Sebagian dari kita mungkin pernah berlarut-larut dalam penyesalan. Dihantui rasa bersalah karena pilihan dan keputusan hidup yang pernah kita ambil di masa lalu berujung kegagalan, atau bahkan berdampak buruk bagi diri kita maupun orang lain. Saking menyesalnya, terkadang orang sampai berandai-andai bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah pilihannya: jika opsi A yang diambil daripada opsi B, ia merasa keputusan itu niscaya benar, sehingga hidupnya akan lebih baik dan bahagia.
Sebut saja Steve tokoh fiktif kita, menyesal ketika waktu SMA memilih jurusan IPA daripada IPS. Seandainya ia memilih jurusan IPS ia akan lebih akrab dengan teori-teori sosial, menyibukkan diri dengan bacaan filsafat, lalu setelah lulus SMA, memutuskan kuliah jurusan filsafat, berkarir menjadi penulis atau aktivis lingkungan, daripada realitannya sekarang, ia mengambil jurusan teknik, dan berkarir di bidang pertambangan yang membuat hidupnya menderita.
Baca juga:
Sadar dirinya tidak mungkin bisa kembali ke masa lalu untuk mengubah pilihannya, kini setiap kali ia dihadapkan untuk memilih dan memutuskan sesuatu, Steve merasa dirinya harus membuat perhitungan yang benar dan akurat, agar kesalahannya di masa lalu seperti salah memilih jurusan tidak terulang lagi. Akibatnya, Steve seringkali lambat, bahkan gagal mengambil keputusan karena terlalu banyak berhitung, suatu kondisi yang dikenal sebagai analysis paralysis.
Menghitung Benar-Salah Pilihan Hidup
Ketika kita beranggapan bahwa setiap tindakan dan pilihan yang mau kita ambil harus didasarkan pada alasan dan pertimbangan yang dapat dikalkulasi secara konkret – untung-ruginya, benar-salahnya, dan baik-buruknya – kita jatuh pada pola pikir biner. Konsep “kalkulus bahagia” (felicific calculus), yang kerap diatribusikan pada Jeremy Bentham (1789), dapat menyediakan justifikasi bagi kecenderungan semacam itu. Idenya ialah perilaku manusia dimotivasi untuk sebesar mungkin memperoleh kesenangan dengan sekecil mungkin penderitaan.
Tersedianya cara agar tindakan, perilaku dan pilihan dapat dihitung dengan angka-angka, ini memberi kita rasa kepastian. Kalau tidak begitu, kita hanya memilih dan bertindak secara relatif dan random belaka, tidak jelas ukuran benar-salah dan baik-buruknya. Namun, kalkulasi semacam ini harus kita bayar mahal dengan “ilusi kebebasan”. Anggaplah Steve selalu mengalami analysis paralysis karena keterbatasan komputasional otaknya, hingga ia memutuskan memakai asisten komputer untuk membantunya mengalkulasi setiap keputusan yang mau diambil. Konsekuensinya, setiap tindakan yang Steve lakukan selalu merupakan hasil dari intruksi komputer tersebut.
Lebih jauh dari itu, sebuah eksperimen yang dilakukan Benjamin Libet dkk. (1983) memberi tantangan paling serius terhadap konsep kehendak bebas (free will). Dengan megamati aktivitas neural otak, eksperimen ini dapat memprediksi tindakan seseorang dalam sekian milidetik sebelum orang itu menyadari tindakannya. Bahkan, eksperimen lain oleh Chun Siong Soon dkk. (2008), dapat memetakan pola aktivitas neural otak dan memprediksi tindakan yang akan dilakukan seseorang 10 detik sebelumnya.
Kalau kita mau melihat perilaku manusia secara kalkulatif dan kuantitatif, penelitian di atas memberi kita kemungkinan untuk dapat mereduksi diri kita sebagai konsekuensi dari aktivitas neurofisiologis belaka yang bisa dideskripsi dan diprediksi oleh komputer, praktis membuat kita seperti robot. Barangkali, praktiknya sudah diperlihatkan oleh algoritma media sosial yang bekerja menerjemahkan perilaku kita menjadi angka-angka.
