Apa yang terlintas di benak ketika mendengar kata menunggu?
Kalau kata Raisa sih, “apalah arti aku menunggu bila kamu tak cinta lagi~”—dan jujur saja, sebagian besar dari kita mungkin langsung membayangkan menunggu sebagai sesuatu yang membosankan, melelahkan, atau bahkan menyakitkan. Padahal menurut KBBI, menunggu tidak sekadar berarti diam. Menunggu juga berarti mengharap sesuatu akan terjadi (datang). Ada harapan di dalamnya. Ada orientasi ke masa depan. Ada waktu yang ditahan, ditangguhkan, bahkan dinegosiasikan. Barangkali, menunggu adalah pengalaman sosial yang sangat manusiawi—dan ironisnya, justru sering luput dari perhatian.
Kesadaran ini semakin terasa ketika kami secara iseng melakukan “penelitian kecil-kecilan” tentang aktivitas menunggu—salah satunya pada tukang parkir kafe di Yogyakarta. Menariknya, para tukang parkir ini tidak memaknai menunggu sebagai aktivitas pasif. Mereka tidak sekadar berdiri menanti kendaraan datang dan pergi. Menunggu justru diisi dengan berbagai strategi untuk membunuh waktu sekaligus tetap siaga.
Biasanya, pada parkiran kafe yang sempit dengan volume kendaraan rendah, para tukang parkir ini menunggu sembari bermain ponsel, mengobrol dengan pedagang sekitar, atau merokok sambil sesekali mengamati situasi. Sebaliknya, di lahan parkir yang luas dengan lalu lintas kendaraan tinggi, menunggu menjadi jauh lebih sibuk: mulai dari merapikan posisi kendaraan, mengatur keluar-masuk, menyeberangkan pengunjung, dan mengawasi pintu kafe. Dalam kedua konteks tersebut, menunggu bukanlah kekosongan. Ia adalah kerja. Ia penuh kalkulasi, perhatian, dan kesiapsiagaan.
Baca juga:
Meskipun mungkin tidak sempat terbahas dalam tulisan ini, menarik juga sebenarnya melihat bagaimana menunggu di dunia anak-anak. Ada yang bilang, anak-anak adalah kelompok yang paling sering menjalani aktivitas menunggu. Sejak bayi, mereka menunggu disuapi. Saat sekolah, mereka menunggu dijemput. Bahkan dalam banyak aspek hidupnya, anak-anak sering berada dalam posisi menunggu keputusan orang dewasa. Namun, pengalaman menunggu anak-anak jarang kita dengarkan atau anggap serius.
Berangkat dari semuanya ini, kami mulai tertarik untuk melihat menunggu bukan hanya sebagai pengalaman personal yang romantis atau dramatis, tetapi sebagai fenomena sosial yang sarat makna. Kami mencoba bereksperimen: bagaimana jika menunggu dibaca secara antropologis?
Upaya “sok-sok berteori” ini membawa kami pada konsep ethnography of waiting atau etnografi penantian. Janeja dan Bandak (2018) menyebut bahwa meskipun orang-orang tampak berada dalam kondisi yang sama ketika menunggu, pengalaman dan makna yang mereka rasakan bisa sangat berbeda.
Di sinilah etnografi penantian bekerja: sebagai lensa untuk melihat bagaimana waktu, harapan, kekuasaan, dan ketidakpastian dialami secara berbeda oleh tiap individu. Menunggu bukan sekadar soal durasi, tetapi tentang bagaimana seseorang menghadapi dan mengisi waktu tersebut. Dengan kacamata ini, aktivitas yang selama ini kita anggap remeh—menunggu lampu hijau, antri di kasir, atau berjaga di parkiran–menjadi kaya akan cerita.
Di Lampu Merah: Kesunyian yang Ramai
Menunggu di lampu merah misalnya, sering kali membuka ruang bagi pikiran-pikiran yang tak terduga. Dalam hitungan menit yang singkat itu, pikiran bisa berkelana ke mana-mana; dari tugas kuliah yang membabi buta, kondisi keuangan yang entah kapan membaik, sampai memikirkan nasib anak-anak kecil di negara yang sering terasa kacau balau ini. Lampu merah menjadi jeda yang aneh. Ia singkat, tapi padat. Tubuh berhenti, kendaraan diam, namun pikiran justru melaju kencang.
Menunggu di lampu merah, barangkali, adalah bentuk kesunyian yang paradoksal. Ia terjadi di tengah hiruk pikuk: suara klakson, deru mesin, teriakan pengasong yang hilir mudik. Namun di balik keramaian itu, setiap pengendara tenggelam dalam dunianya sendiri.
Percakapan memang kadang muncul, terutama bagi mereka yang berkendara bersama. Namun merenung tampaknya menjadi aktivitas yang paling dominan. Jalanan terasa seperti berhenti sejenak, sampai akhirnya lampu merah berganti hijau dan memecah keheningan itu. Waktu menunggu yang relatif singkat–sekitar lima hingga sepuluh menit–dialami secara berbeda oleh tiap orang. Namun ada satu benang merah yang terasa kuat: kesunyian batin yang membuka ruang kontemplasi.
