Napak Tilas Kata yang Bertahan
Hanya dengan lindap lampu pijar
yang jatuh di balik nota pembelian,
kami mulai mengukir guratan anyar
antara coretan sajak
dan bercak minyak gorengan.
Di riuh warkop Pringgokusuman
seorang mahasiswa menakar aji puisinya sendiri
dengan kopi cangkir dan kretek separuh jalan.
Alih-alih mencari panggung
ia meretas jarak, mengerat waktu
hingga sajak dan makna bertemu.
Puisi yang ditulis di nota kopi itu
tak sempat diterbitkan,
tapi menyelamatkan satu jiwa
dari bunuh diri di sore berikutnya.
Langgar Gedhe menahan gaduh sore
dari para penyair muda yang menyulut gejolak
di balik celah mushaf dan lembar orasi
: puisi menjelma ruang ibadah sunyi
tanpa kiblat tunggal, tanpa komando aksi.
Di sepanjang jalan Gejayan
musisi dengan gitar tua menjamah bait perlawanan
menyulapnya jadi lagu
menyusup ke kuping para gelandangan
dan juru parkir, diam-diam menulis geguritan.
Di pelataran Pakualaman
drama berselimut gamelan
para waranggana menyabdakan langgam.
Tak ada panggung menjulang
hanya tikar digelar
dan kata-kata duduk sama rendah,
melangit sama tinggi.
Langgar dan gereja saling bersahut gema.
Taman Budaya tak lagi sibuk memilih kasta
antara sajak dan drama,
antara bazar buku dan pengadilan sastra
: semuanya adalah lubang-lubang kecil
tempat cahaya menyalin makna.
–
Arjuna I
baratayuda digelar, semua kedip tertuju
kedipan satu, kedipan dua tanpa tiga
sang Arjuna melangkah tegap
menggendong pasopati, tanpa anak
kurukshetra gelap mengandung badai
Radeya siap, Arjuna lebih sedia
pasopati memang pusaka,
tapi Indrastra juga pemberian dewa
anak surya itu melawan anak kahyangan
keduanya sergap, lagi kuat
pusaka Karna memang untuk membunuh Arjuna
Kresna dipihak Arjuna,
Karna lupa mantranya.
–
Arjuna II
dialah Arjuna yang sering dibicarakan orang itu
perawakan lembut, tapi ia juga keras
jangan bermain dengan pasopati
anak panahnya berisi mantra dewa Indra
—sang dewa perang!
si Karna tumbang lumpuh di hadapannya
para Kurawa mati terkena tancapan panahnya
jangan meremehkan Arjuna
ialah ksatria Parantapa, Mahabahu dan Kurusatama
sang Janaka mengikuti Kresna, melepaskan
panah pamungkas Rudra tepat ke kepala Karna
Karna pupus, ia teringat Abimanyu
anak kesayangannya
–
Rumah Paduka
izinkan saya masuk ke rumah paduka
hanya ingin mengintip sedikit keramahan
yang terlihat semakin langka
hamba ingin melihat singgasana yang mulia
yang katanya penuh dengan barang pusaka
pusaka yang penuh dengan pelayan-pelayan bak boneka
entah mengapa, saya tidak betah
satu jam berada di rumah paduka
tapi wajah yang mulia terlihat ramah
(hanya terlihat ramah)
sebenarnya memendam amarah dan hampir meludah
maafkan hambamu ini yang sedari tadi terus memandangi
keanehan istana paduka ini
“istana apa ini?”
tali wayang di setiap pelayan,
sesekali kendor dan sesekali tegang
hanya menunggu sang paduka memainkannya
ke kiri atau ke kanan, atau bahkan melemparnya ke luar
–
Perhelatan Agung
menangkis cerita orang tentang kenduri
kata mereka kenduri itu aneh dan suram
suram bagaimana? di dalamnya ada nasi kuning
dan banyak potongan ayam
si gempal meghampiriku dengan
sedikit bau badan, ia nampak senang
membawa sepiring paket lengkap nasi
dan semangkuk sup ayam
si cungkring tak membawa apa-apa
hanya segelas sirup merah, lagi kecil
aku bertemu keduanya
mereka akrab bak kutu dan majikannya
si gempal dan si cungkring
bertemu dan bergurau, aku sendiri
dicampakkan
“kalian seakrab itu?” tanyaku
“iya, kami kakak beradik”
—sial
perhelatan kenduri ini dibalut dengan tumpeng abadi;
ditaburi dengan abon kering
agung tapi mungil
banyak yang disanjung (bukan termasuk
si gempal dan si cungkring)
banyak juga yang tersandung (ini baru si dua itu)
berkumpulnya orang memberi pesan
kita istimewa, tapi berbeda
*****
Editor: Moch Aldy MA
