SEBAB PANTAI UNTUK PERGI DAN PULANG
sebab pantai untuk pergi berlayar
dan pulang dari pelayaran, sudah ditandai
segala pasir selagi siang
dan rasi pada malam
segala cinta atau ciuman
perempuan di rumah
: menunggu kabar
sejak pantai tumbuh pagar bambu
pergi berlayar dan pulang dari lautan
perahu bikin arah lain, serupa
kemudi arloji di pergelangan
hanya menerima angkaangka
tapi tak mampu menjumlahkan. “berapa
usia hanya berenang di gelombang?”
kelak tersangkut di tubuhtubuh bambu
pagar bagi pantai. tapi siapa yang memancangkan
masa kelam para nelayan, jalan anakanak
pelayar yang juga dititipkan di kemudi arloji
kecuali yang terbaca adalah patahan angka
luluhlantak para pejalan laut
pagar bambu di tepi pantai itu
adalah kecamuk gelombang di dada
topan badai yang menghancurkan arloji
“mematahkan kemudi, dulu melarungkan
jauh perahu, membawa pulang
ikanikan
bagi cinta yang selalu menanti.”
kini, perahuperahu dipatahkan larungnya
oleh barisan bambu; pagar bagi hidup dan
lautan
di luar rasi, pagar yang membentang
hingga jauh ke lautan
semisal maut pelanpelan mengancam
pelayaran
tenggelam atau hilang angin daratan
sebab, kelak kota baru dibangun
di sini dalam warna lain
orangorang lalu lalang
beragam warna tubuh
bermata yang angkuh.
(2025)
–
TAK PERLU TAMU
seperti harihari yang sudah
ruang tamu tetap gerah
hatinya terbuat dari kayu,
batu, pasir serta paku
semakin menawarkan sepi
tak perlu tamu datang
atau penunggu yang pulang,
katanya, lalu mengajakku
ke dalam sunyi. saat lahir
juga kematian, tak perlu riuh
lalu ruang tamu jadi teman
ia menemaniku berharihari
hingga larut, sampai pagi lagi
usia menua
masa lalu muda
temanmu, katanya,
adalah usiausia itu
yang terus beranjak
tiada pasangan.
(2025)
–
RUMAH TUA
jika telah kau temukan jalan itu
usah pandang lagi rumah tua
ataupun lagu yang sering kita
nyanyikan bersama — sebelum
tidur, saat kita berulang tahun,
hari pertama kali bertemu
dan ikrar — ia sudah hilang
seperti ciuman itu
–
TERBAKAR PUNGGUNG
aku harus masuk ke dalam musik
ini, meski hanya riuh — cuma gaduh —
lebih lembut kudengar suaramu
yang membawa belati di telinga
atau api yang menyala di wajah
anakanak muda. menggenggam vape
juga laptop — ah, gawai selalu menyala
dan cahayanya mengelus wajah kekasih
: putih menggoda selalu
tapi, kau kekasih dalam jejakku, tetap
bercahaya di antara nyala layar telepon genggam,
aroma vape, kesunyian laptop
gemuruh musik dari panggung
menuju dengung
terbakar punggung
(Koat, 24 Mei 2025)
–
BERDIAM DI POJOK
berdiam di pojok
dekat tembok
tak bisa kausentuh
langit terlalu jauh
gerimis dekapan
menuju kenangan?
orang datang
orang pergi
aku diam
kau masuk ke sunyi
apakah kita pulang
“nanti dulu, masih malam!’
dari mana kautahu?
(Koat-KA 24-25 Mei 2025)
–
NIKMATI SAJA JEJAK GERIMIS
ini malam minggu, bisakah kau
temani aku menyusuri irama
masa lalu dalam sentuhan bait
dan musik dari panggung itu?
jemari tangan kita di wajah telepon
menari sendiri sendiri — memahami
gerimis yang jatuh, mencoba rona
malam yang juga gaduh — usah sedih,
baiknya lupakan segala yang pernah
menyakiti. bukankah hati
kita terukir dari besi?
kecuali api yang pernah melumat nabi
yang tak terbakar, demikian hati kita
tak lumer oleh tengkar ataupun tikai
di tempat ini, nikmati saja malam minggu
yang dipenuhi jejak gerimis; tanganku
dan tanganmu tak henti mencatatnya
sebagai pertemuan
ya, kelak pun akan terlupakan
(25 Mei 2025; 11.34)
*****
Editor: Moch Aldy MA
