Sebab Pantai untuk Pergi dan Pulang dan Puisi Lainnya

Isbedy Stiawan ZS

1 min read

SEBAB PANTAI UNTUK PERGI DAN PULANG

sebab pantai untuk pergi berlayar
dan pulang dari pelayaran, sudah ditandai
segala pasir selagi siang
dan rasi pada malam
segala cinta atau ciuman
perempuan di rumah
: menunggu kabar

sejak pantai tumbuh pagar bambu
pergi berlayar dan pulang dari lautan
perahu bikin arah lain, serupa
kemudi arloji di pergelangan
hanya menerima angkaangka
tapi tak mampu menjumlahkan. “berapa
usia hanya berenang di gelombang?”

kelak tersangkut di tubuhtubuh bambu
pagar bagi pantai. tapi siapa yang memancangkan
masa kelam para nelayan, jalan anakanak
pelayar yang juga dititipkan di kemudi arloji
kecuali yang terbaca adalah patahan angka
luluhlantak para pejalan laut

pagar bambu di tepi pantai itu
adalah kecamuk gelombang di dada
topan badai yang menghancurkan arloji
“mematahkan kemudi, dulu melarungkan
jauh perahu, membawa pulang
ikanikan
bagi cinta yang selalu menanti.”

kini, perahuperahu dipatahkan larungnya
oleh barisan bambu; pagar bagi hidup dan
lautan

di luar rasi, pagar yang membentang
hingga jauh ke lautan
semisal maut pelanpelan mengancam
pelayaran
tenggelam atau hilang angin daratan

sebab, kelak kota baru dibangun
di sini dalam warna lain
orangorang lalu lalang
beragam warna tubuh
bermata yang angkuh.

(2025)

TAK PERLU TAMU

seperti harihari yang sudah
ruang tamu tetap gerah
hatinya terbuat dari kayu,
batu, pasir serta paku
semakin menawarkan sepi

tak perlu tamu datang
atau penunggu yang pulang,
katanya, lalu mengajakku
ke dalam sunyi. saat lahir
juga kematian, tak perlu riuh

lalu ruang tamu jadi teman
ia menemaniku berharihari
hingga larut, sampai pagi lagi

usia menua
masa lalu muda

temanmu, katanya,
adalah usiausia itu
yang terus beranjak

tiada pasangan.

(2025)

RUMAH TUA

jika telah kau temukan jalan itu
usah pandang lagi rumah tua
ataupun lagu yang sering kita
nyanyikan bersama — sebelum
tidur, saat kita berulang tahun,
hari pertama kali bertemu
dan ikrar — ia sudah hilang

seperti ciuman itu

TERBAKAR PUNGGUNG

aku harus masuk ke dalam musik
ini, meski hanya riuh — cuma gaduh —
lebih lembut kudengar suaramu
yang membawa belati di telinga
atau api yang menyala di wajah

anakanak muda. menggenggam vape
juga laptop — ah, gawai selalu menyala
dan cahayanya mengelus wajah kekasih
: putih menggoda selalu

tapi, kau kekasih dalam jejakku, tetap
bercahaya di antara nyala layar telepon genggam,
aroma vape, kesunyian laptop

gemuruh musik dari panggung
menuju dengung
terbakar punggung

(Koat, 24 Mei 2025)

BERDIAM DI POJOK

berdiam di pojok
dekat tembok

tak bisa kausentuh
langit terlalu jauh
gerimis dekapan
menuju kenangan?

orang datang
orang pergi
aku diam
kau masuk ke sunyi

apakah kita pulang
“nanti dulu, masih malam!’
dari mana kautahu?

(Koat-KA 24-25 Mei 2025)

NIKMATI SAJA JEJAK GERIMIS

ini malam minggu, bisakah kau
temani aku menyusuri irama
masa lalu dalam sentuhan bait
dan musik dari panggung itu?

jemari tangan kita di wajah telepon
menari sendiri sendiri — memahami
gerimis yang jatuh, mencoba rona
malam yang juga gaduh — usah sedih,

baiknya lupakan segala yang pernah
menyakiti. bukankah hati
kita terukir dari besi?

kecuali api yang pernah melumat nabi
yang tak terbakar, demikian hati kita
tak lumer oleh tengkar ataupun tikai

di tempat ini, nikmati saja malam minggu
yang dipenuhi jejak gerimis; tanganku
dan tanganmu tak henti mencatatnya
sebagai pertemuan

ya, kelak pun akan terlupakan

(25 Mei 2025; 11.34)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Isbedy Stiawan ZS

Kewawasan

May Wagiman May Wagiman
3 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email