Malpraktik Kekuasaan dan Puisi Lainnya

Listio Wulan Nurmutaqin

2 min read

Pukul 10 Pagi Melihat Siaran Langsung Bahlil di TV

Selamat pagi, pemirsa!
Berjumpa kembali di program
“Menuju Masa Depan dengan Tambang.”

Topik hari ini:
Kufur nikmat, bisa mengubur rezeki.

Baru saja kita simak Bapak Menteri
Dengan senyum khas layar kaca,
Katanya, “Negeri ini penuh lubang rezeki.”

Asal pandai menggali,
Tak perlu risau pohon tumbang,
Atau laut kehilangan nyanyi.

(Musik pengantar: instrumental tambang, deru ekskavator.)

Kamera menyorot wajahnya.
Tegas. Yakin.
Seolah ia baru temukan
Cara menambang tanpa melukai bumi,
Tanpa menggusur kampung
Tempat nenekmu menyulam pagi
Dengan doa dan harapan.

Usai tayangan itu,
Aku — rakyat biasa — menyeruput teh.
Tiba-tiba terasa getir.

Mungkin gula langka,
Atau tanah sudah turun mesin,
Para petani berpindah profesi:
Menjadi penonton setia
Di acara “Berita Pembangunan Hari Ini.”

Tapi tenang, pemirsa,
Masih ada musik truk tambang
Yang menyapa pagi.

Deru mesin menepuk jalan berdebu,
Menyanyikan lagu janji
Yang dikumandangkan,
Tapi tak pernah ditepati.

Kini segmen interaktif:
Surat dari warga pelosok,
Langsung untuk Bapak Menteri:
“Wahai Bahlil,
Ayat ke berapa dalam UU Investasi
Menyebut lubang boleh
Lebih dekat
Dari pintu rumah kami sendiri?”

Kami tunggu jawabannya,
Di siaran esok hari,
Atau mungkin di jeda iklan
Real estate industri.

Sampai jumpa!

Teruslah menggali,
Selama masih ada tanah
Nganggur yang bisa dikomersialisasi.

(2025)

Malpraktik Kekuasaan

Pasien bernama Demokrasi
Dibopong ke UGD pukul dua dini hari

Dokternya sibuk selfie
Pakai jas coklat pinjaman institusi

Hasil rontgen
Hak pilih retak
Konstitusi patah tulang belakang
Dan suara rakyat
Ditemukan membusuk
Di tempat sampah legislatif
Perawatnya nyambi jadi buzzer
Infus berisi janji-janji basi
Dosis tiga kali sehari
Sampai pasien tak ingat
Siapa dirinya lagi

Di meja operasi
Pisau bedah raib
Diganti palu hakim
Yang selalu mengetuk
Sah atas nama oligarki

(Bekasi, 2025)

Belajar Fisika di Daerah Tambang

Gravitasi katanya
Menarik benda ke pusat bumi
Tapi di sini
Yang jatuh duluan:
Harga tanah,
Harga nyawa,
Dan suara warga

(Bekasi, 2025)

Putar Lagu yang Gak Kita Setujui

Janji negara itu
kayak playlist auto-repeat:
judulnya berganti,
tapi nadanya tetap
bikin sakit kuping dan hati.

Tiap lima tahun,
algoritma kampanye muncul lagi,
padahal sudah kutandai:
“skip lagu ini selamanya.”

Katanya cinta rakyat sepenuh hati,
ternyata cuma akses trial
tujuh hari pertama.

Begitu dilantik,
akses premium pelan-pelan ditarik.

BBM naik,
gas makin langka,
subsidi dikunci pakai sidik jari
demi “efisiensi”
yang tak pernah menyentuh
meja dapur kami.

Kami, rakyat kecil,
login tiap hari
pakai akun gratisan demokrasi,
streaming janji
yang buffering terus,
dengan sinyal makin payah.

loading…
loading…
loading…

dan gagal lagi.

Surat terbuka kami
hanya dibalas template:
“Terima kasih sudah percaya.”

Tapi aduan kami
tersangkut di folder spam nasional,
tempat janji-janji mati
dalam senyap sistem
yang tak peduli.

Sementara tambang-tambang baru
dibuka seperti promo tengah malam:
diskon hutan,
bonus banjir,
dan cashback krisis iklim.

Yang protes,
akunnya diblokir diam-diam.
Dan CS negara

selalu sibuk rapat,
atau hilang sinyal
saat kami butuh jawaban
tentang harga hidup
yang terus naik,
sementara kami
berburu potongan harga
untuk sekadar bertahan
esok hari,
lalu terpaksa dengar lagu
yang tak pernah kami setujui.

(Bekasi, 2025)

Pada Sebungkus Mi Instan di Akhir Bulan

Kemiskinan datang
Tepat waktu
Seperti debt collector
Akhir bulan:
Pakai helm,
Ketuk pintu,
Lalu berkata pelan:
“Cuma mau ngobrol sebentar, Kak.”

Sementara itu
Suara perut kosong
Bergema lirih
Seperti alarm token listrik

Yang tetap bunyi
Meski tombolnya
Sudah ditekan
Berkali-kali

Hari-hari berjalan
Dari satu tagihan
Ke tagihan lain
Lebih cepat
Dari sisa gaji
Yang belum sempat
Dibagi

Aku mulai menambah
Variasi doa
Agar makan malam
Tak selalu ditemani
Sebungkus mi instan
Dan bumbu
Rasa keikhlasan

Kemiskinan
Tak pernah diundang,
Tak pernah bisa
Diajak musyawarah,
Dan tak pernah tahu

Jalan pulang

(2025)

Puisi Ini Diblokir Cinta Sendiri

Barangkali hati
Perlu update sistem
Tiap malam
Nge-freeze
Tiap lihat story
Yang bukan buatku

Cinta macam apa
Yang bilang “aku butuh ruang”
Lalu pindah ke pelukan orang?

Aku belum sempat
Uninstall rindu
Udah disuruh
Install sabar

Mantan sekarang
Kayak WiFi gratisan
Semua bisa akses
Asal pura-pura
Butuh

Aku sempat berpikir
Untuk balas dendam
Tapi saldo ShopeePay
Nggak mendukung
Dan nyali
Masih cicilan

(Bekasi, 17 Mei 2025)

*****

Editor: Moch Aldy MA

Listio Wulan Nurmutaqin

Pemandu Wisata Maut

Galih Santoso Galih Santoso
4 min read

Telan

May Wagiman May Wagiman
4 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email