Memutar Kembali Film Lama
sering kali aku memutar kembali film lama
di teras rumah
yang dulu pernah dipenuhi tawa ibu dan bapak
bunga-bunga menyapa
dan secangkir doa selalu disuguhkannya
kini hanya senja
datang dan pergi
membawa bayangku sendiri
rumah itu, kini berpindah
bersemayam di hati
bersama ibu dan bapak
dan segunung pesan
yang tak pernah aku lewatkan
untuk dibaca kembali
(2025)
–
Bukan Lagi Rumah
setiap malam
ada teriakan yang enggan disuarakan
enggan didengar
ia hanya bersemayam di tepi hati
mengalir deras bersama sepi
terbungkam dan tak pernah menjadi cerita
wajahnya dipenuhi kabut
badai seolah menjadi sahabat
saat terlelap atau terjaga
tubuhnya, jendela terbuka
pintu-pintu terbuka
angin berembus kian ke mari
menyelinap di sela-sela
kerangka
tiada sempurna
(2025)
–
Atap Langit
perjalanan tadi malam
bukan memotret kisah pedangan asongan
tapi ada cerita terselip pada trotoar kota
tentang manusia yang tidur di emperan harapan
diselumuti dingin malam
tiada tiang
tiada genteng
di mana lelah dilahap tubuh
di sanalah mata terlelap utuh
sesekali terusik oleh lapar
yang menghantui sepanjang malam
batu seolah menjadi kawan
saat perut menggonggong tak karuan
sesekali ia mengukir harap
di setiap malam
agar mimpi-mimpi indah
datang bersamaan kenyang
(2025)
–
Rumah Nenek
lebaran adalah pembuka arus sungai kerinduan
hadir di setiap tahunnya
singgahku bukan sekedar kembali menyapa
tapi ada pintu yang senantiasa terbuka
menunggu kabar cucunya
(2025)
–
Meja Makan
meja makan adalah tumpahan kerinduan
yang enggan diungkap oleh kata
ia menyelinap di piring-piring
disuapnya satu demi satu cinta
makanan itu tumbuh
menjadi tubuh
semakin hari semakin rupawan
(2025)
*****
Editor: Moch Aldy MA
