Pegiat literatur Filsafat dan Sosial Humaniora. Aktif ngamen gagasan di berbagai forum kajian serta menuangkan perspektif melalui tulisan di media online. Instagram : @muhhilmii_

Second Lead Syndrome: Kenapa Kita Sering Terbuai pada yang Tak Kita Miliki?

Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf

3 min read

Ada satu fase dalam hidup manusia modern yang jarang dibahas dalam buku filsafat, tapi sangat sering muncul di drakor. Yakni fase ketika kita tahu kita akan kalah, tapi tetap bertahan karena sudah terlanjur berharap. Di sinilah Second Lead Syndrome bersemayam, di ruang abu-abu antara sadar diri dan denial berjamaah.

Kita ambil contoh klasik, Reply 1988. Sampai hari ini perdebatan tentang Jung-hwan dan Taek masih lebih panas daripada diskusi APBN. Jung-hwan itu second lead yang sempurna menurut standar emak-emak kompleks perumahan: perhatian, protektif, selalu ada, tapi kebanyakan mikir. Taek? Datang belakangan, canggung, sering bengong, dan emosionalnya kayak anak kos salah jurusan, tapi justru Taek yang dipilih.

Kenapa demikian? Karena hidup dan drakor tidak memberi hadiah pada yang terlalu lama ragu. Jung-hwan kalah bukan karena kurang cinta, tapi karena terlalu sibuk menyusun skenario di kepala. Anehnya lagi, banyak dari kita justru membela Jung-hwan, seolah kegagalannya adalah tragedi nasional.

Baca juga:

Padahal kalau dipikir-pikir, Jung-hwan itu representasi kita. Terlalu takut salah langkah, terlalu sibuk jadi “yang baik”, sampai lupa bahwa cinta juga butuh keberanian, bukan cuma etika.

Jung-hwan, Ji-pyeong, dan Kita yang Terlalu Lama Menyusun Skenario di Kepala

Lalu ada Start-Up. Ah, ini mah luka kolektif. Han Ji-pyeong, si second lead dengan masa kecil tragis, karier mapan, dan moralitas tinggi dijadikan korban eksperimen emosional massal. Ia menulis surat, ia membantu diam-diam, ia selalu ada ketika dibutuhkan tapi ujung-ujungnya cuma dapat status “orang baik yang tidak dipilih”.

Penonton marah. Twitter gaduh. Tapi penulis naskah tetap keukeuh. Dari situlah kita belajar satu hal pahit jikalau hidup tidak pernah menjanjikan bahwa yang paling berkorban akan menang.

Masalahnya, kita tidak sekadar menonton Ji-pyeong. Kita menghidupinya. Kita merasa sedang melihat diri sendiri yang rajin jadi backup plan, cadangan emosional, dan tempat pulang sementara. Kita tersinggung bukan karena ceritanya tidak adil, tapi karena ceritanya terlalu dekat.

Second Lead Syndrome bekerja dengan cara yang halus tapi kejam. Ia membuat kita merasa spesial dalam ketidakpastian. Kita bangga bisa bertahan. Kita merasa dewasa karena “mengerti situasi”. Padahal, sering kali kita cuma terlalu takut untuk pergi.

Mengapa Kita Lebih Percaya Potensi daripada Kenyataan

Drakor lain seperti True Beauty juga memperlihatkan pola yang sama. Han Seo-jun, si bad boy berhati lembut, kalah dari cowok kutu buku yang secara naratif “lebih cocok”. Lagi-lagi, penonton terbagi dua. Tim Seo-jun merasa dunia ini kejam. Tim Su-ho merasa itu sudah seharusnya. Tapi di balik semua itu ada satu kesamaan, bahwa kita selalu jatuh cinta pada yang terluka tapi tidak dipilih.

Kenapa kita suka sekali membela second lead? Jawabannya sederhana dan menyedihkan, karena second lead memberi kita ruang untuk merasa lebih bermoral. Kita bisa berkata, “Dia lebih pantas,” tanpa harus bertanya, “Apakah dia benar-benar dipilih?” Second lead adalah cara aman untuk mencintai tanpa harus bertanggung jawab pada hasil.

Dalam dunia nyata Second Lead Syndrome menjelma dalam banyak bentuk. Kita bertahan di hubungan yang statusnya “nggak jelas tapi jalan”. Kita terus mengerjakan tugas ekstra di kantor yang tidak pernah menjanjikan promosi. Kita loyal pada sistem yang bahkan tidak mengenal nama kita. Semua demi satu hal yang bernama harapan. Masalahnya, harapan yang tidak diberi arah hanya akan berubah jadi penundaan.

