Kapitalosen dan Keruntuhan Ekologis

Muh Abdilla Akbar Alauddin

4 min read

Krisis ekologis yang kita hadapi hari ini tidak hanya menyingkap kegagalan politik-ekonomi global, tetapi juga mengguncang fondasi pengetahuan modern itu sendiri. Krisis ini menunjukkan satu hal mendasar: manusia tidak berdiri di atas alam, melainkan berada di dalamnya. Manusia bukan pusat kehidupan, melainkan salah satu aktor dalam jaringan kehidupan yang saling bergantung.

Kesadaran semacam ini memang sulit diterima karena selama berabad-abad, pengetahuan modern memosisikan manusia sebagai poros segalanya. Seolah alam hanya latar pasif yang dapat dikelola, dikendalikan, dan dieksploitasi tanpa batas. Namun kesadaran ini sesungguhnya bukan hal yang utopis.

Di Indonesia, praktik seperti patuntung di Kajang, sasi di Halmahera, dan egek di wilayah Moi, adalah bukti bahwa dahulu relasi manusia dan alam pernah berada dalam ritme yang selaras dan harmonis. Sayangnya, pengetahuan tersebut dianggap hanya sisa masa lalu dan tak sejalan lagi dengan gagasan kemajuan terkini yang menuntut pertumbuhan tanpa henti, produksi tanpa batas, dan konsumsi tanpa jeda.

Di era modern, membicarakan keselarasan manusia dan alam bagian dari takhayul, Sains dan teknologi diyakini telah menelanjangi segala misteri, mitos, dan enigma. Alam dianggap hanyalah materi pasif yang dapat dijinakkan dan dieksploitasi. Meski memang menghadirkan banyak kemudahan dalam kehidupan manusia, tetapi menyebut ini kemajuan sejati tidak dapat diterima, ketika kehidupan berjalan beriringan dengan berbagai katastrofi yang tidak kalah tragis.

Baca juga:

krisis ekologis adalah adalah salah satu paradoks yang memaksa kita bertanya: jika memang ini yang disebut sebagai kemajuan, ke mana sebenarnya ia sedang membawa kita?

Epos Kapitalosen.

Jawabannya mungkin sangat kompleks. Namun satu hal yang patut dipertimbangkan adalah, kemajuan ini sebenarnya tidak pernah berjalan pada satu jalur tunggal. Sejak awal, ia membawa tujuan lain yang nyaris tidak bisa dibedakan, tapi sangat menentukan: antara kemajuan seluruh makhluk hidup atau akumulasi modal. Dari carut-marut yang terus berlangsung, kita cukup diyakinkan bahwa, sebenarnya, kemajuan ini tidak bergerak pada arah yang lebih baik, melainkan episode lanjutan dari epos kapitalosen yang terus berlangsung,

Dalam epos Kapitalosen, Jason Moore (2015) dalam Capitalism in the Web of Life menjelaskan di mana kapitalisme telah menjadi pusat dalam jaringan kehidupan sekaligus pelaku utama dari kerusakan ekologis. Hal ini terjadi tidak secara kebetulan, melainkan melalui proyek historis di mana ia mengorganisasi alam sebagai sesuatu yang terpisah dari manusia, sebagai benda mati yang murah dan sah untuk dieksploitasi. Cara pandang inilah yang menjadi prasyarat agar alam dapat terus dipaksa masuk ke dalam sirkuit akumulasi kapital secara efisien.

Sebagai pemenang sejarah modern, kapitalisme telah menjelma menjadi rezim kehidupan total yang membentuk mayoritas tujuan politik, makna pembangunan, bahkan kepentingan institusi agama modern. Sehingga segala produk kemajuan yang lahir hanyalah proyek yang berorientasi pada pembangunan kapital atau modal. Inilah yang kita sebut sebagai Era Kapitalosen; wujud kemajuan yang sedang kita jajaki.

Memahaminya penting bukan untuk berapologi, melainkan untuk membaca krisis ini secara lebih jujur dan spesifik. Menyalahkan “manusia” secara abstrak, seperti dalam narasi Antroposen, menyesatkan secara analitik. Tidak adil menyamakan masyarakat Moi, Halmahera, dan Kajang yang hidup dengan jejak ekologis rendah dengan industrialisme Eropa yang secara historis mengakumulasi kekayaan melalui perusakan hutan dan alam. Generalisasi semacam itu bukan hanya malas, tetapi juga mengaburkan pelaku dan akar persoalan yang sesungguhnya.

Babak lanjut kapitalosen.

Melihat babak baru epos kapitalosen memang sedikit sukar dan perlu kecermatan. Kapitalisme tidak seperti artefak dan fosil sejarah yang bentuknya konstan. Ia sangat elastis dan fleksibel untuk bertransformasi dan bermutasi. Namun yang memungkinkan ia bisa dibaca dan dipahami adalah watak asli akumulasi dan pertumbuhan tanpa batas yang tidak pernah berubah.

Jika dahulu operasi kapitalisme bisa disaksikan lewat penjarahan langsung, lewat praktik imprealisme fisik, kini ia hadir lewat sistem rasional yang abstrak dan jauh lebih efektif. Ia menggantikan kekerasan langsung dengan mekanisme-mekanisme teknokratis yang membentuk cara kita memahami nilai, kemajuan, dan kehidupan itu sendiri, sehingga membuat ekspansi dan eskploitasi sebagai tujuan normal yang wajar, diperlukan, bahkan tak terelakkan.