Meski saat beraktivitas di media sosial kita merasa bebas memilih dan mengambil keputusan apa pun atas kehendak kita. Namun, apa yang sebenarnya terjadi di balik layar adalah perilaku kita sudah diprediksi, dikondisikan, dan direkayasa dengan cara-cara yang sudah klasik mengikuti prinsip behaviorisme: stimulus-respon serta reward dan punishment. Pada titik inilah “kalkulus bahagia” Bentham menemukan ekspresinya yang paling canggih.
Pilihan Hanyalah Keterbatasan Informasi
Meski kita tahu kebebasan itu hanya ilusi, kita selalu bisa menghibur diri sendiri: toh dalam banyak pengalaman, ketika kita memilih dan mengambil keputusan, kita merasakan keinginan dan kehendak itu nyata berasal dari diri sendiri. Tidak ada paksaan dari mana pun yang mengharuskan kita memilih satu kemungkinan tertentu.
Misalkan Steve dihadapkan dengan empat pilihan minuman di mejanya, antara kopi, teh, es jeruk, atau jus alpukat. Seketika Steve memilih es jeruk. Secara prima facie, ia memilihnya karena memang ingin. Tidak ada keharusan untuk memilih es jeruk, karena ia bisa bebas memilih minuman yang lain. Namun, ketika Steve coba evaluasi ulang pilihannya, ia menyadari bahwa satu-satunya yang mungkin ia pilih hanya es jeruk. Kopi tidak mungkin karena maag, es teh terlalu panas, dan alpukat adalah buah yang tidak ia sukai.
Untuk menerangkan situasi di atas, analogi lemparan dadu mungkin sedikit membantu. Misalnya, Steve melempar sebuah dadu, lalu keluar angka enam. Sebelum melempar, Steve tidak berkata, “pasti yang keluar angka enam”. Kenapa? Karena peluang munculnya angka yang lain sama mungkinnya. Steve bisa memastikan angka enam yang keluar, jika ia tahu informasi dadu yang mengarah pada angka enam: berat dadu, kecepatan lemparan, sudut lemparan, dst. Sama halnya ketika Steve memastikan hanya es jeruk yang bisa ia pilih, ia tahu informasi atau alasan minuman lain tidak mungkin ia pilih, sehingga peluangnya tidak setara.
Dari ilustrasi itu kita peroleh penjelasan bahwa peluang dan kesan tentang kebebasan memilih, ternyata lahir dari ketidaktahuan atau karena kurang dan terbatasnya kita dalam mengolah informasi. Keterkaitan erat antara konsep probabilitas dengan pengetahuan, ini bukan ide baru, dalam A Philosophical Essay on Probabilities (1814), Pierre Simon Laplace secara eksplisit sudah mengatakan, “probability is relative, in part to this ignorance, in part to our knowledge” (1814: 6).
Semakin banyak informasi dikuasai dan semakin tinggi kemampuan kalkulasi untuk mengolahnya, maka dasar dalam memilih, bertindak, dan membuat prediksi akan lebih pasti. Berbagai opsi yang berpotensi gagal dapat disisihkan. Bahkan, Laplace sendiri meyakini hanya ada satu sejarah tunggal dari peristiwa apa pun yang berlangsung di seluruh alam semesta.
Mengikuti Kemauan Alam yang Buta atau Hedonisme Sempit?
Dua eksperimen dari Benet dan Soon yang telah saya sebut sebelumnya, memperlihatkan kesesuaian erat dengan ide Laplace tersebut. Keterbatasan dalam mengakses informasi tentang proses-proses yang bekerja “di balik layar” pikiran, membuat kita merasa bebas bertindak. Padahal sejatinya, di belakang pikiran kita, sudah bekerja proses-proses mekanis dalam tubuh dan otak (neurofisiologis) yang mendahului dan mengarahkan kita untuk melakukan suatu tindakan tertentu.
Lalu kita bisa bertanya, “ke mana proses-proses mekanis dan fisis dalam tubuh ini mengarahkan kita?” Jawabannya, “tidak ke mana-mana”, karena alam ini buta dan netral, ia tidak punya urusan apa pun dengan penilaian ataupun kepentingan manusia. Di titik ini kita kehilangan cara untuk menghitung benar-salahnya pilihan dan tindakan kita. Tidak bisa ditentukan mana yang benar dan mana yang salah antara batu yang menggelinding atau manusia yang berguling menuruni lereng bukit.
