Memutar Kembali Film Lama dan Puisi lainnya

Umi Kulsum

53 sec read

Memutar Kembali Film Lama

sering kali aku memutar kembali film lama
di teras rumah
yang dulu pernah dipenuhi tawa ibu dan bapak
bunga-bunga menyapa
dan secangkir doa selalu disuguhkannya

kini hanya senja
datang dan pergi
membawa bayangku sendiri

rumah itu, kini berpindah
bersemayam di hati
bersama ibu dan bapak
dan segunung pesan
yang tak pernah aku lewatkan
untuk dibaca kembali

(2025)

Bukan Lagi Rumah

setiap malam 
ada teriakan yang enggan disuarakan
enggan didengar
ia hanya bersemayam di tepi hati
mengalir deras bersama sepi
terbungkam dan tak pernah menjadi cerita

wajahnya dipenuhi kabut
badai seolah menjadi sahabat
saat terlelap atau terjaga

tubuhnya, jendela terbuka
pintu-pintu terbuka
angin berembus kian ke mari
menyelinap di sela-sela
kerangka
tiada sempurna

(2025)

Atap Langit

perjalanan tadi malam
bukan memotret kisah pedangan asongan
tapi ada cerita terselip pada trotoar kota
tentang manusia yang tidur di emperan harapan
diselumuti dingin malam

tiada tiang
tiada genteng
di mana lelah dilahap tubuh
di sanalah mata terlelap utuh

sesekali terusik oleh lapar
yang menghantui sepanjang malam
batu seolah menjadi kawan
saat perut menggonggong tak karuan

sesekali ia mengukir harap
di setiap malam
agar mimpi-mimpi indah
datang bersamaan kenyang

(2025)

Rumah Nenek

lebaran adalah pembuka arus sungai kerinduan
hadir di setiap tahunnya
singgahku bukan sekedar kembali menyapa
tapi ada pintu yang senantiasa terbuka
menunggu kabar cucunya

(2025)

Meja Makan

meja makan adalah tumpahan kerinduan
yang enggan diungkap oleh kata
ia menyelinap di piring-piring
disuapnya satu demi satu cinta

makanan itu tumbuh
menjadi tubuh
semakin hari semakin rupawan

(2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Umi Kulsum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email