Pengajar Filsafat Pendidikan PSP ISI Yogyakarta

Dilema Etika dalam Pilihan Kata

Roy Simamora

2 min read

Dalam ruang keilmuan yang diberkati dengan kerumitan pengetahuan dan pertukaran konseptual yang menjulang tinggi, kemampuan kata-kata tertentu untuk menciptakan kontroversi tak terduga dan memicu perenungan filosofis mendalam seringkali menjadi paradoks yang memikat.

Di antara semesta kosakata bertaburan, tampak mencolok kata yang menarik perhatian saya selama ini: bajingan, tolol, dan dungu. Seolah menggeliat di tengah perdebatan intelektual, kata-kata ini membangkitkan serangkaian tanya mengenai bahasa, etika, komunikasi, serta esensi dari wacana ilmiah.

Bayangkanlah suatu pemandangan: seorang akademisi yang meraih pujian dan kehormatan atas kebijaksanaan serta kemampuan analitisnya, tiba-tiba terjerat dalam perdebatan publik tentang suatu isu kontroversial. Saat semangat pertikaian memuncak, rasa frustrasi pun merayap di bawah permukaan, mengancam untuk menenggelamkan hikmat.

Di tengah riak pertukaran yang memanas, sang akademisi, seperti kilat yang melintas, melontarkan frasa “bajingan tolol” dengan tajam kepada lawan debat yang tak hadir di situ. Penonton terperangah, jagat media sosial pun meledak, dan pemberitaan terkini bermunculan. Namun, yang ramai itu bukanlah tentang substansi perdebatan, melainkan tentang pilihan kata yang mengejutkan dan tampaknya tak semestinya.

Pada pandangan sekilas, tampaknya ini hanyalah sebuah blunder linguistik semata, suatu kecelakaan tak disengaja yang memperlihatkan sisi kemanusiaan yang rapuh. Namun, jika digali lebih dalam, tampaklah betapa insiden ini membuka ladang filosofis yang kaya. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi ledakan linguistik ini? Apakah ini semata ekspresi dari gelombang emosi, ataukah ia mendedahkan ketegangan akar antara pencarian pengetahuan dan kompleksitas relasi antarmanusia?

Baca juga:

Kisah itu merangkul refleksi mendalam mengenai perbenturan antara abstrak dan konkret. Arena akademis seringkali dianggap sebagai tempat perlindungan untuk pengembangan intelektual yang teliti, juga tempat gagasan digarap, dianalisis, serta dievaluasi dengan cermat. Pernyataan sang akademisi menggugah perenungan, memori kita dikoreksi dan diingatkan bahwa pikiran yang paling brilian pun tak lantas kebal terhadap lilitan emosi. Dalam hal ini, “bajingan tolol” tadi menjadi selicin pukulan bagi idealisme akademis. “Bajingan tolol” mengingatkan akan interaksi yang rumit antara hasrat intelektual dan kenyataan bingkai emosi manusiawi yang sering kali berbelit-belit.

Bahasa, dalam narasi ini, tak ubahnya menjadi jendela melalui mana interaksi antara pemikiran dan ekspresi dihayati. Sang akademisi, yang mengarungi lautan nuansa bahasa, bisa jadi dengan sengaja memilih rangkaian kata itu—entah untuk meluapkan rasa jengkel atau untuk menyoroti titik yang mengganggu. Namun, pilihan ini menyulut isu etika dalam penggunaan bahasa di ranah wacana intelektual. Patutkah para cendekiawan, penjaga tonggak ide dan pengetahuan, dituntut untuk memegang standar bahasa yang lebih mulia? Apakah pemanfaatan kata-kata merendahkan dengan sembrono merusak esensi dari dialog akademis?

Insiden ini memantik pula perbincangan yang jauh lebih luas mengenai corak dialog serta peran emosi di dalamnya. Dialog, terutama dalam dunia keilmuan, dianggap sebagai medium untuk menggali ide dan meruncingkan konseptualisasi. Loncatan kata-kata yang terasa sarat emosi menantang pijakan ini, mencetuskan pertanyaan soal apakah ekspresi emosional yang tak tersaring punya panggung dalam pentas perdebatan rasional. Mampukah keaslian emosional berpadu dengan integritas intelektual, ataukah keduanya senantiasa terhunjam dalam ketegangan tak henti?

Dalam pandangan filosofis, skenario ini menyimbolkan kedalaman interaksi manusiawi serta tantangan merajut yang abstrak dengan yang riil. Kita terpanggil untuk merenungkan dengan seimbang antara perburuan pengetahuan dan realitas kemanusiaan.

Kendati penggunaan frasa “bajingan tolol” oleh akademisi mungkin terasa aneh, kecelakaan lisan itu terbukti berhasil menjadi cambuk pedih yang mengingatkan bahwa bahkan dalam menara pemikiran, pengalaman manusia mengemban peranan setia yang mampu mengacaukan wilayah pikiran yang paling kacau.

Baca juga:

Tepat di ujung cerita ini, kita disuguhkan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban—keadaan yang lazim dalam ranah filsafat. Kita diundang untuk menatap interaksi yang merentang di antara bahasa, etika, emosi, serta intelektualitas, lalu melanjutkan perjalanan untuk menggali makna dari wacana yang berkualitas.

Pernyataan sang akademisi menjadi terbuka sebagai lensa yang merangsang pikiran. Melalui sela-sela itu kita mengupas ragam komunikasi, kerapuhan idealisme, dan ikatan yang tak terhindarkan antara pencarian pengetahuan dan hakikat kemanusiaan.

 

Editor: Emma Amelia

Roy Simamora
Roy Simamora Pengajar Filsafat Pendidikan PSP ISI Yogyakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email