Rekaman Bekas Luka
Gambar tidak akan menua—
Kita terjebak masa muda
Warnanya menangkap senyuman
Mungkin kepalsuan?
Setidaknya masa itu
Enggan memberi tahu
Di dalam gambar ini
Kamu pernah tersedak cireng
Padahal, yang lebih pedas
Adalah habisnya roll film kita
Mungkin kamu lupa
Tapi jangan diingat
Karena bisa saja diam-diam
Suamimu membaca hatimu
Mengendap dalam ingatanmu
Yang mudah dibaca.
Sementara, aku malas
Meladeni tabiat amarahnya
Terlalu sempit ruang tamuku
Tak sanggup kubayangkan,
Lebih ngeri dari film laga
Yang kita sering tonton dulu kala.
Kita tahu, dia jagoan:
Ahli carok sekacamatan.
Tapi aku
Lebih memilih hidup lama
Merekam sejarah yang—
Ingin dunia hanguskan.
(5 April 2025)
–
Aku Tetap Venus
Dalam glamor ayatku
Yang hinggap dalam puisimu
—Keanggunanku,
Sungguh terasa semu
Aku tetap Venus
Lebih benderang
Dari berjuta bintang
Kaupun pernah
Mengagumi keindahannya
Aku mengira kehadiran ini
Mempunyai arti lebih, dari—
Sekedar bait-bait memuji
Aku terlalu naif, tak menyadari
Kau menginginkan jarak
Daripada sekedar pendengar
Seperti bulan, pemberi hangat
Sesaat selimut langitmu
Sedang dibakar kesibukan
Kau bersamanya
Ketika terik membabi buta,
Tak memberi jeda.
Tetap saja, diriku
Ingin mempunyai sesuatu
Daripada sisa waktumu
Mungkin jadi payung gerhana
Seperti halnya, sang bulan
Yang begitu setia padamu
Jika tak diberi kesempatan
Biarlah aku mencolok indah
Menjadi kesombongan
Masih bicara gagah
Hingga mencuri lirikmu
(13 Mei 2025)
–
Telatnya Lilinku
Lentera yang
kau pegang
Cahayanya, perlahan
Mulai memudar
Kedatanganku
Memang terlambat sebagai kepastian.
Kau lelah menunggu
Sendirian di dalam labirin
Beribu jam, aku tahu.
Kini kau enggan
Menerima hadirku
Menolak lilinku—
Sesaat aku ingin
Menghangatkan hatimu
Juga lentera itu.
Kau tak sudi menatapku
Kau membiarkan
Cahaya lenteramu
Padam
Dalam kekekalan.
(3 Mei 2025)
–
Tenggelam, Tak Mengapa
Tenggelam
Tak mengapa
Izinkan, aku larut
Menjadi salah satu doa
Yang kau kirimkan
dalam botol kaca
Ke tengah samudra.
Biar bisa kau kenang—
Kapanpun.
Mungkin ombak itu
Membawaku kembali.
Tenggelam,
Tak mengapa.
Aku ingin menjadi
Bukan sekedar kenangan
Di ujung dini hari
Atau mungkin saja
Itu tak terjadi.
Saat doamu serupa badai
Membuatku hilang arah
Untuk pulang.
Aku mungkin—
Tak mengapa,
Jika tenggelam.
(23 April 2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
