Soal agama, barangkali Nietzsche lah seorang kritikus paling berdedikasi membongkar kondisi jiwa manusia yang mengabdikan diri di dalam ajarannya. Dua abad berganti setelah pengembaraan Nietzsche, kritiknya masih layak dipertimbangkan menjadi upaya redefinisi pemahaman manusia terhadap agama yang terus menjadi jangkar spiritual manusia.
Walau Nietzsche telah mengabarkan kematian Tuhan, Tuhan ternyata tetap hidup dalam jiwa manusia. Bahkan, abad-21 yang sempat diramalkan sebagai senjakala agama-agama tak pernah jatuh tenggatnya. Justru peradaban modern ditandai dengan bangkitnya kembali manusia-manusia beragama.
Walau ada dua abad yang memisahkan zaman Nietzsche dengan kita, praktik agama pada dasarnya tak banyak berubah dari apa yang dikritik Nietzsche. Ia tak pernah memandang agama itu mutlak keliru seperti yang banyak orang salah pahami. Agama yang Nietzsche kritik adalah agama yang mematikan kehendak manusia untuk membentuk potensinya secara kreatif.
Kini, bentuk religiusitas itu masih bertahan dalam bentuk praktik beragama yang kaku, doktrinal, intoleran, dan ekstrim yang menciptakan bentuk-bentuk kekerasan struktural. Belum lagi, agama juga tak jauh dari wajah korupnya dengan membentuk persekutuan jahat bersama negara dan kapitalisme. Wajah ini terlihat jelas dalam peran mereka menciptakan ketertundukkan dan kesadaran palsu untuk melegitimasi kekuasaan, seperti kekerasan Hindu sayap kanan terhadap kaum Muslim di India.
Melihat kembalinya praktik keagamaan yang jalan di tempat dalam masyarakat kita, menengok kembali pemikiran Nietzsche penting untuk mengevaluasi kembali praktik beragama kita. Dalam hal ini, saya tak bermaksud menelan pemikiran Nietzsche bulat-bulat dan menyesuaikan semua kondisi dalam napas pemikirannya. Tentu, sikap itu akan membekukan pemikiran Nietzsche itu sendiri sebagaimana agama yang mengalami nasib itu. Jauh berbeda, kita akan mengambil spirit yang Nietzsche tuliskan dalam kritiknya terhadap dekadensi agama di zamannya sebagai etape yang dapat kita lalui dalam menciptakan praktik keagamaan yang bijaksana sekaligus menumbuhbiakkan daya kreativitas manusia.
Nietzsche dan Agama
Seperti yang telah saya jelaskan di atas, kritik Nietzsche terhadap agama seringkali disalah pahami. Ia seorang ateis, tetapi bukan filsuf yang anti agama. Apa yang Nietzsche kritik dari agama (terkhusus Kristen di Eropa) adalah praktik beragama yang membekukan kemerdekaan kehendak manusia.
Bagi Nietzsche, praktik kekristenan Eropa menciptakan manusia-manusia lemah bermental kerumunan. Kekristenan dipahami oleh rakyat Eropa sebagai sumber kebenaran satu-satunya yang tak dapat diganggu gugat. Ia menjadi sumber makna tunggal yang melarang si manusia mencari nilai-nilai dari luar ajarannya. Praktik itu menjatuhkan manusia pada isolasi pikiran. Manusia membutuhkan isolasi ini. Dengan menjangkarkan kepercayaan kita pada satu sumber kebenaran yang otoritatif, kita tak perlu berhadap-hadapan langsung dengan realita sebenarnya yang bisu, tak bermakna dan kacau. Ia tak menjanjikan akhirat dan penyelamatan atas nasib buruk manusia. Realita dingin dan tak meninggikan eksistensi manusia sebagai pusat dari realita itu sendiri.
Menurut Nietzsche, praktik beragama yang demikian menandakan kehendak yang loyo pada manusia. Keloyoan itu mencirikan manusia lemah yang tak memiliki kehendak untuk berdiri di atas kakinya sendiri. Tipe manusia ini selalu menggantungkan hidupnya pada otoritas nilai yang memberikan ia makna untuk hidup. Hidupnya diabdikan pada otoritas tersebut, membela kebenarannya dengan mata tertutup, dan menutup kemungkinannya untuk berdiri sendiri sebagai manusia mandiri yang menghendaki nilai-nilainya sendiri.