Tapi tentu saja kita tidak akan mengalkulasi dan memprediksi perilaku manusia seperti gerakan sebuah batu yang mengikuti aturan fisika. Kalau orang masih memaksakan diri bahwa setiap pilihan, keputusan, dan tindakannya harus didasarkan pada perhitungan yang pasti benar-salahnya. Minimal ia harus kembali menerima moralitas ala Bentham yang berorientasi mencari nikmat dan menghindari sakit. Tidak seperti batu, karena manusia tahu rasa sakit, ia tentu tidak akan menuruni lereng bukit dengan cara berguling.
Perilaku manusia tentu saja lebih rumit daripada gerakan batu. Terlebih lagi, mengingat kompleksnya tatanan sosial yang dibangun umat manusia, perilakunya juga tidak didisiplinkan dengan orientasi nikmat-sakit secara instan dan kalkulasi jangka pendek seperti behaviorisme mengondisikan hewan sirkus dengan reward-punishment. Tapi logika sistemnya tetap sama: benar-salah, baik-buruk, dan untung-ruginya tindakan kita harus dihitung dengan angka yang pasti. Kalau orang mau dianggap normal dan sukses dalam pendidikan, karir, keluarga, dan masyarakat, maka ia harus bisa berhitung sesuai standar sistem. Jika tidak, ia dicap abnormal dan gagal.
Solusi: Meyakini Makna yang Melampaui Kalkulasi
Dunia yang apa adanya, terasa chaos, mencemaskan dan asing. Sehingga, manusia selalu saja berlagak sok tahu, banyak tingkah, dan buru-buru lari mencari perlindungan dengan membuat tatanan yang bisa dikalkulasi. Masyarakat manusia memang berhasil menjadi tertib dengan pendisiplinan dan pengondisian semacam itu. Akan tetapi, kita kehilangan “perasaan” terhadap dunia, terhadap kehidupan dan apa pun di dalamnya, termasuk dengan diri kita sendiri. “Perasaan” itu tidak jelas, tidak bisa dihitung, dan tidak punya kontribusi untuk PDB. Oleh karenanya, kita tanggalkan.
Alternatifnya adalah kita harus mulai bersikap sopan dan berprasangka baik di hadapan realitas. Kenyataan hidup bekerja dengan cara yang lebih kreatif dari apa yang bisa kita bayangkan dan melampaui kalkulasi. Bahkan, menurut kesaksian Viktor Frankl (1992), di tengah kemalangan dan penderitaan yang paling kelam sekalipun, manusia tetap dapat memperoleh makna. “Makna” menurut saya, tidak manusia ciptakan. Sadar atau tidak, kita seringkali mempercayai keberadaannya.
Baca juga:
Seakurat apa pun perencanaan dan perhitungan kita, tidak selalu benar dan baik. Tapi bukan berarti kita berhenti berhitung, kalau begini, kita jatuh lagi pada sikap sok tahu: berpangku tangan seolah hari ini hujan akan menurunkan uang. Kalau mau jujur dengan diri sendiri, seringkali kita menjumpai momen tak terduga yang bermakna, Carl Jung menyebutnya “synchronicity”. Contoh menarik terkait ini, misal bisa kita lihat lewat cerita terkenal Anthony Hopkins, terlepas dari validitasnya, ceritanya bisa kita baca di sini.
Kesimpulan
Kembali lagi pada Steve yang masih berlarut-larut dalam penyesalan. Mungkin kita bisa membantunya dengan memberi sedikit masukan: bahwa tidak ada pilihan dan keputusan yang manusia ambil dalam hidup ini yang mutlak benar atau mutlak salah. Plihan dan keputusan tidak mungkin bisa diambil hanya dengan berhitung, tapi perlu keyakinan dan keberanian. Dengan begini, kita juga bisa lebih peka terhadap perasaan dan keterpurukan manusia. Bonus kata motivasi: “everything’s gonna be okay”. (*)
Editor: Kukuh Basuki
