum Adenium dapat memproses perkataan Arran, anjing gila itu mengeram kuat. Dengan sekali lompatan keponakannya langsung terjengkang ke belakang. Anjing rabies yang sudah berhari-hari dicari orang itu tidak berhenti menyerang Arran. Adenium yang terduduk di lantai tidak berhenti menjerit.

*****

May Wagiman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email