Praktik keagamaan tersebut tak pernah basi dibabat zaman. Dalam bentuk otoriternya, institusi agama seringkali menghendaki ketertundukan umat pada doktrin-doktrin kakunya. Agama sering tereduksi hanya menjadi soal pahala-dosa, surga-neraka, haram-halal. Praktik agama yang serba doktrinal menghancurkan kekuatan agama itu sendiri sebagai satu di antara banyak pengalaman eksistensial manusia; jalan manusia dalam memahami eksistensi dengan semesta yang ia naungi.
Ketika agama mereduksi dirinya menjadi persoalan doktrinal dan penghayatan buta terhadap kebenaran tunggal, ia menjadi ajaran yang beku, dekaden, dan mencegah manusia dalam merealisasi daya kreatifnya. Apalagi ketika institusi agama berkongkalikong dengan kekuasaan, agama seketika hadir sebagai kontrol masyarakat. Dan ketika agama menjadi tempat pelarian semata manusia atas penderitaan hidupnya, ia berubah menjadi candu yang meninabobokkan manusia pada janji akhirat seperti dalam ungkapan terkenal Karl Marx.
Sebagai anak zaman yang tak jauh dari sekularisasi era Pencerahan, Nietzsche menyaksikan bagaimana pergeseran nilai religius ke sekuler menyapu masyarakat Kristen Eropa yang berdiri berabad-abad lamanya. “God is dead. God remains dead. And we have killed him…,” demikian Nietzsche mengabarkan kematian Tuhan. Tuhan tak lagi menjadi otoritas nilai tertinggi untuk manusia sekuler yang meninggalkannya.
Konsekuensinya masyarakat jatuh ke dalam jurang nihilisme: kondisi di mana otoritas nilai tertinggi tempat manusia mendamba hilang. Tuhan tak ada lagi bagi manusia untuk mendambakan dirinya. Bagi Nietzsche nihilisme menjadi persimpangan nasib manusia. Pada satu sisi, nihilisme menyebabkan manusia berlarian di atas reruntuhan ajaran Tuhan, mencari suaka baru. Mereka yang tak tahan dengan nihilisme akan tenggelam dalam kebisuan semesta tanpa makna, dan ada pula yang menyembah tuhan-tuhan baru: sains, filsafat, ideologi politik, sampai ateisme yang dibela sampai mati.
Pada sisi lainnya, nihilisme justru menjadi jalan manusia melampaui kondisi nihil tersebut dengan menjadi Ubermensch (manusia yang melampaui). Ubermensch adalah ia yang mengafirmasi realita apa adanya tanpa menjatuhkan diri pada ilusi kebenaran absolut. Karena Sang Ubermensch tidak mengikatkan dirinya pada otoritas nilai apapun, dirinya sendirilah yang menciptakan nilai-nilainya sendiri untuk mencapai potensi kreatifnya sebagai manusia.
Agama dan Daya Kreatif Manusia
Manusia harus melampaui agama dalam bentuk lemahnya. Artinya, ia harus mendefinisikan ulang praktik beragama untuk membangun pengalaman manusia yang kreatif melalui spiritualitas yang dijembatani olehnya. Dengan demikian, agama mampu menjadi ranah manusia untuk merefleksikan eksistensi dengan realita dunianya secara jujur dan bebas tanpa kerangkeng praktek beragama yang serba formalis dan kaku. Karena itu, saya menyarankan apa yang saya sebut sebagai Religiusitas Nietzschean sebagai istilah atas pendirian baru dalam beragama ini. Religiusitas nietzschean adalah cara yang menolak reduksi agama sebagai persoalan otoritas nilai mutlak. Sebaliknya, semangat religiusitas ini menjadikan agama sebagai satu di antara banyak jalan eksistensial yang terbuka dan kreatif dengan mengafirmasi hidup, membangun makna, dan melampaui rasa lemah terhadap realita yang dingin.
Walau bukan tafsir setia atas ajaran Nietzsche dan mungkin berkontradiksi, praktik religiusitas nietzschean dilandasi oleh semangat Nietzsche dalam cara memahami dan bertindak atas hidup. Pada hemat spirit ini, agama menjadi jalan pembebasan bagi manusia melalui pengalaman spiritual yang ia bangun untuk bertindak secara kreatif mencipta dirinya secara terus-menerus tanpa kekangan doktrin kaku.