Hal ini membenarkan apa yang diutarakan oleh Schweizer (2008) dalam buku On Waiting bahwa “Waiting is a mode of existence… To wait is to be attuned to time.” Dihadapan “menunggu” seperti di lampu merah, memaksa kita untuk berkonfrontasi dengan diri sendiri. Jadi tidak heran di tengah keramaian jalan raya, kadangkala kita tenggelam dalam pikiran sendiri. Dalam jeda menunggu itu, tanpa sadar kita sering melamun, mempertanyakan tujuan hidup, mengevaluasi hari yang baru berjalan, atau sekadar merasakan eksistensi diri di dunia yang katanya fana ini.
Ternyata, walaupun terbilang sepele, menunggu di lampu merah bisa menjadi jendela untuk kita berkontemplasi dan mempertanyakan eksistensi diri (wow, sedalam itu loh).
Antrian Kasir Supermarket: Menunggu yang Menghangatkan
Pengalaman serupa juga muncul ketika menunggu di ruang lain, misalnya di Mirota Kampus dekat UGM. Antrian panjang yang memuakkan di area kasir rupanya menghadirkan berbagai ekspresi menunggu. Mulai dari bapak-bapak yang asyik menggoda anaknya, pasangan yang bercakap pelan, hingga individu yang sepenuhnya larut dalam layar ponsel. Ada kehangatan, ada kejengkelan, ada juga sikap cuek yang seolah ingin segera melompati waktu. Menunggu, ternyata, tidak pernah seragam.
Berbeda dengan lampu merah yang sunyi di tengah keramaian, menunggu di antrian kasir Mirota menghadirkan suasana yang justru hangat. Antrian yang panjang—terutama pada awal bulan atau menjelang akhir pekan—membuat waktu terasa melambat. Namun alih-alih diisi dengan kejengkelan semata, menunggu di sini kerap menjadi ruang kecil bagi interaksi sosial yang akrab dan spontan.
Baca juga:
Di barisan antrian, orang-orang berdiri berdekatan. Jarak tubuh yang rapat memaksa kehadiran satu sama lain untuk diakui. Seorang Bapak tampak sibuk mengganggu anak perempuannya yang sibuk bermain ponsel. Di belakangnya, sepasang kawula muda saling menimpali candaan ringan. Interaksi kecil semacam ini mungkin terasa sepele, namun justru menjadi penanda bahwa menunggu tidak selalu identik dengan keterasingan.
Hal ini serupa dengan yang diteliti oleh antropolog Jeffrey (2010) dengan judul Timepass: Youth, class, and the politics of waiting in India, tentang fenomena menunggu kronis pada pemuda di negara India. Konsep “Timepass” memiliki arti mengisi waktu atau membunuh waktu. Dalam hal ini, manusia secara kreatif mengubah waktu kosong menjadi aktivitas sosial yang bermakna. Maka sebenarnya, melihat kembali bagaimana proses menunggu di antrian, dapat dilihat sebagai sebuah aktivitas sosial untuk “melewatkan waktu bersama”.
Walaupun tidak bisa dipungkiri bahwa tidak semua orang terlibat percakapan. Ada juga sebagian memilih larut dalam layar ponsel—menggulung linimasa, membalas pesan, atau sekadar berpura-pura sibuk. Namun bahkan dalam sikap “cuek” itu, tubuh tetap terikat pada ritme antrian: maju selangkah ketika barisan bergerak, menoleh sebentar untuk memastikan kasir, lalu kembali tenggelam dalam dunianya sendiri. Menunggu di sini adalah kombinasi antara keterhubungan dan jarak, antara kebersamaan dan penarikan diri.
Dalam konteks ini, antrian kasir Mirota memperlihatkan bahwa menunggu juga bisa menjadi ruang pembentukan relasi sosial yang bermakna. Ia tidak dramatis, tidak heroik, tetapi menghadirkan kehangatan yang jarang disadari. Menunggu bukan lagi semata tentang waktu yang terbuang, melainkan tentang bagaimana manusia belajar bersabar, berbagi ruang, dan sesekali berbagi cerita—meski hanya selama beberapa menit di depan kasir.
Sebagai penutup, dari antrian kasir supermarket hingga lampu merah, dari tukang parkir bahkan mungkin anak-anak, menunggu ternyata bukan sekadar jeda kosong. Ia adalah cara manusia bernegosiasi dengan waktu, harapan, dan ketidakpastian. Barangkali saja di tengah hidup yang serba cepat dan produktif, menunggu justru menjadi momen langka untuk benar-benar hadir—atau sebaliknya, untuk melarikan diri sejenak lewat pikiran dan layar ponsel. Di situlah nilai antropologisnya: menunggu mengajarkan kita bahwa bahkan dalam diam, manusia tetap bergerak—secara sosial, emosional, dan imajinatif. (*)
Editor: Kukuh Basuki

menunggu itu sulit.