Sepertinya aku sudah gila. Ya, kamu tidak salah baca. Baru saja aku mematikan laptop dan memilih tidur, menyerah pada naskah yang tak kunjung selesai. Tapi, di hadapanku tiba-tiba hadir seorang perempuan muda yang melirik tajam sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Kamu sudah mengacak-acak hidupku!” Dia memprotes kesal.
Aku mengerutkan kening sembari berpikir keras dari mana datangnya perempuan ini.
“Maksud kamu?” Aku berhenti mengaduk kopi yang tinggal separuh.
“Setelah kamu membuat aku menjadi seorang janda, tiba-tiba cerita itu usai. Hei! Aku adalah perempuan karir yang tidak mau menikah dengan orang seperti Alfan!”
Aku melongo tak mengerti.
“Kau tahu tidak? Aku menderita karena kamu membuat alurnya terlalu dramatis. Sudah janda, miskin pula. Apa nggak bisa kamu bikin aku jadi jutawan saja?”
Aku semakin tak mengerti. Belum tuntas aku mencerna maksud dari perempuan muda ini, tiba-tiba dari belakang muncul seorang anak kecil dengan rambut keriting lebat.
“Jujur, aku lebih suka berpetualang naik kereta daripada pesawat. Lalu, kenapa kamu membuatku tersesat di desa jelek seperti itu? Belum lagi kamu seenaknya mengubahku menjadi kucing. Aku alergi bulu kucing, tahu!”
Aku tersentak dan menjauhkan diriku dari dua orang aneh ini. Kuletakkan cangkir kopi di meja dekatku dan menggosok kedua mataku. Mereka masih ada dan menatapku dengan bengis. Tak lama, muncul seorang kakek tua dengan tongkatnya duduk di sebelah perempuan muda tadi.
“Sebenarnya aku juga bukan pemuka agama. Aku hanyalah kakek tua yang senang berkebun. Seharusnya kamu mencarikan peran yang lebih cocok untukku.” Kakek itu terbatuk.
“Kenapa kamu diam saja?” Perempuan muda itu menuntut jawaban.
Aku menoleh ke arahnya dan mengangkat kedua alisku.
“Ka-kalian… siapa?” Aku bertanya kebingungan.
“Maaf, tapi aku sama sekali tak mengenal kalian,” ujarku jujur.
Ketiga orang di depanku kini terbahak. Perempuan muda itu bahkan sampai mengusap air mata yang keluar dari ujung matanya.
“Sudah kuduga. Dia bahkan tak mengenali kita.” Perempuan muda itu tergelak.
“Dia lebih bodoh dari yang kukira.” Anak keriting itu mengusap hidungnya yang mengeluarkan ingus dengan ujung kaosnya.
“Sungguh anak muda yang malang.” Kakek itu kembali terbatuk.
Aku merasa tersindir dengan ucapan tiga orang yang kini duduk di depanku. Belum lagi, mereka sangat tidak sopan tiba-tiba masuk ruang kerjaku tanpa permisi. Tiba-tiba mereka mengata-ngatai seolah paling mengenal siapa diriku.
“Kamu masih belum mengerti?” Perempuan muda itu tertawa mengejek.
Aku berpikir keras, tak mau diremehkan begitu saja oleh orang asing yang tidak punya sopan santun ini. Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku sesuatu yang tidak masuk akal.
“Siapa namamu?” Aku menunjuk pada Perempuan itu untuk mengecek sesuatu.
“Laras,” dia menjawab lugas.
“Kalau kamu?” Aku menunjuk pada si Keriting.
“Albert,” jawabnya sembari mengupil.
“Maaf, kalau Anda? Aku menurunkan nada bicaraku.
“Mbah Mansur,” ujar Kakek yang tak henti-hentinya terbatuk.
Mendengar jawaban mereka, kedua bola mataku seolah akan mencuat. Terkejut, aku menutup mulutku yang terbuka lebar.
“Tidak mungkin, kalian…” Aku menunjuk ketiga orang tersebut dengan tatapan tak percaya.
“Sudah sadar?” Perempuan itu mengejek.
“Kami adalah tokoh dalam novel-novelmu yang tidak kunjung selesai.” Kakek menjawab semua rasa penasaranku.
Aku memijat kepalaku sebentar dan kembali menatap ke depan. Ketiga pasang mata itu menuntutku memberi jawaban.
