kadang penulis, kadang jurnalis, kadang asam lambung naik. terima kasih

Simulasi Min

Regent Aprianto

2 min read

Perempuan selalu punya daya kuat untuk mengalahkan lelaki, apalagi pelacur seperti aku ini.

Kalimat itu kutulis di balik struk belanja warung, dengan lipstik merah yang masih tersisa di bibir. Aku menulisnya setelah memastikan lelaki itu benar-benar mati. Darahnya merembes mulus ke seprai lusuh, membentuk pola seperti pulau yang tak dikenal di peta. Lelaki itu Pak Pandu. Guru IPA-ku dulu, yang pernah mengajari tentang massa jenis dan bagaimana cairan lebih berat akan menenggelamkan yang ringan.

Sore ini, bajingan itu yang tenggelam di ranjangku. Ususnya keluar seperti pita hadiah dari sobekan pisau lipat yang kubeli di toko besi dekat stasiun. Aku tidak menangis. Aku juga tidak tertawa. Hanya hening yang berdetak, di antara suara air menetes dari kamar mandi dan kipas angin yang menggerung berat.

Aku mandi. Seperti biasa, aku suka mengisi bak hingga meluap. Air keran terus mengalir, membasahi lantai, masuk ke sela ubin. Warnanya berubah merah muda. Aku masuk ke dalam air yang hangat dan basah oleh kenangan. Di situlah biasanya aku tenggelam. Tapi kali ini, ada yang ganjil.

Begitu aku keluar dari bak, mengelap tubuh dengan handuk Hello Kitty, dan kembali ke kamar, layar laptopku yang sudah lama mati tiba-tiba menyala sendiri. Di layarnya, sebuah jendela program terbuka:

SIMULASI WAKTU (BETA). Anda punya 3 kesempatan untuk memperbaiki masa lalu.”

Aku tertawa pelan. Mungkin aku sudah gila. Tapi aku mengklik tombol ‘MULAI’.

Simulasi Pertama: “Jika Aku Melawan”

Aku kembali ke ruang UKS sekolah. Bau alkohol dan tisu basah menusuk hidungku. Pak Pandu masuk, tersenyum, membawa buku catatan. Tapi ketika tangannya meraih pinggangku, aku menepis. Aku menendangnya, berteriak. Pintu terbuka. Guru-guru masuk. Ia tertangkap basah.

Aku merasa lega. Tapi simulasi belum selesai.

Aku pulang. Ibu duduk di ruang tamu. Aku ceritakan semuanya. Ia tidak percaya. Ayahku marah, menyebutku gila. Malam itu, suara bentakan memenuhi rumah. Ibu berdarah. Aku sembunyi di kamar, lagi-lagi tidak bisa berbuat apa-apa.

Layar menampilkan pertanyaan:

“Apakah Anda puas?”

Kutulis: Tidak.

Simulasi Kedua: “Jika Aku Tak Pernah Ikut Les”

Aku menolak tawaran Pak Pandu sejak awal. Tidak ikut les. Tidak pernah mendekat ke UKS. Nilai IPA-ku jatuh. Ibu kecewa. Ayah mabuk. Suatu malam, kursi terlempar ke dinding. Ibu teriak. Aku menutup telinga dengan bantal.

“Apakah Anda puas?”

Kutulis: Tidak.

Simulasi Ketiga: “Jika Aku Bercerita ke Orang Lain”

Aku mendatangi Bu Ratri, guru BK. Ia terkejut, menangis, memelukku. Ia bilang akan mengurus semuanya. Tapi dua minggu kemudian, Pak Pandu pindah sekolah. Tak ada kabar lebih lanjut. Di lorong, guru-guru berbisik. Teman-temanku menjauh.

“Cari perhatian,” kata mereka.

Aku kembali ke rumah. Ibu hanya bilang: “Tutup mulutmu.”

“Apakah Anda puas?”

Kutulis: Tidak.

Simulasi berakhir. Layar menampilkan kalimat terakhir:

“Masa lalu tidak bisa disembuhkan. Tapi luka bisa dirawat.”

Aku terbangun dengan kepala pening. Laptopku mati. Tidak ada jejak program aneh itu. Tapi tanganku masih gemetar. Di lantai, tubuh Pak Pandu sudah mulai kaku. Sepi makin menebal di kamar ini.

Aku mengambil seprai, membungkus tubuhnya. Menyeretnya ke balkon. Kamar ini akan habis malam ini. Aku menyulut korek, meneteskan bahan bakar yang kutampung di botol bekas cairan pel. Api menyala cepat, menjilat dinding, tirai, dan tubuh masa laluku. Aku turun tangga perlahan, menyelinap ke luar rusun.

Orang-orang bilang kebakaran itu karena regulator kompor rusak. Tak ada yang tahu, bahwa di lantai tiga, seorang perempuan baru saja membakar sesuatu yang lebih tua dari umur siapa pun: luka yang tidak pernah diberi ruang untuk sembuh.

Di dalam tas selempangku, hanya ada satu benda: kertas kecil struk belanja lainnya yang berisi satu kalimat: “Untuk Min kecil: Kau tidak pernah salah hanya karena percaya.

Aku pun berjalan menjauh, untuk pertama kalinya, tanpa ingin kembali ke mana pun.

*****

Editor: Moch Aldy MA

Regent Aprianto
Regent Aprianto kadang penulis, kadang jurnalis, kadang asam lambung naik. terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email