Saat Kita Jadi Cadangan Emosional dengan Bangga

Drakor seperti Cheese in the Trap bahkan lebih brutal. Second lead-nya, Baek In-ho punya pesona dan daya tarik emosional yang lebih “manusiawi” daripada tokoh utama. Tapi sekali lagi, ia kalah. Penonton pun kembali melakukan ritual tahunan, entah itu marah, kecewa, lalu menulis esai panjang tentang ketidakadilan semesta. Ironisnya, kita jarang belajar dari pola itu. Kita lebih suka mengulang luka daripada mengubah kebiasaan.

Second Lead Syndrome juga mengajarkan kita untuk mencintai versi masa depan seseorang, bukan orang yang ada di depan mata. “Dia sebenarnya baik, cuma belum siap.” “Dia berubah kok, asal dikasih waktu.” “Dia trauma, jadi wajar kalau nyakitin.” Kalimat-kalimat ini terdengar akrab, bukan? Biasanya diucapkan sambil menyeruput kopi dingin dan menolak saran teman dengan kalimat pamungkas, “Kamu nggak ngerti dia.” Padahal sering kali yang tidak kita mengerti adalah diri sendiri.

Baca juga:

Dalam Nevertheless, sindrom ini bahkan dibuat lebih terang-terangan. Semua tokohnya seperti berlomba-lomba menjadi second lead dalam hidup masing-masing. Tidak ada yang benar-benar memilih tapi semua ingin dipilih. Hubungan berjalan bukan karena komitmen, tapi karena kesepian yang saling memanfaatkan. Lalu anehnya, banyak penonton bilang “Ini relate banget.” Ya iyalah. Kita hidup di era di mana kejelasan dianggap mengekang, tapi ketidakjelasan dipuja puja sebagai dinamika.

Masa Iya Kita Ngotot Jadi Figuran

Kita ini terlalu sering jatuh cinta pada penderitaan yang bisa kita hindari. Lalu menyebutnya sebagai kedewasaan. Second Lead Syndrome membuat kita memuliakan rasa sakit. Seolah semakin lama kita bertahan maka semakin tinggi nilai cinta kita. Padahal dalam dunia nyata, tidak ada penghargaan untuk yang paling lama menunggu di tempat yang salah.

Hal yang lebih berbahaya pada sindrom ini ialah membuat kita alergi pada hubungan yang sehat. Begitu ada yang datang dengan niat jelas, komunikasi terbuka, dan rencana konkret, kita malah curiga. Terasa terlalu mudah sekaligus kurang menantang sebab tidak ada “drama”.

Padahal mungkin selama ini kita bukan mencari cinta, tapi sensasi roller coaster emosional yang salah kaprah kita sebut chemistry. Second lead memang selalu terlihat lebih “manusiawi”. Tapi hidup bukan kontes simpati. Ia lebih mirip seleksi alam emosional, siapa yang berani memilih dan dipilih, dia yang bertahan.

Pada akhirnya, Second Lead Syndrome adalah alarm halus yang sering kita abaikan. Ia muncul ketika kita terlalu sering merasa “hampir”, “nyaris”, dan “sedikit lagi”. Ketika hidup kita penuh dengan potensi tapi miskin realisasi. Mungkin sudah waktunya kita berhenti membela second lead dengan membabi buta. Bukan karena mereka salah, tapi karena terlalu lama di posisi itu membuat kita lupa satu hal penting, kita juga pantas jadi tokoh utama, setidaknya dalam hidup sendiri.

Tidak semua orang ditakdirkan menang di drakor. Tapi kalau di kehidupan nyata kita masih bersikeras menjadi figuran yang setia, maka itu bukan takdir melainkan pilihan. Seperti kata penonton yang akhirnya move on setelah tamat drakor, “Yah, sedih sih. Tapi ya sudah.”

Mungkin hidup juga butuh kalimat itu, lalu lanjut ke episode berikutnya tanpa menunggu yang tidak pernah datang. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf
Muhammad Hilmi Assidiqy Yusuf Pegiat literatur Filsafat dan Sosial Humaniora. Aktif ngamen gagasan di berbagai forum kajian serta menuangkan perspektif melalui tulisan di media online. Instagram : @muhhilmii_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email