“Aku tidak masalah jadi janda, tapi tolonglah jangan terlalu klise ceritanya. Belum lagi, kamu tidak kunjung menyelesaikan bab yang sedang kamu tulis. Terakhir kali kamu menulis adegan, aku akan bunuh diri di kamar karena kelakuan suamiku. Hei, coba kamu pikir! Kalau suamiku kaya raya seperti Alfan, daripada aku yang mati lebih baik aku racun dia duluan!” Perempuan, maksudku Laras, melayangkan aksi protesnya.
“Kamu juga membuat aku tersesat di desa ajaib yang jelek itu tanpa membekaliku dengan kekuatan. Aku hanya bisa berubah menjadi kucing. Gawatnya, adegan terakhir yang kau tulis adalah soal aku yang sedang berubah menjadi kucing untuk menyusup ke rumah petinggi desa.” Albert memonyongkan mulutnya.
“Untung aku bisa ke sini dengan wujud asliku.” Ia melanjutkan kalimatnya.
“Nah, Nak. Aku sungguh sangat tersanjung kamu menjadikanku pemuka agama dalam novelmu. Tapi, aku sungguh tak tahu cara berdoa yang benar. Yang lebih menyebalkan adalah banyak orang akhirnya datang kepadaku minta didoakan. Saat bagian tersebut, kamu tidak segera menyelesaikan ceritanya. Kamu tahu betapa bingungnya aku menghadapi orang-orang itu yang terus meminta doa?” Mbah Mansur mengusap janggut putihnya.
Aku kehabisan kata-kata. Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba muncul seorang pemuda tampan.
“Tunggu, kamu… Leonard?” Aku menebak cepat.
Pemuda tampan itu mengangguk malu.
“Apa masalahmu? Bukannya aku baru saja memulai menulis kisahmu?” Aku melayangkan pertanyaan lebih dulu sebelum ia menuntut.
“Hmmm.. Aku tidak ada masalah untuk sekarang. Tapi, apakah aku akan bernasib sama dengan mereka?” Leonard menunjuk ketiga tokoh lainnya.
“Apakah aku akan terabaikan seperti mereka? Aku suka dengan duniaku yang sekarang. Bisakah kamu melanjutkan ceritanya dengan akhir yang bahagia?” Leonard menatapku penuh harap.
Aku kembali memijat kepalaku yang semakin pening.
“Oke, oke. Baiklah. Aku tahu kalian semua tidak suka dengan peran yang aku berikan. Tapi, bukankah hidup memang seperti itu? Kita tak selalu bisa hidup sesuai dengan apa yang kita inginkan, bukan?” kataku tak mau kalah dari argumen mereka.
“Bukan itu masalahnya. Kami masih bisa menerima jalan hidup kami dalam novelmu. Tapi, kami tidak suka caramu yang setengah-setengah dalam menyelesaikan naskah. Entah akhir hidup kami akan bahagia atau tidak, selesaikanlah! Bagaimana kami bisa tahu jika ceritanya tidak utuh!” Perkataan Laras begitu tajam seolah menusuk jantungku.
“Kamu mudah bosan dan melahirkan tokoh lain dalam cerita baru, seperti aku.” Leonard merapikan kemejanya yang sedikit kusut.
“Jangan lari dari masalah. Itu yang selalu kamu tanamkan kepadaku.” Albert mengayun-ayunkan kakinya di atas kursi.
“Tidak ada jalan lain untuk memperbaiki hidup kami selain dengan menyelesaikan tulisannya,” ujar Mbah Mansur lembut.
Aku menatap mereka satu per satu. Dalam binar mata mereka, aku melihat semangatku saat awal memulai menciptakan mereka. Namun, saat aku mengalami kebuntuan dalam menulis, aku selalu menyerah dan memilih mengganti dengan naskah yang baru.
“Apa ada lagi yang ingin kalian sampaikan?” ujarku lemah.
Mereka semua menggeleng.
“Oh, jangan tunda lagi menulis cerita kami.” Mbah Mansur menambahkan.
“Atau.. kami akan membuatmu masuk dalam dunia kami.” Laras menyeringai.
Aku bergidik ngeri mendengarnya. Tanpa aku sadari, mereka semua lenyap dari hadapanku. Rasa kantukku menghilang. Aku segera kembali ke meja kerjaku dan membuka laptop. Menengok kembali naskah-naskah yang sekian tahun terbengkalai dan nyaris kuhapus.
*****
Editor: Moch Aldy MA