Salah satu teknologi terkuatnya adalah Produk Domestik Bruto (PDB), indikator yang kini diadopsi secara global dan diperlakukan sebagai kompas pembangunan. PDB tidak hanya mengukur ekonomi, tetapi menginternalisasi logika pertumbuhan dan akumulasi tanpa batas sebagai satu-satunya tujuan rasional. Atas nama kemajuan, ia memaksa intensifikasi ekstraksi, produksi, dan konsumsi sebagai syarat mutlak peningkatan nilai ekonomi. Bahwa setiap industri, setiap sektor, setiap ekonomi nasional harus tumbuh, sepanjang waktu, tanpa akhir dan batas untuk maju.

Menolak pertumbuhan memang sering kali terasa janggal. Seolah-olah kita sedang menolak sesuatu yang alami. Dan, itulah kecanggihan kapitalisme dewasa ini. Meskipun betul bahwa semua makhluk hidup mengalami pertumbuhan, kita kadang melupakan bahwa makhluk hidup selalu punya mekanisme alami yang membuat pertumbuhan berhenti pada titik tertentu. Hal itu untuk memberikan kesempatan bagi organisme mencapai kematangan sembari menjaga keseimbangan agar tetap sehat. Ketika proses itu tidak berlangsung, sel-sel akan terus membelah tanpa kendali dan akan menyebabkan kerusakan bahkan kematian, seperti yang terjadi pada mekanisme kanker.

Baca juga:

Sementara dalam logika pertumbuhan kapitalisme, tidak ada batas cukup dan jeda. Ia bergantung pada konsumsi tinggi, yang sama dengan peningkatan produksi, sementara peningkatan produksi terus membutuhkan bahan baku, energi, dan ruang baru yang tidak terbatas. Logika ini menuntut alam untuk terus menyediakan lebih banyak daripada batas-batas yang ekologis mampu dipulihkan

Jason Hickel (2020) dalam Less is More, mengingatkan bahwa pertumbuhan seperti inilah yang menjadi kanker. Krisis ekologis yang terjadi bukan lagi sebuah kecelakaan alami, tetapi konsekuensi logis atau niscaya dari sistem yang hanya dapat tumbuh dan hidup melalui eksploitasi. Ini alasan mengapa di tengah kondisi ekologis yang kian rapuh, hutan masih terus diganti jadi perkebunan monokultur skala besar, gunung terus dibabat untuk tanaman industri, dan perut bumi yang terbatas tidak berhenti dikeruk sampai habis.

Feminis-ekolog Nancy Fraser (2023) menyebut logika ini sebagai cannibal capitalism: sebuah sistem yang hidup dengan memakan prasyarat keberlangsungannya sendiri—menggerogoti alam, menghisap tubuh dan tenaga kerja, merusak relasi sosial, mengikis kerja perawatan, dan menghabisi masa depan—demi memastikan akumulasi kapital terus berjalan.

Menemukan kembali makna kemajuan.

Berpikir untuk keluar dari tatanan ini tentu bukan perkara mudah. Selain menjadikan alam murah dan dapat dieksploitasi, sistem yang kita hadapi juga bekerja sebagai mesin ideologis yang canggih. Kapitalisme melanggengkan gagasan pertumbuhan tanpa henti sebagai sesuatu yang wajar dan tak terelakkan. Dalam situasi semacam ini, tidak mengherankan jika kita sering kali lebih mudah membayangkan kiamat terjadi, daripada mengimajinasikan kehidupan di luar lingkaran setan pertumbuhan itu sendiri.

Kerumitan tersebut kian bertambah ketika solusi justru ditawarkan oleh para pelaku perusakan dengan wajah yang lebih halus: transisi energi, ekonomi hijau, dan berbagai model hidup ramah lingkungan yang tetap bertumpu pada struktur ekonomi pertumbuhan yang sama. Alih-alih membongkar akar persoalan, solusi-solusi ini kerap hanya mengubah tampilan luar, tanpa menyentuh logika dasar yang terus mendorong ekstraksi, produksi, dan konsumsi tanpa batas.

Namun kita percaya bahwa sejarah belum berhenti dan masih terus berlanjut. Harapan perubahan akan terus ada. Pablo Neruda pernah menulis, “Kamu bisa memotong semua bunga, tetapi kamu tidak bisa mencegah musim semi datang.” Kutipan ini mengingatkan bahwa kemungkinan perubahan tidak pernah sepenuhnya lenyap. Musim semi selalu membawa kehidupan dan harapan baru, yang barang kali itu bisa hadir dari keberanian, kepedulian dan kesadaran kritis untuk menuntut perubahan.

Dalam konteks ini, langkah tersebut bisa dimulai dengan seruan politik untuk berhenti. Berhenti bukan berarti mundur atau menolak perubahan, melainkan jeda yang memungkinkan keseimbangan dan pemulihan berlangsung. Ia menggugat makna kemajuan, sekaligus tuntutan untuk merancang ulang tujuan ekonomi, politik, dan pembangunan yang tidak lagi berpusat pada akumulasi kapital, melainkan pada keseimbangan ekologis dan keadilan sosial. Dari ruang jeda inilah, makna kemajuan dapat direbut kembali: bukan sebagai perlombaan tanpa akhir, tetapi sebagai upaya merawat kehidupan dalam batas-batas planet yang rapuh. (*)

 

Editor: Kukuh Basuki

 

 

 

 

Muh Abdilla Akbar Alauddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dapatkan tulisan-tulisan menarik setiap saat dengan berlangganan melalalui email