Mahasiswa aktif Jurnalistik UIN Jakarta dan bagian dari Lembaga Pers Mahasiswa Journo Liberta.

Menggugat Jurnalisme di Era Postmodern

Daffa Yazid Fadhlan

2 min read

Di tengah banjir informasi dan derasnya arus media sosial, satu peristiwa bisa melahirkan berbagai versi kebenaran. Apa yang dianggap fakta oleh satu pihak, bisa dipandang sebagai manipulasi oleh pihak lain. Dalam situasi ini, publik tidak lagi hanya bertanya “apa yang terjadi”, tetapi juga “mana yang harus dipercaya”.

Kondisi ini menempatkan jurnalisme dalam posisi yang tidak mudah. Ia dituntut tetap menjadi penunjuk arah di tengah kabut informasi, sekaligus menghadapi kenyataan bahwa realitas itu sendiri tidak lagi sesederhana dulu.

Jurnalisme dan keraguan atas Kebenaran

Sejak awal, jurnalisme dibangun di atas satu fondasi penting yaitu objektivitas. Ia hadir sebagai upaya untuk mengumpulkan fakta, memverifikasi informasi, dan menyajikannya kepada publik secara akurat dan berimbang. Dalam ideal ini, jurnalis diposisikan sebagai pengamat netral yang berdiri di antara berbagai kepentingan.

Baca juga:

Objektivitas menjadi semacam janji moral bahwa berita yang disajikan tidak dipengaruhi oleh bias pribadi maupun tekanan eksternal. Prinsip seperti independensi, verifikasi, dan keberimbangan menjadi standar yang dijaga untuk memastikan bahwa publik mendapatkan gambaran realitas yang utuh.

Namun, seiring perkembangan zaman, klaim objektivitas ini mulai dipertanyakan.

“Apakah mungkin seorang jurnalis benar-benar netral? Ataukah setiap berita selalu membawa sudut pandang tertentu, baik disadari maupun tidak?”

Pertanyaan tersebut menemukan momentumnya dalam cara pandang postmodernisme. Pemikir seperti Michel Foucault menekankan bahwa pengetahuan tidak pernah berdiri bebas dari kekuasaan. Apa yang disebut sebagai kebenaran sering kali merupakan hasil dari relasi kuasa yang menentukan mana suara yang didengar dan mana yang diabaikan.

Dalam perspektif ini, berita tidak lagi dilihat sebagai cermin realitas, melainkan sebagai konstruksi. Setiap keputusan dalam proses jurnalistik mulai dari pemilihan narasumber, sudut pandang, hingga bahasa yang digunakan berkontribusi dalam membentuk makna.

Gagasan ini diperkuat oleh Jean Baudrillard yang menyebut bahwa di era modern, manusia hidup dalam kondisi hiperrealitas. Dalam kondisi ini, batas antara fakta dan representasi menjadi kabur. Media tidak hanya melaporkan realitas, tetapi juga menciptakan versi realitas yang baru.

Ketika Jurnalisme Membentuk Realitas

Dalam praktiknya, pengaruh ini sangat terasa. Satu peristiwa yang sama dapat diberitakan dengan cara yang sangat berbeda oleh media yang berbeda. Ada yang menonjolkan konflik, ada yang menekankan konteks, dan ada pula yang memilih perspektif emosional.

Fenomena ini semakin kompleks di era digital. Di platform seperti X dan TikTok, realitas sering kali hadir dalam bentuk potongan-potongan informasi yang terfragmentasi. Algoritma mendorong konten yang paling menarik perhatian, bukan yang paling akurat.

Akibatnya, publik tidak lagi menerima satu narasi dominan. Publik justru dihadapkan pada banyak versi realitas yang saling bersaing. Dalam kondisi ini, jurnalisme tidak bisa lagi dipahami sekadar sebagai penyampai fakta, tetapi juga sebagai aktor yang turut membentuk cara publik memahami dunia.

Dilema di Era Post-Truth

Di satu sisi, kesadaran postmodern membuat jurnalisme lebih reflektif. Ia tidak lagi naif menganggap dirinya sepenuhnya netral. Di sisi lain, jika semua kebenaran dianggap relatif, maka batas antara fakta dan opini menjadi semakin kabur.

Inilah yang kemudian melahirkan fenomena post-truth. Dalam kondisi ini, emosi dan keyakinan pribadi sering kali lebih berpengaruh daripada data dan verifikasi. Dampaknya, kepercayaan publik terhadap media ikut mengalami penurunan.

Baca juga:

Jurnalisme pun berada di persimpangan. Ia harus memilih antara mempertahankan ideal objektivitas atau menerima kenyataan bahwa ia selalu berada dalam ruang interpretasi.

Menemukan Posisi Baru Jurnalisme

Di tengah tarik-menarik ini, jurnalisme perlu menemukan posisi baru. Objektivitas tidak lagi bisa dipahami sebagai ketiadaan sudut pandang. Objektivitas justru perlu dimaknai sebagai kesadaran atas sudut pandang itu sendiri. Transparansi, akurasi, dan tanggung jawab publik menjadi lebih penting daripada sekadar klaim netralitas.

Keberhasilan jurnalisme saat ini juga tidak ditentukan oleh kemampuannya memenangkan satu versi kebenaran tunggal. Kekuatannya justru terletak pada konsistensi dalam menjaga akal sehat kolektif. Ketika realitas semakin cair dan sulit didefinisikan, jurnalisme harus menyediakan fondasi informasi yang kokoh sebagai titik pijak publik untuk memahami dunia tanpa kehilangan pegangan pada fakta. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

Daffa Yazid Fadhlan
Daffa Yazid Fadhlan Mahasiswa aktif Jurnalistik UIN Jakarta dan bagian dari Lembaga Pers Mahasiswa Journo Liberta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email