Melihat Ayah Membakar Tembakau
ibuku mati
kulihat ayah ikut mati
suatu hari, ayah membakar tembakau
di depan tungku api
berharap kesepiannya ikut
ludes terbakar. &
air matanya menjadi kering,
menyisakan tatapan
selembut kasih sayang ibu.
lalu aku mati,
adikku ikut mati, terseret kesunyian
yang tak bisa dibendung oleh bising jenis apa pun.
aku dibikin ngeri
oleh dapur yang lengang, piring kotor,
jendela kumuh, kasur lepek yang tolol, &
nasi bekas kemarin.
saat itu aku menaruh curiga—
kehancuran dimulai sejak kelahiran
ia berjarak satu juta tahun cahaya dari kematian.
–
Hidup Terlalu Panjang dan Terlalu Pendek di Waktu yang Sama
ada banyak pukulan telak dalam hidup.
orang-orang kekurangan alat
untuk menangkisnya.
puisi tidak cukup, tidak pula anggur,
seks, musik, atau agama.
kau tahu? menulis adalah
narkoba terakhir, &
permulaan dari ketelanjangan
batin yang mabuk.
o aku menulis
untuk menyakiti hati paling suci.
aku harap,
kata-kataku pedang dua bilah mata pisau:
yang satu kuarahkan kepada siapa pun,
yang lain kubiarkan memotong
kepalaku sendiri.
menulis adalah
psikiater ulung—
ia penyelamat, &
pembunuh
sekaligus. tapi,
dengan atau tanpa menulis,
hidup terlalu panjang
& terlalu pendek
di waktu yang sama.
aku ingin menulis dengan rasa muak.
biarkan saja kata-kata ini tercerai-berai.
jika kau menyeringai, meludah, bergidik jijik
saat membacanya,
maka aku berhasil.
kau tahu? kemalangan mendarat tepat
di depan hidungmu—
dan cakrawala menatapmu
dingin.
dingin, sayangku.
–
Berlibur dari Bahasa
kita pernah berlibur dari bahasa
tubuhku di tubuhmu.
tanganku di tanganmu.
nafasku & nafasmu bercampur-baur,
tersenggal-senggal,
membentuk harmoni serampangan
seperti teknik 12 nada schoenberg.
asap yang mengepul di kepalaku
hilang begitu cepat.
begitu cepat.
kuciumi bibir tipis pucat itu.
kuajak kau melarikan diri
dari kata-kata,
omong kosong,
& umpatan gawat.
kau lemparkan tubuhmu
malu—
kulihat punggung itu gemetar
seperti bocah kecil
tak menemukan pelukan
senyaman ibunya yang mati.
kukecup lembut tumit kecilmu
lalu kau tarik pergi kakimu—
seperti menyembunyikan
ihwal yang sakral
& nakal.
sangat lembut,
sungguh lembut.
dan kursi, lemari, jendela, cermin,
kikuk melihat kau menggigil:
ngeri campur sedap.
aku menikmati remang neon
yang mencabik-cabik kecantikanmu.
saat itu aku tahu
salah satu di antara kita
akan ada yang mati
karena jatuh—
jatuh.
jatuh.
–
Melihat Asbak
semakin pekat aroma rokok di kamarku,
semakin sehat pikiranku. &
aku menulis, mencaci apa-apa
yang amburadul—
kenyataan, mimpi, atau cinta.
saat melihat asbak,
aku teringat:
sungguh aneh hubungan antar manusia—
suatu waktu tak bisa dipisahkan,
lain waktu hancur-lebur.
seperti rembulan, malam,
matahari, siang, & kita.
asbak mengajariku:
setiap ciuman
menyimpan kemungkinan terakhir kali;
setiap kata-kata
terselip potensi gagal dimengerti;
setiap hidup
menyimpan suatu kepastian: mampus!
seperti tembakau bagus—
betapa pun nikmat,
tetap ludes
dilahap api.
O entropi, sayangku,
entropi.
Tak Ada Jakarta Besok Pagi
bukan di praha bukan di berlin
bukan di paris atau kaliningrad.
bau kota ini
menusuk tajam ke dalam hidungku—
memberiku paham:
seorang gelandangan
lebih sastrawi
dari Aan Mansyur.
lebih haqiqi
dari omong kosong buku-buku best-seller.
lebih jujur
ketimbang kelas menengah
yang pongah tak ingin
dianggap kelas kambing!
Kau tahu?
aku melihat kemelaratan malang-melintang
di balik jaket kulit yang lusuh,
di cangkang mie instan,
di botol-botol kecap warkop,
di gorengan-gorengan dingin,
di gang-gang kumuh,
di kost-kost yang murah.
diam-diam
aku mulai mengerti,
mengapa Aan Mansyur ingin
membakar kota ini jadi abu—
semoga
tak ada jakarta besok pagi, sayangku.
*****
Editor: Moch Aldy MA