Sebagai sikap religius, religiusitas nietzschean mencerminkan kerinduan manusia akan pengalaman eksistensial autentik melalui agama maupun Tuhan sebagai jalannya. Sikap ini tak akan pernah selesai sebab ia menjadi perjalanan sampai mati. Dalam perjalanan di tengah samudera tak berujung ini, daya kreatif manusia dalam berkata “ya” pada hidup sekaligus menentukan sikap-sikapnya sendiri pada dunia melalui sikap religius yang ia hayati sebagai pelajaran yang ia kumpulkan dalam tiap tempat yang ia datangi.
Pada dasarnya, bentuk religiusitas ini juga sama napasnya jika diterapkan dalam sikap hidup manusia terhadap tuhan-tuhan baru. Seperti di antaranya penolakan terhadap kebenaran total yang ditawarkan oleh sains, ideologi politik, bahkan filsafat itu sendiri. Spirit di muka berdasar pada posisi agama adalah satu dari sekian banyak cara manusia dalam bereksistensi. Pada dasarnya, ia juga sama-sama merupakan jalan manusia dalam mendekati kebenaran realita. Walau kebenaran ultima itu sampai saat ini masih diperdebatkan dalam agama, filsafat, sampai sains, misteri-misteri yang ia tinggalkan menjadi tapak jalan tak terarah yang membebaskan manusia dalam membentuk ulang diri dan pemahamannya akan semesta secara kreatif.
Sama seperti berbagai bentuk pemahaman manusia akan dirinya dan dunia, agama dapat menjadi ilusi sekaligus cara afirmatif dalam bereksistensi. Agama adalah cara manusia mencoba memahami eksistensinya dengan semesta; dunia di mana dengan segala kemungkinan dan potensinya, termasuk dalam bentuk apa sang realitas yang sebenar-benarnya itu menampakkan diri.
Agama tak hanya memberikan basis ontologis saja tentang kebenaran tertinggi, tetapi juga basis epistemologis manusia dalam menghayati eksistensinya. Inilah yang Muhammad Iqbal paparkan kajiannya tentang pengalaman religius. Baginya, agama adalah satu di antara sekian mode-mode pengalaman manusia tentang realitas. Agama, dalam singkat pemikiran Iqbal, adalah cara manusia menjangkau dan memahami realitas secara partikular yang berbeda dari bentuk-bentuk kesadaran lainnya.
Dalam napas pemahaman tersebut, agama menemukan potensi humanistiknya. Ia tak jatuh dalam bentuk dangkal dan kakunya. Dengan pemahaman yang mendalam, agama menjadi sarana spiritual manusia untuk terkoneksi dengan realitas diri dan dunianya. Ia berada pada mode kesadaran lain yang tak hanya menjadi kesadaran akan eksistensi, tetapi juga menegaskan sikap bijak dan berani dalam menghadapi kekacauan realitas. Sikap ini bukan hanya pendirian epistemologis saja, melainkan sebagai bentuk aksi konkret dalam menghadapi dunia dengan nilai yang ia ciptakan dan dalami melalui pemahaman agama yang membidani kreativitas manusia. Daya kreatif manusia tak hanya disalurkan pada pemahaman abstrak saja kepada Sang Tuhan, tetapi juga bagaimana ia harus bersikap dalam mentransformasi dunia dan manusia itu sendiri.
Kapasitas manusia ini hanya dapat tercipta melalui pemahaman agama sebagai mode eksistensial yang terbuka. Syahdan, pada akhirnya kita harus mendefinisikan ulang cara beragama kita. Dari sini, kita memahami potensialitas agama sebagai satu di antara sekian banyak jalan manusia membangun diri kreatifnya. Agama diposisikan sebagai satu di antara bermacam cara manusia memahami realita, menjadi tempat bertaruh dan berposisi pada segala kenisbian realita, dan bagaimana manusia bersikap atas eksistensinya. Agama dalam spirit ini menjadi suatu tempat manusia dalam memahami realitas di antara kemungkinan yang ada. Bentuk kreativitas yang bertumbuh dari diri manusia ini hanya mungkin terjadi tidak dalam bentuk otoriter agama yang membungkam kebebasan manusia dalam memahami eksistensinya sendiri. (*)
Editor: Kukuh Basuki
